| |
C © updated 26022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
H. Imam Supriyanto
Jabatan:
Wakil Ketua Yayasan Pesantren Indonesia (YPI)
Lahir:
Jakarta, 9 Oktober 1965
Istri:
Mukhtiningsih
Anak:
1. Nurul Rodhiyah
2. Nurul Karimah,
3. Nurul Azizah
4. Nurul Fadhilah,
5. Khairul Umam Mangun Bawono,
6. Syamsul Falah Adi Prawiro
Pendidikan:
-SD di Jakarta, tahun 1977
-SMP di Jakarta, tahun 1980
-SMA di Purwokerto, tahun 1984
- Graduate Diploma in Management, The International Professional Manager’s Association (IPMA), London, 2003
- Distance Learning di Mindanao State University Philipina untuk program Master of Science in Farming System
Pengalaman Kerja:
- Pendidik di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Sawangan Bogor, 1990
- Sejak tahun 1992 wiraswasta agrobisnis di Subang, Jawa Barat
- Tahun 1994 ikut mendirikan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) Ma’had Al-Zaytun
- Pengelola Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat
Pengalaman Organisasi:
-Ikatam Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ketua Cabang Cirendeu,
Jakarta (1985-1990)
Alamat:
Ma’had Al-Zaytun
Mekar Jaya, Indramayu, Jawa Barat
Telp. (0234) 742.815, 742.822, Faks. (0234) 742.833
|
|
| |
|
|
|
|
| IMAM HOME |
|
|
 |
Imam Supriyanto
Satukan Visi di Al-Zaytun
Syaykh Al-Mahad Abdussalam Panji Gumilang, menerapkan kepemimpinan
kekitaan di Ma’had Al-Zaytun. Dia didampingi para sahabat, eksponen
Yayasan Pesantren Indonesia (YPI). Salah satu di antaranya, Imam
Supriyanto,
yang sehari-hari menjabat Wakil Ketua YPI, sebuah yayasan yang mengelola
kampus peradaban Ma’had Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan
pengembangan budaya toleransi dan pusat pengembangan budaya perdamaian.
Sebagai Wakil Ketua Yayasan, Imam antara lain bertugas memfasilitasi dan
mengurusi apa-apa yang menjadi kebutuhan kegiatan pendidikan Ma’had Al-Zaytun.
Sebagai contoh bagaimana agar kebutuhan santri, karyawan dan guru-guru
bisa terpenuhi. Demikian pula kebutuhan makan sehari-hari, misal beras
terdiri 5 ton perhari. Atau, karena Ma’had butuh membangun gedung baru
maka perlu disiapkan lahan, material bangunan, hingga pendanaan dan
lain-lain. “Pendeknya, Yayasan itu memfasilitasi keperluan perjalanan
pendidikan,” kata Imam.
Pria rendah hati nan murah senyum dan praktis tak pernah bermurung
muka kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1965, ini sama seperti semua eksponen Al-Zaytun lainnya mempunyai
keinginan dan cita-cita yang sama. Yakni kesamaan cita-cita membangun
Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan mandiri melalui pendidikan yang
modern.
Kesamaan itu lalu dibarengi lagi dengan jiwa yang toleran dan
damai sehingga utuhlah segenap eksponen Al-Zaytun memiliki cara berpikir
yang sama dengan Syaykh Panji Gumilang, sebagai pemimpin panutan.
Satu Visi Indonesia
Seluruh 33 orang eksponen pendiri Yayasan sejak awal pembicaraan
mendirikan Ma’had sudah bertemu dalam satu visi dengan Syaykh, bagaimana
memajukan bangsa melalui sistem pendidikan modern yang terintegrasi.
Kesamaan visi muncul setelah menyaksikan betapa kader-kader bangsa saat
ini sangat belum siap menghadapi persaingan global di masa depan. Segenap
eksponen ingin kader-kader bangsa ke depan jangan lagi seperti saat ini
yang masih belum siap menghadapi era globalisasi.
Keterbatasan-keterbatasan itulah yang hendak diisi Ma’had Al-Zaytun,
dengan membenahi kader-kader bangsa supaya bisa tampil di forum-forum
internasional, hidup mandiri, dan bergaul dengan sesama ummat antar bangsa.
“Katakanlah kita ini sekarang, ya seperti ini. Tapi kader-kader ke depan
tidak boleh seperti kita. Kalau nggak kita persiapkan seperti itu,
bagaimana,” kata Imam, bersyukur alhamdulillah walau segenap eksponen
terdiri dari beragam latar namun semua dapat bersatu.
“Rupanya Tuhan ingin memberikan contoh bahwa kita yang mempunyai latar
belakang beragam nyatanya bisa bersama,” kata Imam. Eksponen Ma’had
Al-Zaytun berasal dari beragam latar belakang organisasi kemasyarakatan,
ada yang pernah di HMI, NU, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Dengan
mengambil inti dari nilai masing-masing dipadukan di Ma’had Al-Zaytun.
Internalisasi nilai-nilai berlangsung dengan sistematis di Ma’had
Al-Zaytun sehingga keberagaman nilai dipadukan dan diangkat menjadi nilai
yang lebih tinggi dan paripurna serta dapat mengangkat kepentingan umat
dan bangsa.
Dengan demikian Al-Zaytun tidak hanya memiliki satu orang tokoh untuk
diidolakan. Berbagai tokoh berkesempatan menjadi idola di lingkungan
Ma’had Al-Zaytun. “Kita menuju kepribadian yang paripurna, lengkap,” kata
Imam ringkas.
Menjembatani Kader Bangsa
Karena kesamaan pikir, gerak, langkah, dan cita-cita, maka apabila ada
satu ide yang kemudian menjadi satu ketetapan Ma’had ataupun Yayasan
berdasar musyawarah, maka semua individu dapat menerimanya tanpa
memaksakan kehendak atau keinginan sendiri-sendiri, terlebih bila ide itu
datangnya dari Syaykh, karena apabila masing-masing individu merasa ide
atau keinginannya sudah tertuang, ketetapan itu harus dituruti dengan
ikhlas.
“Jadi di situ kebersamaan. Itulah perangkatnya Al-Zaytun, berdirinya
Al-Zaytun, dan kebersamaannya Al-Zaytun,” papar Imam, yang sebelum
bergabung dengan Yayasan Pesantren Indonesia aktif di bidang pertanian di
daerah Subang, Jawa Barat.
Salah satu dasar kesamaan sikap dan cita-cita segenap eksponen Ma’had
Al-Zaytun, kata Imam adalah karena organisasi yang Syaykh bangun adalah
organisasi pendidikan, sehingga nilai-nilai pendidikan sangat menonjol dan
dominan mempengaruhi sikap segenap eksponen. Semua eksponen mempunyai
tanggung jawab pendidik dan dididik, ini bagian dari salah satu spirit
pesantren, yakni figur pimpinan ataupun individu yang ada itu wajib
dicontoh dan mencontoh. Dalam organisasi seperti itu, kepada semua orang
diberi kesempatan yang sama untuk maju, memperbaiki dan meningkatkan diri.
Pokoknya semua diarahkan menuju sesuatu yang lebih baik. Ini hakikat
pendidikan.
Dalam hal kepemimpinan di Ma’had Al-Zaytun, sesuai dengan ungkapan Syaykh,
bahwa kita ini selaku pendidik tidak takut kehilangan kader, artinya semua
unsur yang dididik di Ma’had Al-Zaytun mempunyai kesempatan yang sama
untuk maju dalam segala hal. Syaykh memberi kesempatan yang sama kepada
semua unsur, khususnya para pelajar untuk tampil di masa depan, apalagi
segenap eksponen yang ada di Yayasan maupun di Ma’had telah sepakat bahwa
keberadaan mereka adalah untuk menjembatani para kader umat dan bangsa
agar dapat tampil maju di berbagai arena hidup dan kehidupan.
Perfeksionis
Karena berada dalam organisasi pendidikan, Imam dan seluruh eksponen lain
memandang Syaykh bukan sebatas hanya sebagai pemimpin organisasi yang
harus ditaati, dituruti dan dipatuhi perintahnya. Selain pemimpin, bagi
Imam Syaykh adalah guru, sahabat, orangtua dan pendidik sejati yang bisa
bersikap tabah, bersikap bertenggang rasa tinggi dan memimpin bawahan
dengan sekaligus mengangkat semua potensi yang dimiliki masing-masing
bawahan.
Sebagai bawahan ada cara dan saat-saat tertentu bagi Imam untuk
mengutarakan jalan pikiran dan ide-ide baru kepada Syaykh. Selain Wakil
Ketua YPI Ma’had Al-Zaytun, kepada Imam sehari-hari diberi pula tanggung
jawab Koordinator Pelaksana Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T).
Nah, dalam kesempatan tertentu, Syaykh terkadang bertanya tentang beberapa
hal berkaitan dengan program yang dimaksud.
Di situlah, salah satu cara dan saat yang utama menyampaikan ide ketika
Syaykh bertanya tentang sesuatu, ataupun kita berinisiatif
menyampaikannya. “Ya, kita sampaikan itu,” kata Imam, dan dalam hal
tertentu Syaykh tidak segan-segan bertanya kepada siapa saja, termasuk
kepada karyawan maupun masyarakat lingkungan.
“Memang, beliau tidak segan-segan bertanya kepada siapa pun bukan saja
kepada saya. Tapi kepada karyawan yang paling rendah pun Syaykh mau
menanyakan informasi tertentu yang beliau tidak tahu. Nggak segan bertanya
kepada siapa pun termasuk kepada orang kampung,” papar Imam, menjelaskan
gaya kepemimpinan Syaykh al-Ma’had.
Imam, yang selain rendah hati, bersahaja, murah senyum, penyabar, tak
pernah bermurung muka, juga merupakan tipikal manusia yang perfeksionis.
Tampaknya, tidak ada kamus marah dalam hidup Imam. Paling-paling yang
terjadi, kalau melihat sesuatu, atau seseorang yang sebetulnya bisa
melakukan sesuatu kemudian pura-pura tidak bisa, lalu dia tidak mau
melakukan sesuatu itu, maka Imam paling-paling hanya akan bertanya ringan
yang tak memerlukan kemarahan sikap. ‘Bagaimana kamu ini, kamu punya
kemampuan kok nggak dikerjakan.’
Perfeksionis tak harus dimanifestasikan Imam menjadi kemarahan yang
meledak-ledak. Ia mengatur hidupnya penuh dalam rencana, keteraturan dan
kedisiplinan. Semuanya terpola dan terencana. Apalagi jika itu menyangkut
makanan maka faktor kesehatan harus diutamakan. Bukan nilai makanan dalam
arti harga melainkan makanan harus memenuhi syarat-syarat sehat.
“Kebetulan juga istri saya dulunya pernah di Fakultas Kedokteran di
Universitas Sriwijaya,” kata Imam, menjelaskan sebab keteraturan pola
makannya.
Untuk melengkapi pengetahuan di bidang pendidikan, Imam kuliah program
master (S2) Sistem Pertanian, di sebuah universitas negeri di Mindanao,
Filipina Selatan. Sebagai Koordinator Pelaksana Pendidikan Pertanian
Terpadu (P3T), kuliah sistem pertanian bagi Imam akan sangat berkaitan
dengan rencana pengembangan pertanian terpadu ke depan di lingkungan
Ma’had Al-Zaytun. “Supaya lebih optimal mengikuti Syaykh dalam berinovasi,
khususnya di bidang pertanian terpadu,” tambah Imam.
Kuliah S-2 berlangsung jarak jauh walau begitu kuat keinginan untuk juga
bermukim di Mindanao. Tapi urusan tanggungjawab sebagai Wakil Ketua YPI
lebih berharga bagi Imam.
Di dalam negeri tepatnya di Universitas Terbuka (UT) Imam ikut kuliah S-1
bidang sosiologi. “Selagi ada kesempatan ikut saja,” kata Imam memberi
alasan keseriusannya melengkapi keparipurnaan pengetahuan.
Sosiologi dalam bagian kecil, dalam arti hanya bagian-bagian yang
diperlukan saja untuk membantu individu atau kelompok dalam menyelesaikan
masalah, itu sudah pernah dipelajari Imam saat kuliah Kesejahteraan Sosial
di FISIP Univeritas Muhammadiyah (UMJ) Jakarta. “Nah, sekarang lebih dalam
lagi sosiologinya. Supaya kita seperti Syaykh, paling tidak untuk lebih
mudah dalam membantu Syaykh,” kata Imam serius.
Nilai-nilai religius
Imam yang sangat bersahaja dan penyabar, lahir dan hidup dari sebuah
lingkungan keluarga yang kuat terhadap nilai-nilai religius. Ayahnya
seorang pegawai negeri pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemda DKI
Jakarta. Imam menempuh pendidikan sekolah dasar di dua tempat sekaligus.
Yakni di sekolah madrasah khusus untuk memperdalam pengetahuan ke-Islam-an,
dan di sebuah sekolah dasar umum.
Oleh ayah, demikian pula ibunya, kepada Imam sudah ditanamkan nilai-nilai
religius sedari kecil. Seperti nilai bahwa hidup tidaklah lebih dari
melaksanakan tugas saja. Karena itu siapa pun yang memberikan tugas kepada
kita pastilah tidak berlebihan sehingga baiklah tugas itu diikuti saja.
Nah, kesabaran sangat dibutuhkan jika ingin sukses dalam melaksanakan
tugas-tugas kehidupan. Sama seperti Tuhan yang juga penyabar penuh kasih
berlimpah karunia dan anugerah.
Nilai-nilai religius tetap tertanam dalam diri Imam saat menempuh
pendidikan SMP, SMA, bahkan hingga perguruan tinggi. Terlebih ketika
menginjak bangku SMA dan kuliah di FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ),
yang terletak di Cirendeu, kawasan Pasar Jumat, Jakarta Selatan antara
tahun 1985-1990. Begitu kuliah nilai-nilai religius semakin tajam saja
tertanam.
Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan dan pendidikan, kata Imam,
cukup mempengaruhi kedalaman jalan pikir kehidupan Imam. Bahkan, istri
yang kini telah memberi Imam sejumlah anak ‘ditemukannya’ di Muhammadiyah.
Awalnya sebagai sahabat sesama aktivis kampus dan pekerja sosial,
khususnya di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Imam dan istri sama-sama gemar terjun sebagai aktivis kampus. Imam lebih
senior dari istrinya. Pendidikan Imam tempuh di Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik (FISIP) sedangkan istrinya di Fakultas Pertanian. Ketika
bergerak sebagai aktivis keduanya sudah sering berkonsultasi tentang
keorganisasian kampus. Ada kesamaan pandangan di situ. Jadi sebelum
keduanya terikat dalam satu tali pernikahan yang kudus, pengenalan akan
diri pasangan masing-masing sudah cukup matang.
Karena itu begitu keduanya bersatu hidup dalam sebuah ikatan tali keluarga
apa pemikiran-pemikiran yang dahulu pernah diidealisasikan tetap
terpelihara dan dipertahankan sebagai cita-cita bersama rumahtangga.
“Jadi, mengenai hambatan atau apapun alhamdulillah tidak pernah terjadi,”
kata Imam merujuk kepada harmoni yang dia bangun bersama istri.
Terbuka belajar
Masa-masa kuliah dan aktivitas kampus sangat dominan membentuk Imam untuk
total dan utuh bergelut sebagai pekerja sosial (social worker). Usai
kuliah Imam masih tetap menekuni IMM. Namun Imam tak mau terus-menerus
larut dalam lingkungan IMM. Yang ia perlukan adalah mengambil intisari
nilai-nilai Muhammadiyah untuk dikembangkan supaya bisa bermanfaat bagi
bangsa dan ummat.
Kalau saja nilai-nilai Muhammadiyah hanya dipertahankan di internal
Muhammadiyah, “ya, bisa menjadi terlalu hanya mementingkan golongan,” kata
Imam, seraya menyebut nama seseorang yang sudah dikenalnya sejak tahun
1987.
Imam menyebutkan organisasi adalah alat untuk mengangkat bangsa dan ummat,
alat untuk membantu memfasilitasi apa yang menjadi tujuan bangsa dan
negara. Jadi jangan parsial. “Makanya, kalau pemikiran itu bisa diangkat
ke yang lebih tinggi kita akan bisa ketemu dengan kawan-kawan yang dari
Persi, NU dan lain sebagainya,” kata Imam.
Imam mempunyai pandangan hidup untuk selalu terbuka belajar dan belajar.
Ia bersikap harus menerima banyak informasi demi mencapai dambaan hidup
dan kehidupan yang penuh toleransi dan damai sesuai motto Ma’had Al-Zaytun.
Kata Imam, dengan kebersamaan segala sesuatu bisa diselesaikan dengan
hasil lebih baik. Walaupun ada persaingan atau kompetisi dalam kehidupan
berorganisasi, yang kadang-kadang bahkan bisa menjatuhkan satu sama lain,
namun bagi Imam, persaingan haruslah dimaksudkan untuk saling mengangkat
satu sama lain.
Imam awalnya tidak secara khusus berobsesi menjadi pendidik sebab semua
orang menurutnya secara naluriah mempunyai jiwa untuk menjadi pendidik.
Ketika kuliah, misalnya, keinginan Imam sederhana saja. Imam ingin mencari
seorang istri insinyur pertanian sebab bermaksud menjadi pengelola lahan
pertanian milik kakek di sebuah desa di Ciamis, Jawa Barat. Kebetulan sang
kakek adalah tokoh masyarakat setempat yang membangun sekolah di desa itu.
Tapi keinginan kuat menjadi petani itu menjadi lain setelah bertemu dengan
Al-Mukarrom Syaykh Al-Mahad Abdussalam Panji Gumilang. Syaykh mengingatkan
keinginan demikian akan membuat Imam kerdil nantinya. Jadi, kata Syaykh
ketika itu, mari sama-sama kumpul untuk buat yang besar. Bila kita buat
yang besar maka yang di desa di Ciamis sana bisa ikut merasakan kebesaran
Ma’had Al-Zaytun.
“Jadi, tahapan prosesnya kita optimis bahwa Al-Zaytun akan ada di seluruh
Indonesia. Bahkan keinginan Syaykh akan ada di seluruh dunia, berdampingan
dengan Al-Azhar dan universitas-universitas ternama di Amerika,” kata
Imam.
The right man
Karena kebesaran cita-cita Ma’had Al-Zaytun itu penempatan eksponen
sebagai pengurus Yayasan atau Mahad didasarkan pada siapa yang mau dan
siapa yang bisa. Pertimbangannya bukan materi sumbangan saat pendirian
yayasan melainkan kemampuan dan kesiapan individu itu.
Mampu tapi kalau tidak siap tentu tidak bisa juga. Tapi kalau siap walau
masih kurang mampu bisa ditunjang dan ditempa di Mahad. Kesiapan menjadi
syarat utama. Sebab kalau mampu tetapi tidak siap itu yang repot. “Seperti
insinyur-insinyur yang kita rekrut, itu dia mampu dan siap. Kalau untuk
tenaga kerja mereka siap dulu kemampuan bisa ditempa di sini. Seperti
semua guru-guru, itu siap sementara kemampuannya ditingkatkan di sini,”
kata Imam. ►e-ti/ht-ys-ms
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|