| |
C © updated 03012005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/ms |
|
| |
Nama:
Inke Maris
Nama Kecil:
Nyi Raden Maria Diniarti Natanegara
Lahir :
Bogor, Jawa Barat, 7 Desember 1950
Agama :
Islam
Suami:
Rizal Maris
Menikah:
Tahun 1969, di London, Inggris
Anak:
1. Yuma Sanjaya
2. Armand Erlangga Maris
3. Renata Maris
Cucu:
Satu (1) orang
Jabatan:
-Chief Executive Oficer (CEO) Inke Maris & Associates (IM&A)
-President Director Inke Maris School of Communications (IMC)
-Chairman of IMC Educarion Foundation
Pendidikan :
-Pendidikan Dasar di Nicholas Cusanus Gymnasium, Bad Godsberg, Jerman
-SD Yayasan Perguruan Cikini, Jakarta (1960)
-SMP Yayasan Sumbangsih, Jakarta (1963)
-SMA Teladan, Jakarta (1966)
-City of London Business School (1978)
-Clark’s College Commercial Certificate
-London Chamber of Commerce, Intermediate Stage Certificate
-British General Certificate of Education, Commerce
-Cambridge University, Proficiency in English
-M.A. Program, Centre for Mass Communication Research, University of
Leicester, Inggris
Kursus-kursus BBC London:
-Magazine Production, Agustus 1973
-Features Production, Oktober 1975
-Interview Techniques, Septemebr 1979
-News Production, September 1991
Penguasaan Bahasa Aktif:
Inggris, Jerman, Indonesia, dan Belanda (pasif)
Karir :
-Reporter, Penyiar, Produser Radio BBC London, Seksi Indonesia (1969-1981)
-Koresponden Sinar Harapan (1976-1982)
-Reporter, Penyiar, Produser TVRI (1982-2001)
-Public Relation Manager World Trade Centre, Jakarta (1984-1986)
-Penterjemah Kantor Istana Presiden, (1979-1987)
-Staf Ahli Bidang Komunikasi Menko Perekonomian (2000-2001)
-Mendirikan, dan Memimpin Inke Maris & Associates (1987-sekarang)
Kegiatan Lain :
- Pengurus harian bidang komunikasi Dana Mitra Lingkungan (sejak 1986)
Alamat Rumah :
Jalan Alam Asri IV/14, Pondik Indah, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
Jalan KH Abdullah Syafi’ie (Lapangan Roos Raya) No. 28, Jakarta Selatan
12840
Telp. (021) 828.1250, Faks. (021) 835.1369
Website: www.inkemaris.com
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3 ==
Inke Maris (2)
Pionir Public Relations Nasional
Karir dan reputasi Inke Maris di dunia kepenyiaran radio televisi
Indonesia dan internasional tak pernah cacat. Karena reputasi baik
itulah sejak tahun 1987, Inke bersama suami, Rizal Maris, merintis
usaha jasa konsultan strategi komunikasi. Ia mengusung namanya sendiri
sebagai bendera usaha, Inke Maris & Associates, biasa disingkat IM&A atau
IMA.
Inke, ibu tiga
orang anak (Yuma Sanjaya, Armand Erlangga Maris dan Renata Maris),
ini layak
disebut pelopor atau pioner bisnis di bidang industri jasa public
relations (PR). Dia wanita Indonesia pelopor usaha jasa public
relations (PR)..Sebab pada saat itu perusahaan dan nilai-nilai PR masih belum begitu
dimengerti di Indonesia. Perusahaan PR lokal praktis belum banyak tumbuh.
Saat itu, kendati sudah ada satu-dua perusahaan jasa ke-PR-an
tak lebih mengusung nama dan kepanjangan tangan kepemilikan agensi-agensi
asing.
IM&A murni kreasi anak bangsa, berafiliasi dengan asing Michael de
Kretzer Corporate and Marketing Communications hanya sebatas saling
memanfaatkan jaringan bisnis masing-masing mutual benefit. Sedangkan bisnis dan
kepemilikan, masing-masing berjalan sendiri-sendiri.
Di tengah-tengah puncak karirnya sebagai penyiar, reporter, dan
produser TVRI itulah ide baru itu mucul yakni membuka bisnis jasa
konsultan di bidang komunikasi. Tujuannya untuk memperlancar komunikasi
bisnis orang-orang asing yang berbisnis di seluruh Indonesia.
Keberanian Inke
terjun ke jasa PR (1987) didasari keniscayaan akan terbukanya Indonesia terhadap
dunia asing, khususnya di bidang bisnis dan perdagangan internasional.
Saat itu,
bisnis, industri dan perdagangan regional dan internasional
justru sedang melirik ke Indonesia.
Ketika itu, Inke Maris
berpikir bahwa di Indonesia akan berkembang bisnis nasional, regional dan
internasional. Sebelumnya, Indonesia seolah tertutup terhadap bisnis asing
sebab masih lebih melihat ke dalam. Sejak tahun 1987 investasi mulai
banyak masuk, pesat sekali perkembangannya di luar bisnis ‘tradisional’
perusahaan minyak asing.
Itulah yang dilihat Inke sebagai peluang,
bagaimana memudahkan perjalanan bisnis asing agar berkembang dengan baik
di Indonesia. Sebab jika itu terjadi pasti akan membawa manfaat banyak
buat Indonesia, karena bisa belajar dari para pelaku bisnis asing tersebut.
Bisnis advertising hingga bikin sepatu ataupun yang lain, dapat pula
seiring ikut berkembang.
Dalam pandangan Inke, setiap organisasi bisnis, institusi atau
pemerintah pasti mempunyai kewajiban serta kebutuhan untuk berkomunikasi
dengan lingkungan. Padahal bagaimana berkomunikasi yang baik, itu tidak
semua orang paham. “Jadi, saya mencoba membantu di sana,” kata Inke. Dia
pun lalu mendirikan Inke Maris & Associates (IM&A), tahun 1987, bergerak di
bidang jasa pelayanan konsultasi komunikasi.
Pekerjaan pertama
sebagai PR di tahun1988, adalah dipercaya menangani The World Grain
Congress yang dihadiri oleh semua perusahaan penghasil gandum dan tepung terigu
dari seluruh dunia, berlangsung di Indonesia, didukung oleh perusahaan
gandum Bogasari.
Setelah itu, IM&A bertumbuh sedemikian rupa. Tidak hanya melayani orang atau lembaga dalam negeri atau nasional.
IM&A juga bersifat internasional. Memang, IM&A didirikan untuk memberikan
pelayanan yang terbaik, profesional, terpercaya, berintegritas, transparan dan bertanggungjawab sebab didukung oleh sebuah tim yang profesional dan
terdidik.
Pada saat IM&A didirikan, Inke hampir-hampir tidak menghadapi
persaingan di bisnis public relatons (PR) secara berarti. Sebab ia
adalah perintis PR saat itu. Kalaupun ada persaingan, itu boleh dibilang
hanya muncul dari satu dua orang. Selain tanpa persaingan bisnis
advertising dan PR masih memperoleh perlindungan, dibatasi harus
perusahaan Indonesia, berlangsung hingga tahun 1990-an.
Indonesia kemudian berkembang dan menjadi semakin liberal serta terbuka.
Begitu perusahaan PR asing diizinkan bebas beroperasi, segera saja banyak
masuk perusahaan PR besar dari luar membuka kantornya di Indonesia.
IM&A yang dalam perjalanan singkatnya mampu tampil menjadi salah
satu perusahaan komunikasi terbaik di negeri ini, membagi jasa
pelayanannya ke dalam Corporate & Public Affairs, Financial
Communications, Issues and Crisis Management, dan Marketing
Communications.
Dia memimpin IM&A sebagai chief executive officer, sehingga
perusahaan ini menjadi sebuah konsultan public relations (PR) terkemuka
di Indonesia.
Dia membangun reputasi IM&A persis pada saat orang belum kenal
apa itu public relations. PR, ketika itu masih dijadikan sebagai
bahan olok-olok, lucu-lucuan, dan selalu dikaitkan dengan kehadiran wanita
cantik. Masih agak rancu membedakan mana orang-orang public relations,
orang sales, resepsionis hotel, atau penjual buku ensiklopedia.
Namun Inke bergiat membawa IM&A untuk terus berkembang. Meskipun tahun
1997 Indonesia terkena beragam krisis, di mana banyak perusahaan PR skala
kecil hingga menengah tutup kantor, IM&A di tangan Inke masih bisa
bertahan.
Hasil pencapaian Inke malah sangat jauh berbeda dalam empat lima tahun
terakhir, saat jasa PR mulai memasuki area baru komunikasi politik. Jasa
PR dibutuhkan membantu kampanye politik untuk membangun pencitraan para
politisi atau tokoh masyarakat yang berebut jabatan publik di pemerintahan
atau lembaga perwakilan.
Perbedaan mencolok terjadi pula pada para pelaku bisnis nasional. Kalau
dahulu klien IM&A lebih banyak perusahaan asing yang bergerak di
Indonesia, sekarang, perusahaan Indonesia sendiri sudah memahami makna
kehadiran komunikasi PR. IM&A bersaing bukan lagi dengan sesama perusahaan
PR, tetapi juga dengan divisi-divisi PR yang ada di tiap-tiap perusahaan.
Malahan, bisa saja anak buah Inke dibajak oleh perusahaan lain, atau
sebaliknya IM&A yang membajak karyawan dari sebuah perusahaan.
Persaingan
bukan lagi sebatas persaingan bisnis, jadinya, tetapi termasuk dalam hal
human resource, serta pekerjaan-pekerjaan yang sudah lebih banyak
ditangani oleh divisi-divisi PR perusahaan.
Jika orang Indonesia sangat mengenal Inke Maris sebagai penyiar TVRI, di
luar nama Inke lebih populer sebagai pelaku bisnis public relations yang mengantongi sejumlah klien berkelas
multinational companies. Seperti,
Mercedes Benz, Volkwagen (VW), World Gold Council, Telkom, konglomerat
Asia asal Malaysia Guthrie Berhad, proyek
Australia-Indonesia Today ’94 dan Marketing Australia ’95, BP Indonesia-Tangguh
LNG Project, Caltex, Conoco Indonesia, Total Indonisie Singapore Airlines,
Hong Kong Tourism Board (HKTB), serta BCA, BNI, Bank Mandiri dan BII.
IM&A hadir secara elegan sebagai pionir industri jasa PR Indonesia, yang
tetap berada pada posisi leading untuk kasus-kasus terbaru dalam empat
lima tahun terakhir, seperti pelaksanaan jasa ke-PR-an pada masa kampanye
politik Pilpres 2004. Pada 13 Maret 2003 IM&A memperoleh penghargaan
Cakram Award for Best Public Relations Consultant of The Year dari “Cakram”,
sebuah majalah khusus insan periklanan, PR, dan industri komunikasi, atas
keberhasilannya membangun citra dan reputasi sebagai perusahaan PR yang
baik.
Quality & Delivery
Berdasarkan pengalaman terlibat sebagai Media Centre Coordinator pada Pilpres
2004, Inke lantas berpandangan kondisi ke-PR-an Indonesia di masa depan
akan semakin marak dengan perkembangan political PR. Dan, sesuai
perkembangan politik, sosial, dan ekonomi yang kondusif, bisnis-bisnis pun
akan mulai tumbuh marak bersamaan dengan kegiatan investasi yang semakin
besar di Indonesia.
Itu berarti akan sangat dibutuhkan peranan PR. PR adalah jasa yang pada
saat bisnis menurun pun tetap dibutuhkan. Karena itu PR, menurut Inke, adalah bisnis untuk segala
zaman. Kondisi perusahaan sedang baik atau buruk komunikasi tetap
dibutuhkan.
Menurut Inke, persaingan bisnis PR akan semakin ketat. Saingan terbesar
berasal dari perusahaan-perusahaan raksasa PR asing yang kantor
perwakilannya marak bertumbuhan di Indonesia. Persaingan akan sengit di
sana termasuk persaingan dari perusahaan-perusahaan baru bernama event
organizing, yang khusus menangani aspek event organizing yang
juga sedang marak bertumbuhan.
Namun, Inke tak merasa risau dengan persaingan itu. Sebab “kue” PR juga
ikut naik. Karena itu, klien pasti akan melihat siapa perusahaan
PR yang sanggup memberikan jasa pelayanan sesuai quality dan
delivery yang diinginkan.
Inke mempunyai kiat sederhana memenangkan persaingan. Yakni harus men-deliver
apa yang dijanjikan. Itu sebab Inke tak mau menjanjikan sesuatu jika
memang tidak bisa dia deliver. Jika Inke sudah menjanjikan bahwa pada hari
H harus sudah menyelesaikan X, maka itu harus selesai. Selain menerapkan
prinsip deliver what you promise, Inke juga konsisten menjaga
quality. Apa yang dijanjikan harus bisa diukur.
Inke Maris menyadari popularitas pribadinya yang bereputasi baik selama
bekerja di TVRI, itu harus mampu diimbangi IM&A sebagai lembaga. Adalah
biasa bagi Inke merasakan malu, jika kebetulan ikut hadir di dalam rapat
dengan klien nama Inke Maris muncul menjadi sorotan untuk dipermasalahkan,
atau dituntut. Padahal, kata Inke, nama Inke Maris yang dimasudkan adalah
lembaga IM&A.
Hampir dua dekade berkarya nama IM&A sudah lama tertanam di kalangan
bisnis, tanpa melihat lagi reputasi yang disandang pendiri dan pemiliknya
yang mantan spesialis pewawancara tokoh kelas tinggi. “Nggak perlu harus
ada kehadiran saya di sana,” kata Inke. Inke membangun citra perusahaan
IM&A secara profesional sebagai perusahaan yang bisa berjalan sendiri
dengan tim secara solid.
Jika di dalam negeri Inke sangat populer sebagai penyiar TVRI, di
kalangan bisnis internasional yang tak pernah menonton TVRI pasti tak akan
mengerti hal itu. Kalangan bisnis internasional hanya mengenal reputasi
IM&A yang dibangun sebagai sebuah perusahaan PR profesional berkelas
dunia.
Pembelajar PR
Inke juga pantas dijuluki sebagai pembelajar ke-PR-an di Indonesia. Dia tak pelit membagi pengalaman dan pengetahuan praktisnya yang
luas tentang ke-PR-an. Dia membuka kesempatan kursus ke-PR-an pada Divisi
Pendidikan IM&A.
Namun sifatnya terbatas, sebab hanya ditujukan untuk level
manajemen perusahaan, bukan untuk umum. Semacam in house training. Inke memberikan training dan workshop secara khusus kepada
perusahaan-perusahaan yang mau go public, seperti BCA, Telkom, World Bank, dan banyak perusahaan publik
lain.
IM&A memang mempunyai line of business yang beragam sebab
komunikasi itu sangatlah luas. Inke secara sengaja menempatkan IM&A
sebagai strategic communication consultant yang bisa memberikan
jasa pelayanan komunikasi dari A sampai Z, mulai dari konsultansinya
hingga ke pelaksanaan.
Misalnya mengadakan workshop, mengusahakan
liputan bekerjasama dengan media, menyelenggarakan acara-acara untuk
perusahaan, membuat sambutan-sambutan, company profile, annual report,
dan lain-lain termasuk membuat iklan. IM&A mempunyai spesialisasi membuat
iklan yang sifatnya lebih ke corporate, bukan product.
Inke Maris mempunyai sumberdaya yang memadai untuk menakhodai biduk
bisnisnya, sekitar 50 karyawan. Di divisi graphic design, namanya
Impression, itu khusus menangani graphic design dan
produksi-produksi bahan cetakan dan video clips. Divisi Impact
khusus menangani acara-acara dari acara yang besar sampai kecil, seperti
peluncuran VW yang baru jenis VW Passat, VW Golf, atau mempromosikan susu
Anlene, sampai ke acara-acara yang melibatkan Presiden.
Untuk pemerintahan
Inke pernah menangani acara besar melibatkan Presiden RI dengan PM
Malaysia Mahathir, dan Presiden RI dengan PM Singapura Goh Chok Tong.
Ketika pemerintahan sudah di tangan SBY Inke masih berkesempatan menangani
acara SBY yang pertama, mengadakan teleconference dari Istana
Negara dengan kapal produksi gas terbesar kedua di dunia milik Conoco,
Balanak.
Visi jika Menkominfo
Sebagai mantan penyiar berkutat tiga dekade lebih dengan electronic
media, Inke tetap memelihara hubungan emosionalnya dengan TVRI
khususnya di tengah persaingan stasiun TV yang semakin ketat. Bahkan, Inke
mempunyai visi kebangsaan tersendiri terkait dengan peran media massa
khususnya televisi atau TVRI.
Electronic media baik radio maupun televisi, kata Inke, mempunyai peran
yang sangat besar. Seperti RRI di zaman revolusi menjadi pembawa berita
yang didengarkan orang. TVRI pun di masanya menjadi alat pemersatu yang
memperkokoh kesatuan-persatuan, yang mestinya terus dipelihara.
Ia membandingkan hasil studinya tentang India, China, atau Malaysia.
TVRI-nya India, namanya Doordashan, itu masih menguasai 75-80 persen
audiens. Begitu juga China, yang bahkan lebih parah negeri Tirai Bambu
tidak mengizinkan TV kabel seperti CNN atau StarTV mengadakan siaran
langsung. Tidak semua orang boleh bebas memiliki parabola untuk menangkap
siaran dari luar negeri. Malaysia baru dua tahun terakhir mengizinkan
masuk TV kabel.
Berdasarkan studi itu, Inke melihat ke depan Indonesia harus dijaga agar
masyarakat melihat dirinya dari kacamata sendiri, tidak dari kacamata
Amerika, atau Australia, atau Inggris, ataupun negara lain. Inke merasa
harus menyebut dua negara Inggris dan Amerika karena kenyataan di dunia
komunikasi terutama komunikasi global itu dikuasai kedua negara.
Inggris dengan Reuters-nya lalu Amerika dengan AP-nya (Associate Press),
sudah berdiri tahun 1890-an, mempunyai sekaligus menguasai jaringan
informasi di seluruh dunia.
Itu sebab Inke merasa sangat concern dan khawatir jika melihat
beberapa stasiun TV dan radio di Indonesia sudah menyiarkan atau merelay
berita-berita dari BBC, atau dari Voice of America (VoA), melalui siaran
nasional. Itu sebetulnya berbahaya untuk ketahanan bangsa, sesuatu yang
tak akan mungkin terjadi di India demikian pula China melalui kebijakan telekomunikasi
penyiarannya.
Inke sesungguhnya masih menaruh harapan pada Komisi Penyiaran Indonesia
(KPI), dimana ketua dan anggotanya merupakan orang-orang komunikasi
seperti Victor Menayang. Mereka, harap Inke, mudah-mudahan cukup kuat
mengatur penyiaran sedemikian rupa agar Indonesia tidak mengorbankan
kemajuan bangsa, pendidikan bangsa, hanya untuk acara-acara hiburan saja,
misalnya.
Menurut visi kenegaraannya, Inke menyebutkan Indonesia harus
memanfaatkan sarana-sarana media komunikasi televisi untuk tiga hal.
Pertama, memperkuat demokrasi melalui informasi. Yakni informasi yang
mempersenjatai dan membekali orang Indonesia untuk bisa membuat
pilihan-pilihan yang tepat tentang kebijakan Pemerintah. Katakanlah, jika
Pemerintah mau mencabut seluruh subsidi BBM masyarakat harus paham apa
implikasinya, dan sebagainya.
Yang bisa memberikan edukasi seperti itu
adalah lahan-lahan atau ruang siaran. Nyatanya, Inke melihat semua stasiun
TV memiliki porsi untuk informasi sudah semakin kecil. TVRI pun, yang
namanya sebetulnya disebut TV publik, porsi untuk program berita sudah
sangat mengecil, berkurang sekitar 40 persen dibandingkan tahun 1997.
Pemanfaatan kedua, edukasi untuk mencerdaskan bangsa. Misalnya, edukasi
kesehatan tentang bagaimana hidup sehat, bagaimana membasmi nyamuk supaya
tidak ada demam berdarah karena demam berdarah terkait dengan gaya hidup
yang jorok. Kemudian informasi mengenai keluarga, mengenai hak dan
kewajiban keluarga. Itu semua bisa dikemas dalam sinetron atau komedi
tetapi ada misinya.
Pemanfaatan ketiga adalah hiburan, sebab segala sesuatu di televisi
tidak akan menarik kalau tidak dikemas dengan cara yang menghibur. Tetapi
yang menjadi kekhawatiran baru Inke adalah, porsi hiburan justru menjadi
lebih penting.
Kecenderungan itu terjadi karena televisi, terutama,
demikian pula radio telah menjadi sarana bisnis bukan lagi sarana untuk
public education dan public service. Untung saja
reporter-reporter Indonesia, menurut Inke, masih mempunyai jiwa public
service dalam caranya mencari dan menyajikan informasi yang berimbang. Tujuannya adalah untuk
share pandangan-pandangan mereka dengan orang banyak, untuk meng-educated
orang banyak tentang pandangan orang lain, dan untuk menjadi pembanding
dan sebagainya.
Kalau porsi informasi dikurangi demokrasi juga mungkin akan
tersendat-sendat karena rakyat tidak bisa membuat pilihan-pilihan yang
well informed. Inke melihat kecenderungan yang terjadi pada para pemilik
stasiun televisi, swasta terutama, telah menggunakan stasiun TV untuk
kepentingan grup bisnis dan grup politiknya, bukan lagi untuk
kepentingan publik.
Kecenderungan demikian muncul, kata Inke, selain terkait dengan cost
investasi dan operasi,
juga akibat lemahnya peraturan yang dibuat. Negara maju yang
semaju-majunya demokratis pun, seperti Inggris, masih mempunyai aturan
main di mana semua stasiun TV harus punya porsi public service.
Jadi,
untuk public service TV swasta harus mempunyai porsi sekian persen,
informasi sekian, edukasi sekian, hiburan sekian. Untuk TV swasta porsi
hiburannya mungkin lebih besar, untuk TV publik porsi hiburannya lebih
kecil. Hiburannya pun harus yang lebih mendidik. Seperti, kalau di barat
opera dan musik klasik, sementara di TV swasta lebih ngepop, mungkin.
Di Amerika TV masih diatur. Kata Inke, seorang pemilik cable
television jika mau membuka TV kabel di suatu daerah baru, itu harus menandatangani perjanjian bahwa ada porsi tertentu yang
akan diperuntukkan sebagai akses bagi masyarakat untuk mengungkapkan
pendapat dan pandangannya, baru boleh dapat izin.
Jika di negara demokrasi saja hal-hal seperti itu diatur, di Indonesia
tidak ada aturan demikian. Kalau kita mau mencuri masa depan anak-anak
silakan saja berikanlah dangdut dan cerita hantu, katan Inke.
Cerita hantu, menurut Inke, harusnya masuk porsi hiburan. Namun di
Indonesia seakan-akan masuk porsi edukasi. Inke, yang percaya besarnya
peran media massa dan televisi dalam hal ini, lalu bertanya retorik bangsa
ini hendak dididik kemana sesungguhnya.
Selain karena lemahnya peraturan, Inke juga mempersoalkan rendahnya rasa
tanggung jawab sosial para pemilik stasiun TV. Apakah Anda merasa bahwa, tanya Inke
lagi, TV swasta tetap menyuguhkan cerita hantu setiap malam. “Don’t you think
they have a responsibility terhadap bangsa ini,” demikian Inke.
Keberanian Inke menggugat karena mau tidak mau media massa bukanlah
semata-mata bisnis. Sebab sejak dahulu media massa disiarkan di ruang
publik sehingga harus memperhatikan publik. Tua muda yang menonton
televisi, itu jangan dieksploitir hanya untuk menjual iklan dan produk.
Tua muda harus juga mendapatkan haknya sebagai publik, yakni sebuah
pelayanan publik atau public service.
Media massa harus digunakan mencerdaskan bangsa, memperkuat demokrasi,
dan untuk menghibur. Itulah visi Inke sekiranya diangkat menjadi Menteri
Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), memperkuat kebijakan bahwa televisi
tetap punya tanggung jawab moral dan sosial kepada publik.
►e-ti/ht-ms
== 1
2 3 ==
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|