| IRAWAN PURWONO HOME |
|
|
 |
Irawan Purwono
Inspirator Bagi Entrepreneur Pemula
Kisah tentangnya sebagai wirausahawan sukses yang berhasil memulai bisnis
dari puing-puing kegagalan, telah mendorong sekaligus menyemangati para
pebisnis pemula untuk berani memulai usaha. Irawan Purwono adalah
seorang entrepreneur yang memiliki inspirasi yang kuat dalam berbisnis,
sehingga namanya sangat layak untuk disejajarkan dengan para pempimpin
perusahaan terkemuka dunia lainnya.
Bahkan, nama Irawan Purwono selaku Chief Executive Officer (CEO)
PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet) pernah masuk sebagai finalis
World Entrepreneur of The Year (WOEY) Tahun 2004, sebuah
gelanggang pertemuan tahunan para pemimpin tertinggi
perusahaan-perusahaan terbaik dunia yang digelar oleh Ernst&Young di
Monte Carlo, Monaco.
Ajang unjuk prestasi serta pemaparan semangat dan jiwa kewirausahaan
(entrepreneurship) para CEO dari seluruh dunia, khusus di Indonesia
penilaian para finalisnya dilakukan oleh sejumlah anggota Dewan Juri
yang sudah dikenal piawai dan kompeten di bidangnya. Saat itu, mereka
terdiri Mari E. Pangestu (kini Menteri Perdagangan RI), Eva Riyanti
Hutapea, Noke Kiroyan, Stanley Atmadja, dan Sihol Siagian.
Kepada Dewan Juri, Irawan Purwono kelahiran Semarang 7 September 1960
lantas membeberkan secara terbuka semua kisah perjalanannya berbisnis
berikut pasang-surut dan gagal-kisah sukses perjalanan perusahaan PT
Nusantara Compnet Integrator (CompNet), sebuah entitas bisnis baru yang
secara khusus menyediakan jasa pelayanan solusi total sistem integrasi
jaringan komputer.
Integrasi sistem jaringan komputer antara lain berfungsi sebagai
infrastruktur jaringan komunikasi dan informasi data bisnis dalam satu
gedung (local areas network), hingga yang lebih luas antar gedung
atau antar benua (wide area network).
Irawan Purwono, seorang insinyur teknik elektro lulusan ITB Bandung
(September 1986), di hadapan dewan juri juga membuka semua kinerja
keuangan perusahaan berikut unsur-unsur inovasi dan ide orisinil yang
dimiliki membangun bisnis.
Demikian pula misi dan visi perusahaan yang didirikan oleh ayah tiga
orang anak lelaki ini dalam mendirikan CompNet, hingga kini dikenal
sebagai sebuah sistem integrator jaringan komputer terkemuka Indonesia.
Irawan juga mengutopiakan mimpi untuk membawa perusahaan menjadi sekelas
MNC (mutinational companies), yang berbasis di Indonesia namun
beroperasi di berbagai negara.
Finalis WEOY
Irawan Purwono memang belum berkesempatan untuk terpilih dan berangkat
ke Monaco, mewakili Indonesia dalam forum World Entrepreneur of The Year
(WEOY) yang dilangsungkan setahun kemudian pada 28 Mei 2005 di Monte
Carlo, Monaco. Akan tetapi, ketika namanya diumumkan menjadi finalis
saja sudah banyak kolega dan rekan-rekan bisnis yang kadung dengan
segera memberikan ucapan selamat kepada Irawan, baik melalui telepon
maupun SMS. Salah satu bunyinya, yang terbanyak terekam, antara lain,
“Congratulations, You are setingkat Mochtar Riady”.
Ya, Mochtar Riady pendiri dan pemilik Grup Lippo yang juga dikenal
sebagai “Filsuf Bisnis Keuangan”, bersama Irawan Purwono adalah
nama-nama di antara 15 Finalis WEOY 2004.
Ini menunjukkan penilaian objektif dari para Dewan Juri, yang walau
skala bisnis mereka berbeda namun keduanya memiliki nilai dan jiwa serta
semangat kewirausahaan yang sama tinggi sehingga sukses membangun bisnis
bermula dari bawah.
Ada nilai-nilai yang mempersamakan Irawan Purwono dan Mochtar Riady
sehingga Dewan Juri layak menyejajarkan keduanya bersama yang lain
sebagai finalis. Para finalis EoY 2004 memang sudah terbukti semua
memiliki spirit entrepreneurship yang tangguh.
Selengkapnya nama-nama mereka adalah Garibaldi Thohir (PT Wahana
Ottomitra Multiartha), Hariono (Dayu Group), Irawan Purwono (PT
Nusantara Compnet Integrator), Johannes Oentoro (Yayasan Pelita
Harapan), Mochtar Riady (Lippo Grup), Moetaryanto (Group Petrolog),
Rijanto Joesoef (PT Surya Multi Indopack), Rudy Wanandi (PT Asuransi
Wahana Tata), Saripin Taidy (PT Probesco Disatama), Setyono Djuandi
Darmono (PT Jababeka Tbk), Simarba Atong Tjia (President Director &
Owner, Cahaya Buana Intitama), Sumadi Kusuma (PT Ocean Global
Shipping/Global Putra International Group), UT Murphy Hutagalung
(Presdir Arion Paramita Holding Company), dan Zakiah Ambadar (Managing
Director, PT Lembanindo Tirta Anugrah).
Berjaya di Saat Krisis
Irawan pun mahfum menjadi entrepreneur terkemuka rupanya bukan
semata-mata ditentukan oleh besarnya revenue perusahaan, kapitalisasi,
modal yang dimiliki, atau semata-mata hanya terbatas bagi para
konglomerat yang sudah berhasil dan malang melintang di dunia bisnis.
Melainkan bagaimana sesungguhnya kegigihan para pendiri dalam membangun
usaha, dan apa semangat yang menjiwai pengelolaan perusahaan hingga
berhasil. Dan, justru ini menurut Irawan yang lebih terutama, apa saja
inspirasi baru yang dapat ditawarkan oleh sang entrepreneur
sampai-sampai bisa menulari banyak orang untuk berani terjun menjadi
wirausahawan sejati.
Irawan Purwono awalnya bergerak hanya bersama lima orang sahabat,
sebagai pendiri dan pemilik perusahaan saat memulai PT Nusantara Compnet
Integrator (CompNet) Maret 1997, persis beberapa bulan sebelum krisis
ekonomi berskala multidimensional melanda Indonesia.
Bisa dibayangkan, dalam kalkulasi bisnis saat itu adalah mustahil sebuah
perusahaan yang baru berdiri apalagi memiliki komitmen kuat untuk hanya
bergerak fokus pada bidang penyediaan jasa solusi total sistem integrasi
jaringan komputer, dapat bertahan.
Sebab semua perusahaan yang potensial menjadi customer kekuatan daya
beli dan determinasi mereka benar-benar sedang menghilang. Seperti
kalangan perbankan, yang kebanyakan sudah dimasukkan ke program
penyehatan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Tetapi dengan semangat kewirausahaan yang tinggi Irawan berhasil memompa
daya juang para karyawan yang jumlahnya masih terbatas, agar memiliki
sikap yang tangguh dan keahlian yang tinggi, serta dapat
dipertanggungjawabkan untuk membangun kepercayaan pelanggan.
Karena solusi sistem integrasi jaringan yang dibangun dimaksudkan untuk
membuat pelanggan dapat menjalankan roda bisnis perusahaan menjadi lebih
cepat, CompNet, yang menyediakan solusi justru di tengah-tengah krisis
ekonomi yang sedang melanda, pada akhirnya dapat bertahan bahkan segera
berhasil meraih kepercayaan pelanggan dalam waktu singkat.
CompNet berjaya justru di saat krisis memuncak. CompNet sukses membangun
sejumlah instalasi jaringan komputer secara terintegrasi sesuai standar
internasional.
Sebagai bukti keberhasilannya menyediakan solusi, tak berapa lama, atau
hanya dua tahun sesudah berdiri CompNet tampil sebagai perusahaan lokal
pertama yang berhasil meraih penghargaan sebagai “Cisco Silver
Certified Partner” dari Cisco Systems Indonesia November 1999.
Sebuah pencapaian yang tidak mudah, sesungguhnya. Sebab terbukti untuk
dapat naik pangkat menjadi “Gold Certified Partner of Cisco System”,
CompNet membutuhkan waktu cukup lama hingga baru berhasil meraihnya pada
Desember 2003.
Ketika meraihnya pun CompNet adalah perusahaan lokal pertama yang bisa
mencapai predikat Gold Certified Partner of Cisco System.
Khusus dengan Cisco, CompNet merupakan partner yang dapat bekerjasama
dengan baik. Sejumlah penghargaan lain masih bisa diraih yang
membuktikan keeratan kemitraan keduanya.
Pada bulan Juli 1997, misalnya, CompNet mencapai predikat “Cisco
System’s Premier Certified Partner”; April 1998 sebagai “The FIRST Local
Company who has developed CCIE”; Januari 1999 sebagai “The Rising Star
of the Year”; Agustus 1999 sebagai “The HIGHEST number of people
certified by Cisco System”; November 1999 sebagai “The FIRST local
(national) company who achieved “Silver Certified Partner of Cisco
Systems”; Agustus 2000 sebagai “Cisco Spotlight Silver Partner of The
Year”; November 2002 sebagai “The HIGHEST number of people certified by
Cisco System”; dan akhirnya pada Desember 2003 meraih penghargaan “The
FIRST local (national) company who achieved “Gold Partner of Cisco
Systems”.
Bermodalkan Semangat Juang
Irawan Purwono, alumni ITB Bandung Jurusan Teknik Elektro yang diwisuda
pada bulan September 1986, membangun CompNet nyaris dengan modal yang
terbatas. Modal utama sesungguhnya adalah keinginan besar untuk menjadi
seorang wirausahawan sejati yang disegani di berbagai negara.
Spirit ini didukung oleh berbagai pengalaman sebelumnya, antara lain
sebagai sales dan system engineer di sejumlah perusahaan seperti PT
Berca Indonesia selama tiga tahun (November 1986-Juni 1989), dan PT
Metrodata Electronics selama 4,5 tahun (Juli 1989-Oktober 1993).
Demikian pula sebuah pengalaman pahit nan tak akan terlupakan ketika
mencoba terjun untuk pertamakali membangun usaha sendiri bersama
kawan-kawan sesama mantan alumni Metrodata PT UniPro Nuansa Indonesia
(sejak November 1993 hingga Februari 1997).
Di perusahaan kongsi yang didirikan dan dimiliki secara bersama-sama ini
Irawan secara berjenjang pernah bekerja sebagai system engineer, senior
technical support engineer, technical support manager, sales manager
hingga mencapai puncak tertinggi sebagai Presiden Direktur PT UniPro
Nuansa Indonesia (sejak Desember 1995 hingga Feberuari 1997).
Irawan keluar dari UniPro untuk segera mendirikan lagi perusahaan baru
PT Nusantara Compnet Integrator (CompNet). Saat perusahaan ini didirikan
pada Maret 1997, jumlah pemain di bisnis sistem integrator (SI) masih
bisa dihitung dengan jari. Itupun, rata-rata dimiliki oleh para
konglomerat melalui perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki.
Mereka mendirikan perusahaan SI hanya karena sudah memiliki divisi
integrasi, yang di dalamnya mencakup bidang Teknologi Informasi (TI).
Mereka misalnya Ciputra yang memiliki PT Metrodata Electronics, Mochtar
Riady denganPT Multipolar, William Soerjadjaya dengan PT Astra Graphia
divisi Information Technology (AGIT), dan Murdaya Poo dengan PT Berca
Indonesia. Demikian pula dengan nama lain Liem Sioe Liong atau Soedarpo
Sastrosutomo semua memiliki perusahaan TI tersendiri.
Yang pasti saat itu rata-rata pengusaha besar memiliki perusahaan TI
walau tak semua berhasil menjalankannya dengan rapi dan sehat termasuk
Ciputra.
“Saya tahu karena saya pernah kerja di sana,” ujar Irawan, yang memiliki
rasa kebanggaan luar biasa sebagai engineer saat masih bekerja di PT
Metrodata Electronics.
“Waktu itu bekerja di Metrodata bangga sekali. Semua bule didatangin
sama dia (Ciputra, maksudnya –Red), disuruhnya datang ke ulang tahun
Metrodata,” kata Irawan.
Walau CompNet merupakan pendatang baru, karena memiliki keberanian yang
luar biasa pada akhirnya Irawan Purwono berhasil menembus barikade
bisnis yang dipasang para konglomerat tadi. Sebab sistem integrator yang
secara fokus digeluti CompNet lebih mengandalkan keterampilan dan
keahlian tingkat tinggi berstandar internasional, bukan mengandalkan
kapital besar atau sumberdaya manusia massif berbiaya mahal.
Irawan memperoleh keberuntungan lain memilih bisnis TI yang masih
nonregulated sehingga ada kebebasan untuk berkompetisi secara sehat atau
free competition.
Bisnis TI hanya membutuhkan 4-C yaitu company yang menjual jasa,
customer yang membeli jasa, chain sebagai jaringan pemasaran jasa, dan
competition yang memberi kebebasan berkompetisi menjual jasa secara
fair.
Bisnis model TI berbeda misalnya dengan perusahaan listrik yang hanya
memerlukan 2-C, yaitu company yang menjual listrik dan customer
masyarakat sebagai pelanggan pembeli listrik.
CEO Visioner
Irawan membangun CompNet bersama lima orang sahabat. Modal usaha
dikumpulkan urunan berenam. Perusahaan tak sekalipun beriklan atau
promosi karena keterbatasan anggaran.
“Yang saya lakukan pertama kali adalah bagaimana menajamkan bidang yang
mau kami geluti,” kata Irawan Purwono, seorang entrepreneur yang
memiliki pandangan bisnis sangat visonir menjangkau jauh ke depan.
Pilihan untuk hanya fokus pada sistem integrator jaringan diilhami oleh
masukan dari salah seorang staf pemasaran tentang teori pengorbanan
(sacrifice) yang harus ada dalam marketing.
Salah satu poinnya, mengorbankan salah satu aspek dari organisasi yang
dimiliki untuk menciptakan image yang mudah diterima pelanggan.
CompNet berhasil mengorbankan area usaha yang semula banyak sub-sub
bidang, menjadi hanya fokus pada kompetensi sistem integrasi jaringan
komputer (network integrator).
Maka jadilah CompNet memiliki trademark sebagai perusahaan sistem
integrator jaringan komputer tanpa perlu membawa-bawa salah satu brand
komputer atau sistem jaringan.
CompNet menempuh jalur berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh
konglomerat pemilik perusahaan TI, yang harus menggandeng nama prinsipal
supaya bisa diterima pasar seperti merek-merek IBM, HP, DEC, Compaq,
Acer, Sun, Oracle, Microsoft dan lain-lain. Kata CompNet Irawan
definisikan sebagai Competent Partner in Networking.
Tindakan mempersempit bidang usaha atau pasar terbukti sangat begitu
efektif meningkatkan pendapatan perusahaan.
Enam tahun sesudah berdiri CompNet tumbuh cepat hingga tampil menjadi
pemimpin di semua kalangan perusahaan penyedia solusi sistem integrator
jaringan.
Memiliki kantor operasional di Jakarta, Semarang, dan Surabaya CompNet
menyediakan jasa ke semua bidang industri vertikal seperti industri
perdagangan, manufaktur, perbankan, minyak dan gas hingga
lembaga-lembaga pemerintah yang berkehendak membangun sistem integrasi
jaringan komunikasi dan informasi data.
Cepatnya pertumbuhan CompNet seiring pula dengan meningkatnya
kepercayaan pelanggan. CompNet sangat mengandalkan kemampuan teknik,
kecepatan, dan semangat juang dalam memberikan servis sebagai
satu-satunya kata kunci keberhasilan perusahaan sesuai visi yang telah
digariskan Irawan Purwono.
Birokratisasi di-minimize serendah mungkin untuk memotong sistem
prosedur yang biasa terjadi di perusahaan-perusahaan besar.
Keterampilan dan keahlian yang dimiliki oleh semua karyawan dimobilisasi
supaya mampu mendukung visi perusahaan berjalan efisien, terlebih saat
modal kerja yang dimiliki masih belum sebesar sekarang.
Karyawan yang notabene juga pendiri perusahaan diberi kebebasan untuk
membuat keputusan sendiri kecuali apabila menghadapi tembok kesulitan
atau sedang diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang beresiko tinggi.
Kalau itu kejadiannya barulah berkonsultasi dengan “Sang CEO
Entrepreneur yang Inspiratif” Irawan Purwono.
“Jika pelanggan puas dengan servis yang kami berikan, kemungkinan mereka
akan memberitakan informasi tersebut dan menyebarluaskannya ke para
kolega. Pemasaran seperti ini lebih efektif dan bersifat natural karena
dituntut memberikan kemampuan dan keahlian terhadap servis yang
dilakukan agar memuaskan bagi pelanggan,” kata Irawan, merujuk betapa
CompNet dapat bergerak maju apa adanya tanpa polesan mesin pencitraan
public relation, sebagaimana biasa dilakukan oleh perusahaan besar yang
semata-mata lebih mengandalkan pencitraan artifisial.
Bermula Belasan Ribu Dollar AS
Karena itu Irawan Purwono tak sungkan untuk langsung menerima, apabila
awalnya ia hanya dipercaya customer untuk mengerjakan proyek-proyek
kecil bernilai belasan ribu dolar AS.
Irawan yakin angka-angka ini secara perlahan tapi pasti akan meningkat
terus menjadi puluhan ribu, ratusan ribu bahkan hingga jutaan dollar AS.
Sebab terbuktilah sejak tahun 1999 CompNet mulai dipercaya menangani
proyek senilai 300 ribu dolar AS, setahun kemudian melesat dipercaya
menangani proyek telekomunikasi data pada bank BCA senilai 1,3 juta
dolar AS.
Proyek ini sesungguhnya bernilai 2 juta dolar AS. Namun oleh owner
terpaksa dibagi dengan kompetitor yang memang merupakan pemain lama di
bidang ini bahkan rajanya untuk tingkat Asia Pasifik sebagai penyedia
sistem integrator jaringan. CompNet dengan legowo bersedia menerima
jalur kompromi daripada nanti malah dihantamin terus-menerus.
Lalu pada tahun 2003 CompNet bergabung dengan lima perusahaan lain dalam
sebuah konsorsium pimpinan PT Mitra Integrasi Informatika, sebuah
perusahaan sistem integrator milik Metrodata Group.
CompNet bersama konsorsium berhasil menyelesaikan proyek sistem jaringan
telekomunikasi data Komisi Pemilihan Umum (KPU) senilai Rp 152 miliar,
digunakan untuk keperluan Pemilu 2004.
“Yang jelas ada campur tangan Tuhan dalam semua langkah bisnis kami. Ya,
mungkin Tuhan bersimpati sama saya,” kata Irawan mengenang kembali
ucapan teman-teman tatkala limbung sebab pecah kongsi dengan para
sahabat di PT UniPro Nuansa Indonesia.
Sahabat seakan menghibur saja tatkala mengatakan, Tuhan pasti akan
menggantikan kerugian yang dialami tahun 1997 beratus kali ganda.
Sekelas Entrepreneur Dunia
Referensi keberhasilan menyelesaikan sejumlah kontrak pekerjaan dari
owner sekelas Citibank, BP-ARCO, Bank BCA, Djarum, Ditjen Pajak hingga
KPU, bagi Irawan sarat dengan nilai-nilai semangat kejuangan selaku
entrepreneur.
Sebagai entrepreneur Irawan tak hanya bertindak sebagai pemimpin puncak
di sebuah perusahaan sekaligus sebagai pemilik. Namun yang terutama dia
seseorang yang memiliki jiwa yang harus bertanggungjawab atas segala
perjalanan perusahaan dengan memikul resiko baik untung ataukah rugi.
Kesadaran ini ia kecap berdasarkan definisi kamus Oxford mengenai
siapakah entrepreneur yang sesungguhnya itu. Yakni, a person who
undertakes an enterprise or business, with the chance of profit or loss.
Kewirausahaan Irawan sangat pas pula dengan definisi entrepreneur yang
pernah diungkapkan oleh Ciputra, mantan bosnya di PT Metrodata
Electronics.
Filsuf pengembang properti ini dalam sebuah terbitan buku berjudul “10
Momen Penentu Seorang Entrepreneur Ir Ciputra” tulisan Antonius Tanan,
menyebutkan, “Entrepreneur adalah seseorang yang inovatif dan mampu
mewujudkan cita-cita kreatifnya. Seorang entrepreneur akan mengubah
padang ilalang jadi kota baru, pembuangan sampah menjadi resor yang
indah, kawasan kumuh menjadi pencakar langit tempat ribuan orang
bekerja. Entrepreneur mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas.”
Cerita sungguhan (a true story) bagaimana Irawan memulai usaha sama
persis pula dengan cerita para pelaku bisnis teknologi informasi kelas
dunia lain yang rata-rata memulainya dengan cara yang sangat sederhana
sekali.
Seperti yang dilakukan oleh duo William Reddington Hewlett dan David
Packard, keduanya lulusan Stanford University, AS, yang mendirikan
sekaligus menjadi pemilik Hewlett-Packard Development Company (HP)
sebuah perusahaan teknologi informasi terbesar dunia. Duo ini memulai HP
tahun 1934 bermula dari garasi mobil.
Demikian pula dengan hakekat cerita mengenai Bill Gates pendiri
Microsoft yang harus cepat-cepat keluar dari kampus hingga tak sempat
lulus kuliah demi memuaskan hajat memulai bisnis mengembangkan piranti
lunak komputer.
Bahkan Bill Gates seorang filantropis dan orang terkaya dunia dengan
catatan kekayaan melebihi 50 miliar dollar AS, pada akhirnya berhasil
mengungguli “The Deep Blue” IBM di bidang sistem operasi personal
computer (PC).
Michael Dell pendiri Dell Computer tak jauh berbeda kisah perjalanan
hidupnya dengan Irawan Purwono sebagai sesama entrepreneur. Dell memulai
bisnis dari kamar kost saat masih menjadi mahasiswa di University of
Texas tahun 1983 dalam usia 18 tahun. Dengan modal awal seribu dollar AS
Dell mulai menjual komputer yang dirakit sesuai pesanan. Ia melakukan
berbagai hal untuk menjual komputer rakitan termasuk menjalankan bisnis
secara door to door.
Menginjak tahun 1994 Dell secara inovatif mulai menjual komputer melalui
internet dan hasilnya luar biasa sekali. Saat ini penjualan Dell
melebihi 50 juta dolar perhari, secara keseluruhan nilai total
perusahaan melebihi 31 miliar dolar.
Dell menyebutkan, seorang entrepreneur adalah orang yang memiliki ide
baru atau berbeda serta berani mengambil resiko dan bekerja keras untuk
mewujudkannya.
Untuk ukuran Indonesia Irawan Purwono sudah melakukan bahkan menjadi
inspirasi bisnis yang kuat bagi para calon entrepreneur muda untuk
berani memulai bisnis baru.
Filosofi “HILLS”
Dalam berbisnis Irawan seorang penganut agama Katolik yang taat, sangat
memahami betul filosofi Santo Franciscus d’Assisi yang mengatakan,
“Do what is needed, then do what is possible, and suddenly, you will
realize that you have done the impossible”.
Di lingkungan perusahaan Irawan kemudian menumbuhkan sebuah filosofi
baru sebagai spirit bersama yang terangkum dalam intisari kata “HILLS”.
HILLS adalah singkatan dari lima kata yakni: Helpful, hidup yang
senang membantu dan menolong; Integrity, hidup yang menekankan
kejujuran dan integritas dalam bekerja; Love, hidup yang
menumbuhkan rasa cinta dan loyalitas abadi kepada perusahaan; Learn,
hidup yang terbuka dan senang belajar tanpa henti secara berkelanjutan;
serta Spirit of Excellence yaitu hidup yang bersemangat untuk
selalu memberikan yang terbaik bagi perusahaan.
Irawan menghabiskan waktu bekerja di kantor paling tidak 12 jam sehari,
bahkan bisa lebih. Kondisi ini didukung posisi rumah dan kantor yang
saling bersebelahan, terletak di Jalan Kemanggisan Utama Raya Nomor 26,
Jakarta Barat.
Di kantor inilah Irawan yang berhasil mengubahkan “wajah ilmiahnya” yang
cenderung introvert menjadi wajah baru yang ekstovert hingga layak
menjadi salesman dan marketer yang terbaik bagi perusahaan, aktif
menjalankan bisnis. Irawan sehari-hari selalu tampil penuh semangat dan
gembira terutama saat berdiskusi dengan para karyawan untuk memecahkan
berbagai macam persoalan.
Sebagai entrepreneur yang relatif masih berusia muda Irawan rajin sekali
membagi-bagikan visi bisnisnya ke semua orang. Ia juga memberikan
motivasi, menunjukkan dukungan terhadap ide-ide orisinal, sekaligus
menyuarakan peringatan-peringatan sebagai warning. Irawan pasti akan
menyambut gembira setiap keberhasilan yang diraih karyawan. ►e-ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |