|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Pater J Drost SJ (1925-2005)
Orangtua Kacaukan Sistem Diknas
Kompas Senin, 29 Juli 2002: Tuntutan orangtua murid yang berlebihan telah
mengacaukan sistem pendidikan nasional. Terlalu banyak orangtua yang tidak
menyadari atau bahkan tidak mau menerima anak apa adanya dan memaksa
anaknya dengan berbagai kegiatan untuk mendapatkan nilai yang tinggi.
Nilai yang tinggi dan peringkat, kemudian menjadi tujuan pendidikan,
sementara kedewasaan berpikir kurang mendapat perhatian.
Pengamat pendidikan J Drost SJ di Balikpapan, Minggu (28/7), menyatakan
bahwa pemerintah telah bertekad akan menerapkan penjurusan siswa sekolah
menengah umum (SMU) sejak awal masuk kelas I pada tahun 2004, tetapi
banyak pro dan kontra terhadap rencana itu. "Sebenarnya bukan sekolah yang
tidak siap, tetapi orangtua tidak mau," katanya.
Sehari sebelumnya, Pater Drost dan Direktur SMU Kanisius Jakarta Baskoro
Poedjinugroho SJ tampil sebagai pembicara dalam seminar "Menyiapkan Anak
Menjadi Seutuhnya dalam Menyongsong Masa Depan". Seminar diselenggarakan
berkaitan dengan peringatan 50 tahun Yayasan Budi Bakti, sebuah yayasan
yang mengelola lembaga pendidikan TK, SD, dan SLTP di Balikpapan.
Menurut Drost, penjurusan siswa SMU sejak masuk kelas satu akan membuat
pendidikan di SMU menjadi lebih efisien karena sejak awal siswa sudah
dipisahkan berdasarkan kemampuannya. Sebab, pengalaman selama ini
menunjukkan, siswa yang berkemampuan lebih akhirnya bosan atau mundur
prestasinya karena dicampur dengan siswa lain yang kemampuannya kurang.
Untuk dapat menerapkan sistem itu, demikian Drost, tidak ada cara lain
kecuali pihak sekolah bersikap tegas terhadap orangtua calon siswa. "Jika
anaknya memang tidak bisa diterima, ya, jangan diterima," kata Drost.
Ia menyadari, kendala penerapan penjurusan sejak awal di SMU ini adalah
beragamnya kualitas lulusan SLTP. Akan tetapi, kalau sistem itu memang
akan diterapkan seharusnya para guru di SLTP juga dilibatkan untuk
menyiapkan peserta didiknya. Mereka juga diharapkan bersikap tegas dalam
memberikan nilai berdasarkan kemampuan siswanya. "Jangan sampai karena
macam-macam penilaian lain," kata mantan Direktur SMU Kanisius Jakarta itu.
Ditanya, bagaimana membangun dunia pendidikan di Kalimantan Timur (Kaltim),
yang kaya sumber daya alam tetapi sumber daya manusianya masih sangat
rendah, Drost awalnya tidak mau berkomentar. "Saya tidak banyak tahu
daerah ini," katanya.
Setelah sedikit mendapat penjelasan, Drost berpendapat bahwa sebuah
sekolah unggulan di Kaltim dapat dibangun untuk menampung anak-anak yang
mempunyai kemampuan lebih. Dengan kemampuan keuangannya yang besar, Kaltim
dapat mendatangkan guru-guru berkualitas untuk mengajar di sekolah
tersebut.
Mengenai kelas akselerasi yang memungkinkan siswa berprestasi melompat ke
kelas di atasnya, Drost menyatakan tidak setuju. "Anak akan menjadi
sombong dan belum tentu berhasil di universitas," kata Drost. Begitu pula
dengan fullday school yang kini tengah diujicobakan di Tarakan, Kaltim. (MSH)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|