| |
C © updated 13122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti |
|
| |
Nama :
Ida Bagus Tilem
Lahir :
Bali 13 Desember 1936
Agama :
Hindu
Profesi:
Pematung
Sumber:
Berbagai sumber, antara lain John Milton www.indo.com/ galleries/tilem/history.html
|
|
| |
|
|
|
|
Ida Bagus Tilem
Tenar dari Deraan Kemiskinan
Masa kanak-kanak dan remaja Ida Bagus Tilem terbelenggu di antara
dinding-dinding kemelaratan. Lahir di desa Mas, Bali, 13 Desember 1939,
Tilem berada di lingkungan keluarga pematung yang hidup serba kekurangan.
Di masa kecilnya ia sudah berminat pada seni patung, yang akhirnya
mendominasi seluruh kehidupannya.
Tidak seperti anak-anak sedesa yang menikmati kesenangan masa kecil, Tilem
hampir setiap waktu duduk di atas tikar rotan di sisi ayahnya di rumah
keluarga yang sempit, menyaksikan ayahnya mengolah batang kayu menjadi
patung-patung yang indah.
Hidup di desa memang menyenangkan. Dan malam-malam yang menyenangkan bagi
Tilem adalah mengikuti pamannya yang jadi dalang wayang kulit. Malam-malam
lain, Tilem kecil mengikuti ayahnya yang mengadakan pertunjukan wayang
orang dan tari topeng dari satu desa ke desa lainnya, serta mendengarkan
kisah dari daun lontar yang dituturkan kakeknya.
Pengaruh sangat kuat dari dasar pemikiran dan filosofi hidupnya sejak usia
remaja sampai saat ini yang masih ia hormati, telah menumbuhkan keinginan
berkreasi yang menggebu-gebu di dalam dirinya. Ia berjam-jam berjuang
bersama pahat dan potongan-potongan kayu sisa pahatan ayahnya.
Ayahnya, Ida Bagus Nyana, lahir tahun 1912, ketika mudanya diakui sebagai
pemahat patung kayu yang sangat berbakat di Bali. Sebagai pria yang tenang
dan penyabar, Ida Bagus Nyana, membiarkan putranya mengembangkan bakatnya
yang tersembunyi, mengajarkan kepada anaknya tentang perlunya kesabaran,
keuletan dan berkreasi secara total.
Perlahan-lahan Tilem kecil mengembangkan bakatnya, menggunakan alat-alat
pahat ayahnya, mengukir binatang-binatang kecil, burung-burung dan
tokoh-tokoh tradisional dalam kisah wayang dari bahan kayu yang ada.
Hasil karyanya ia jual kepada para turis dan satu-satunya toko
barang-barang seni di Sanur. Ia pergi ke sekolah naik sepeda, dan pada
usia sekolah lanjutan, ia biasa bersepeda ke Denpasar sejauh 20 kilometer
setiap minggu siang. Ia menetap di kota, kembali Sabtu berikutnya untuk
menekuni ukiran patung di kampungnya. Orang tuanya sangat miskin, karena
itu ia harus menjual patung-patung hasil ukirannya untuk membiayai
sekolahnya.
Tahun 1958, karena ayahnya tak mampu membiayai pendidikannya, Tilem
memutuskan keluar dari sekolah, membuat sebuah studio seni ukir patung di
rumahnya di desa Mas. Di situ ia menjual sendiri karya-karyanya untuk
membantu kehidupan keluarganya.
Para pemuda sedesanya acapkali datang menemaninya. Ia sekarang
mempekerjakan 100 pematung magang dan 100 pematung yang bekerja penuh
waktu. Tilem mengolah habis-habisan lekak-lekuk yang serba feminin.
Karya-karyanya memiliki gagasan besar dan daya dobrak visual yang memikat
dunia. Ia melahirkan berbagai karya patung yang bernilai seni tinggi.
Mengenang pengalamannya ketika masih muda yang frustrasi di dalam berusaha
mengembangkan pengetahuan dan kemampuan memahat dari bahan kayu yang
sangat terbatas, ia menyediakan kayu dan alat pemahat buat mereka yang
belum mampu membeli, membantu mereka memanfaatkan sedapat mungkin bahan
yang ada, dan memberi kesempatan untuk menjual karya-karya mereka di
studionya.
Sekarang, sebagai ayah dari empat orang anak, Tilem selalu menyadari
pentingnya tradisi keluarga dan warisan budaya. Setelah perjalanan
pertamanya ke luar negeri, ketika terpilih untuk mewakili Indonesia pada
New York World Fair tahun 1964, ia melakukan berbagai pameran di luar
negeri, seperti Thailand, Hong Kong, Australia, Jerman, Austria, dan
Meksiko.
Ia memanfaatkan setiap perjalanannya untuk mengembangkan pengetahuan dan
apresiasi seni, tetapi menemukan dirinya ingin segera kembali ke desanya
untuk bertemu keluarga dan meneruskan karya-karyanya.
Kerja pematung menyatu dengan alam. Ukiran yang indah dan obyek manusia
yang terukir di kayu, melukiskan perpaduan antara manusia dan alam. Tilem
tak pernah kehabisan inspirasi. Pengalamannya di masa kanak-kanak, koleksi
berbagai barang antik dan temuan-temuan selama perjalanannya ke luar
negeri, merupakan sumber ide kreasinya yang baru. Setiap lekuk pahatan
menjadi cap kemahirannya memahat.
Unsur penting dari karya Tilem adalah kecintaan yang dalam pada
pekerjaannya. Ia merasa sangat bahagia tatkala duduk bersilang kaki dan
bertelanjang dada di atas tikar rotan di rumahnya yang asri, secara total
menekuni ukiran patungnya.
►e-ti/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|