| |
C © updated 07102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Irwan Hidayat
Lahir:
Yogyakarta, 23 April 1947
Jabatan:
Presiden Direktur PT Sido Muncul
Alamat Kantor:
Jalan Soekarno Hatta km 28, Kecamatan Bergas, Klepu, Semarang,
Indonesia
Telp. (0298) 523.515, Faks.523.509
|
|
| |
|
|
|
|
Irwan Hidayat
Generasi Ketiga Sido Muncul
Di tangan Irwan Hidayat, generasi ketiga, Sido Muncul menjelma menjadi
industri jamu yang setara dengan industri farmasi. Sido Muncul siap
mendunia dengan beragam produk jamu yang sudah teruji secara klinis. Tahun
2000, pemerintah telah memberi lisensi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
kepada perusahaan jamu yang dirintis Sang Nenek, Ny Rakhmat Sulistyo
dengan merek dagang Sido Muncul, sejak November 1951 itu.
Awalnya, Sido Muncul tidaklah terlalu istimewa, sama saja seperti industri
jamu lain yang ribuan jumlahnya dengan beragam merek. Irwan Hidayat (kelahiran
Yogyakarta tahun 1947), bersama empat orang adiknya sebagai generasi
ketiga pemilik Sido Muncul, menerima warisan perusahaan pada tahun 1972
sesungguhnya sedang dalam keadaan kurang menguntungkan.
Perusahaan menanggung utang dan hampir tak memiliki aset yang berarti.
Utang bahan baku, kalau dihitung-hitung, itu setara dengan 30 bulan omzet
perusahaan. Aset pabrik hanya 600 meter persegi, itupun tanpa memiliki
sebuah mesin pun. Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT Sido Muncul,
menggambarkan kondisi perusahaan yang demikian apa adanya sebagai warisan
keluarga yang harus diselamatkan.
Mengapa Irwan menjadi penerima ketiga tongkat estafet kepemimpinan Sido
Muncul, dari pendiri Ny Rakhmat Sulistyo kepada generasi kedua ayah Irwan,
lalu dari ayah turun ke generasi ketiga Irwan Hidayat, agaknya adalah
pertanda garis keberuntungan Sido Muncul. Logo perusahaan semenjak berdiri
hingga kini tak pernah berubah, berisi foto Irwan Hidayat dengan neneknya.
Saat bayi Irwan yang tampak rewel baru akan mau berhenti menangis jika
ditimang oleh sang nenek.
Ketika terjadi clash-II tahun 1949, keluarga Sulistyo hijrah dari
Yogyakarta menuju Semarang. Bayi mungil Irwan Hidayat ikut diboyong. Dua
tahun kemudian perusahaan jamu Sido Muncul resmi berdiri, di Semarang.
dengan membawa logo perusahaan foto Irwan Hidayat bersama neneknya.
Foto pendiri sebagai logo perusahaan jamu sedang trend, ketika itu, sama
seperti logo jamu Nyonya Item dan Nyonya Kembar keluaran Ambarawa,
demikian pula logo jamu Nyonya Meneer dari Semarang. Menurut penuturan
Irwan Hidayat, ketika hendak memberi logo pada perusahaan jamunya, sang
nenek berpikir kalau fotonya dan suami yang dipasang kelihatan aneh. Maka,
sebagai cucu yang paling dekat jadilah foto Irwan Hidayat dipilih sebagai
pendamping.
Sebagai bisnis keluarga yang dikelola turun-temurun, Irwan Hidayat mencoba
tetap bertahan menghadapi pasang surut bisnis jamu. Dia percaya akan ada
titik terang yang akan mencerahkan harapan dan kepercayaannya kepada
industri jamu, sebuah produk tradisional khas Indonesia yang berfungsi
menjaga kesehatan dan merawat kecantikan tubuh manusia. Karena jamu
merupakan warisan nenek-moyang, yang sudah mendarah-daging di hati segenap
warga masyarakat, wajar jika Irwan berharap masyarakat masih akan
memberikan kepercayaan kepada jamu. Hingga tahun 1993 terang itu masih
belum ditemukan.
Mau belajar
Irwan lalu menyadari bahwa telah terdapat banyak kesalahan yang pernah
dilakukannya hanya karena ketidaktahuan. Di tahun 1993, secara tak terduga
ia memperoleh pelajaran sangat berharga justru dari orang gila. Orang gila
ini dengan terus terang menyebutkan bahwa jamu yang dibuat Irwan Hidayat
pahit, tidak enak. Irwan kemudian berpikir keras bagaimana membuat jamu
yang disukai. Pelajaran berharga lain masih diperolehnya. Dari biro iklan
yang menolaknya mengajarkan, bahwa menjalankan bisnis harus dengan hati
nurani. Dan dari tukang bajaj, diperolehnya pelajaran yang mengajarkan
setiap kita mempunyai tanggungjawab sosial, beribalah dengan hati, bukan
sekedar kewajiban.
Irwan berkesimpulan perusahaannya sebagai pioner industri jamu modern
harus memiliki visi memberi manfaat lebih banyak kepada masyarakat, dan
tidak mengejar keuntungan semata. Berdasarkan rasa tanggungjawab sosial
itulah, Sido Muncul mengambil inisiatif memberikan anugerah tahunan Sido
Muncul Award kepada setiap individu yang rela memberikan sebagian hidupnya
untuk membantu sesama yang kurang beruntung, atau kepada individu yang
peduli dan peka terhadap masalah sosial.
Di lain masa ketidaktahuan lain justru pernah menyelamatkan Irwan Hidayat.
Tahun 1997 ketika banyak industri dan pelaku usaha terseok-seok karena
hantaman badai krisis melanda ekonomi Indonesia, Sido Muncul justru
membangun pabrik jamu modern dengan sertifikasi industri farmasi. Ia, yang
tidak mempunyai utang dalam dolar AS, itu nekat membangun pabrik. Karena
tidak tahu, dari Rp 15 miliar uang yang dianggarkan biaya pembangunan
pabrik, itu membengkak menjadi Rp 30 miliar.
Selain pabrik, laboratorium Sido Muncul juga distandarkan dengan
laboratorium farmasi. Di kawasan pabrik seluas 32 hektar dia membangun
laboratorium seluas 3.000 meter persegi berbiaya Rp 2,5 miliar, pabrik
seluas tujuh hektar, termasuk pabrik mie. Di areal sama ikut dikembangkan
sarana agrowisata seluas 1,5 hektar.
Makna kenekatan karena ketidaktahuan telah menyelamatkan, itu baru
dimaknai oleh Irwan Hidayat setelah memperoleh buah dari kerja kerasnya.
Tahun 2000 Departemen Kesehatan memberikan sertifikat Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB) kepada PT Sido Muncul, sertifikat yang biasanya diberikan
hanya kepada industri farmasi. Dengan CPOB lisensi pembuatan jamu Sido
Muncul disetarakan dengan lisensi obat-obatan produksi industri farmasi.
Karenanya, jika Sido Muncul yang industri jamu memperoleh sertifikat CPOB,
ini adalah sebuah lompatan besar. Sebab sebelumnya kepada industri sejenis
sertifikat paling tinggi yang pernah diberikan pemerintah adalah Cara
Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).
Berdasarkan lisensi sertifikat COPB Irwan Hidayat menjadi berani lantang
menyebutkan, “Kini kami siap menghadapi persaingan global.” Dengan CPOB
“gengsi” jamu terangkat menjadi setara dengan obat. Atau, paling tidak
jamu menjadi obat alternatif yang terbukti dapat diuji secara klinis
keabsahan dan keilmiahannya sebagai obat. Dengan CPOB terbuka pula pasar
yang seluas-luasnya bagi setiap jamu produksi Sido Muncul. PT Sido Muncul
kini memiliki 150 item produk jamu baik yang bermerek (branded) maupun
yang generik. Sedikit diantara produk bermerek unggulan Sido Muncul,
antara lain Kuku Bima, Tolak Angin, Kunyit Asem, Jamu Komplit, Jamu Instan,
STMJ, Anak Sehat, dan lain-lain.
Kelengkapan infrastruktur pabrik dan beragam produk untuk konsumsi
masyarakat mulai dari kalangan bawah hingga atas, memberi kesempatan
kepada Irwan untuk tinggal menggenjot pemasaran. Tak seperti kebanyakan
direktur perusahaan lain Irwan Hidayat dengan rendah hati mau melepas jas
dan dasi untuk keluar-masuk atau blusak-blusuk ke pasar-pasar tradisional
yang pastinya beraroma khas tidak mengenakkan. Ia ingin mengetahui peta
pasar produk-produk Sido Muncul, memahami persoalan yang muncul di
lapangan, sekaligus berdialog dan bertatap muka langsung dengan para
pedagang dan penjaja jamu gendong. Pada sisi lain, Irwan ingin agar para
pedagang merasa terhormat ketika dikunjungi.
Tembus pasar asing
Keterbatasan pasar adalah kendala klasik yang dialami hampir oleh seluruh
industri jamu di tanah air. Sebuah keterbatasan yang bermula dari
kekurangpercayaan masyarakat terhadap jamu secara utuh. Padahal, “Semua
dimiliki oleh jamu, ribuan spesies tanaman obat ada di Indonesia, ahli
pembuat jamu banyak. Yang tidak dimiliki industri jamu adalah kepercayaan.
Kepercayaan konsumen itu yang harus kita bangun,” kata Irwan Hidayat, yang
sebelum menggeluti industri jamu pernah bekerja di sebuah perusahaan
farmasi.
Ketidakpercayaan muncul sebab tak ada rujukan resmi untuk bertanya atau
konsultasi tentang jamu. Jika obat-obatan farmasi mengenal dokter,
demikian pula obat tradisional keluaran China mengenal istilah sinshe
sebagai pengobat, tidak demikian halnya dengan jamu. Jamu tidak mengenal
istilah tabib jamu, dokter jamu, sinshe jamu, atau pengobat jamu yang bisa
berperan membangun kepercayaan publik bahwa jamu punya kredibilitas dalam
hal kebersihan, uji toksisitas (tingkat peracunan), dan syarat-syarat lain
yang harus dipenuhi oleh setiap obat.
Kekurangpercayaan itulah yang membuat “pohon” industri jamu tetap kerdil
membonsai, perputaran uangnya hanya Rp 2 triliun pertahun. Itu pun dibagi
kepada 650 perusahaan pabrik jamu. Bandingkan misalnya, dengan omset obat
industri farmasi yang tahun 2003 mencapai Rp 20 triliun untuk 260
perusahaan. Untung saja, jika bahan baku industri farmasi sekitar 30
persen merupakan bahan baku impor maka industri jamu 99 persen bahan
bakunya berasal dari bumi Indonesia.
Struktur pangsa pasar jamu dan obat Indonesia berbeda terbalik seratus
delapan puluh derajat dengan China. Di sana obat-obatan tradisional jauh
lebih besar pangsa pasarnya daripada obat modern. Karena itulah, dengan
CPOB semangat Irwan tumbuh kuat berusaha keras agar bisa menembus pasar
China. Semangat menembus pasar China bermakna dua hal: Memasuki pangsa
pasar obat-obatan tradisional China yang masih terbuka luas, serta sebagai
peredam ampuh atas maraknya obat-obatan tradisional China yang dibawa oleh
para sinshe ke Indonesia. Mudahnya Indonesia ditembus produk China sangat
kontras dengan ketatnya pemerintah China melindungi industri obat-obatan
tradisionalnya.
Irwan Hidayat sesungguhnya tak ingin mempersalahkan siapapun. Ia lebih
suka mengembangkan cita-cita sendiri: Bagaimana menjadikan industri jamu
sebagai bagian dari pembangunan sistem kesehatan nasional. Ia sedang
merintis langkah untuk mendidik para pengobat, seperti halnya China
mengembangkan pengobatan dengan cara mendidik para sinshe. “Saya punya
cita-cita ada pendidikan naturopath di Indonesia, sebenarnya Departemen
Kesehatan bisa membantu ke arah sana, toh naturopath ini bukan hal baru,
sudah diakui keberadaannya, dan kita punya potensi bagus di bidang ini,”
ujar Irwan.
Diversifikasi produk
Irwan Hidayat dengan Sido Munculnya belakangan sudah berhasil menembus
pasar Hongkong. Ia kini tinggal berusaha lebih keras lagi memasuki China.
Irwan harus bisa membuktikan bahwa produknya lebih baik dari yang dimiliki
China. Keberhasilan menembus pasar negara asing akan menjadi gaung yang
berbalik untuk meningkatkan kepercayaan pasar dalam negeri.
Irwan Hidayat telah melakukan banyak hal untuk memupuk kepercayaan pasar
dalam negeri dimaksud. Dengan melakukan diversifikasi produk, misalnya.
Irwan Hidayat mulai mengembangkan produk berdasarkan brand atau merek
terutama untuk minuman kesehatan dalam bentuk serbuk. Irwan juga mulai
gencar mengembangkan produk lain karena yakin potensi pasarnya masih besar,
seperti produk mie instan, permen kesehatan, dan minuman kesehatan dalam
bentuk cair. Tidak tanggung-tanggung, Irwan menggunakan publik figur
terkemuka dari kalangan atas sebagai bintang iklan untuk mempromosikan
produk jamunya.
Tak kurang pengusaha papan atas sekaligus budayawan Setiawan Djodi, atau
bintang pop Sophia Latjuba, pakar pemasaran Rhenald Kasali, dan kelompok
musik yang sedang digandrungi “Dewa”, adalah sekelumit figur publik yang
Irwan Hidayat gunakan untuk meningkatkan citra Sido Muncul. Dari kalangan
selebritis lain ada Dony Kesuma dan Rieke Dyah Pitaloka yang mempromosikan
minuman energi. Kehadiran figur-figur kalangan menengah-atas dalam iklan,
itu dimaksudkan pula untuk membangun pasar vertikal bahwa kelompok
masyarakat menengah-atas termasuk lintas etnis juga berhak minum jamu.
Iklan-iklan Sido Muncul pernah berhasil mendapatkan penghargaan Anugerah
Cakram tahun 2002 untuk kategori pengiklan terbaik.
Irwan Hidayat tetap tak merasa cukup memajang para selebritis sebagai alat
mempromosikan Sido Muncul. Dia sendiri aktif turun ke bawah, terjun
langsung ke pasar, menjumpai para distributor, agen, bahkan pedagang jamu
gendong atau pemilik kios jamu yang sehar-hari memasarkan produknya. Irwan
mempunyai 60 distributor tersebar di setiap kabupaten di Pulau Jawa,
sebagai mitra usaha. Semua distributor itu ditunjang oleh keberadaan
120.000 orang pedagang jamu gendong dan 30.000 depot jamu. Jaringan
pemasaran hingga ke tingkat yang paling bawah demikian, sebagai ujung
tombak pemasaran, rajin dikunjungi Irwan. Setiap kunjungan selain
menyentuh sifatnya juga membuat ikatan diantara perusahaan dengan jaringan
pemasaran menjadi lebih kuat.
Bukti konkret keberhasilan model pemasaran menjambangi semua tingkatan,
adalah, hanya dalam tempo tiga bulan semenjak diluncurkan, salah satu
produk minuman kesehatan Sido Muncul bisa terjual 16 juta bungkus. Atau,
sekitar seperenam dari pasar minuman kesehatan yang dikuasai oleh minuman
sejenis yang telah lebih dahulu masuk dan memimpin pasar.
Iklan-iklan Sido Muncul pernah berhasil mendapatkan penghargaan Anugerah
Cakram tahun 2002 untuk kategori pengiklan terbaik. Keseriusan Irwan
Hidayat masih membuahkan beragam penghargaan lain. Seperti, penghargaan
Kehati Award tahun 2001, Bung Hatta Award tahun 2002 sebagai perusahaan
teladan, Produk Terbaik dari ASEAN Food Conference ke-8, Penghargaan Merek
Dagang Indonesia tahun 2003, dan penghargaan dari Departemen Perhubungan
dan Departemen Tenaga Kerja sebagai pelaku bisnis peduli lingkungan,
karena telah menyelenggarakan program mudik Lebaran gratis buat para
pedagang jamu yang telah dilakukan sejak tahun 1995. ►ht, sumber
utama Kompas, Sinar Harapan
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|