| |
C © updated 10092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kps |
|
| |
Nama:
Irma Priscilla Hardisurya
Lahir:
6 Juli 1943
Profesi:
Wartawan, Konsultan dan Pelukis
Prestasi:
Miss Indonesia di International Beauty Pageant 1969 Tokyo
= Miss Asia Manila tahun 1970
= Penerima tropi Miss Tourism Hollywood International 1972
Pendidikan:
= S1 Senirupa Institut Teknologi Bandung (ITB)
= Teknik mode di Hamburg dan Amsterdam
= Diploma Beauty Therapist di London
Karier:
= Redaktur Mode, Redaktur Pelaksana, Wakil Pemimpin Redaksi Majalah
Femina 1972-1990
= Konsultan analisis warna mode di PT Promo Studio Rona dan Gaya
Alamat:
Jalan Wijaya II, Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
Irma Hardisurya
Ratu dan Pelukis Realisme Romantik
Bagi mantan ratu kecantikan pertama Indonesia (Miss Indonesia di
International Beauty Pageant 1969 Tokyo), ini hidup adalah anugerah Tuhan.
Dia mensyukuri apa pun yang Tuhan berikan. Setelah sukses sebagai ratu
kecantikan, ia memilih menjadi wartawan Majalah Femina. Kemudian, lulusan
Senirupa Institut Teknologi Bandung (ITB) itu dikenal sebagai seorang
pelukis realisme romantik kontemporer.
Miss Asia Manila 1970 ini meniti karier sebagai sebagai wartawan di
Majalah Femina sejak pertama terbit tahun 1972 sampai 1990. Pemilik
Diploma Beauty Therapist di London dan teknik mode di Hamburg dan
Amsterdam, ini memegang posisi redaktur mode, redaktur pelaksana sampai
terakhir wakil pemimpin redaksi di majalah wanita terkemuka itu.
Kemudian, penerima tropi Miss Tourism Hollywood International 1972, ini
bekerja sebagai konsultan analisis warna mode di PT Promo Studio Rona dan
Gaya. Selain itu, dia pun menekuni bakat sebagai pelukis. Dia seorang
pelukis realisme romantik kontemporer.
Dia pun telah menggelar pameran lukisan di beberapa tempat. September 2004
dia
menggelar pameran lukisan Warna dalam Lukisan di Paulineart Art Space &
Studio di bilangan Jalan Denpasar, Kuningan.
Pada saat bom di dekat Kedutaan Besar Australia pada hari Kamis (9/9/2004),
dia melintas dari lokasi itu lebih kurang lima menit sebelumnya. Saat itu Irma baru kembali dari dokter gigi di kawasan Jalan
Teuku Umar, Jakarta. Sesaat dia masuk galeri terdengar suara menggelar.
Galeri tersebut berjarak kurang dari dua kilometer dari lokasi ledakan,
hingga bunyi ledakan dan getaran terasa kuat. Suasana mencekam itu
mengingatkan Irma pada kerusuhan Mei 1998. Irma mengenangnya sebagai masa
yang sangat menekan. Suasana itulah yang memicu Irma untuk mulai aktif
melukis kembali.
Setelah terkumpul cukup lukisan, lalu memamerkan lukisan yang disebutnya
sebagai realisme romantik kontemporer.
"Katanya saya melukis benda-benda yang tak terlihat. Hah! mungkin saya ini
pelukis gaib, ha-ha-ha...," canda Irma Kompas (10/9/200).
"Mungkin itu karena dia tidak melewatkan hal-hal detail. Titik air yang
dianggap tidak penting itu baginya menjadi penting.
Irma mengaku melukis tanpa beban konsep. Misalnya dengan membawa pesan
perjuangan wanita. Ia melukis apa adanya.
"Sekarang saya bebas. Yang penting saya melukis jujur dan saya
menikmatinya. Mungkin ada yang tidak suka, tapi mungkin juga ada yang
menikmatinya," kata Irma.
Berada di tengah orang banyak membuatnya bahagia. Dia pun cukup bahagia
bertahan single fighter. Itu bukan berarti ia tidak peduli dengan
pernikahan. Sebenarnya dia tidak pernah memilih untuk hidup tak menikah.
Tetapi sungguh pun begitu, dia menerima dan mensyukurinya sebagai
pemberian Tuhan.
Dia memang pernah punya kisah kasih yang pahit, menjalin hubungan serius
dengan seorang pria. Namun, berhubung ada problem politik antara RI dengan
negara asal sang pacar, maka ia memutuskan berpisah dengan lelaki itu.
Walaupun bukannya dia lantas antipati pada pria. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|