| |
C © updated
20022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/penabur |
|
| |
Nama:
Pater J Drost SJ
Nama Lengkap:
Drs Josephus Ignatius Gerardus Maria Drost SJ
Lahir:
Jakarta, 1 Agustus 1925
Meninggal:
Semarang, 19 Februari 2005
Agama:
Katolik
Pendidikan:
= Filsafat di Yogyakarta 1952
= Sarjana fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) 1957
= Teologia Yogyakarta 1961
Pelayanan:
= Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan di IKIP Sanata Dharma
Yogyakarta (1962-1964)
= Rektor IKIP Sanata Dharma (kini menjadi UniversitasSanata Dharma)
Yogyakarta (1964-1967)
= Kepala SMA Kanisius Jakarta pada tahun 1976-1987
= Kepala SMA Gonzaga Jakarta
= Rektor Kolese Gonzaga 1987 |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Pater J Drost SJ (1925-2005)
Pelayan Pendidikan Indonesia
Nama lengkapnya Drs Josephus Ignatius Gerardus Maria Drost SJ. Lahir di
Jakarta 1 Agustus 1925. Seorang tokoh pendidikan Indonesia yang sering
melontarkan pandangan baru dan autokritik tentang pendidikan. Hari Sabtu
19 Februari 2005 sekitar pukul 16.15, tokoh yang hampir sepanjang hayat
mengabdikan diri pada dunia pendidikan, ini meninggal dunia di Rumah Sakit
Elisabeth Semarang, Jawa Tengah, dalam usia 80 tahun. Dimakamkan pada hari
Senin 21 Februari 2005 di Makam Jesuit Girisonta pukul 11.00, setelah Misa
Requim di Kapel Girisonta pukul 10.00.
Pendidik ulung ini meninggal karena sakit prostat. Sebelumnya, dia pernah
menderita sakit jantung. Tokoh pendidik dan pembelajar itu banyak
memberikan sumbangan pemikiran dalam pembaharuan dunia pendidikan
Indonesia. Pemikirannya selalu segar dan bermakna demi kemajuan pendidikan
Indonesia.
Pandang dan gagasan seringkali berbeda dan bermakna autokritik tentang
pendidikan Indonesia. Namun dia menyampaikannya sedemikian rupa sehingga
sama sekali tidak menimbulkan pertentangan atau benturan pandangan dengan
pendapat orang lain. Sungguh Indonesia kehilangan seorang tokoh yang sejak
muda selalu peduli terhadap dunia pendidikan.
Pater yang sempat mendalami filsafat di Yogyakarta pada tahun 1952, ini
seorang tokoh pendidik yang berorientasi pelayanan. Lulusan sarjana fisika
di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1957, ini tak memandang
tinggi-rendahnya jabatan dalam tugas pengabdian dan pelayannya. Alumni
Teologia Yogyakarta (lulus tahun 1961), ini tak merasa sungkan dan turun
pangkat ketika ditugaskan menjadi Kepala SMA Kanisius Jakarta pada tahun
1976-1987.
Padahal sebelumnya dia sudah menjabat Rektor IKIP Sanata Dharma (kini
menjadi UniversitasSanata Dharma) Yogyakarta (1964-1967), yang dijabatnya
setelah sebelumnya menjabat Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan di IKIP
Sanata Dharma Yogyakarta (1962-1964). Tahun 1987-1991, ia menjabat Kepala
SMA Gonzaga Jakarta dan sekaligus Rektor Kolese Gonzaga pada tahun 1987.
Belakangan ini dia tinggal di Wisma Emaus Pasturan Girisonta, Ungaran,
Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Di sini, dia menerjemahkan buku asing
yang diterbitkan untuk kalangan Serikat Jesus
Keterampilan dan Kurikulum
Setelah pemerintah menutup beberapa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
Kejuruan, J Drost SJ melontarkan betapa perlunya membuka kembali SLTP
khusus keterampilan itu guna mengakomodir kebutuhan lulusan Sekolah Dasar
(SD) yang tak cukup pintar untuk melanjutkan ke SLTP.
Menurutnya, SLTP sekarang ini untuk semua anak, baik anak unggul atau anak
biasa. Di desa banyak anak yang tidak bisa sekolah ke SLTP umum. SLTP
keterampilan ini untuk anak-anak SD yang tak cukup pintar atau tidak
sanggup ke SLTP umum. Apalagi sekarang ada program wajib belajar sembilan
tahun.
Begitu pula mengenai kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU), Drost beberapa
kali mengingatkan bahwa kurikulum SMU sekarang ini hanya untuk anak-anak
unggul. Dia melihat kurikulum untuk anak-anak unggul ini mengadaptasi
model kurikulum di Eropa. Padahal, katanya, di Eropa diimbangi dengan
adanya kurikulum khusus untuk anak-anak biasa yang jumlahnya mencapai 70
persen dari keseluruhan siswa SMU.
Tapi di Indonesia, anehnya, kurikulum untuk anak unggul dan biasa dicampur.
Karena itu tidak usah heran bila sekolah-sekolah unggulan akan berhasil,
sebaliknya sekolah biasa yang nonunggulan banyak yang gagal dalam EBTA
atau UN.
Drost memandang perlu kurikulum SMU yang ada saat ini lebih diperingan
untuk anak-anak biasa, terutama untuk pelajaran ilmu pengetahuan alam
(IPA) dan matematika. Jika dipaksakan hasil evaluasi belajar tahap akhir (EBTA)
atau Ujian Nasional (UN) akan tetap jelek.
Mengenai pendidikan SD, menurut Drost, kurikulum yang sekarang ini sudah
baik, tak perlu diubah lagi. Menurutnya, snak SD jangan diajarkan bahasa
Inggris karena anak-anak pada usia itu hanya bisa belajar bahasa Inggris
jika bahasa itu dipakai di rumah. ►e-ti/mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|