| |
C © updated 29092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ms |
|
| |
Nama:
H. Irman Gusman, SE, MBA
Lahir:
Padangpanjang, 11 Februari 1962
Agama:
Islam
Ayah:
Ayah Drs. H. Gusman Gaus
Ibu:
Hj. Janimar Kamili
Istri:
Liestyana Rizal, lahir di Makassar 13 Oktober 1964
Anak:
1. Irviandari Alestya Gusman
2. Irviandra Fathan Gusman
3. Irvianjani Audria Gusman
Pendidikan:
SD Negeri 58 Padang, 1973
SMP Negeri 3 Padang, 1976
SMA Negeri 2 Padang, 1979
S-1, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (FE-UKI) Jurusan
Ekonomi Perusahaan, 1985
S-2, Master of Business Administration (MBA) Majoring in Marketing
School of Business University of Bridgeport, Connecticut, AS, 1987
Pengalaman Kerja:
Komisaris Utama PT Padang Industrial Park (PIP)
Komisaris Utama PT Khage Lestari Timber
Komisaris Utama PT Sumatera Korea Motor
Komisaris PT Abdi Bangsa, Tbk 2000-2002
Direktur Utama PT Prinavin Prakarsa
Pemipin Umum Harian ‘Mimbar Minang’
Komisaris Utama PT Guthri Pasaman Nusantara
Komisaris Utama PT Kopitime DotCom, Tbk
Pendiri Koperasi Equatorial Minang Media
Pengalaman Politik:
Anggota MPR RI Utusan Daerah Sumatera Barat, 1999-2004
Wakil Ketua Fraksi Utusan Daerah MPR RI, 2002-2004
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2004-2009
Pengalaman Organisasi:
Penasehat Majelis Ekonomi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Propinsi
Sumatera Barat, 2000-2005
Dewan Pakar Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2000-2005
Anggota Dewan Penyantun Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Wakil Ketua Bidang Pemasyarakatan Bulutangkis Pengurus Besar PBSI
2001-2004
Dewan Pakar Gebu Minang, 1999-2003
Wakil Ketua Bidang Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Dewan Pengurus
Asosiasi Pengusaha Hutan (APHI), 1998-2003
Wakil Ketua Forum Komunikasi Usahawan Serantau (FOKUS)
Ketua Yayasan Amal Bhakti Mukmin Indonesia (Albani)
Ketua SekolahTinggi Ilmu Manajemen dan Komputer (STMIK), Padang
Ketua Lembaga Pengkajian Pengembangan Ekonomi (LP2E) Hipmi Pusat
Anggota/Pengurus Kamar Dagangdan Industri Indonesia (Kadin)
Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat 2002-2005
Kegiatan Internasional:
Menghadiri pertemuan tahunan para pemimpin dunia World Economic
Forum (WEF) di Davos, Swiss, serta New Asian Leader dan East Asia Economic
Summit
Anggota International Business Advisory Council (IBAC) pada Direktur
Jenderal Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade Organization/WTO),
berkedudukan di Lausanne, Geneva, Swiss.
Alamat Rumah:
Jalan Kuricang Raya No. 1, Depan Komplek DPR, Bintaro Jaya Sektor
IIIA, Jakarta Selatan
Jl Akasia No 4 Danau Teduh Padang, Sumatera Barat
Alamat Kantor:
Gedung Arthaloka Lt. 16, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 2, Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Irman Gusman
Pengusaha Pejuang Daerah
Suku Minangkabau sejak lama adalah salah satu ‘lumbung’ nasional penghasil
politisi dan negarawan terkemuka. Salah seorang, Irman Gusman, pengusaha,
politisi dan negarawan muda usia berpandangan jauh ke depan. Pria
kelahiran Padang Panjang 11 Februari 1962, ini adalah salah seorang
pejuang kesetaraan daerah dan pusat. Mantan Wakil Ketua Fraksi Utusan
Daerah (F-UD) MPR RI 2002-2004, ini terpilih menjadi Wakil Ketua Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) 2004-2009.
Meniti karir dari bawah sebagai usahawan sukses, era reformasi mencetuskan
keterpanggilan jiwa-batin Irman untuk terlibat langsung memperbaiki nasib
dan masa depan bangsa. Fraksi TNI/Polri DPRD Sumatera Barat di tahun 1999
mempercayainya sebagai Utusan Daerah untuk duduk di lembaga tertinggi
negara MPR RI. Di lembaga itu secara perlahan namun pasti Irman Gusman
mulai terlibat intens mempersiapkan cetak biru wajah perpolitikan baru
masa depan lewat sejumlah amandemen konstitusi.
Sebagai pengusaha yang piawai mengadakan lobi-lobi bisnis Irman Gusman
begitu lincah bergerak memperjuangkan aspirasi yang dititipkan oleh daerah
Sumatera Barat untuk diperjuangkan di tingkat nasional. Aspirasi itu
adalah menempatkan setiap kepentingan daerah selalu dalam perspektif
nasional. Itu berarti kepentingan dan aspirasi daerah yang diperjuangkan
Irman Gusman sejatinya adalah sama dan sebangun dengan perjuangan dan
aspirasi setiap daerah-daerah lain yang, akhirnya terakumulasi sebagai
aspirasi nasional sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan UUD ’45 yakni
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Irman awalnya memprakarsai pembentukan Fraksi Utusan Daerah (F-UD) MPR,
yang beranggotakan 53 orang sebagai alat kelengkapan Majelis untuk bisa
dimanfaatkan bersuara lantang memperjuangkan aspirasi dan kepentingan
daerah.
Wajah yang simpatik, tatapan mata yang teduh, tutur kata yang runtut,
sistematis, berbobot, dan jelas arah, serta ditopang tubuh atletis yang
dibalut penampilan rapi pakaian lengkap berdasi dan jas membuat Irman
suami dari Liestyana Rizal dengan mudah bisa meyakinkan lawan bicara.
Di kalangan politisi Senayan ayah tiga orang anak Irviandari
Alestya Gusman, Irviandra Fathan Gusman, dan Irvianjani Audria Gusman
segera saja dikenal sebagai pelobi ulung yang berpotensi mewarnai penuh
wajah pentas perpolitikan nasional. Irman bahkan berani merogoh kocek
untuk mengumpulkan sejumlah politisi di hotel-hotel mewah agar keputusan
lobi yang dihasilkan berkualitas sekaligus berguna menyelesaikan sejumlah
persoalan bangsa.
Lobi-lobi yang digulirkan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Kristen
Indonesia (FE-UKI) Jurusan Ekonomi Perusahaan tahun 1985 antara lain
berhasil menggolkan pembentukan Fraksi Utusan Daerah (F-UD) MPR di tahun
2001, setelah sebelumnya tahun 2000 sempat dibekukan.
Sebagai politisi non partisan murni memperjuangkan kepentingan
semua golongan masyarakat tanpa disekat kepentingan praksis sesaat model
partai-partai politik, selama pembekuan F-UD Irman bergabung berjuang
dalam Fraksi Utusan Golongan (F-UG). Lobi dan perjuangan Irman untuk
menegaskan kembali bahwa komitmen Anggota MPR ‘alumni’ Utusan Daerah
adalah murni di garis perjuangan aspirasi dan kepentingan daerah.
Fraksi Utusan Daerah akhirnya kembali bisa hidup di tahun 2001, sekaligus
menempatkan nama Irman sebagai salah satu Wakil Ketua F-UD sejak tahun
2902. Tak berhenti di situ, perjuangan baru Irman adalah menuntut agar MPR
menempatkan seorang anggota Utusan Daerah duduk sebagai Wakil Ketua MPR.
Bermodalkan alat kelengkapan baru bernama Fraksi Utusan Daerah Irman
bersama kolega dan fraksi-fraksi lain berhasil melakukan sejumlah
amandemen konstitusi. Seperti, keharusan melaksanakan pemilihan umum
presiden dan wakil presiden secara langsung, demikian pula terhadap setiap
kepala daerah gubernur, bupati, dan walikota harus dipilih langsung.
Puncak pencapaian lain amandemen adalah kesepakatan nasional
membentuk lembaga tinggi negara baru bernama Dewan Perwakilan Daerah (DPD),
dikhususkan hadir untuk membangun kesetaraan dan persamaan pembangunan
nasional melalui pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi di segala
bidang secara konstitusional.
DPD, karena ide awalnya adalah memperjuangkan kesetaraan dan kesamaan
antara kepentingan daerah dengan pusat, maka, setiap daerah tingkat satu
diwakili sama oleh empat anggota DPD tanpa memperhitungkan perbedaan
geografi dan demografi penduduk setiap propinsi.
Selintas kehadiran DPD ‘hanya’ untuk mengakomodasi dihapuskannya F-UD di
MPR muai tahun 2004, sebagai salahsatu hasil lain amandemen konstitusi.
Namun Irman Gusman menegaskan kehadiran DPD adalah untuk membangun
kesetaraan dengan semua institusi politik lain DPR, MPR, Presiden, BPK,
dan MA yang dalam sistem ketatanegaraan baru adalah sama-sama lembaga
tinggi negara.
Berbeda dengan F-UD sebelumnya yang hanya sub-ordinat dari
lembaga tertinggi negara MPR, DPD bekerja independen, bisa menjadi
penyeimbang DPR, bahkan berpotensi menjadi saluran aspirasi alternatif
baru di luar jalur konvensional DPR.
Irman berhasil membawa sistem perpolitikan nasional menjadi bikameral yang
menempatkan DPD sama seperti Senator di Amerika Serikat. Perjuangan ini
agaknya masihlah langkah awal baru dalam benak Irman.
Sebab sebagaimana galibnya dalam sistem bikameral lembaga
senator adalah kawah candradimuka ajang pelatihan yang bisa menghantar
anggotanya menjadi calon gubernur bahkan hingga mencapai puncak tertinggi
sebagai calon presiden, sebagaimana calon presiden AS John F. Kerry dari
Partai Demokrat yang pada Pemilu 2 November 2004 bersaing dengan the
incumbent president George W. Bush dari Partai Republik.
Kesempatan menjadi eksekutif pemerintah terbuka luas sebab setiap senator
yang dipilih langsung oleh rakyat dipastikan sudah memiliki basis massa
konstituen yang kuat. Irman bermaksud agar lembaga DPD bisa mengkader
ke-128 anggotanya yang berpotensi menjadi calon-calon eksekutif handal di
segala tingkatan. Karena itu Irman melalui lembaga DPD berkehendak
mengamandemen UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah agar setiap
kader bangsa yang non partisan berhak mengajukan diri sebagai calon kepala
daerah maupun kepala negara.
Sebagai salah seorang penggagas dan pembentuk cetak biru sistem
perpolitikan baru, Irman Gusman seorang penganut paham kebangsaan aktivis
di berbagai organisasi keagamaan Islam sangat kenal betul bagaimana elan
berikut visi dan misi lembaga DPD. Irman segera mempersiapkan diri dari
bawah untuk meniti ulang karir politik lewat Pemilu Legislatif 2004. Irman
Gusman berhasil terpilih menjadi anggota DPD periode 2004-2009 dari
Sumatera Barat sebagai peraih suara terbesar 325.708 suara, atau 18 persen
dari suara pemilih Sumatera Barat.
Aktivitas Irman Gusman, yang ketika mahasiswa di tengah-tengah komunitas
plural khususnya umat nasrani terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa
Universitas Kristen Indonesia (SM-UKI), adalah Penasehat Majelis Ekonomi
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat 2000-2005, Dewan Pakar
Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2000-2005, Anggota Dewan
Penyantun Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, dan Wakil Ketua Dewan
Pakar ICMI Pusat 2002-2005.
Usai Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan hasil Pemilu Legislatif 2004
naluri lobi Irman Gusman segera ‘menyuruhnya’ bergerilya menggagas ide
pembentukan Kaukus DPD Sumatera. Dari 40 anggota DPD se-Sumatera 34
diantaranya sepakat menyetujui Deklarasi Batam untuk mengusung nama Irman
Gusman sebagai calon tunggal merebut kursi Ketua DPD. Kaukus juga
ditugaskan mempersiapkan visi dan misi serta bentuk perjuangan anggota DPD
se-Sumatera sepanjang tahun 2004-2009 dalam konteks dan perspektif Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Kesepakatan Deklarasi Batam dipegang teguh oleh seluruh anggota. Tidak
mengherankan jika pemilihan ketua DPD dilangsungkan harus dalam tiga kali
putaran karena ketatnya persaingan. Pada putaran pertama yang dimulai
Jumat 1 Oktober pukul 15.45. wib diperoleh tujuh nama yang berhasil meraih
suara. Yakni, Ginandjar Kartasasmita (49 suara), Irman Gusman (29 suara),
Sarwono Kusumaatmaja (22 suara), La Ode Ida (18 suara), Harun Al Rasyid (dua
suara), M. Nasir (satu suara), dan Kasmir Triputra (satu suara).
Lima suara dinyatakan tidak sah dan satu suara abstain. Karena
La Ode Ida menyatakan mundur dari pencalonan maka hanya tiga besar yang
maju ke putaran kedua, Ginandjar Kartasasmita, Irman Gusman, dan Sarwono
Kusumaatmaja.
Pada putaran kedua yang mulai bergulir di malam hari pukul 20.00 wib nama
Irman Gusman masih peraih suara terbesar kedua dengan 43 suara, di bawah
Ginandjar Kartasasmita yang mantan Menko Ekuin 59 suara di atas Sarwono
Kusumaatmaja yang mantan Menneg Lingkungan Hidup 26 suara. Irman berhasil
lolos dari kepungan dua pentolan politik rejim Orde Baru untuk kembali
maju ke pemilihan ‘grand final’ putaran ketiga.
Pada penghitungan akhir putaran ketiga terjadi kejar-kejaran suara antara
Ginandjar dan Irman. Namun hasil akhir hanya menunjukkan Irman meraih 54
suara, kalah tipis dari Ginandjar yang meraih 72 suara. Satu suara
dinyatakan tidak sah dan satu suara kosong. Irman mengakui suara yang
diraih masih di bawah kalkulasi politik Tim Suksesnya namun Deklarasi
Batam dianggap tetap solid mendukung dirinya. Sebagai
antiklimaks Irman puas hanya menduduki kursi Wakil Ketua DPD mewakili
wilayah barat, setelah dalam pemilihan meraih 50 suara unggul atas
kandidat lain Nurdin Tampubolon 25 suara, Bambang Suroso delapan suara,
dan Mediati Hafni Hanum satu suara. Satu kursi lain wakil ketua dari
wilayah timur diraih oleh La Ode Ida.
Perjuangan tiada henti
Kiprah Irman Gusman memperjuangkan kesetaraan lembaga baru DPD dengan
lembaga tinggi negara lain seolah tiada henti. Ajang pemilihan ketua MPR
RI 2004-2009 membuktikan betapa gigihnya Irman berjuang. Irman sekaligus
pula berhasil menyakinkan banyak pihak betapa DPD sudah sepantasnya mulai
diperhitungkan secara saksama sebagai sebuah kekuatan riil politik baru.
Ketika itu hingga tanggal 5 Oktober 2004 pemilihan ketua MPR berkali-kali
mengalami kebuntuan. DPD menuntut hak menempatkan dua wakilnya sebagai
unsur pimpinan MPR, sama dan setara dengan DPR untuk juga hanya
menempatkan dua wakil. Tatib MPR menggariskan pimpinan MPR terdiri empat
orang berasal dari DPR dan DPD. Keteguhan Irman memperjuangkan
dua kursi di pimpinan MPR didasarkan kesepakatan nasional dalam amandemen
konstitusi, bahwa kedua lembaga DPD dan DPR berdiri setara dan sejajar
tanpa memperhitungkan proporsionalitas jumlah anggota DPD yang 128 orang
dan DPR yang 550 orang anggota.
“Kalau DPD menuntut agar unsur pimpinan MPR berasal dari DPD dua orang dan
DPR dua orang karena kita ingin adanya kesejajaran antara lembaga DPR dan
DPD,” kata Irman Gusman, berbicara dalam kapasitas baru sebagai Wakil
Ketua DPD, kepada wartawan di gedung DPR, Selasa (5/10). Irman
mengungkapkan itu untuk menanggapi pernyataan Ketua Dewan Koalisi
Kebangsaan Akbar Tandjung yang menilai tuntutan DPD mengubah Tatib MPR dan
tuntutan menempatkan dua wakilnya duduk di pimpinan MPR bisa membuka pintu
amendemen UUD ‘45.
Perdebatan tentang unsur pimpinan nyaris semakin menuju deadlock. Akbar
Tandjung menyebutkan ide kesejajaran bisa mengarah ke bentuk negara
federalisme. Tuntutan DPD kata Akbar juga tidak sesuai dengan konstitusi
sebab UUD ’45 tidak menyebutkan dengan eksplisit dua wakil ketua MPR dari
DPR.
Tapi Irman Gusman malah semakin menegaskan sikap bahwa usulan
DPD yang sudah sebelumnya disetujui dalam rapat gabungan fraksi dan
akhirnya dibahas dalam Panitia Ad Hoc bukanlah mengada-ada. Usulan itu,
kata Irman, semata-mata didasarkan atas aspirasi konstituen di daerah
sebab para anggota DPD berbeda dengan DPR. Anggota DPD kata Irman berjuang
sendiri untuk menggalang dukungan dan meraih suara sebanyak mungkin.
Untuk menunjukkan jati diri sebagai negarawan sejati dengan tak kalah
sengit Irman Gusman menegaskan butir-butir UUD 1945 Bab 16, pasal 37 ayat
(5) bahwa bentuk negara Indonesia tidak dapat lagi dilakukan perubahan,
sehingga anggapan bahwa DPD hendak menuju negara federal tidak dapat
dibenarkan.
Alhasil, ide Irman Gusman menyetarakan DPD dengan DPR berhasil diterima.
Pimpinan MPR disetujui terdiri dua unsur DPR dan dua unsur DPD. Pemilihan
Ketua MPR yang sangat demokratis berlangsung sengit. Ketua MPR Hidayat Nur
Wahid (F-PKS) terpilih bersama tiga wakilnya AM Fatwa (F-PAN), Aksa Mahmud
dan Mooryati Sodibyo keduanya dari DPD yang diusung Koalisi Kerakyatan,
menang tipis meraih 326 suara berbeda dua suara saja dari calon Koalisi
Kebangsaan yang meraih 324 suara terdiri Sutjipto (F-PDIP), Theo L.
Sambuaga (F-PG), Sarwono Kusumaatmaja dan Aida Ismet Nasution keduanya
dari unsur DPD. Drama perbedaan tipis dua suara dibumbui oleh
ketidakhadiran dua anggota F-PDIP dalam pemungutan suara, serta tiga suara
dinyatakan abstain dan 10 suara tidak sah.
Perluasan wewenang
Visi kenegarawananlah yang ‘mengharuskan’ Irman Gusman terjun sebagai
politisi untuk berjuang mensejajarkan kepentingan daerah dan pusat.
Kepentingan daerah selama puluhan tahun seolah-olah tak pernah dipandang
perlu oleh pemerintah pusat yang sangat sentralistik.
Sebagai pengusaha muda beridealisme tinggi yang berkehendak membangun
seluruh daerah di Indonesia, tak sebatas kota Padang Panjang tanah
kelahiran, Irman Gusman pengusaha sukses yang selama lima tahun 1998-2003
pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Koperasi, Pengusaha Kecil dan
Menengah Dewan Pengurus Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) telah
banyak merasakan besarnya hambatan akibat ketimpangan peran Pemerintah
Pusat dengan Pemerintah Daerah.
Irman juga aktif di berbagai organisasi bisnis, seperti
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) sebagai Ketua Lembaga Pengkajian
dan Pengembangan Ekonomi (LP2E) Hipmi Pusat, maupun di Kamar Dagang dan
Industri Indonesia (Kadin).
Kiprah perjuangan mewujudkan kesejajaran sudah dia awali di lembaga MPR
sepanjang tahun 1999-2004, dan kini di lembaga baru DPD sepanjang tahun
2004-2009 Irman tetap akan berjuang bagi daerah. Irman, yang berhasil
menyelesaikan pendidikan S-2 Master of Business Administration (MBA) di
University of Bridgeport Connecticut, AS jurusan pemasaran tahun 1988
sangat menginginkan DPD memiliki banyak wewenang yang bisa dimanfaatkan
untuk kemaslahatan umat.
Bagi Irman Gusman perluasan wewenang DPD diperlukan untuk mengurangi
pengaruh sentralistik yang sampai saat ini masih terasa di daerah.
Khususnya kebijakan yang berpengaruh pada iklim usaha di daerah. “Sebagai
pengusaha, selama ini saya merasa banyak kebijakan pusat yang tidak
menguntungkan iklim usaha di daerah,” Irman menegaskan.
Itu sebabnya, menurut Irman DPD harus berupaya memberdayakan
masyarakat daerah serta mengusahakan undang- undang yang lebih berpihak
kepada rakyat di daerah. Jadi, penguatan masyarakat dimulai dengan
melakukan penguatan masyarakat di daerah.
“Itu pula sebabnya, seorang anggota DPD harus punya kemandirian secara
ekonomi sehingga bisa membantu masyarakat. Saya sendiri berasal dari
keluarga yang punya kemampuan ekonomi, dan dengan itu bisa membantu
masyarakat untuk menciptakan kemandirian. Bagaimana mungkin orang miskin
akan membantu orang miskin,” kata Irman, tanpa bermaksud sombong atau
meninggikan hati melainkan betapa untuk berjuang sangat dibutuhkan
kekuatan besar yang memadai sambil tetap disertai idealisme murni
kebangsaan.
Irman Gusman berprinsip DPD adalah ‘jembatan emas’ baru untuk segala
kepentingan terlebih untuk mengurangi kesenjangan antara pemerintahan
pusat dan daerah. “Apalagi kalau kita lihat, kewenangan kami adalah dalam
bidang kesejahteraan, pembangunan, sosial, ekonomi, moral, pendidikan dan
daerah,” kata Irman. Bahkan, menurut Irman DPD hadir untuk mengkoreksi
segala kebijakan Undang-Undang yang masih bersifat sentralistik.
Pebisnis pionier
Sebelum menjadi politisi Irman Gusman adalah pebisnis murni yang
mendasarkan perjalanan dan pengelolaan usahanya pada etika-etika agama
atau nilai-nilai Islami sebagaimana agama yang dia anut. Ia sangat
menjunjung tinggi profesionalisme, etika, inovasi, dan kepeloporan. Bahkan,
hampir semua bisnis yang digeluti merupakan bisnis pionir.
Contoh klasiknya adalah PT Kopitime DotCom Tbk, perusahaan multimedia
penyedia jasa teknologi informasi dan internet pertama di Indonesia yang
berhasil listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Perusahaan publik ini dia
gagas dengan mempertaruhkan nama baik dan reputasinya sebagai pengusaha
dan anggota MPR RI.
Gagasan bisnis yang kreatif dan orisinil sudah merupakan ciri utama setiap
kiprah Irman Gusman, disamping tetap mencantelkan sisi idealisme. Secara
bisnis menjual Kopitime di lantai bursa memberi Irman pemasukan kapital
dalam jumlah banyak dan segera. Dia hanya membuka diri menawarkan
kesempatan sebagai pemegang saham kepada pihak lain.
Namun yang terutama Kopitime DotCom membawa misi mulia
membantu setiap pengusaha nasional, terutama usahawan kecil dan menengah (UKM)
yang baru tumbuh berkesempatan memperluas pangsa pasar di luar negeri
lewat Internet dengan biaya murah. “Jumlah pengusaha UKM kurang lebih 2,5
juta tapi sulit mencari mitra bisnis di luar negeri karena keterbatasan
biaya dan jaringan,” kata Irman Gusman, saat berbicara pada forum
Musyawarah Nasional Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah, di Padang awal Oktober
2003.
Sebagai pengusaha yang tumbuh dari bawah Irman Gusman sangat mendambakan
lahirnya banyak usahawan kecil dan menengah di Indonesia. Semangat
kewirausahaan kata Irman harus selalu didengungkan agar muncul para
enterpreneur baru sebagaimana jejak langkahnya.
Jabatan bisnis yang kini dipegang Irman antara lain Direktur
Utama PT Prinavin Prakarsa bergerak di bidang perdagangan dan investasi,
Komisaris Utama PT Padang Industrial Park sebuah kawasan industri di
Padang yang digagasnya bersama mitra usaha dari Negeri Jiran Malaysia,
Komisaris Utama PT Khage Lestari Timber bergerak di bidang pengelolaan dan
ekspor kayu olahan, Komisaris Utama PT Guthri Pasaman Nusantara
pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Pasaman, Sumatera
Barat, Komisaris Utama PT Sumatera Korea Motor, dan Komisaris Utama PT
Kopitime DotCom, Tbk.
Irman Gusman juga tercatat sebagai Pemimpin Redaksi harian “Mimbar Minang”
suratkabar pertama yang dia dirikan dengan kepemilikan saham 100 persen
berbentuk badan hukum koperasi, sebuah terobosan yang pernah mengundang
kekaguman dan apresiasi tinggi dari berbagai kalangan perkoperasian
Indonesia.
Koperasi dimaksud Koperasi Equatorial Minang Media, yang
pendiriannya diprakarsai Irman Gusman juga memiliki dan mengelola berbagai
bidang usaha lain seperti Perkebunan Kopi Arabika Pinang Awan Muara Labuh
seluas 1.500 hektar di Kabupaten Solok, penerbit buku Pustaka Mimbar
Minang, pengelola portal internet MimbarMinang.Com, serta pengelola Kantor
Hukum Ekuator. Masih di bidang media, antara tahun 2000-2002 Irman pernah
tercatat sebagai Komisaris PT Abdi Bangsa, Tbk penerbit harian “Republika”.
Paradigma berubah
Jiwa pionir bisnis Irman Gusman juga sangat terasa ketika mendirikan
Kawasan Industri Padang Industrial Park (PIP) tahun 1994. Dalam usia
relatf muda 32 tahun ia membuktikan tingginya komitmen dan kepeduliannya
membangun daerah, tentu untuk pertama kali dipilih daerah asal lebih
dahulu yakni Padang. Ia menggandeng investor asing Johor Corporation Group
of Companies, sebuah kelompok usaha konglomerat dari Malaysia untuk
menggarap lahan seluas 200 hektar menjadi sebuah kawasan industri terpadu.
“Kawasan Industri Padang harus menjadi kebanggaan masyarakat, ia harus
menjadi lokomotif industrialisasi di daerah sebab ini dibangun sebagai
suatu bisnis sekaligus idealisme membangun tanah kelahiran. Tujuannya tak
lain untuk memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi dan mendorong investasi
yang besar ke daerah ini,” kata Irman Gusman, yang memilih hidup di jalur
bisnis terinspirasi oleh kemajuan pesat ekonomi Amerika Serikat berkat
topangan peranan swasta yang begitu besar.
Irman Gusman sesungguhnya awalnya memiliki cita-cita memasuki lembaga
birokrasi pemerintah sebagai Pegawai Negeri Sipil. Tujuannya untuk
mengabdi sekaligus memperbaiki wajah pembangunan Indonesia yang timpang.
Namun ayahnya memberikan dorongan berbeda harus haus akan ilmu pengetahuan
serta bersemangat meningkatkan kualitas diri secara terus-menerus melalui
pendidikan dan pengalaman di beragam bidang. Dorongan ayahnya timbul sebab
sungguh sadar betapa beratnya tugas dan tantangan hidup di masa depan.
Kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (FE-UKI) Jurusan
Ekonomi Perusahaan tahun 1979-1985 dirasa belum cukup. Irman memutuskan
kembali memasuki dunia kampus melanjutkan kuliah pasca sarjana S-2 ke
University of Bridgeport, Conneticut, AS antara tahun 1986-1988.
Januari 1986 berangkat ke Amerika Serikat delapan bulan pertama diisi
program persiapan studi di Bobson College, Massachusetts kemudian
dilanjutkan ke Graduate School of Business University of Bridgeport,
Connecticut. Irman Gusman memulai sebuah perjalanan yang di kemudian hari
terbukti berhasil mempengaruhi cara pandang dan wawasan berpikirnya
sebagai bekal untuk mewujudkan cita-cita sebagai anak bangsa yang peduli
memperbaiki nasib bangsa.
Bukan hanya memperdalam ilmu pengetahuan di bangku kuliah. Irman Gusman
sekaligus berkesempatan mempelajari dinamika masyarakat Amerika yang
berhasil menata diri menjadi bangsa yang maju dan modern. Memikirkan
bagaimana strategi meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyat
secara ekonomi dan sosial terutama melalui pemberdayaan dan pemerataan
pembangunan masyarakat daerah.
Melihat betapa negara Amerika Serikat bisa maju dan modern
ditopang oleh kemajuan dan kemandirian masing-masing daerah otonom dimana
hubungan antara pemerintah pusat dan negara bagian begitu harmonis.
Demikian pula terjadi pembagian kewenangan yang adil dan proporsional
antara pemerintah pusat dan negara bagian sehingga negara bagian
dimungkinkan tumbuh sesuai kapasitas dan keunggulan masing-masing.
Pembelajaran tidak serta-merta berhenti usai meraih gelar S-2 Master of
Business Administration (MBA) Mei 1988. Sebelum pulang dan tiba di tanah
air persis pada tanggal 8 Agustus 1988, Irman Gusman berkesempatan
berkeliling Eropa mengunjungi Inggris, Belanda, Perancis, Jerman Barat,
dan sejumlah negara Eropa Timur seperti Rusia dan negara komunis lainnya.
Irman Gusman berhasil memperkaya diri dengan perspektif yang lebih luas
perihal pembangunan ekonomi baik itu sistem kapitalis, sosialisme, dan
komunisme.
Keluarga Pengusaha dan Pendidik
Irman Gusman anak kedua dari 14 bersaudara lahir dan besar di lingkungan
keluarga pengusaha sekaligus pendidik, Ayah Drs. H. Gusman Gaus dan Ibu Hj.
Janimar Kamili. Tak heran jika Irman mengidentifikasi diri sebagai
pengusaha sekaligus pendidik.
“Panggilan jiwa saya adalah sebagai pendidik. Kalaupun sebagai pengusaha,
saya lebih memilih menjadi pengusaha yang dapat memberikan inspirasi dan
mengutamakan pengetahuan, atau menjadi pengusaha yang berbasis pengetahuan,
atau knoledge-based entrepeneur,” kata Irman, Anggota Dewan Penyantun
Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB).
Irman Gusman menjabat pula sebagai Ketua Yayasan Amal Bhakti Mukmin
Indonesia (Albani), pengelola lembaga pendidikan Akademi Manajemen dan
Ilmu Komputer (AMIK) Padang, yang didirikan ayahnya sejak tahun 1990. Di
tangan Irman, sejak tahun 2002 status AMIK ditingkatkan menjadi Sekolah
Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Indonesia, yang menujukkan
wujud kepedulian seorang anak daerah Irman Gusman terhadap kemajuan
pendidikan dan kuatnya keinginan memasyarakatkan teknologi informasi ke
kalangan generasi muda Sumatera Barat.
Sebagaimana visi dan kepribadian pemiliknya Irman Gusman,
STIMIK Indonesia didesain mampu menghasilkan sumberdaya manusia
berkarakteristik tiga hal, mempunyai profesionalisme dan dasar keahlian
yang memadai, memiliki jiwa kewirausahaan yang tangguh, dan menjunjung
tinggi budi pekerti dan perilaku Islami.
Pada masanya ayah Irman Gusman Drs. H. Gusman Gaus sudah dikenal sebagai
tokoh terkemuka Sumatera Barat, yang antara lain pernah tercatat sebagai
pengurus teras Kadin Sumatera Barat, Rektor Universitas Muhammadiyah
Sumatera Barat (UMSB), Wakil Ketua Orwil ICMI Sumatera Barat, Ketua Orsat
ICMI Kota Padang, dan penasehat Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumatera
Barat.
Bahkan, jika ditarik ke belakang sang kakek H. Kamili juga
tergolong tokoh masyarakat terkemuka Sumatera Barat pada masanya, antara
lain sebagai saudagar emas ternama sepanjang tahun 1950-1960-an, aktivis
mesjid berkiprah memajukan Islam seperti membesarkan Pondok Pesantren
Rawalib.
Pulang dari Amerika bergelar MBA mudah saja bagi Irman mencari pekerjaan,
semisal berkarir di berbagai PMA, atau multinational companies, atau di
BUMN dengan sejumlah besar gaji. Tapi ia memilih jalur sebagai
enterpreneur dengan pekerjaan pertama membenahi sebuah perusahaan keluarga
yang sedang terbelit masalah keuangan.
“Kecintaan pada keluarga membuat semua beban dan tantangan yang saya
hadapi terasa ringan. Saya harus tinggal di lokasi pabrik, bertahun-tahun,
jauh dari keramaian dan kesenangan, bekerja siang malam agar perusahaan
keluarga ini selamat dan sehat kembali.
Tanpa semangat kewirausahaan, idealisme, keyakinan yang kuat,
dan dukungan semua pihak mustahil saya mampu mengemban amanat keluarga ini,”
kata Irman yang selalu bersikap akrab dengan bawahan. Irman berhasil
memulihkan kondisi perusahaan menjadi lebih sehat, mandiri, menguntungkan,
dan menjadi salah industri pengolahan kayu terpadu di Sumatera Barat
berorientasi ekspor 100 persen.
Irman Gusman bukan lagi pengusaha daerah sebatas Sumatera Barat, atau
pengusaha nasional sebatas Indonesia, ia bahkan telah melebarkan sayap
sebagai pengusaha sukses yang layak bergaul dan diperhitungkan di dunia
internasional. Irman selalu mendapat undangan khusus menghadiri
acara-acara tingkat dunia yang diselenggarakan oleh World Economic Forum (WEF).
WEF adalah organisasi nirlaba internasional yang berkomitmen
memperbaiki tata-kelola negara-negara di dunia, seperti mengadakan
pertemuan New Asian Leader dan East Asia Economic Summit. Untuk tingkat
dunia WEF mengadakan pertemuan tahunan para pemimpin dunia di Davos, Swiss
yang juga selalu dihadiri Irman Gusman berkumpul dan berbicara secara
bebas dan informal mencari solusi dalam rangka mempercepat penyelesaian
masalah-masalah global khususnya bidang ekonomi bagi pengembangan
masyarakat global.
“Kehadiran saya pada acara-acara yang diadakan oleh World Economic Forum
tersebut merupakan upaya untuk memanfaatkan dan memaksimalkan jaringan
global bagi sebesar-besarnya peningkatan kesejahteraan rakyat. Insya Allah
bermanfaat bagi pembangunan bangsa ini di masa depan,” kata Irman,
menegaskan bahwa semua langkah-langkah idealismenya adalah demi bangsa.
Selain aktif di WEF, Irman Gusman juga tercatat sebagai anggota
International Business Advisory Council (IBAC) pada Direktur Jenderal
Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade Organization/WTO),
berkedudukan di Lausanne, Geneva, Swiss. ►ht-ms
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|