| |
C © updated 12042007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Inu Kencana Syafiie
Lahir:
Payakumbuh, 14 Juni 1952
Agama:
Islam
Jabatan:
- Lektor Kepala IPDN
Isteri:
Indah Prasetyati
Anak:
- Raka Manggala
- Nagara Belagama
- Periskha Bunda
Pendidikan:
- Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti (1972-tidak tamat)
- Akademi Ilmu Administrasi dan Akuntansi Jayapura (1975-tidak tamat)
- Akademi Pmerintahan Dalam Negeri Jayapura (1976-1979)
- Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta (1985-1987)
- Program Magister Administrasi Publik Universitas Gajah Mada (lulus
1990)
- Program Doktor Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadjaran (sampai
sekarang) - Disertasi berjudul: "Pengawasan Kinerja STPDN terhadap
Masyarakat Kabupaten Sumedang".
Buku:
- Filsafat Kehidupan, Filsafat
Pemerintahan, serta Ilmu Pemerintahan dan Al-Qur’an.
|
|
| |
|
|
|
|
| INU KENCANA HOME |
|
|
 |
Inu Kencana Syafiie
Kesaksian Nurani Guru Pamong Inu Kencana Syafiie, Lektor
Kepala IPDN (Institut Pemerintahan dalam Negeri), menyuarakan kesaksian
yang didorong suara nurani seorang guru pamong untuk mengubah pola pendidikan
di IPDN agar lebih humanis. Kandidat Doktor Ilmu Pemerintahan
Universitas Padjadjaran, itu berani mengambil risiko mengungkap
kekerasan yang terjadi di kampus pencetak calon pamong praja itu. Inu, sosok yang memilih hidup dalam kebersahajaan.
Ini Kencana, pria kelahiran Payakumbuh, 14 Juni 1952, itu mengungkap
kekerasan di IPDN yang menewaskan praja asal
Manado, Cliff Muntu. Demi kebenaran,
Inu tidak hanya menanggung risiko kehilangan pekerjaan, bahkan juga
ancaman
nyawa dan keluarganya. Hal yang juga dilakoninya ketika mengungkap kematian praja Wahyu Hidayat 2003
lalu.
Kala itu (2003) ia menerima layanan pesan singkat (short message
service) yang berisi ancaman pembunuhan. Ancaman itu sempat
ditelusuri Mabes Polri. Kemudian, ketika ia mengungkap kematian Cliff
Muntu (2007), Inu diberi sanksi larangan mengajar sementara dan
diperiksa tim investigasi Depdagri (8/4/2007). Intimidasi lewat SMS
diterimanya, antara lain berbunyi: "Guruku sayang, kenapa kau tega
memfitnah kami?"
bahkan ada 5 April 2007, ia sempat diusir dari ruang kuliah oleh
teman sesama pengajar saat hendak mengajar mata kuliah Ilmu Pemerintahan.
bahkan Depdagri dan rektorat pun mengeluarkan surat
berhenti mengajar sementara untuknya.
Dosen Senior IPDN itu tetap bersikukuh membeberkan berbagai
perlaku menyimpang di lingkungan IPDN ke publik, setelah kematian Cliff
Muntu,20,madya praja asal Sulut, yang semula disebut pihak atasan di
IPDN akibat penyakit lever.
Inu dengan amat terbuka dan blak-blakan selalu
meladeni wawancara dengan wartawan dari berbagai media. Ponselnya
berbunyi hampir setiap saat. Seakan tak kenal rasa takut dalam membeberkan
kasus kekerasan dalam IPDN, Inu membeberkan satu per satu "ketidakwajaran"
di kampus itu pada publik. Sorotan dan perhatian media menjadi salah
satu modalnya untuk menentang arus "mayoritas
tak bersuara" di kampus itu.
Bagi Inu:
"Media adalah penyambung demokrasi bagi masyarakat. Biar masyarakat tahu
apa yang sesungguhnya terjadi di IPDN. Tidak ada lagi takut jika
masyarakat mendukung. Kasus ini harus dituntaskan sekarang atau tidak
sama sekali. Ini jika kita ingin ada perubahan."
Inu sangat terbuka meladeni wartawan, kendati harus menjadi warga
komuter, bolak- balik Jakarta-Sumedang utnuk melayani berbagai stasiun televisi.
Di antaranya, ia tak takut bicara dalam acara Kupas Tuntas yang
ditayangkan TransTV. Inu juga dengan senang hati datang ke Gedung MPR/DPR
Senayan, Jakarta, untuk memenuhi panggilan wakil rakyat yang ingin
mendalami kasus kekerasan di IPDN.
Disertasi
Keseriusannya untuk menjadikan IPDN lebih humanis terlihat juga dari
judul disertasinyanya : "Pengawasan Kinerja STPDN terhadap Masyarakat
Kabupaten Sumedang". Dalam disertasi itu, disebutkan setidaknya 35 praja
tewas akibat penganiaayaan selama tahun 1990-2005. Ini juga mengungkap
dugaan fenomena seks bebas, penggunaan narkoba dan aborsi di lingkungan
asrama IPDN. Disertasi dilengkapi data dan foto-foto mengenai
kondisi IPDN, di
antaranya data kasus kekerasan dan arogansi praja IPDN serta foto-foto
penyiksaan sejumlah praja oleh para senior.
Menurut Indah Prasetyati, 45, istri Inu:
”Sekarang ini bapak sibuk sekali sampai tidak ada waktu istirahat. Tapi,
saya sudah biasa. Dari dulu bapak memang berusaha menyuarakan kebenaran.
Sekarang, ancaman pun sudah tidak saya gubris, sudah imun. Kalau dulu,
waktu bapak mengungkap kasus kematian Wahyu Hidayat, saya masih takut
dan khawatir.”
Indah mendukung apa pa yang dilakukan
suaminya. Bahkan ketiga anak mereka (Raka,
Nagara, dan Feriska) juga ikut mendukung. Bagi ketiga anak itu, Inu adalah figur ayah yang jujur dan tidak mau
menutup-nutupi kesalahan.
”Selama bapak melakukan hal yang benar, anak-anak mendukungnya,” kata
perempuan yang dinikahi Inu pada 1984 ini.
Inu, alumnus Institut
Ilmu Pemerintahan (IIP) Cilandak, Jakarta, itu dengan tenang menangggapi larangan mengajar yang dijatuhkan padanya.
Ia malah tidak menganggapnya
sebagai sanksi atau skorsing. Menurut Inu, keputusan tersebut diambil
agar dia bisa mendampingi tim investigasi bekerja membongkar kematian
Cliff Muntu. ”Jadi saya masih belum tahu apakah keputusan itu merupakan
sanksi. Sekarang kan saya diminta mendampingi tim investigasi,”kata Inu.
Inu juga tidak terlalu berpikir akan berkiprah di
mana kalau dirinya dilarang mengajar di IPDN. Tekadnya hanya satu agar jangan sampai IPDN
dibubarkan. Namun, sistem pendidikannya yang harus dirombak total. Bagi
Inu, mengungkap kebenaran suatu keharusan, meski nyawa taruhannya.
Inu sadar sikapnya itu bukan tanpa risiko.
Ancaman via SMS dan telepon pun kerap diterimanya. Untuk mengantisipasi
keadaan yang tak diinginkan dua personel kepolisian berpakaian preman
ditugaskan menjaga rumahnya. ’’Saya tidak
pernah meminta pengawalan. Tapi, polisi sendiri yang mengirimkan pengawal
ke rumah saya,”katanya.
Inu, yang berusaha mengungkap kebenaran dengan mengedepankan suara
nuraninya sebagai guru pamong praja, menyikapi ancaman itu dengan
bijaksana. Penulis buku 4 2 judul buku dan kar ya tulis, di
antaranya "Filsafat Kehidupan, Filsafat
Pemerintahan, serta Ilmu Pemerintahan dan Al-Qur’an" itu tak gentar
karena ia yakin atas niat baiknya untuk mengubah pola pendidikan di IPDN agar lebih humanis.
"Sesakit apa pun, sekalipun diinjak dan ditindas, insan manusia
semestinya tetap menyuarakan kebenaran. Inilah yang berkali-kali coba
saya sampaikan lewat kuliah filsafat kepada mahasiswa IPDN. Nyatanya,
mereka memang tidak pernah mau memahami," ungkap pria yang suka
berdakwah di masjid ini sebagaimana dirilis Kompas 12/4/2007.
Semula, Inu tidak percaya di kampus pencetak pamong itu berlangsung
kekerasan.
"Dia itu sebelumnya enggak pernah percaya kalau ada kekerasan di IPDN,"
papar istrinya, Indah Prasetyati. "Saat anak teman saya dipukuli
sampai babak belur dan lari, ia malah menyuruhnya kembali ke barak.
Barulah saat muncul kasus praja putri yang sampai tidak sadar, lalu
memilih keluar dan bekerja di bengkel, dia mulai curiga. Kasusnya kok
bertubi? Ini ditambah laporan tentang dugaan penganiayaan Wahyu. Dari
sini dia mulai percaya."
Mendalami Filsafat dan Agama
Lulusan Program Magister Administrasi Publik Universitas Gajah Mada
(lulus 1990), itu sudah ditinggal ibunya (meninggal) semasih duduk di SMA.
Akibat kematian ibunya, Ini sempat bertanya dan
menyalahkan Tuhan. "Mengapa Dia tega mengambil orang yang saya kasihi?"
gumamnya. Akibatnya, Inu sempat ’lari’ dari Tuhan, meski tak berlangsung lama. Lalu
ia
sadar, ternyata bersahabat dengan Tuhan itu menyenangkan.
Kemudian dalam pergumulannya, Inu banyak mempelajari ilmu filsafat dan keagamaan.
Ketertarikan pada dua bidang ini kemudian dituangkannya dalam ide-ide
penulisan. Inu telah menulis 42
judul buku dan karya tulis, di antaranya berjudul: Filsafat Kehidupan, Filsafat
Pemerintahan, serta Ilmu Pemerintahan dan Al-Qur’an.
Berbekal pendalaman filsafat dan keagamaan itu, Inu dan keluarganya hingga kini memilih hidup dalam kebersahajaan.
Ia bersama istri dan tiga anaknya tinggal di rumah dinas yang sebetulnya
merupakan jatah untuk dosen golongan II, bukan golongan IV seperti
dirinya. Bepergian ke mana- mana pun dia kerap menggunakan angkutan
umum. Baginya, kesederhanaan adalah sebuah pilihan hidup.
DPR Protes
Dalam suara kebenaran dalam kesendiriannya di kampus IPDN, Inu boleh
terhibur, karena di luar kampus ia mendapat dukungan luas. Berbagai
elemen mahasiswa juga bernjuk rasa menuntut kekerasan di IPDN dihentikan.
Bahkan DPR pun ikut memprotes keras sanksi terhadapnya, karena
keterbukaannya membuka
kasus-kasus kekerasan mahasiswa di IPDN.
Ketua FPDIP Tjahyo Kumolo kepada wartawan di Gedung DPR/MPR, menyatakan,
sanksi yang dijatuhkan kepada Inu Kencana Syafiie dengan
memberhentikannya dari kegiatan mengajar sekaligus sebagai PNS itu
sangat berlebihan dan reaksioner.
Sebagai dosen, terang dia, seharusnya Rektor IPDN dan Depdagri berterima
kasih dan memberikan penghargaan, sehingga kekerasan itu bisa terbuka
kepada masyarakat.
“Kekerasan yang terjadi di kampus IPDN akan sangat sulit dihilangkan
jika sistem secara keseluruhan tidak diperbaiki. Karena itu agar tujuan
pendidikan IPDN yang bertujuan menyiapkan pamong-pamong yang profesional
dan bertanggungjawab itu terpenuhi, seharusnya Depdagri berani mengambil
langkah revolusioner dengan mengganti semua pimpinan, pengajar, dan staf
administrasi di IPDN, ” kata Tjahyo.
Menurutnya, IPDN perlu menghentikan penerimaan mahasiswa baru dan
meleburkan mahasiswa lama dengan universitas lain, karena mahasiswa IPDN
yang ada sekarang sudah terkontaminasi perilaku kriminal yang dilaklukan
oleh senior-senior sebelumnya. Setelah itu, baru kembali ke sistem,
kurikulum, dan metode pembinaan pengajaran yang sesuai dengan asas
pendidikan.
“Jadi, semua harus baru. Baik dari pimpinanya maupun kurikulum dan
sistemnya, " usul dia.
Yang pasti dengan kasus kekerasan tersebut DPR akan mengevaluasi seluruh
pendidikan kedinasan yang berada di bawah departemen. Supaya kekerasan
ala militer itu tidak berpengaruh terhadap pendidikan tinggi yang lain,
sebaiknya dari sekarang IPDN stop menerima mahasiswa baru. Sedangkan
mahasiswa yang sudah ada dilanjutkanya dan jika IPDN harus ditutup,
mahasiswanya dilebur ke universitas yang lain.
Anggota dewan lainnya, Wakil Ketua Komisi X DPR Prof. Dr. Anwar Arifin
mengatakan, IPDN harus berhenti menerima mahasiswa baru dan kasus
matinya mahasiswa Cliff Muntu harus dijadikan pelajaran dan evaluasi
bagi sistem pendidikan yang sesuai dengan UU Sisdiknas.
“Yang jelas seluruh pendidikan kedinasan di bawah departemen, selain
pendidikan tentara dan polisi, harus dikembalikan ke Depdiknas, yaitu
dengan memasukkan calon-calon birokrat tersebut ke
universitas-universitas umum, ” tutur Anwar.
Dijelaskannya, selama ini IPDN tidak tersentuh dengan disiplin ilmu yang
lain sehingga mengakibatkan mereka menjadi arogan dan terbiasa dengan
kekerasan fisik yang tidak manusiawi.
"Depdiknas bersama Komisi X DPR selama ini sudah membahas sekolah
kedinasan yang ada dan hasilnya mengarah ke 3 opsi. Yaitu diintegrasikan
dengan universitas negeri, berubah menjadi swasta, atau dibubarkan. ”
Meski ketiga opsi tersebut belum diputuskan, namun DPR dan Depdiknas
cenderung memilih opsi yang pertama, yaitu dilebur atau diintegrasikan
ke universitas negeri yang ada. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|