| |
C © updated 10112007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
► e-ti/depsos |
|
| |
Nama:
Ignatius Slamet Rijadi
Lahir:
Solo, 28 Mei 1926
Meninggal:
|
|
| |
|
|
|
|
Ignatius Slamet Rijadi
Pahlawan Nasional
Pemerintah mengangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) Slamet Rijadi sebagai
Pahlawan Nasional. Dalam upacara di Istana Negara Jumat 9/11/07,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyampaikan anugerah Bintang
Mahaputera Utama. Lalu, pada Senin (12/11/07) siang, KSAD Jenderal Djoko
Santoso bertindak sebagai Inspektur Upacara pada peresmian patung
Ignatius Slamet Rijadi di Jalan Slamet Rijadi, jalan raya yang membelah
kota Solo, Jawa Tengah.
Sabtu (4 November 1950) sore Letkol Ignatius Slamet Rijadi
memerintahkan pasukan Groep II Komando Pasukan Maluku Selatan atau KP
Malsel mendekati Benteng Victoria, Ambon.
Menurut laporan intelijen, di benteng bekas VOC itu masih bertahan
sisa-sisa pasukan Republik Maluku Selatan (RMS). Pada sisi lain, Pak
Met, begitu panggilan akrabnya dari semua anak buahnya, juga menerima
informasi, benteng itu pada Jumat siang sudah bisa direbut oleh pasukan
Mayor Lukas Koestarjo dari Divisi Siliwangi.
Slamet Rijadi ada di dalam panser paling depan, dikemudikan Kapten Klees,
Komandan Eskader Kavaleri. Di belakangnya, dua panser lain mengikuti.
Tiba-tiba tembakan gencar berdatangan dari arah benteng, langsung
menghujani pertahanan pasukan TNI. Pak Met kaget. Sementara itu, Klees
langsung memerintahkan anak buahnya segera membalas tembakan. Tiba-tiba
Pak Met berteriak, "Stop het veuren. Hentikan tembakan."
"Mengapa Overste?" tanya Kapten Klees heran.
Pak Met menukas, "Ini semua salah paham. Lihat, mereka semua mengibarkan
Merah Putih dari dalam benteng. Pasti mereka TNI, anak-anak Siliwangi.
Saya akan keluar memastikan…."
Klees berusaha mempertahankan pendapatnya, "Overste, saya bekas KNIL.
Saya tahu cara bertempur mereka. Bisa saya pastikan, mereka adalah bekas
KNIL yang bergabung ke RMS. Jangan hiraukan mereka, meski mereka
mengibarkan Merah Putih…."
Jawaban Pak Met amat mengejutkan, "Saya Komandan KP Malsel. Lihat
tembakan mereka sudah berhenti. Saya akan keluar untuk lebih memastikan,
buka canopy (kubah) panser."
"Siap Overste," jawab Klees sambil menarik tungkai pembuka kubah panser.
Pak Met keluar panser, tanpa memakai topi baja. Hanya membawa teropong
sambil berkalungkan owen gun, senapan otomatis kesayangannya.
Apa yang dikawatirkan Klees menjadi kenyataan. Slamet Rijadi tidak
pernah tahu bahwa pada Sabtu dini hari pasukan komando RMS telah
menguasai kembali Benteng Victoria sekaligus mengusir keluar anak buah
Lukas Koestarjo. Maka, apa yang disangka Slamet Rijadi bahwa benteng itu
masih dikuasai TNI, keliru. Seorang sniper (penembak jitu) RMS dari atas
Benteng Victoria Sabtu sore itu bagai menemukan durian runtuh. Dengan
jelas, dia melihat Slamet Rijadi keluar dari dalam panser. Sebuah
tembakan langsung terdengar, pelurunya meluncur tepat mengenai bagian
perut Pak Met.
Melihat tubuh komandannya jatuh, Klees langsung memerintahkan kedua
panser lain menghujani benteng dengan tembakan gencar. Tindakan itu agar
bisa memberi kesempatan kepada dirinya membawa Pak Met ke garis belakang
di Laha. Tubuh Slamet Rijadi langsung diangkut ke KM Waibalong yang
membuang sauh di depan Pelabuhan Laha. Beberapa jam kemudian, Mayor Dr
Abdullah, perwira kesehatan, memberi laporan kepada Kolonel Alex
Kawilarang, Panglima KP Malsel, "Letnan Kolonel Ignatius Slamet Rijadi
gugur pada sekitar pukul 11.30 Sabtu malam…."
Ganti nama
Slamet Rijadi dilahirkan di Kampung Danukusuman Solo pada Rebo Pon, 28
Mei 1926 dengan nama Soekamto. Karena semasa kecil sering sakit, namanya
diganti menjadi Slamet. "...ketika di SMP Negeri II Solo banyak anak
bernama Slamet. Maka oleh gurunya diberi tambahan nama, maka jadilah
sampai sekarang Slamet Rijadi," kata Kolonel (Purn) Soejoto, teman main
Pak Met sejak kecil, yang kemudian menjadi anak buah saat bergerilya di
daerah Solo, menumpas gerombolan DI di Jawa Barat, dan dalam operasi
menumpas RMS mulai dari Pulau Buru sampai ke Pulau Ambon, Maluku.
Dengan demikian, Pak Met gugur saat usianya belum genap 24 tahun. Namun,
meski hidupnya amat singkat, jejak serta teladan yang ditinggalkan amat
mengesankan. Dia tidak hanya seorang jago tempur, yang dilakukan secara
otodidak dengan belajar dari buku dan majalah militer, oleh karena dia
terjun menjadi anggota militer semata-mata untuk memenuhi panggilan
revolusi sehingga bukan lewat jalur formal.
Namun, Pak Met, amat berbeda dengan para pemimpin perang lain,
meninggalkan naskah tertulis yang masih bisa dipakai sampai hari ini
dalam judul Pedoman Gerilya I dan II. Bahkan, berbeda dengan AH Nasution
atau TB Simatupang, yang menulis bukunya sesudah perang selesai. "Pak
Met menulis di tengah pertempuran, berdasarkan pengalaman yang ditemukan
selama perang. Salah satu yang legendaris adalah petunjuknya, de beste
verdediging ligt juist in de anvall. Pertahanan terbaik teletak pada
penyerangan," kata Kolonel (Purn) Aloysius Soegianto, tokoh intelijen
sekaligus bekas ajudan Pak Met.
Pasukan komando
Seusai operasi penumpasan RMS, saat Alex Kawilarang sudah diangkat
sebagai Panglima Siliwangi, dia teringat gagasan Slamet Rijadi untuk
membentuk pasukan komando, "...yang terampil dalam bertempur dalam semua
medan sekaligus mahir menggunakan aneka macam senjata."
Kawilarang memerintakan Soegianto mencari Visser, bekas kapten pasukan
komando Belanda, yang karena bercerai minta pensiun dini dan tidak mau
pulang ke Negeri Belanda.
Soegianto mengungkapkan, "Visser saya temukan sudah menjadi petani
kembang di Pacet dan berganti nama jadi Mohammad Idjon Djanbi. Dia lalu
diaktifkan sebagai mayor dalam dinas TNI oleh Panglima Kawilarang,
diminta melatih dan membentuk pasukan komando." Jadilah kemudian pasukan
Baret Merah KKAD (Kesatuan Komando Angkatan Darat) yang nantinya tumbuh
menjadi RPKAD, Sandi Yudha, dan kini dikenal sebagai Kopassus (Komando
Pasukan Khusus) TNI Angkatan Darat. Karena itu, Pak Met juga dikenal
sebagai tokoh penggagas terbentuknya pasukan komando di Indonesia.
Pak Met gugur dalam usia muda. Namun, dia telah meninggalkan jejak
panjang dan sangat bermakna. Khususnya sebuah teladan dalam perjuangan
menegakkan Republik Proklamasi serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). (Kompas, 10/11/2007 oleh Julius Pour Wartawan;
Penulis Biografi) ►
ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|