| |
C © updated 03012005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ms |
|
| |
Nama:
Inke Maris
Nama Kecil:
Nyi Raden Maria Diniarti Natanegara
Lahir :
Bogor, Jawa Barat, 7 Desember 1950
Agama :
Islam
Suami:
Rizal Maris
Menikah:
Tahun 1969, di London, Inggris
Anak:
1. Yuma Sanjaya
2. Armand Erlangga Maris
3. Renata Maris
Cucu:
Satu (1) orang
Jabatan:
-Chief Executive Oficer (CEO) Inke Maris & Associates (IM&A)
-President Director Inke Maris School of Communications (IMC)
-Chairman of IMC Educarion Foundation
Pendidikan :
-Pendidikan Dasar di Nicholas Cusanus Gymnasium, Bad Godsberg, Jerman
-SD Yayasan Perguruan Cikini, Jakarta (1960)
-SMP Yayasan Sumbangsih, Jakarta (1963)
-SMA Teladan, Jakarta (1966)
-City of London Business School (1978)
-Clark’s College Commercial Certificate
-London Chamber of Commerce, Intermediate Stage Certificate
-British General Certificate of Education, Commerce
-Cambridge University, Proficiency in English
-M.A. Program, Centre for Mass Communication Research, University of
Leicester, Inggris
Kursus-kursus BBC London:
-Magazine Production, Agustus 1973
-Features Production, Oktober 1975
-Interview Techniques, Septemebr 1979
-News Production, September 1991
Penguasaan Bahasa Aktif:
Inggris, Jerman, Indonesia, dan Belanda (pasif)
Karir :
-Reporter, Penyiar, Produser Radio BBC London, Seksi Indonesia (1969-1981)
-Koresponden Sinar Harapan (1976-1982)
-Reporter, Penyiar, Produser TVRI (1982-2001)
-Public Relation Manager World Trade Centre, Jakarta (1984-1986)
-Penterjemah Kantor Istana Presiden, (1979-1987)
-Staf Ahli Bidang Komunikasi Menko Perekonomian (2000-2001)
-Mendirikan dan Memimpin Inke Maris & Associates (1987-sekarang)
Kegiatan Lain :
- Pengurus harian bidang komunikasi Dana Mitra Lingkungan (sejak 1986)
Alamat Rumah :
Jalan Alam Asri IV/14, Pondik Indah, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
Jalan KH Abdullah Syafi’ie (Lapangan Roos Raya) No. 28, Jakarta Selatan
12840
Telp. (021) 828.1250, Faks. (021) 835.1369
Website: www.inkemaris.com
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3 ==
Inke Maris (1)
Ikon Perempuan Total Professionalism
Wanita cantik berdarah Sunda, bermata lentik dan bertubuh mungil,
ini adalah mantan reporter, penyiar atau
broadcaster radio dan televisi yang memiliki sikap total professionalism.
Dia mempunyai spesialisasi
mewawancarai tokoh-tokoh kaliber dunia. CEO Inke Maris & Associates (IM&A),
ini juga seorang pelopor jasa public relations nasional di
Indonesia. Dia ikon perempuan profesionalisme total.
Putri kelahiran Bogor, 7 Desember 1950, dari pasangan diplomat Yusuf
Natanegara dan Mira binti Haji Mansur, ini menyandang nama
lengkap Nyi Raden Maria Dinariati Natanegara disingkat Inke Natanegara.
Lalu
sejak menikah dengan Rizal Maris di London tahun 1969, ia menjadi lebih
dikenal dengan nama Inke Maris.
Ia dikenal luas sebagai reporter, penyiar dan produser radio BBC
London Seksi Indonesia (1969-1982) serta penyiar, reporter
dan produser TVRI (1982-2001). Di TVRI dia mempunyai spesialisasi
melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh terkemuka berkaliber dunia dan
nasional.
Kemampuan kewartawanan Inke seringkai dikagumi banyak orang dengan
bertanya retorik, bagaimana dia bisa melakukan hal itu, atau ‘How do you
do it’. Inke, menyebut resep
dirinya bekerja adalah total professionalism.
Menurutnya, seorang reporter harus memiliki sikap total professionalism.
Cara pendekatan ketika melobi untuk memperoleh waktu wawancara, dalam
membahas substansi yang akan dibicarakan, dan ketika melaksanakan
wawancara, harus bersikap obyektif. Mendalami latar belakang permasalahan,
memelajari latar belakang tokoh yang akan diwawancarai, karirnya,
pandangan-pandangannya, akan memberikan pewawancara ‘senjata’ yang ampuh.
Bagi Inke, wawancara mempunyai satu tujuan utama, mewakili kepentingan
masyarakat banyak untuk memperoleh informasi yang relevan bagi kehidupan
masyarakat. Inke berpendapat seorang pewawancara atau penyiar mempunyai
kewajiban untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang berbagai masalah
yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dan hal itu merupakan suatu public service yang harus ditekuni dengan penuh tanggungjawab.
Profesionalisme bagi Inke adalah berarti menggali informasi untuk
menggiring tokoh ke suatu titik yang diinginkan, melalui
pertanyaan-pertanyaan yang berlandaskan pengetahuan, dan membiarkan
penonton, pemirsa, mengambil kesimpulan sendiri.
Penyiar BBC London
Inke menapaki karir jurnalistik dari media radio. Usai lulus
sekolah bidang komunikasi, Inke lama bekerja di radio BBC London. Selama belasan tahun
antara 1969-1982 Inke adalah reporter, penyiar, dan produser radio BBC
London Seksi Indonesia (BBC World Service Indonesian Section). BBC World Service adalah program radio
yang dipancarkan dalam 45 bahasa, salah satunya bahasa Indonesia..
Pada mulanya, tugasnya sederhana saja, menangani acara ringan
seperti ‘Musik Pilihan Anda’. Ia lalu diangkat sebagai penyiar dan menjadi
produsen untuk acara-acara yang membahas masalah ekonomi, perdagangan
terbaru dan
aspek-aspek kehidupan sosial di Inggris. Ia menangani acara mingguan “Ekonomi dan
Perdagangan” (Economics and Trade), “Tamu Anda” dan “Inggris Dewasa Ini”
(Britain Today).
Inke berkali-kali
berkesempatan sekolah dan mengikuti berbagai BBC Training Program. Antara lain,
Magazine Production (Agustus 1973), Features Production (Oktober 1975),
Interview Techniques (September 1979), dan News Production (September
1991). Dalam berbagai traning itu, dia mendalami teknik penyusunan berita, penyusunan
features, teknik wawancara dan pembuatan film dokumenter.
Inke merasa
sangat beruntung dapat bekerja di BBC, sebuah kantor komunikasi radio dan
televisi yang sudah berusia tua, berdiri tahun 1880-an, terkemuka,
disegani, serta mempunyai jaringan luas di seluruh dunia. Stasiun televisi
dan radio dari seluruh dunia banyak mengirim personelnya menjalani
training ke BBC London.
Menurut Inke, BBC adalah lembaga penyiaran radio televisi tertua dan
terhormat di dunia yang sangat dihargai oleh lembaga-lembaga penyiaran
mancanegara. Seringkali, lembaga-lembaga itu mengirimkan orang-orangnya ke
London untuk mengikuti training. Inke sangat beuntung berada langsung di
‘jantung’ radio BBC London dan berkesempatan mengikuti berbagai program
training.
Karena kecintaannya terhadap tanah air, sekaligus
memelihara ikatan batin sesama warga bangsa, Inke menambah pekerjaan
sampingan sebagai koresponden harian “Sinar Harapan”, berkedudukan di
Inggris, antara tahun 1976-1982.
Inke mengakhiri karir di BBC London tahun 1982 karena harus kembali ke Indonesia mengikuti suaminya Rizal Maris, yang menikahinya di London tahun 1969.
(Rizal Maris adalah mantan perwira kapal niaga Ocean,
yang kemudian banting stir berkarir di perusahaan konsultan di London, kemudian
menjadi bankir di Citibank cabang London. Lalu, Rizal mendapat tugas baru
merintis pembangunan cabang baru Citibank di Jakarta, Indonesia, tahun
1982. Setelah itu, Rizal bersama Inke mengelola IM&A dengan spesialisasi bidang
penerbangan udara).
Penyiar TVRI
Setiba di Indonesia, Inke bergabung dengan TVRI (1982). Dia mengajukan surat lamaran ke TVRI, satu-satunya stasiun
telvisi ketika itu, dan lolos bersaing dengan ratusan pelamar lain. Sejak
itulah Inke membangun karier baru di TVRI sebagai penyiar.
Setahun kemudian, Inke
dipercaya mengelola program khusus siaran berbahasa Inggris TVRI, English News
Service. Ia dikenal sebagai penyiar yang sangat fasih berbahasa Inggris.
Apalagi karena bertampang imut, smart dan anggun, Inke Maris sangat familiar bagi
para pemirsa TVRI kala itu.
Di TVRI, Inke ternyata sempat merasakan ketidakpuasan jika hanya menjadi
pembaca berita. Ia melihat masih tersedia banyak kesempatan, semisal
menjadi reporter, pewawancara, atau produser acara. Namun, ia tersadar
harus berusaha maksimal untuk dapat mengambil peluang itu. Inke kemudian
mulai melakukan wawancara-wawancara hingga membuat dokumenter.
Beberapa
dokumenter pernah dia buat untuk TVRI, yang selalu memberikan kepuasan
tersendiri. Seperti, bagaimana ketika Inke membuat film dokumenter tentang
masalah lingkungan selama dua minggu menelusuri sungai Berantas mulai dari
mata air (hulu) sampai ke ujung bawah (hilir), judulnya “Sungai Berantas dan Lingkungan”.
Inke juga membuat film dokumenter kayu lapis, sebuah industri yang baru
berkembang biak, Indonesia mulai menebangi hutan. Judulnya,
“Pertumbuhan Industri Kayu Lapis Indonesia. “Itu, juga sangat menarik,”
kata Inke.
Dia pun kerap kali muncul secara eksklusif mewawancarai tokoh-tokoh,
khususnya tamu kenegaraan yang berkunjung ke Indonesia. Sebelum tamu tiba,
wajah Inke biasanya sudah lebih dahulu hadir membawakan berita features dan dokumenter, berisikan biografi dan ketokohan tamu berikut profil
negara asalnya.
Pengondisian seperti itu secara sangat mengesankan pernah
dilakukan Inke terhadap PM Inggris, Margareth Thatcher, yang akan berkunjung ke
Indonesia tahun 1984. Ia membuat film dokumenter berjudul “Inggris
Dewasa Ini”.
Dari kiprah demikian itulah karir Inke berkembang. Ia mulai dipercaya
mencari sendiri narasumber terkemuka, untuk diwawancara secara
esklusif. Seperti seorang menteri, perdana menteri, hingga presiden.
Kesemuanya berhasil memberikan kepuasan tersendiri bagi pemirsa dan bagi
diri Inke sendiri.
Setelah sekina lama, Inke jarang muncul di layar TVRI, setelah
mendirikan dan memimpin Inke Maris & Associates (1987-sekarang), sejak Oktober 1997 hingga November 2001, Inke kembali berkesempatan menghadirkan acara baru
News & Views di TVRI. Program ini,
muncul sekali seminggu setiap hari Selasa malam, berisi wawancara
eksklusif dengan tokoh-tokoh kaliber dunia dan nasional.
News & Views adalah sebuah usaha Inke untuk memproyeksikan
Indonesia yang baru, yang penuh semangat dan dinamis. Karenanya sasaran
utama News & Views adalah orang asing, menyajikan berbagai pandangan yang
berkembang di Indonesia dalam masa pergolakan kekuatan dan transisi ke era
demokrasi.
Bersamaan itu, News & Views juga berusaha menguak pandangan
dunia internasional mengenai perkembangan di Indonesia terutama bidang
ekonomi dan politik. Di News & Views, selama hampir lima tahun mengudara,
Inke berhasil bertemu langsung dengan 200 orang tokoh
dari dalam dan luar negeri. Semuanya memberikan kesan mendalam bagi Inke.
Walau menjabat President Director Inke Maris & Associates (IM&A),
President Director Inke Maris of School Communications (IMC) dan Chairman of IMC Foundation, yang memberikan jasa pendidikan play group dan
Taman Kanak-Kanak dengan menekankan siswa aktif berbahasa Inggris, hingga
tahun 2001, Inke tak pernah menghentikan pengabdian terbaiknya
terhadap TVRI.
Ia bahkan mempunyai visi jika diangkat menjadi Menteri Komunikasi dan
Informasi akan mewajibkan semua stasiun televisi agar mempunyai tanggung
jawab sosial dan mengalokasikan sebagian waktu siaran sedikitnya 30%
untuk program-program yang
peduli akan hak-hak publik memperoleh siaran berisi informasi, edukasi, dan hiburan
sehat.
Sebagai figur publik yang terkenal karena posisinya penyiar TVRI
bereputasi sangat baik, Inke selalu berusaha memisahkan secara tegas
antara pekerjaannya sebagai jurnalis dengan bisnis PR yang
dilakoni bersamaan. Tetapi, pengalaman 30 tahun lebih sebagai jurnalis sangat bermanfaat bagi Inke
tatkala memasuki dunia bisnis.
Misalnya, dalam wawancara, Inke banyak
belajar untuk lebih disiplin dengan waktu, atau untuk lebih memahami sudut
pandang orang yang sedang diwawancara. Itu, dia bawa ke public relations.
Tapi, dari segi networking, misalnya, mendapat pekerjaan dari salah satu
tokoh yang diwawancarai itu belum pernah dialami Inke. Kecuali dalam satu
hal, Inke yang pernah mewawancarai ekonom Rizal Ramli, Kwik Kian Gie, atau
Laksamana Sukardi, itu diajak bergabung membantu Menko Perekonomian Rizal
Ramli sebagai Staf Ahli Bidang Komunikasi.
Anak Diplomat
Inke yang menguasai aktif bahasa Inggris, Indonesia dan Jerman, serta bahasa
Belanda (pasif), berasal dari keluarga diplomat karir bekerja di Departemen Luar Negeri. Ayahnya, Yusuf
Natanegara, pernah ditugaskan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di
Jerman, Inggris, dan Uni Soviet. Inke ikut serta dibawa ke sana. Jadilah
Inke banyak mengenyam kehidupan dan sekolah di luar negeri semenjak masa
kanak-kanak hingga dewasa.
Oleh ayah dan ibunya, dia sering diajak naik
mobil berkeliling negara-negara Eropa.
Hampir seluruh negara Eropa pernah dijelajahinya. Memanfaatkan waktu libur, mereka naik mobil keliling Eropa, kadang-kadang
ke Spanyol, Italia, Denmark dan sebagainya.
Sebagai anak-anak, Inke
menikmati sekali pemandangan yang berbeda-beda. Di setiap kota
yang dikunjungi, orangtuanya tidak hanya membawa Inke ke tempat-tempat hiburan,
seperti karnaval, tetapi juga ke tempat-tempat bersejarah atau museum. Inke sangat menikmati sekaligus mempelajari sejarah
setiap lokasi yang dikunjungi. “Saya menikmati itu
serta memelajari tentang sejarahnya,” ujar Inke kepada Wartawan Tokoh
Indonesia, Rabu 22 Desember 2004.
Inke rajin membaca, dia kutu buku. Di rumahnya banyak buku. Hobi Inke dari kecil
adalah membaca. Satu kebiasaan
sejak kecil, jika orangtua mengajaknya mengunjungi tempat atau rumah
kerabat dan kenalan, pertama-tama yang ia suka sekali lakukan adalah
bertanya dan mencari buku. Jika yang dicari sudah ketemu, ia akan segera
mengambil tempat terpojok, lalu membaca buku kesukaan seperti buku sastra
dan buku cerita. Selain renang dan menonton film, membaca adalah hobi terberat
Inke.
Sebagai diplomat, ayahnya, yang pernah menjabat Kepala Bagian Ekonomi dan Perdagangan KBRI
London, sangat menanamkan semangat dan rasa
cinta tanah air. Inke dididik harus menguasai berbagai hal tentang
Indonesia. Sebab sebagai anak diplomat, Inke selalu ikut ditanya mengenai negaranya.
Sehingga Inke juga harus belajar tentang Indonesia dan belajar mengenai
seni-budaya Indonesia, seperti tari
topeng dan tari merak.
Selama hidup di negeri asing, Inke sering dimintai ayahnya menarikan tari
topeng dan tari merak untuk menghibur tamu-tamu kedutaan, baik itu warga
Indonesia yang sedang bermukim di sana maupun warga asing penduduk
setempat.
Kehidupan sebagai seorang anak diplomat di luar negeri dan didikan orangtua itulah yang mendorong serta menumbuhkan rasa
percaya diri pada Inke untuk berani tampil dan berbicara dengan orang
banyak. Inke berani berbicara dengan orang Indonesia sendiri, atau orang
asing, secara tidak kikuk. Berhadapan dengan orang asing sama saja baginya
sebab mereka juga terdiri dari darah dan daging sebagai manusia biasa.
Inke menjadi terbiasa tampil di depan umum.
Ketika bekerja di radio BBC London, usia sudah tidak lagi anak-anak,
Inke sering dimintakan bantuan oleh kedutaan. Misalnya untuk
menyelenggarakan acara, membawa rombongan penari ke festival-festival di
Inggris atau mengadakan acara ibu-ibu kedutaan, seperti merayakan Hari
Ibu atau Hari Kartini. Inke ikut terlibat aktif biasanya bertugas di
bidang komunikasi untuk menggalang liputan yang bagus dari media massa di
sana, seperti radio atau televisi. Beragam pengalaman itu ikut membentuk
Inke menjadi sangat suka menggeluti bidang komunikasi, khususnya PR.
Pengalaman panjang nan luas hidup di negeri asing menjadi
sangat berguna tatkala Inke terjun sebagai jurnalis di radio BBC London
Seksi Indonesia dan ketika Inke membuka kantor konsultan strategi
komunikasi. Dunia seakan-akan berada dalam genggaman pengetahuan dan
pengalaman seorang Inke. Pengetahuan itu pun menjadi mudah sekali
dikomunikasikan kepada siapa saja dengan memanfaatkan media apa pun.
Pendidikan Berpindah-pindah
Ayahnya mencita-citakan agar Inke mengambil
pendidikan tinggi jurusan ekonomi. Namun, Inke sudah kadung lebih
senang menjadi penyiar, mengorganisir acara-acara dan membuat
reporting yang lebih menarik
Inke menjalani masa pendidikan berpindah-pindah sebagaimana galibnya anak
dari keluarga diplomat yang sering berpindah tugas. Inke mengawali
pendidikan dasar di Nicholas Cusanus Gymnasium, Bad Godsberg, Jerman,
kemudian menamatkannya pada SD Yayasan Perguruan Cikini, Jakarta, tahun
1960. Ia menyelesaikan pendidikan SMP Yayasan Sumbangsih, Jakarta (1964) dan SMA Negeri III Teladan, Jakarta (1967).
Inke kembali pergi ke luar
negeri, kali ini menuju Inggris, setelah ayahnya ditunjuk sebagai Kepala
Bagian Ekonomi dan Perdagangan KBRI London. Ia melanjutkan pendidikan di
City of London Business School (1978), lalu di Clark’s College, London.
Selain memperoleh sertifikat Commercial Certificate, dari Clark’s College,
Inke masih memperoleh beberapa sertifikat lain. Seperti, dari London
Chamber of Commerce, Intermediate Stage Certificate, dari British General
Certificate of Education, Commerce dan dari Cambridge University meraih
sertifikat Proficiency in English.
Inke Maris yang telah sukses berbisnis sebagai pelopor public relations (PR), dan memiliki reputasi serta nama harum sebagai penyiar TVRI, masih saja
terus
tertarik menimba ilmu. Inke adalah mahasiswa program pascasarjana Master
of Art (M.A.), pada Centre for Mass Communication Research, University of
Leicester, di kota Leicester di negeri Pangeran Harry, pria urutan kedua
pewaris tahta kerajaan Inggris.
Setiap enam minggu sekali Inke
menyerahkan paper berisi 5.000 kata atau kurang lebih setebal 14 halaman. Salah satunya, seputar perkembangan terbaru di bidang komunikasi massa
global dan nasional, dengan konsentrasi pada media televisi dan komunikasi politik
pada Pemilu Presiden 2004 yang dijadikan sebagai studi kasus. Pada Pemilu
Presiden 2004 itu, Inke Maris melalui kantor jasa konsultan komunikasi
IM&A miliknya, terlibat mendirikan Media Center SBY-JK yang berlokasi di Graha
Surya Internusa,
Kuningan, Jakarta.
Pemilu Presiden 2004, yang merupakan peristiwa bersejarah pertamakali terjadi di Indonesia pemilihan langsung
presiden, itu telah diangkat Inke sebagai bahan kajian untuk meraih gelar
master S-2 di bidang mass communication.
Dengan meraih gelar S-2, Inke berkehendak menyandingkan kemampuan praktis
komunikasi massa, dengan kemampuan akademis pendidikan tinggi. Dengan
demikian dia layak disebut sebagai praktisi dan pakar konsultan komunikasi kelas wahid yang paripurna di Indonesia.
Kegiatan Lain
Inke Maris pengagum Larry King, Oprah Winfrey dan penyiar berita SCTV Rosianna Silalahi, ini
jarang sekali diketahui orang kalau pernah bekerja sebagai public relations
manager pada World Trade Centre (1984-1986), interpreter Ibu Tien Soeharto di Istana
Presiden (1979-1987), bahkan menjadi Staf Ahli Bidang Komunikasi Menteri
Koordinator Perekonomian era Rizal Ramli (September 2000-Juni 2001).
Inke
pertama kali berkenalan dengan lingkungan Istana Presiden tatkala Presiden
Soeharto melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris, tahun 1979, diserahi
tugas mendampingi Ibu Negara Nyonya Tien Soeharto. Peristiwa itu terjadi
persis hanya 40 hari setelah Inke melahirkan si bungsu Renata.
Inke juga aktivis lingkungan hidup. Ia pernah pengurus
harian bidang komunikasi Dana Mitra Lingkungan (sejak 1986). Karena
kecintaan terhadap lingkungan, Inke sebagai reporter TVRI, tertarik menyusuri daerah aliran sungai
Brantas. Selama berminggu-minggu, ia pernah menyusuri daerah aliran sungai
Brantas turun dari hulu hingga ke hilir untuk membuat film dokumenter
berjudul “Sungai Brantas dan Lingkungan”.
Dengan tujuan sama, Inke pernah menyusuri hutan perawan rimba pulau
Kalimantan untuk bercerita tentang kayu lapis, dan membuat film dokumenter
“Pertumbuhan Industri Kayu Lapis Indonesia”. Tak lama setelahnya, Indonesia
segera marak dengan industri kayu lapis, yang sayangnya, membuat status
Kalimantan menjadi terganggu sebagai paru-paru dunia.
Inke pernah pula
turun ke jalanan melakukan demonstrasi. Seperti terjadi pada Selasa 5
Februari 2002, ia mewakili individu bersama 29 LSM dan Ormas, demonstrasi
menuntut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso bertanggungjawab atas peristiwa
banjir yang melanda Ibukota pada awal tahun 2002.
Pengabdian Sosial
Di usia paruh baya, di luar kegiatan resmi sebagai pelaku bisnis ke-PR-an yang
terbilang sukses, Inke juga aktif
mengabdikan diri di bidang sosial. Inke masih saja mempunyai waktu dan aktif di bidang pendidikan.
Sudah beberapa tahun, Inke bersama teman-teman mendirikan Yayasan
Pendidikan IMC (Inke Maris School of Communications), yang membuka jasa
sekolah playgroup dan Taman Kanak-Kanak dengan bahasa pengantar
resmi bahasa Inggris.
Dia sekaligus menjadi
Ketua Yayasan Pendidikan IMC, yang memiliki sekitar 10 cabang, bekerjasama dengan Yayasan
Harapan Ibu di Bintaro, serta Yayasan Mutiara Indonesia pimpinan
tokoh pendidikan anak Kak Seto. Lokasi sekolah, yang juga menawarkan jasa dan
kursus-kursus bahasa Inggris, terdapat di dua cabang di Jakarta Selatan.
Yakni di Bona Indah Plaza, Jalan Karang Tengah
Raya Kav. A2-B3, Jakarta Selatan, dan di Sunny Hill, Jalan MPR Raya Kav.
8, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.
Di IMC, keterlibatan Inke, yang mempunyai sertifikat proficiency dalam
bahasa Inggris sehingga sebetulnya bisa dan berhak mengajar bahasa
Inggris, itu lebih kepada membangun sistem. Inke memanfaatkan secara
maksimal waktunya yang masih tersisa untuk IMC.
Inke Maris sangat menekankan pendidikan anak-anak mulai kecil dalam
bahasa Inggris. Mengapa harus bahasa Inggris? Karena Inke melihat bahasa
Inggris sudah merupakan bahasa internasional, lingua franca dunia
yang tak lagi bisa dihindari. Satu dari empat orang di dunia bicara sudah
dalam bahasa
Inggris. Semua buku-buku, science, komputer,
kebanyakan sudah dalam bahasa Inggris. Kalau karir mau maju bahasa Inggris
adalah suatu keharusan. Dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris menjadi
lebih terbuka visi dan wawasan.
Selain itu, bersama suami, Inke dipercaya mengelola dan menyalurkan dana beasiswa dari
Singapore Airlines (SIA) untuk para siswa SD, SMP dan SMA di Jakarta,
serta
mahasiswa kurang mampu karena terkena dampak krisis ekonomi 1997. Program Singapore Airlines untuk Pendidikan (SIAP), itu dimulai sejak
tahun akademik 2001/2002. Hingga tahun 2003/2004 telah tersalurkan dana
beasiswa terhadap 2.266 siswa SMA di Jakarta dan 316 mahasiswa UI, ITB,
Unair dan ITS Surabaya, jumlah total Rp 4 milyar.
Inke mengharapkan dapat mengembangkan Program SIAP bahkan hingga tak terbatas. Untuk tahun akademik 2004-2005
saja, kata Inke, sudah tersedia dana beasiswa baru bagi 793 siswa (SMP 322
dan SMU 366) dan
mahasiswa (105) senilai Rp 1,3 milyar.
Pada tahun ke-7 (2008) direncanakan sudah akan
tersalurkan dana beasiswa terhadap 4.000 siswa dan mahasiswa, dari
berbagai kota di Indonesia, senilai Rp 10 milyar. Kata Inke Maris,
prioritas Program SIAP adalah membantu siswa dan
mahasiswa Indonesia yang cerdas tetapi berasal dari keluarga sederhana,
yang jika tanpa bantuan SIAP terpaksa akan berhenti sekolah.
Keluarga
Menikah dengan Rizal Maris di London tahun 1969, Inke dikaruniai tiga orang anak. Anak terbesar
laki-laki bernama Yuma Sanjaya, ia mendapat beasiswa Fulbright untuk
meraih gelar MBA -nya
dari University of Texas Business School. Sudah menikah dan
sudah
memberikan satu orang cucu. Yuma berhasil mengikuti jejak lama Rizal Maris
sebagai bankir, bekerja di Citibank, Jakarta. Anak kedua, Armand Erlangga
Maris, kuliah sambil bekerja di kantor IM&A. Dan
anak ketiga, Renata Mira Maris adalah lulusan Universitas Trisakti Jakarta
dan Edith Cowan University dari Australia, sudah setahun bekerja di bidang
komunikasi tepatnya advertising.
Inke Maris dan suami membangun hubungan dengan ketiga anaknya secara
sangat bersahabat. Di rumah kehidupan mereka cukup demokratis.
Masing-masing boleh mengungkapkan perasaan dan berbicara dengan bebas.
Pola itu selalu dibina, sesuatu yang mungkin sudah biasa terjadi di
keluarga Indonesia namun di jaman dahulu masihlah tabu.
Zaman dulu itu,
terhadap orangtua anak harus sangat sopan, sangat hormat, apalagi orang
Sunda kepada orangtua terdapat kata-kata tertentu yang dikhususkan untuk
orangtua, tidak untuk digunakan dengan teman-teman.
Inke dengan anak-anak bisa bebas berbicara hingga teriak-teriakan atau
berdebat hingga adu argumentasi segala. Sikap demokratis demikian membuat
batas hubungan antara anak dengan orangtua menjadi tipis. Inke dan suami
memang sepakat untuk membangun kehidupan yang demokratis di rumah.
Keduanya tak perlu secara sengaja membagi-bagi waktu. Namun kalau
anak-anak ada keperluan, pasti Inke dan suami memprioritaskannya. ►e-ti/ht-ms
== 1
2 3 ==
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|