| |
C © updated
21082003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama :
Drs. Ismeth Abdullah, E.D.I. Fellow
Lahir :
Cirebon, 29-09- 1946
Agama :
Islam
Istri :
S. Aida N. Ismeth, S.E., M.M.
Anak :
Rahmatsyah Ramadani
Abdul Haris
Fatria Chairany
Ayah :
Abdullah Umar Bamasmus
Pangkat :
Pembina Utama Madya
Jabatan :
Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam.
Pendidikan :
The Economic Development Institute of the World Bank, Washington,
D.C. USA.
Pekerjaan :
:: Staf Peneliti LPEM-FEUI Jakarta (Tahun 1971- 1973);
:: Manager Proyek PT. PDFCI
:: Direktur Pemasaran Bank Bukopin (Juli 1985-Juli 1989)
:: Staf Ahli Komisaris Utama pada Bank Kesejahteraan Ekonomi Januari 1990-
sekarang.
:: Pimpinan Harian/Chief Executive Dewan Penunjang Ekspor Oktober 1989-
Juli 1998.
:: Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Juli 1998 s.d.
sekarang).
Tanda Kehormatan :
:: Bintang Jasa Utama (Keppres No.051/KT/Tahun 2003 Tanggal 12
Agustus 2003)
:: Satyalancana Pembangunan Tahun 2000.
Tanda Penghargaan:
:: Piagam Penghargaan Menteri Koperasi dan Pengusaha Kecil dan
Menengah, dalam rangka mengembangkan usaha para eksportir kecil dan
menengah di seluruh Indonesia (1997)
Alamat :
JI. Kalibata Utara 11 No. 9, Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Drs. Ismeth Abdullah, EDI Fellow
Jadikan Batam Berbasis Telematika
Penerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama (12 Agustus 2003) ini dinilai
berjasa besar terhadap negara dan bangsa Indonesia, khususnya meningkatkan
pertumbuhan industri kecil dan menengah yang berbasis teknologi. Ketua
Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam ini menunjukkan visi yang
jauh ke depan melalui inisiatif dan dukungan pada program-program untuk
mewujudkan Pulau Batam sebagai Intelligent Island dan Bio Island. Pada
tahun 2000 ia juga telah menerima tanda kehormatan Satyalancana
Pembangunan.
Pria kelahiran Cirebon, 29 September 1946 ini menjelaskan bahwa
Intelligent Island berawal dari Inpres No.6 Tahun 2001 tentang
pengembangan dan pemberdayagunaan Telematika di Indonesia. Pengertian
Intelligent Island itu adalah knowledge/pengetahuan dalam penerapan di
Batam akan dikembangkan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk
telekomunikasi, media dan informatika (telematika) secara global yang akan
membawa dampak pada perubahan pola pikir dan cara pandang masyarakat dalam
melakukan berbagai kegiatan yang berorientasi pada aspek kemudahan dan
kecepatan dalam pertukaran akses informasi.
Penggunaan dapat di segala sektor, seperti di pemerintahan, kalangan usaha,
pendidikan, pasyarakat, sehingga akan didapat effisiensi yang tinggi.
Penerapannya di imigrasi Batam sudah berjalan dengan penggunaan SMART-CARD
bagi tenaga kerja dan pengusaha asing yang masuk di Batam, tanpa
menggunakan paspor untuk di cap stempel. Di Bea Cukai sedang dirintis
untuk pemasukan barang-barang dari luar negeri supaya terdata, juga untuk
barang-barang yang akan di export.
Sementara, Bio Island adalah untuk menjadikan Batam sebagai daerah usaha
di bidang agroindustri dengan menggunakan teknologi tinggi, sehingga akan
didapat basil produksi yang tinggi, mutu yang baik, dengan harga yang
kompetitip. Contohnya, penanaman sayur-sayur dan buah-buahan dengan Bio-teknologi,
tidak lagi memerlukan lahan yang luas, tapi panen dapat dilakukan beberapa
kali dengan mutu sesuai standar untuk di ekspor. Demikian pula dalam hal
pembudidayaan ikan dengan sistem keramba atau tambak dengan lahan yang
tidak perlu besar dapat menghasilkan produksi yang berlipat ganda.
Lulusan The Economic Development Institute of the World Bank, Washington,
D.C. USA, ini memulai karir sebagai Staf Peneliti LPEM-FEUI Jakarta (Tahun
1971- 1973). Kemudian menjadi Manager Proyek PT. PDFCI, suatu perusahaan
swasta yang bergerak di bidang Keuangan yang didirikan pada tahun 1973
oleh Bank Indonesia dengan IFC (Bank Dunia) untuk membantu pembiayaan
pengembangan sektor industri, manufaktur, pertanian, perikanan, dll (Juli
1974-1985).
Setelah itu, suami dari S. Aida N. Ismeth, SE, MM ini pun dipercaya
menjadi Direktur Pemasaran Bank Bukopin. Saai itu, bank ini telah
memberikan kredit kepada lebih dari 1500 Koperasi dan Usaha Kecil di
seluruh Indonesia (Juli 1985-Juli 1989). Selepas dari Bank Bukopin ia
menjabat Staf Ahli Komisaris Utama pada Bank Kesejahteraan Ekonomi yang
70% sahamnya dimiliki oleh IKP-RI (Induk Koperasi Pegawai Republik
Indonesia). Bank milik Pegawai Negeri ini telah memberikan bantuan kredit
Perumahan kepada Koperasi Pegawai Negeri di seluruh Indonesia dalam rangka
mencukupi kebutuhan Perumahan Pegawai Negeri diseluruh Indonesia (Januari
1990- sekarang).
Sejak Oktober 1989 sampai Juli 1998, ayah dari tiga anak (Rahmatsyah
Ramadani, Abdul Haris dan Fatria Chairany) ini pun dipercaya sebagai
Pimpinan Harian/Chief Executive Dewan Penunjang Ekspor, suatu badan yang
didirikan oleh Pemerintah RI dan Bank Dunia melalui Departemen
Perindustrian dan Perdagangan yang bertugas membantu eksportir kecil dan
menengah dalam mengembangkan ekspornya, berupa bantuan teknis, produksi,
pemasaran, tenaga ahli, dll. Sudah sekitar 1000 eksportir kecil dan
menengah di seluruh Indonesia yang pernah mendapat bantuan.
Setelah itu, sejak Juli 1998 ia pun dipercaya menjabat Ketua Otorita
Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam menggantikan BJ Habibie. Pada
tahun 2000 ia menerima tanda kehormatan Satyalancana Pembangunan.
Sebelumnya (1997), ia menerima Piagam Penghargaan Menteri Koperasi dan
Pengusaha Kecil dan Menengah, dalam rangka mengembangkan usaha para
eksportir kecil dan menengah di seluruh Indonesia. ►at
*** TokohIndonesia DotCom (Ensikolpedi Tokoh Indonesia)
|
|