A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Profesi
     ► Guru-Dosen
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Link
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 20022005  
   
  ► e-ti/penabur  
  Nama:
Pater J Drost SJ
Nama Lengkap:
Drs Josephus Ignatius Gerardus Maria Drost SJ
Lahir:
Jakarta, 1 Agustus 1925
Meninggal:
Semarang, 19 Februari 2005
 
     
 

BERITA

 
  = Mengantar Kepulangan Pater J Drost SJ

= Orangtua Kacaukan Sistem Diknas
 
 
 
BERITA

 

Pater J Drost SJ (1925-2005)

Orangtua Kacaukan Sistem Diknas


Kompas Senin, 29 Juli 2002: Tuntutan orangtua murid yang berlebihan telah mengacaukan sistem pendidikan nasional. Terlalu banyak orangtua yang tidak menyadari atau bahkan tidak mau menerima anak apa adanya dan memaksa anaknya dengan berbagai kegiatan untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Nilai yang tinggi dan peringkat, kemudian menjadi tujuan pendidikan, sementara kedewasaan berpikir kurang mendapat perhatian.

Pengamat pendidikan J Drost SJ di Balikpapan, Minggu (28/7), menyatakan bahwa pemerintah telah bertekad akan menerapkan penjurusan siswa sekolah menengah umum (SMU) sejak awal masuk kelas I pada tahun 2004, tetapi banyak pro dan kontra terhadap rencana itu. "Sebenarnya bukan sekolah yang tidak siap, tetapi orangtua tidak mau," katanya.

Sehari sebelumnya, Pater Drost dan Direktur SMU Kanisius Jakarta Baskoro Poedjinugroho SJ tampil sebagai pembicara dalam seminar "Menyiapkan Anak Menjadi Seutuhnya dalam Menyongsong Masa Depan". Seminar diselenggarakan berkaitan dengan peringatan 50 tahun Yayasan Budi Bakti, sebuah yayasan yang mengelola lembaga pendidikan TK, SD, dan SLTP di Balikpapan.

Menurut Drost, penjurusan siswa SMU sejak masuk kelas satu akan membuat pendidikan di SMU menjadi lebih efisien karena sejak awal siswa sudah dipisahkan berdasarkan kemampuannya. Sebab, pengalaman selama ini menunjukkan, siswa yang berkemampuan lebih akhirnya bosan atau mundur prestasinya karena dicampur dengan siswa lain yang kemampuannya kurang.

Untuk dapat menerapkan sistem itu, demikian Drost, tidak ada cara lain kecuali pihak sekolah bersikap tegas terhadap orangtua calon siswa. "Jika anaknya memang tidak bisa diterima, ya, jangan diterima," kata Drost.

Ia menyadari, kendala penerapan penjurusan sejak awal di SMU ini adalah beragamnya kualitas lulusan SLTP. Akan tetapi, kalau sistem itu memang akan diterapkan seharusnya para guru di SLTP juga dilibatkan untuk menyiapkan peserta didiknya. Mereka juga diharapkan bersikap tegas dalam memberikan nilai berdasarkan kemampuan siswanya. "Jangan sampai karena macam-macam penilaian lain," kata mantan Direktur SMU Kanisius Jakarta itu.

Ditanya, bagaimana membangun dunia pendidikan di Kalimantan Timur (Kaltim), yang kaya sumber daya alam tetapi sumber daya manusianya masih sangat rendah, Drost awalnya tidak mau berkomentar. "Saya tidak banyak tahu daerah ini," katanya.

Setelah sedikit mendapat penjelasan, Drost berpendapat bahwa sebuah sekolah unggulan di Kaltim dapat dibangun untuk menampung anak-anak yang mempunyai kemampuan lebih. Dengan kemampuan keuangannya yang besar, Kaltim dapat mendatangkan guru-guru berkualitas untuk mengajar di sekolah tersebut.

Mengenai kelas akselerasi yang memungkinkan siswa berprestasi melompat ke kelas di atasnya, Drost menyatakan tidak setuju. "Anak akan menjadi sombong dan belum tentu berhasil di universitas," kata Drost. Begitu pula dengan fullday school yang kini tengah diujicobakan di Tarakan, Kaltim. (MSH)

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)