|
|
 |

Nama:
Idris Sardi
Lahir:
7 Juni 1938
Profesi:
Musikus- Violis
Isteri:
Ratih Putri
|
|
Idris Sardi
Violis, Ogah Dipanggil Maestro
Violis ternama Idris Sardi sudah lama tak terdengar gesekan biolanya.
Ternyata, ia juga tak luput dari kegalauan atas pelbagai kejadian yang
menimpa bangsa dan negerinya. Saat rasa sakit masih sering mengganggu di
perutnya, ia tetap sibuk kegiatan rekaman. Menyongsong datangnya
peringatan hari lahirnya yang ke-65, 7 Juni 2003, rupanya Idris tengah
mempersiapkan satu acara khusus.
Pertama, sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Tuhan yang
telah memberikan talenta besar kepadanya, dan berikutnya juga untuk tumpah
darah yang ia cintai.
Melalui diskusi panjang, Sabtu (22/3) di Jakarta, Idris yang didampingi
istrinya, Ratih Putri, dan Joan Henuhili Raturandang, mantan Putri Kawanua
yang kini menangani JPR (pelaksana Konser 65 Tahun Idris Sardi), Idris
memberi gambaran tentang acara yang akan ia gelar tanggal 18 Juni 2003 di
sebuah hotel di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
Violis yang sudah 58 tahun menggeluti biola dan tahun ini akan
memperingati setengah abad menjadi pemusik profesional itu menyatakan,
akan tetap memilih permainan biola dengan sentuhan roh etnis Indonesia,
meski dari kecil ia juga mendapat latihan keras dalam permainan biola
klasik Barat.
"Tuhan, kan, bukannya tanpa maksud apa-apa melahirkan saya di Indonesia.
Pastilah saya dipesan untuk bisa memainkan keroncong, dan bahkan dangdut,"
simpulnya. Itu juga menyebabkan mengapa Idris tetap memilih tinggal di
Indonesia, walaupun ada tawaran untuk pindah ke Jepang dan Taiwan.
Memang, pada konser tanggal 9 Agustus 1994 memperingati HUT Ke-29 Harian
Kompas, Idris sempat "pamit" dari permainan biola. Tetapi, rupanya setelah
itu ia masih punya sesuatu yang ingin ia persembahkan bagi negaranya.
(nin)
Di Mata Musisi Muda
Bagi sebagian kalangan, Idris Sardi masih diakui sebagai salah satu
maestro biola di tanah air. Kemampuannya mengolah biola, kata musikus
Addie MS, memiliki daya tarik khusus. Lewat insrumen biola yang
digelutinya sejak kecil, Idris Sardi menawarkan keandalan menciptakan
repertoar-repertoar terbaik.
Dibandingkan dengan violis sezamannya, Luluk Purwanto, ada perbedaan
mendasar. Kekuatan Idris pada gesekan biolanya yang unik. Bila orang
mendengar konsernya, maka kekuatan gesekan biola terasa nyaris tanpa sekat
atau potongan nada. ''Semua seolah mengalir begitu saja,'' kata Addie.
Hal serupa diakui violis Fayza Maylassayza, yang pernah berguru padanya
sejak lama. Gesekan Idris, kata Fayza, mengandung kekuatan irama yang
sukar diikuti. Tentu gesekan dawai biola dilakukan secara sadar.
''Termasuk menampilkan presisi ritmik dan penentuan kelincahan dalam
pasase cepat,' ujarnya.
Idris juga memiliki kemampuan untuk menampilkan suasana tertentu khususnya
menimbulkan efek brilian dan dramatik. Ini tidak dijumpai dalam permainan
biola Luluk Purwanto. Nuansa-nuansa subtil dari lembut ke keras,
menampilkan suasana emosional yang variatif. Ringkasnya, biola Idris
menawarkan jangkauan dan dimensi perasaan yang amat luas.
Sayangnya, kemampuan Idris jarang bisa diikuti oleh generasi berikutnya.
Fayza yang menekuni jenis musik ini pada Idris, misalnya, akhirnya
menjatuhkan pilihannya pada aliran musik pop dan disco. Sementara Idris
masih berpegang teguh pada aliran pop melankolis.
Kemampuan Idris sebenarnya bisa diturunkan kepada musisi lainnya. Ini,
kata Addie MS, lantaran rendahnya kreativitas para violis remaja. ''Minat
para remaja dalam kegiatan musik, khususnya biola, relatif rendah,''
tambahnya.
Harus diakui, biola masih kalah populer dengan piano dan gitar. Pemain
beken dalam orkes klasik, pop, atau keroncong, bisa dihitung dengan jari.
Paling mudah orang hanya bisa menyebut nama Idris Sardi, dan sekarang ini
violis pertama pada Twilite Orchestra, Oni Krisnerwinto.
Menurutnya, eksperimen musik mereka sebenarnya bisa diciptakan melalui
peningkatan kegiatan seni dalam sebuah komunitas musik orkestra. Dalam
komunitas itu, beragam eksperimen permainan biola bisa dilakukan.
Apalagi kalau dipadukan dengan instrumen musik lain. Bersama dengan
instrumen gesek cello, biola cocok untuk permainan legato (halus dan
tersambung). Meskipun begitu, biola juga mampu menampilkan nada-nada
sebaliknya, yakni staccato (pendek dan putus-putus).
Ada pula efek khusus dalam eksperimen biola. Seperti memainkan vibrato,
glissando, tremolo, dan trill. Semua permainan itu, kata Addie, menawarkan
kekayaan eksperimen dalam bermusik biola.
Melalui instrumen biola, Idris mampu menuangkan perasaan tertentu, tanpa
melalui lagu. Kebanyakan karyanya selalu menghadirkan suasana balada yang
mencekam. Ini beda dengan permainan Vanessa Mae. Violis asal Vitenam yang
kini menetap di Inggris itu lebih suka menampilkan suasana suka cita.
Sementara beberapa repertoar lain bisa dimainkan apik oleh Idris. Dalam
beberapa konsernya, dia tidak enggan mengetengahkan karya Beethoven atau
Mendelssohn. Juga karya klasik Elgar. Di tangan violis mahir ini, semua
permainan menghadirkan bunyi yang amat melodius, indah menghanyutkan. Atas
kemampuan menghadirkan bunyi-bunyi indah tersebut, orang sering menyebut
dia sebagai 'sang maestro'.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber, antara
lain KCM dan Republika 13/4/03
Jangan Panggil Saya Maestro
“peristiwa yang lalu mejadi pelajaran buat saya, artinya saya tidak bisa
sembarangan pamit. Saya juga sudah ditegur Tuhan, jadi juga ada hikmahnya
Saya tidak bisa membiarkan talenta yang diberikan Tuhan. Itu dosa” sesal
Idris dihadapan wartawan baru-baru ini.
Tahun 1994, para pengemar musik Indonesia sempat dikejutkan dengan
pernyataan Idris. Pada konser yang digelar 9 Agustus 1994 musikus
kelahiran 7 juni 1938 ini menyaakan mundur. Sejak itu, dia menghilang dari
panggung. Ucapan itu sepertinya bermakna sanga dalam. Itulah konser Idris
yang terakhir. Idris sepertinya sudah matap memutuskan untuk
‘mengantungkan biola’.
“Kata pamit waktu itu saya ucapkan dengan sadar seusa konser. Permaian
kami saat itu buruk sekali. walaupun oaang-orang memberikan aplaus, saya
merasa tidak tampil sesuai harapkan. Pada aat itu saya merasa tidak
bertanggung jawab. Sebagai pemimpin, saya hanya menyalahkan diri sendiri,
dan bukan pemain. Saya dapat pelajaran yang pahit. Saya malu dan makanya
saya pamit, “kenang Idris.
Kini Idris memberanikan diri untuk tampil lagi Persembahan Idris Sardi
2003 (PIS), demikian judul pergela itu, sesuai permintaanya. Idris memang
menolak pergelaran musik ini disebut konser. Alasannya ia tidak ingi
terbebani istilah. Idris lebih menekankan pada sajian 41 repertoar dengan
dukungan sembilan penyanyi dan 34 musikus serta kelompok tari Gumarang
Sakti. Jika tidak ada halangan, PIS akan berlangsung pada 18 juni 2003 di
Puri Agung, Hotel Sahid Jaya, Jakarta pusat
“tidak mudah bagi saya untuk tampil lagi. Namun selama ini, saya merasa
ada tanggung jawab yang belum tercurah tuntas. Usia saya suda 65 tahun dan
lama tidak tampil. Kata persembahan itu artinya jika saya diizinkan Tuhan.
PIS sebagai upaya saya membayar utang-utang kepada Tuhan dan negeri ini.”
kata violis pemilik biola kaca itu
Bukan Maestro
Bagi Idris, pertunjukan PIS sangat besar artinya. Sampai tahun 2003,
seorang Idris Sardi telah menmpuh perjalann karier selama 50 tahun. Selain
itu, pada 7 Juni mndatang usia Idris akan bertambah menjadi 65 tahun.
Untuk itu, peraih 17 piala citra ini merasa sudah saatnya untuk
mengungakapkan rasa syukur dan talenta musik yang diberikan Tuhan. Sebagai
Musikus besar Indonesia, banyak orang memberikannya berbagai julukan.
Tetapi Idris tampaknya hampir tidak peduli.
“jangan panggil saya Maestro. Si Biola Maut juga tidak. Jangan coba-coba.
Panggil saja saya Mas Idris. Saya ini masih belajar, masih banyak yang
lebh baik dari saya. Dulu mungkin saya populer. Tetapi orang besar belum
tentu orang populer, dan orang populer juga belum tentu orang besar,”
katanya merendah.
Tetapi Idris memang pernah diberi penghargaan Golden Maestro Award dari
Yayasan Pendidikan Musik pada tahun 2002. Idris juga pernah menerima
Legenda BASF Award dan penghargaan sebagai Tokoh Legendaris Pemain Biola,
Komposer dan Konduktor. Sri Sultan Hamengku Buwono X bahkan memberikan
mahkota sebagai penghargaan, penghormatan, pengabdian, dedikasi dan
konsistensi di bidang musik Indonesia pada tahun 2001. Di sisi lain, Idris
merasa dirinya sudah tidak lagi cukup komersial. Meskipun demikian, dia
menepis anggapan pesimis menghadapi pergelaran nanti. Tak heran, Idris
melakukan banyak persiapan mental sehingga pada saat pergelaran tidak
mengecewakan.
"Sejak awal saya sudah memperingatkan promotor. Saya ini bukan orang yang
laku dijual. Tetapi mereka bersikeras. Ya, sudah, pada akhirnya saya
pasrah kepada Tuhan. Setiap kali bermain biola. saya yakin lalu ada campur
tangan
Tuhan. Kalau nanti pergelaran itu kurang mendapat sambutan, saya tinggal
berkata. “Tuhan," ujarnya merendah.
Untuk konser nanti, Idris tak bersedia merinci komposisi. Dia merasa perlu
merahasiakan komposisi yang bakal dimainkannya dengan pertimbangan pribadi.
Menurut dia, komposisi itu sengaja tidak disebutkan agar penonton
penasaran. Kelak, Idris sudah menyiapkan kejutan dan sajiaan spesial untuk
penonton.
“Yang pasti saya tentu akan bermain klasik seperti diketahui banyak orang.
Tetapi komposisi nanti tidak hanya itu, saya juga akan memainkan musik
keroncong. Dalam pergelaran nanti saya bakal berkolaborasi dengan kelompok
tari Gumarang Sakti. Jika selama ini, saya dikenal banyak memainkan musik
romantik. Kali ini, saya menyuguhkan musik-musik yang energik,” janji
suami dari Ratih Putri ini.
Sejak usia lima tahun, Idris Sardi memang telah, menekuni musik klasik.
Tetapi pada usia tujuh tahun, dia baru diajari sang ayah bermain biola.
Setelah besar, Idris belajar di Akademi Musik Indonesia pada tahun
1950-1955. Selain belajar dari sang ayah Mas Sardi, Idris juga belajar
musik dari sejumlah musikus asing seperti Nikolai Varfolomijeff (Rusia),
Hendrick Tordasi & Frank Sabo (Hongaria), Boomer (Jerman, Keney (Inggris)
dan Madanie Renee Tovanos (Prancis) dan Henk Te Straake (Belanda).
Malu
Seusai menimba ilmu dari master-master musik di luar negeri selama
bertahun- tahun, Idris justru tertantang bermain musik keroncong dan irama
Melayu. Dia tak ragu belajar dari Achmad & Isbandi (Orkes Puspa Kencana)
dan A Chalik (Orkes Bukit Siguntang). "Buat orang yang sudah masuk sekolah
musik klasik, saya juga tidak boleh main di luar klasik. Saya diisolasi.
Tetapi ketika ayah meninggal tahun 1953, saya mulai berubah. llmu klasik
saya selama lima tahun lebih, tetapi ternyata tidak mampu memainkan
keroncong dan musik Melayu. Saya malu dan terpukul," katanya.
Sebagai putra Indonesia, Idris merasa malu jika tidak mampu memainkan
musik keroncong. Apalagi ketika pulang ke Indonesia, dia bermain untuk
stasiun Radio Republik Indonesia. Sejak itu, Idris melanggar aturan-aturan
baku klasik. Dari kampung ke kampung, dia bertanya tentang musik keroncong.
Bahkan Idris mengaku sempat belajar dari seorang tukang becak.
"Klasik, ilmu musik paling tinggi. Namun ternyata musik negeri kita
terlalu kaya dibandingkan dengan Barat. Tahun 1950, saya masuk orkestra
Istana dan di sanalah mulai berkembang. Saya memainkan musik etnik negeri
ini, tetapi dengan dasar musik Barat," tambah Idris.
Letnan Kolonel
Mengenai perkembangan musik klasik sekarang, Idris melihat banyak kemajuan.
Dulu tidak ada permainan biolaklasik yang mengalami aransemen baru seperti
Bond, atau Vanessa Mae. Mereka sangat ekspresif dan energik. Musik klasik
diramu dengan unsur hiburan, sehingga muncul dalam kreasi berbeda. Di sisi
lain, pertunjukan musik klasik juga makin sering karena pertumbuhan
orkestra baru. Kolaborasi orkestra plus permainan biola dengan jenis musik
lain juga makin berkembang.
"Tahun 1960-1970-an, musik klasik memang sudah diterima. Sayang mereka
tidak bisa menghargai. Saya pernah diminta tampil di restoran, sementara
orang- orang sedang asyik makan. Padahal kalau cuma begitu, pakai kaset
saja juga bisa. Lantas saya main buat siapa! Yang ke sana datang buat
makan kok, bukan untuk dengar musik. Tetapi toh waktu itu, saya lakoni
juga. Bagus juga buat pengalaman saya," tambahnya.
Kini Idris tentu menolak jika ditawari tampil di restoran. Termasuk juga
di hotel-hotel saat perayaan Tahun Baru. Prestasinya sudah mendunia.
Bahkan saat usia 15 tahun, Idris sudah menjadi solis dan konser master
termuda di Orkes Studio Djakarta. Mulai tahun 1953, dia kerap tampil rutin
di istana dalam acara-acara kenegaraan. Di tahun 1955, Idris mengikuti
studi tur ke Eropa. Empat tahun kemudian, dia kembali dan membantu RRI
Yogyakarta.
Tahun 1966, Idris menjadi pelatih Satuan Musik Militer untuk 10 Kodam di
Indonesia dengan murid sekitar 700 orang. Tahun itu juga dia diangkat
menjadi pemimpin orkestra TNI Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Kolonel
CAJ. Pasukan Kopasus juga pernah digemblengnya pada tahun 1997.
Pasrah
Kemampuan musiknya tidak hanya dibuktikan di panggung. Lewat sejumlah
karya layar lebar, Idris memberikan sumbangan besar. Sejak tahun 1960, dia
telah menghasilkan lebih dari 300 karya. Beberapa film seperti Pesta Musik
La Bana (1960), Bernafas dalam Lumpur (1970), Budak Nafsu (1984), Doea
Tanda Mata (1985),
Tjoet Nja Dhien, (1988) dan Pacar Ketinggalan Kereta (1990). Idris juga
membuat ilustrasi musik untuk 130 episode sinetron.
Idris sempat menderita sakit kanker usus di tahun 1998. Sejak itu, dia
juga mengasingkan diri ke Pondok Pesantren Tangerang di bawah pimpinan KH
Ubadillah Khalid.
Saat berada di sana, dia juga pernah membuat rekaman Shalawat Nabi bersama
para santri. Kemudian sepanjang tahun 2000, Idris kembali aktif dan
menjadi duta kesenian pemerintah Indonesia.
Saat ini, Idris Sardi hanya berharap pertunjukannya berjalan lancar dan
sukses. Maklum selama beberapa tahun, dia mengaku tidak lagi menyentuh
biola. Idris berharap seluruh obsesinya bisa tercapai lewat konser
Persembahan Idris Sardi 2003.
"Saya main untuk orang lain. Saya tidak pernah bisa main yang saya mau.
Saya belum puas. Tetapi saya sadar mesti berkompromi dengan banyak
pertimbangan. Saya ingin membahagiakan banyak orang. PR saya adalah
bagaimana berkomunikasi dengan hadirin penikmat. Saya harus bisa
menerjemahkan rasa ke panggung dan itu banyak berpengaruh. Untuk itu, saya
pasrah pada Tuhan” katanya lagi.
Pembaruan/ Unggul Wirawan
|
|