|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
"In Memoriam" ST Sularto
Mengantar Kepulangan Pater J Drost SJ
KAGET! Itu reaksi spontan ketika Mas Willie Koen, salah satu eks murid
Pater Drs Ignatius Josephus Gerardus Drost SJ, menelepon ke rumah, Sabtu
(19/2) malam. Ia mengabarkan Pater Drost meninggal, Sabtu sekitar pukul
16.15.
Dua tahun lalu, setelah beberapa minggu dirawat di Rumah Sakit St Carolus,
Pater Drost "setengah dipaksa" tinggal di Wisma Emaus, Girisonta, Semarang.
"Pater merasa dibuang," komentar seorang rekan sekoleganya. "Pater tak
bersemangat makan, sehingga badannya lemah," kata seorang perawat mengenai
kondisi Pater (artinya Bapak) Drost. Saat itu ia kelihatan lesu. Televisi
yang dipasang di Ruang Theresia pun tak menarik perhatiannya. Kepada eks
murid-muridnya yang berkunjung, Pater Drost tak mau banyak bicara. Semua
itu di luar kebiasaan. Luar biasa kalau Pater Drost tidak bercanda, tidak
juga banyak bicara.
Setengah tahun yang lalu, saat saya berkunjung, Pater Drost sedang tak ada
di tempat. Dari rekan-rekan kolega, para frater dan sesama penghuni Emaus,
diberi penjelasan, "Romo Drost sudah kerasan". Bulan April yang lalu, saat
ada sebuah diskusi masalah globalisasi di Kolese Ignatius, Yogyakarta,
kami bertemu. "Hei, saya sehat, lho," dia menyapa ramah, sebelum masuk ke
mobil yang membawanya kembali ke Girisonta.
Terkejut! Memang, sebab tiba-tiba kami mendengar dia dipanggil Tuhan.
Kalau dia bercanda dengan sopir dua jam sebelum kepulangannya, Pater Drost
kembali asli. Suka bercanda, sama seperti almarhum Prof Dr Slamet Iman
Santoso, rekan pendidik dekatnya: dekat dalam cara berpikir mengenai
pengembangan dunia pendidikan di Indonesia.
Rasa kaget niscaya menghinggapi eks murid-muridnya di Universitas Sanata
Dharma yang sedang mempersiapkan pesta 80 usia Pater Drost, tanggal 1
Agustus 2005. Untuk pesta itu, Rektor Universitas Sanata Dharma Dr Paul
Suparno SJ dan sejumlah rekannya mempersiapkan dua buku. Satu buku tentang
tulisan-tulisan Pater Drost yang pernah dimuat di media dan belum pernah
dibukukan. Satunya lagi tulisan yang dikoleksi dari sejumlah kontributor
tentang persoalan yang berkaitan dengan masalah pendidikan. "Kami akan
persembahkan pada ulang tahun Pater Drost nanti," kata B Rahmanto MHum,
eks murid yang diserahi sebagai editor.
BICARA to the point, cekak aos, ceplas-ceplos! Itu gaya Pater Drost.
Karena dia berangkat sebagai praktisi, ahli ilmu kependidikan, dan sukses
sebagai pendidik, tak pernah ada yang bisa membantah. Semua
manggut-manggut. Cara menyampaikan dan benang merah pendapat dan obsesinya
seperti (alm) Prof Dr Slamet Iman Santoso. Kalau Prof Slamet lebih
bersifat umum menyeluruh, Pater Drost menukik ke persoalan pendidikan
menengah atas, khususnya SMA, dan pendidikan tinggi, khususnya pendidikan
calon guru.
Tentang jumlah sarjana misalnya, Pater Drost berpendapat tak perlu dan tak
bisa semua lulusan SMA jadi sarjana. Hanya 30 persen dari materi diserap
oleh siswa SMA. Artinya, hanya 30 persen lulusan SMA siap masuk perguruan
tinggi. Untuk 70 persen lainnya harus disediakan pengajaran yang tidak
mengutamakan masuk ke perguruan tinggi. "SMA harus dikonsep dan diarahkan
untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Titik," katanya bersemangat.
Tentang ujian akhir nasional (UAN) tahun lalu, di tengah masa istirahatnya
di Wisma Emaus, dia menulis, "jangan sampai UAN terulang di tahun 2005".
Dia kritik habis sistem konversi, di mana anak yang bisa mengerjakan benar
lebih dari 50 persen nilainya dikurangi dan yang mengerjakan salah kurang
dari 50 persen ditambah. "Cara konversi itu mendidik anak untuk mencapai
tujuan dengan merampas hak orang lain.... Itulah jalan KKN," tulisnya.
Drost usul UAN diubah jadi ujian akhir. Alasannya, menggunakan bahan
nasional itu tidak mungkin. Hilangkan kata nasional. Indonesia terlalu
besar. Maka, dia usul diselenggarakan ujian akhir provinsi, yakni mengukur
kelulusan anak berdasar kematangan intelektual dan emosional suatu jenjang
tertentu.
Tentang guru, sejak tahun 1970-an, Drost menekankan penting dan
strategisnya posisi guru. Kalau dalam suatu daerah seluruh pengajaran
jelek, harus ada seleksi tenaga pengajar. Syarat ideal guru dalam kondisi
yang baik adalah guru SD minimal lulusan S1, guru SMP dan SMA lulusan S2.
Standardisasi kurikulum yang juga menjadi benang merah dan obsesi Prof
Slamet, menurut Drost, harus jadi kriteria minimal. Itu jadi syarat
minimal kompetensi keterampilan, atau istilah Pater Drost sebagai "kematangan
setiap jenjang pendidikan di tingkat provinsi maupun nasional".
MENYEBUT tiga materi obsesinya tentang praksis pendidikan, tak berarti
hanya tiga masalah itu jejak langkah Pater Drost. Hampir semua masalah
pendidikan dia rambah.
Dalam hal penyertaan data dan komitmen, gaya menyampaikan seperti almarhum
Romo JB Mangunwijaya. Kalau Romo Mangun lebih menyeluruh dari sudut
sosial-budaya-politik, dalam soal lembaga pendidikan dia terfokus pada
pendidikan dasar, konkretnya sekolah dasar. Kalau Pater Drost langsung
menukik hingga detail ke pendidikan menengah atas, khususnya SMA.
Masing-masing punya jejak langkah. Romo Mangun antara lain SD
Eksperimental Mangunan, Sleman, Pater Drost di antaranya IKIP Sanata
Dharma serta SMA Kanisius dan SMA Aloysius Gonzaga.
Berlatar belakang pendidikan fisika, lulus ITB tahun 1957, Pater Drost
bangga sebagai orang eksak. Tahun lalu misalnya, dia pun kumpul-kumpul
dengan alumni Astronomi ITB di Bandung. "Astronomi itu dizaman saya masuk
Fisika," katanya.
Meskipun demikian, pengalamannya sebagai Rektor IKIP Sanata Dharma (sekarang
Universitas; 1968-1976) mengantarnya sebagai manajer yang berpikir utuh.
Pendidikan humaniora di SMA dulu (gimansium) dan filsafat, menjadi
pelengkap. Di era Pater Drost, Sanata Dharma yang sebagian besar mahasiswa
berasal dari lingkungan pedesaan berhasil meluluskan calon-calon guru
tangguh yang dicari banyak sekolah. Meminjam istilah Pater Drost, "mereka
tidak hanya pengajar yang berpengetahuan luas dan mendalam, tetapi juga
seorang pendidik".
PATER Drost lahir di Jakarta, menyelesaikan sekolah dasar dan menengah di
Belanda. Ketika Jerman masuk Belanda, ia baru satu tahun kuliah. Karena
universitasnya ditutup, Drost dibawa ke Jerman, dipekerjakan di pabrik
besi. Setahun bekerja ia lari dengan menyamar sebagai petani. Perang Dunia
II usai, masuk novisiat Serikat Jesus di Belanda, yuniorat di Girisonta,
studi filsafat di Yogyakarta, sarjana fisika ITB, 1957, studi teologi di
Yogyakarta 1961. Tahun 1960, Frater Drost ditahbiskan oleh Mgr A
Soegijopranoto SJ. Tugas pertamanya jadi dosen di IKIP Sanata Dharma
sampai jadi rektor.
Selepas Kepala SMA Aloysius Gonzaga, Pater Drost ditugaskan di Padang,
kemudian balik ke Jakarta, lantas tinggal di Wisma Emaus sampai
meninggalnya, Sabtu pukul 16.15. Dalam kenangan banyak orang, serupa Romo
Mangunwijaya, Pater Drost tidak suka menyanyi. Walaupun keduanya dikenal
suka mendengarkan musik klasik.
Pater JIGM Drost SJ telah berpulang ke Allah Bapa! Saya buka kembali buku
harian saya, tanggal 20 September 1977. Tertulis di sana, "Hari ini
tanggal 20 September, saya datang kepada seorang narasumber yang sangat
saya segani... Dialah Romo Drost". Itulah wawancara panjang pertama, awal
dari kedekatan saya dengannya. Halaman buku harian itu menampilkan wajah
Pater Drost: rambut putih-kapas, hampir habis, wajah ceria, dan
lelucon-lelucon segar.
Pater Drost menyapa, "Sekarang, saya kerasan."
Pater, requiescas in pace! Pater, semoga Anda berbahagia dalam damai! (ST
SULARTO,
Kompas Senin, 21 Februari 2005)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|