| |
C © updated 17052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama :
Drs. Ismeth Abdullah, E.D.I. Fellow
Lahir :
Cirebon, 29-09- 1946
Agama :
Islam
Istri :
S. Aida N. Ismeth, S.E., M.M.
Anak :
Rahmatsyah Ramadani
Abdul Haris
Fatria Chairany
Ayah :
Abdullah Umar Bamasmus
Pangkat :
Pembina Utama Madya
Jabatan :
Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam.
Pendidikan :
The Economic Development Institute of the World Bank, Washington,
D.C. USA.
Pekerjaan :
:: Staf Peneliti LPEM-FEUI Jakarta (Tahun 1971- 1973);
:: Manager Proyek PT. PDFCI
:: Direktur Pemasaran Bank Bukopin (Juli 1985-Juli 1989)
:: Staf Ahli Komisaris Utama pada Bank Kesejahteraan Ekonomi Januari 1990-
sekarang.
:: Pimpinan Harian/Chief Executive Dewan Penunjang Ekspor Oktober 1989-
Juli 1998.
:: Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Juli 1998 s.d.
sekarang).
Tanda Kehormatan :
:: Bintang Jasa Utama (Keppres No.051/KT/Tahun 2003 Tanggal 12
Agustus 2003)
:: Satyalancana Pembangunan Tahun 2000.
Tanda Penghargaan:
:: Piagam Penghargaan Menteri Koperasi dan Pengusaha Kecil dan
Menengah, dalam rangka mengembangkan usaha para eksportir kecil dan
menengah di seluruh Indonesia (1997)
Alamat :
JI. Kalibata Utara 11 No. 9, Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Drs. Ismeth Abdullah, EDI Fellow
Ide The Little Singapura
Ismet Abdullah merupakan tokoh sentral kemajuan yang berhasil dicapai
Batam dewasa ini. Di bawah kepoemimpinannya sebagai Ketua Badan Otorita
Batam, Ismet tidak saja berhasil melewati masa-masa sulit di tengah
gejolak krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak pertengah 1997,
tetapi juga semakin memantapkan arah pejalanan Kota Batam menuju kota
Industri, sebagaimana ide dasar pengembangan kota itu.
Ismet Abdullah mulai memimpin Otorita Batam pada akhir Juli 1998.
Artinya, kepemimpinannya dimulai ditengah-tengah puncak krisis ekonomi
dan krisis perpolitikan nasional yang tengah memporak-porandakan
sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia.
Dalam kondisi sedemikian, tidaklah berlebihan bila jabatan Otorita Batam
seperti kursi panas bagi Ismet Abdullah. Ditengah-tengah berlangsungnya
krisis ekonomi dan politik, seperti yang berlangsung di Indonesia sejak
pertengahan 1997 hingga akhir 1999, jabatan yang paling tidak
mengenakkan adalah jabatan yang berhubungan dengan investasi.
Namun bagi Ismet Abdullah, tidak ada jalan lain kecuali bekerja keras
menunaikan tugasnya, yakni menarik investasi sebesar-besarnya ke Batam,
sekaligus mempersiapkan Batam sebagai zona perdagangan bebas – Free
Trade Zone (FTZ).
Wajar kiranya jika pada awalnya Ismet Abdullah merasa tidak percaya diri
memimpin Otorita Batam. Bagaimana tidak, ia harus menggiring aliran
investasi memasuki Batam ditengah-tengah pusaran hiruk pikuk sosial,
politik, dan perekonomian di Indonesia.
Bayangan masyarakat internasional dan investor terhadap Indonesia pada
saat itu, hanyalah ketidakpastian, ketidakamanan, dan ancaman
stabilitas. Jangankan untuk berinvestasi, untuk sekadar mengunjungi
Indonesia saja, banyak negara yang mengeluarkan travel warning (larangan
berkunjung) ke Indonesia bagi warga negaranya.
Bahkan setelah digulirkannya kebijakan pemulihan ekonomi (economic
recovery), berikut ditandatanganinya Letter of Intent (LoI) antara
pemerintah Indonesia dengan International Monetary Found (IMF) awal
tahun 1998, tidak serta merta menyejukkan iklim investasi Indonesia.
Campur tangan IMF dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia tidak secara
langsung memulihkan kepercayaan investor.
Kali ini, faktor pemicu keengganan investor beralih dari pertimbangan
ekonomi menjadi pertimbangan non ekonomi. Sebagaimana diketahui,
mengawali tahun 1998, kondisi stabilitas ekonomi di Indonesia sudah
relative membaik, ditandai dengan stabilnya pergerakan kurs rupiah
terhadap dollar AS dan mulai bergulirnya dana pinjaman asing ke
Indonesia melalaui IMF. Namun kinerja keuangan yang memabaik itu, tidak
berhasil memacu kepercayaan investor ditengah-tengah memburuknya kinerja
perpolitikan di Indonesia.
Demontrasi-demontrasi, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat umum,
hampir setiap hari mewarnai pemberitaan tentang Indonesia di televisi
internasional. Tak ayal lagi, kepercayaan masyarakat internasional yang
sudah mulai membaik setelah disepakatinya kerjasama pemulihan ekonomi
dengan IMF, kembali terpuruk. Bahkan para investor semakin apatis
melihat keadaan Indonesia ditengah-tengah memuncaknya eforia reformasi
yang memicu anarkisme dan kekerasan di berbagai daerah di Indonesia.
Realitas sosial politik dan ekonomi yang buruk seperti inilah yang
menyambut Ismet Abdullah dalam memimpin Otorita Batam. Dalam keadaan
seperti itu, Ismet Abdullah ibarat melawan rumusan baku investasi,
dimana tidak ada keamanan disitu tidak ada investasi. Akan tetapi, ia
harus mengalahkan rumus itu dan harus bekerja keras menarik investasi
diantara ketakutan investor terhadap keadaan yang tidak menentu di
Indonesia. Hanya keajaibanlah yang dapat menolongnya untuk berhasil
menggiring investor memasuki Batam di tengah-tengah jebakan eforia
reformasi.
Ternyata, keajaiban itu berpihak pada Ismet Abdullah. Dapat dibayangkan,
orang yang sebelumnya tidak pernahmenginjakkan kaki di Batam, harus
memimpin daerah itu ditengah-tengah keadaan yang tidak menentu. Akan
tetapi, dengan bermodalkan pengalamannya memimpin berbagai perusahaan
dan ketekunannya, Ismet Abdullah berhasil membawa kemajuan yang
signifikan di Batam.
Menurut jebolan Fakultas Ekonomi UI 1974 ini, kuncinya adalah belajar.
.”Saya terus belajar dan nyaris tidak menemukan kendala yang berarti,”
katanya pada satu media baru-baru ini.
Perkembangan signifikan Batam dibawah kepemimpinan Ismet Abdullah
terlihat dari tahun ke tahun. Indikator keberhasilan alumnus Economic
Development Institute of The World Bank, Washington DC USA ini terlihat
dengan jelas melalui indikator aliran investasi yang memasuki Batam
sejak kepemimpinannya.
Pada akhir tahun 1998, nilai keseluruhan investasi di Batam sebesar US$
6,75 miliar, yang ditandai dengan dominasi investasi swasta domestik.
Dari sisi investornya, kepemimpinan investasi swasta domestik masih
dominan, yakni sebesar asing US$ 2,29 miliar, yang kemudian diikuti
investasi swasta asing sebesar US$ 2,25 miliar, dan investasi pemerintah
yang berada pada urutan ketiga sebesar US$ 1,58 miliar.
Keberhasilan kepemimpinan Ismet Abdullah terlihat pada tahun keempat.
Keberhasilan ini tidak hanya ditandai dengan meningkatnya aliran
investasi yang masuk ke Batam, tetapi juga keberhasilan mengubah
struktur aliran investasi yang sebelumnya didominasi swasta dalam negeri
menjadi didominasi swasta asing.
Pada tahun 2001, total investasi yang masuk ke Batam tercatat sebesar
US$ 8,8 miliar atau naik US$ 2,5 miliar. Peringkat pertama aliran
investasi itu itu sudah dipimpin investasi asing dengan nilai US$ 3,4
miliar, sementara di tempat kedua diduduki investasi swasta dalam negeri
sebesar US$ 3,3 miliar, dan tempat ketiga diduduki investasi pemerintah
sebesar US$ 2,1 miliar.
Dari aliran investasi ini, jelas memperlihatkan keberhasilan Ismet
Abdullah memberi kepercayaan pada investor asing. Dan yang terpenting
tentunya, investor asing mempercayai kepemimpinan Ismet di Otorita Batam
akan memberi keuntungan pada mereka. Tahun 2005 total, aliran investasi
yang masuk ke Batam diperkirakan akan mencatat perkembangan yang lebih
signifikan lagi dengan total investasi sebesar US$ 13,17 miliar.
Prestasi Ismet juga dapat dilihat dari parameter jumlah perusahaan yang
beroperasi di Batam. Pada awal kepemimpinannya di Otorita Batam pada
tahun 1998, jumlah perusahaan asing yang beroperasi di Batam hanya 338
buah. Namun pada akhir 2001 jumlah perusahaan itu sudah mencapai 531.
ini membuktikan bahwa kepemimpinan Ismet Abdullah benar-benar dipercaya
investor asing.
Saat ini, sejumlah investasi ditanamkan perusahaan-perusahaan raksasa
dunia di Batam. Sebut saja Ciba Vision, Mc Dermott, Sanyo, Panasonic,
Hyundai, dan sejumlah perusahaan multinasional yang sudan dikenal dunia.
Kemajuan investasi di Batam, tidak hanya meningkatkan lapangan kerja
pada sektor informal, melalui permintaan tenaga kerja oleh
perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Batam, tetapi juga merangsang
pertumbuhan lapangan kerja di sektor informal. Pada tahun 1998, sektor
informal tercatat menyerap angkatan kerja 141.000 orang, namun pada
tahun 2001 sektor informal ini berhasil menyerap angkat kerja menjadi
165.000 orang.
Hal lain yang tidak kalah menggembirakan adalah dampak ekonomi yang
dihasilkan batam, tidak hanya dinikmati pekerja dan masyarakat Batam
saja, tetapi juga masyarakat luar daerah Batam, khususnya daerah asal
para pekerja. Aliran uang keluar dari Batam ke daerah-daerah lain di
Indonesia melalui wesel pos, yang dikirimkan pada pekerja kepada
keluarganya di daerah lain, tidak kurang dari Rp 125 miliar per tahun.
Disamping itu, keberadaan Batam semakin penting diantara kontribusinya
terhadap perekonomian nasional. Dalam hal ini peranan Batam terhadap
perekonomian nasional adalah sumbangannya terhadap penerimaan negara
dari pajak. Keberadaan Batam ditengah-tengah perekonomian nasional,
tidak hanya jumlah pajak yang dihasilkannya, tetapi juga keberhasilannya
mencapai rasio pajak (tax ratio) yang jauh diatas rasio pajak nasional.
Sebagai kota industri, setiap tahunnya Batam mencapai tingkat rasio
pajak rata-rata 20% pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Angka
ini jauh lebih tinggi dari rasio pajak nasionasl yang hanya 11-14 persen
pada Produk Domestik Bruto (PDB).
Pada tahun 2001, penghasilan negara (pemerintah Pusat) dari pajak,
mencapai Rp 946 miliar. Angka ini meningkat tajam dari penghasilan pajak
tahun 1998, yang masih berkisar Rp 769 miliar. Sementara, untuk
pemerintah kota Batam sendiri, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
dihasilkan Kota Batam cukup besar, yakni mencapai Rp 90 miliar pada
tahun 2001.
Kontribusi lain dari Batam terhadap perekonomian nasional, juga dapat
dilihat dari volume dan nilai ekspor non migasnya. Pada tahun 2001,
Batam mencatat nilai ekspor non migas sebesar US$ 5,7 miliar. Angka ini
merupakan 13 % persen dari total ekspor nasional. Persentase ekspor non
migas Batam terhadap ekspor nasional, tidak terlepas dari laju
pertumbuhan ekonomi non migas di Batam, yang pada tahun 2001 mencapai
7,90 persen pada PDRB. Jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan
ekspor non migas nasional yang hanya 3,5 persen pada tahun 2001, maka
sangat jelas memperlihatkan peran strategis batam dalam perekonomian
nasional.
Demikian juga dengan Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) Batam yang
terus menerus meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai angka Rp
8,09 triliun pada tahun 2001 lalu, merupakan dampak langsung dari aliran
investasi yang memasuki Batam.
Dari sejumlah parameter ekonomi di atas, kiranya tidaklah berlebihan
jika Ismet Abdulla membangun Visi “Little Singapura” bagi Batam.
Keberadaan Batam tidak hanya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang
menciptakan multiplier effect kepada daerah kabupaten di seluruh
Kepulauan Riau, tetapi juga menjadi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di
pulau Sumatera, khususnya kawasan Pantai Timur Sumatera.
Yang menjadi pertanyaan, apa kiat sukses Ismet Abdullah menari investor
ke Kota Batam? Ternyata sangat mudah, kerja keras menggiring investasi
di Batam tak sekadar parameter kesiapan mengurus izin saja, karena itu
hanya 15 persen dari upaya yang harus dilakukan. Yang terpenting adalah
85 % lainnya, yakni bagaimana meyakinkan investor. ►hmp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensikolpedi Tokoh Indonesia)
|
|