A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Profesi
     ► Guru-Dosen
 ► Buku
 ► Galeri
 ► Link
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 20022005  
   
  ► e-ti/penabur  
  Nama:
Pater J Drost SJ
Nama Lengkap:
Drs Josephus Ignatius Gerardus Maria Drost SJ
Lahir:
Jakarta, 1 Agustus 1925
Meninggal:
Semarang, 19 Februari 2005
 
     
 

BERITA

 
  = Mengantar Kepulangan Pater J Drost SJ

= Orangtua Kacaukan Sistem Diknas
 
 
 
BERITA

"In Memoriam"

 

ST Sularto

Mengantar Kepulangan Pater J Drost SJ


KAGET! Itu reaksi spontan ketika Mas Willie Koen, salah satu eks murid Pater Drs Ignatius Josephus Gerardus Drost SJ, menelepon ke rumah, Sabtu (19/2) malam. Ia mengabarkan Pater Drost meninggal, Sabtu sekitar pukul 16.15.

Dua tahun lalu, setelah beberapa minggu dirawat di Rumah Sakit St Carolus, Pater Drost "setengah dipaksa" tinggal di Wisma Emaus, Girisonta, Semarang. "Pater merasa dibuang," komentar seorang rekan sekoleganya. "Pater tak bersemangat makan, sehingga badannya lemah," kata seorang perawat mengenai kondisi Pater (artinya Bapak) Drost. Saat itu ia kelihatan lesu. Televisi yang dipasang di Ruang Theresia pun tak menarik perhatiannya. Kepada eks murid-muridnya yang berkunjung, Pater Drost tak mau banyak bicara. Semua itu di luar kebiasaan. Luar biasa kalau Pater Drost tidak bercanda, tidak juga banyak bicara.

Setengah tahun yang lalu, saat saya berkunjung, Pater Drost sedang tak ada di tempat. Dari rekan-rekan kolega, para frater dan sesama penghuni Emaus, diberi penjelasan, "Romo Drost sudah kerasan". Bulan April yang lalu, saat ada sebuah diskusi masalah globalisasi di Kolese Ignatius, Yogyakarta, kami bertemu. "Hei, saya sehat, lho," dia menyapa ramah, sebelum masuk ke mobil yang membawanya kembali ke Girisonta.

Terkejut! Memang, sebab tiba-tiba kami mendengar dia dipanggil Tuhan. Kalau dia bercanda dengan sopir dua jam sebelum kepulangannya, Pater Drost kembali asli. Suka bercanda, sama seperti almarhum Prof Dr Slamet Iman Santoso, rekan pendidik dekatnya: dekat dalam cara berpikir mengenai pengembangan dunia pendidikan di Indonesia.

Rasa kaget niscaya menghinggapi eks murid-muridnya di Universitas Sanata Dharma yang sedang mempersiapkan pesta 80 usia Pater Drost, tanggal 1 Agustus 2005. Untuk pesta itu, Rektor Universitas Sanata Dharma Dr Paul Suparno SJ dan sejumlah rekannya mempersiapkan dua buku. Satu buku tentang tulisan-tulisan Pater Drost yang pernah dimuat di media dan belum pernah dibukukan. Satunya lagi tulisan yang dikoleksi dari sejumlah kontributor tentang persoalan yang berkaitan dengan masalah pendidikan. "Kami akan persembahkan pada ulang tahun Pater Drost nanti," kata B Rahmanto MHum, eks murid yang diserahi sebagai editor.

BICARA to the point, cekak aos, ceplas-ceplos! Itu gaya Pater Drost. Karena dia berangkat sebagai praktisi, ahli ilmu kependidikan, dan sukses sebagai pendidik, tak pernah ada yang bisa membantah. Semua manggut-manggut. Cara menyampaikan dan benang merah pendapat dan obsesinya seperti (alm) Prof Dr Slamet Iman Santoso. Kalau Prof Slamet lebih bersifat umum menyeluruh, Pater Drost menukik ke persoalan pendidikan menengah atas, khususnya SMA, dan pendidikan tinggi, khususnya pendidikan calon guru.

Tentang jumlah sarjana misalnya, Pater Drost berpendapat tak perlu dan tak bisa semua lulusan SMA jadi sarjana. Hanya 30 persen dari materi diserap oleh siswa SMA. Artinya, hanya 30 persen lulusan SMA siap masuk perguruan tinggi. Untuk 70 persen lainnya harus disediakan pengajaran yang tidak mengutamakan masuk ke perguruan tinggi. "SMA harus dikonsep dan diarahkan untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Titik," katanya bersemangat.

Tentang ujian akhir nasional (UAN) tahun lalu, di tengah masa istirahatnya di Wisma Emaus, dia menulis, "jangan sampai UAN terulang di tahun 2005". Dia kritik habis sistem konversi, di mana anak yang bisa mengerjakan benar lebih dari 50 persen nilainya dikurangi dan yang mengerjakan salah kurang dari 50 persen ditambah. "Cara konversi itu mendidik anak untuk mencapai tujuan dengan merampas hak orang lain.... Itulah jalan KKN," tulisnya.

Drost usul UAN diubah jadi ujian akhir. Alasannya, menggunakan bahan nasional itu tidak mungkin. Hilangkan kata nasional. Indonesia terlalu besar. Maka, dia usul diselenggarakan ujian akhir provinsi, yakni mengukur kelulusan anak berdasar kematangan intelektual dan emosional suatu jenjang tertentu.

Tentang guru, sejak tahun 1970-an, Drost menekankan penting dan strategisnya posisi guru. Kalau dalam suatu daerah seluruh pengajaran jelek, harus ada seleksi tenaga pengajar. Syarat ideal guru dalam kondisi yang baik adalah guru SD minimal lulusan S1, guru SMP dan SMA lulusan S2.

Standardisasi kurikulum yang juga menjadi benang merah dan obsesi Prof Slamet, menurut Drost, harus jadi kriteria minimal. Itu jadi syarat minimal kompetensi keterampilan, atau istilah Pater Drost sebagai "kematangan setiap jenjang pendidikan di tingkat provinsi maupun nasional".

MENYEBUT tiga materi obsesinya tentang praksis pendidikan, tak berarti hanya tiga masalah itu jejak langkah Pater Drost. Hampir semua masalah pendidikan dia rambah.

Dalam hal penyertaan data dan komitmen, gaya menyampaikan seperti almarhum Romo JB Mangunwijaya. Kalau Romo Mangun lebih menyeluruh dari sudut sosial-budaya-politik, dalam soal lembaga pendidikan dia terfokus pada pendidikan dasar, konkretnya sekolah dasar. Kalau Pater Drost langsung menukik hingga detail ke pendidikan menengah atas, khususnya SMA. Masing-masing punya jejak langkah. Romo Mangun antara lain SD Eksperimental Mangunan, Sleman, Pater Drost di antaranya IKIP Sanata Dharma serta SMA Kanisius dan SMA Aloysius Gonzaga.

Berlatar belakang pendidikan fisika, lulus ITB tahun 1957, Pater Drost bangga sebagai orang eksak. Tahun lalu misalnya, dia pun kumpul-kumpul dengan alumni Astronomi ITB di Bandung. "Astronomi itu dizaman saya masuk Fisika," katanya.

Meskipun demikian, pengalamannya sebagai Rektor IKIP Sanata Dharma (sekarang Universitas; 1968-1976) mengantarnya sebagai manajer yang berpikir utuh. Pendidikan humaniora di SMA dulu (gimansium) dan filsafat, menjadi pelengkap. Di era Pater Drost, Sanata Dharma yang sebagian besar mahasiswa berasal dari lingkungan pedesaan berhasil meluluskan calon-calon guru tangguh yang dicari banyak sekolah. Meminjam istilah Pater Drost, "mereka tidak hanya pengajar yang berpengetahuan luas dan mendalam, tetapi juga seorang pendidik".

PATER Drost lahir di Jakarta, menyelesaikan sekolah dasar dan menengah di Belanda. Ketika Jerman masuk Belanda, ia baru satu tahun kuliah. Karena universitasnya ditutup, Drost dibawa ke Jerman, dipekerjakan di pabrik besi. Setahun bekerja ia lari dengan menyamar sebagai petani. Perang Dunia II usai, masuk novisiat Serikat Jesus di Belanda, yuniorat di Girisonta, studi filsafat di Yogyakarta, sarjana fisika ITB, 1957, studi teologi di Yogyakarta 1961. Tahun 1960, Frater Drost ditahbiskan oleh Mgr A Soegijopranoto SJ. Tugas pertamanya jadi dosen di IKIP Sanata Dharma sampai jadi rektor.

Selepas Kepala SMA Aloysius Gonzaga, Pater Drost ditugaskan di Padang, kemudian balik ke Jakarta, lantas tinggal di Wisma Emaus sampai meninggalnya, Sabtu pukul 16.15. Dalam kenangan banyak orang, serupa Romo Mangunwijaya, Pater Drost tidak suka menyanyi. Walaupun keduanya dikenal suka mendengarkan musik klasik.

Pater JIGM Drost SJ telah berpulang ke Allah Bapa! Saya buka kembali buku harian saya, tanggal 20 September 1977. Tertulis di sana, "Hari ini tanggal 20 September, saya datang kepada seorang narasumber yang sangat saya segani... Dialah Romo Drost". Itulah wawancara panjang pertama, awal dari kedekatan saya dengannya. Halaman buku harian itu menampilkan wajah Pater Drost: rambut putih-kapas, hampir habis, wajah ceria, dan lelucon-lelucon segar.

Pater Drost menyapa, "Sekarang, saya kerasan."

Pater, requiescas in pace! Pater, semoga Anda berbahagia dalam damai! (ST SULARTO, Kompas Senin, 21 Februari 2005)

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)