| |
C © updated 08032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
BIODATA
Nama:
KH Idham Chalid
Lahir:
Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921
Agama:
Islam
Karir:
- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
- Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
- Wakil Perdana Menteri II Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956
- 14 Maret 1957)
Organisasi:
- Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), 1955-1984
- Ketua Partai Masyumi
- Pendiri/Ketua Partai NU, 1952
- Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Penghargaan:
- Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo
Alamat Rumah:
Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Idham Chalid, KH
Cermin Politisi Sejati
RESENSI BUKU:
Tak bisa disangkal, Idham Chalid adalah sosok kontroversial dalam
sejarah perpolitikan Nahdlatul Ulama (NU). Ia dianggap sebagai politikus
yang tidak memiliki pendirian, mementingkan diri sendiri (egois), dan
banyak merugikan kepentingan umat.
***
Judul Buku: Idham Chalid, Guru Politik Orang NU
Penulis: Ahmad Muhajir
Penerbit: Pustaka Pesantren Jogjakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2007
Tebal: xx + 169 halaman
Peresensi: Titik Suryani* (09/07/2007 )
***
Bahkan, sikap politiknya yang—dianggap—selalu
mengambang di atas dan sering lebih menguntungkan pihak penguasa,
membuat dirinya mendapat julukan ‘politikus gabus’ dari Gerakan Pemuda
Ansor--organisasi sayap pemuda NU.
Benarkah semua asumsi itu? Buku ini secara jeli berusaha menguak sisi
ruang batin Idham Chalid yang tidak terekam oleh ‘sejarah resmi’. Ahmad
Muhajir, dalam buku ini, berupaya mengungkap apa yang disebut Urvashi
Butalia sebagai ‘sisi balik senyap’ (the other side of silent), yakni
berbagai hal tentang Idham yang riil dan hidup di tengah masyarakat,
namun tidak dianggap penting sehingga tidak ter(di)suguhkan kepada kita.
Berbeda dari persepsi umum yang berkembang di masyarakat mengenai gerak
langkah ‘politik abu-abu’ Idham, buku ini mengangkat ‘sisi senyap’ di
balik gerakan politik Idham. Melalui buku ini, penulis menelisik lebih
jauh ruang terdalam manusiawi seorang tokoh kelahiran Kalimantan Selatan
85 tahun silam tersebut.
Sebagai seorang tokoh NU, Idham memainkan dua lakon berbeda, yakni
sebagai ulama dan politisi. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan
strategis, kompromistis, dan terkesan pragmatis. Sebagai ulama, ia
bersikap fleksibel dengan tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan
tradisi yang diembannya. Ia telah berusaha keras mengupayakan
terbentuknya kestabilan kondisi umat di bawah (grassroot) yang menjadi
tanggungjawabnya. Meski berbagai stereotip bakal menimpa, ia tak
memedulikannya.
Baginya, yang terpenting—dalam berpolitik—adalah berorientasi pada
kemaslahatan dan berguna bagi banyak orang. Karenanya, tidak (perlu)
harus ngotot dan kaku dalam bersikap, sehingga umat senantiasa terjaga
kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi di masa itu kondisi
politik sedang mengalami banyak tekanan keras dari pihak penguasa dan
partai politik radikal semacam PKI dengan gerakan reformasi agraria
(land reform) dan pemberontakannya.
Strategi politik tersebut dilandaskan pada tiga prinsip. Pertama, lebih
menekankan sikap hati-hati, luwes dan memilih jalan tengah ketimbang
sikap memusuhi dan konfrontasi yang justru membahayakan kepentingan umat.
Kedua, politik yang memperhitungkan kekuatan umatnya di hadapan kekuatan
rezim atau kekuatan lain di tengah masyarakat. Ketiga, dengan
menggunakan pendekatan partisipatoris terhadap pemerintah sehingga mampu
memengaruhi kebijakan penguasa demi kemaslahatan umat.
Dalam kaitan ini, Idham memandang bahwa NU harus ikut andil dalam
kekuasaan sebagai kekuatan penyeimbang. Cara ini dianggap lebih tepat
ketimbang berada di luar kekuasaan yang justru lebih menyulitkan untuk
bergerak. Hal ini, misalnya, terlihat ketika ia mengompromikan langkah
pemerintah pada masa Orde Lama dengan Demokrasi Baru. Akan tetapi,
ketidakmengertian tentang arah politik Idham tersebut, menyebabkannya
harus tersingkir dan ter(di)lupakan begitu saja.
Karena itu, kehadiran buku ini tentu saja dapat membuka tabir
tersembunyi atau sisi senyap pemikiran seorang Idham, sekaligus menambah
deretan mozaik langkah para politisi NU dalam kancah politik yang kurang
banyak diungkap ke permukaan. Selain itu, buku ini juga dapat digunakan
sebagai rujukan jejak politik tokoh-tokoh politik NU dalam mewujudkan
strategi politik di masa lampau seiring semakin maraknya para ulama masa
kini yang masuk ke ruang politik ketimbang ruang keumatan.
Di samping itu, nilai tambah buku ini adalah, Ahmad Muhajir juga
melakukan tinjauan terhadap literatur-literatur ilmiah tentang Idham
Chalid, seraya menyediakan gambaran bagaimana Idham dipotret oleh para
sarjana Indonesia dan Barat. Akan tetapi, bagian utama dari teks ini
dipersembahkan untuk menjelaskan dan menganalisis pemikiran politik
keagamaan Idham, terutama yang berhubungan dengan sikap-sikap NU dalam
merespon Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin. Muhajir
memusatkan diri pada penafsiran Idham mengenai konsep syura serta
bagaimana tafsiran itu digunakan untuk menjustifikasi penerimaan
ideologi semi-otoriter Demokrasi Terpimpin.
Namun demikian, sekalipun bersimpati dalam menggambarkan sang tokoh,
Muhajir tetaplah kritis. Sebagai sesama orang Banjar, tentu saja Muhajir
memiliki wawasan budaya dan akses kepada sumber-sumber yang tidak
dipunyai para sarjana terdahulu. Dia meneliti literatur klasik mengenai
syura dan membandingkannya dengan penafsiran yang lebih kontemporer,
sebelum berargumen bahwa tulisan-tulisan Idham mengenai konsep ini
dipengaruhi oleh situasi politik yang dihadapi NU pada akhir 1950-an.
Praktis, buku setebal 169 ini layak dibaca siapa saja sebagai suatu
permulaan bagi perdebatan yang lebih dalam mengenai kiprah Idham Chalid
dan perannya dalam sejarah perpolitikan NU. Semoga! ►ti/sumber:
www.nu.or.id
*Peresensi adalah Penikmat Buku dan Kontributor Jaringan Islam Kultural
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|