| |
C © updated 06052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Prof Dr Ichlasul Amal MA
Lahir:
Jember, 1 Agustus 1942
Agama:
Islam
Istri:
Ery Hariati
Anak:
1. Amelin Herani SE
2. Akmal Herawan
Pendidikan:
- SR, Jember (1955)
- SMP, Jember (1958)
- SMA Jember (1961)
- S1 Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik (Fisipol) UGM (1967)
- Master Ilmu Politik Northern Illinois University, Illinois, Amerika
Serikat (1974)
- Doktor Ilmu Politik di Monash University, Melbourne, Australia (1984)
Karir:
- Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM (1967 –
sekarang)
- Direktur Pusat Antar Universitas (PAU) studi sosial UGM (1986-1988)
- Dekan Fisipol UGM (1988-1994)
- Direktur Program Pascasarjana UGM (1994-1998)
- Rektor UGM (1998-2002)
Kegiatan Lain:
- Anggota Tim Kajian Penelitian dan Pengembangan Departeman Dalam
Negeri (1991)
- Pengelola Program S2 Ketahanan Nasional UGM (1991-sekarang)
- Ketua Dewan Pers
Organisasi:
- Ketua HMI Komisariat Fisipol (1966-1967)
- Ketua Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) cabang Jogja 1967-1968
- Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama; 2001-2005)
Buku:
- Indonesian Foreign: Its Continuity and Change, Fisipol UGM,
Yogyakarta (1975)
- Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, Tiara Wacana, Yogyakarta (1986)
- Metodologi Ilmu Politik, PAU Studi Sosial UGM, Yogyakarta (1987)
- Regional and Central Government in Indonesian Politics (1949-1979),
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (1992)
- Hubungan Pusat Daerah dalam Pembangunan (bersama Macandrews), Rajawali
Press, Jakarta (1993)
Penghargaan:
- Tanda Penghargaan Kesetiaan selama 25 tahun dari Rektor UGM
(1992) - Tanda Penghargaan Satya Lencana Karya Satya XXX tahun dari
Presiden RI (1998-2002) - Distinguished Alumni Award dari Monash
University Australia (1998)
Hobi:
Tenis dan berkebun
Alamat Rumah:
Pendeansari Blok I No. 5 Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02 03 ==
Prof Dr Ichlasul Amal MA Rektor Reformasi Damai
Doktor ilmu politik ini akrab dengan dunia pergerakan sejak mahasiswa
(Angkatan '66). Bahkan semasa menjabat Rektor Universitas Gadjah Mada
(1998-2002), saat mahasiswa dilarang demonstrasi, dia malah turun demo
bersama mahasiswa memperjuangkan reformasi. Oleh para aktivis mahasiswa,
dia pun dianugerahi Bintang Jasa Utama Tokoh Reformasi Damai 1999.
Pria berdarah Madura kelahiran Jember 1 Agustus 1942, ini menjadi rektor
pada saat yang tepat. Dia diangkat Presiden Soeharto jadi rektor setelah
mendapat nilai tertinggi dalam pemilihan rektor oleh Senat Universitas.
Saat dilantik jadi rektor, mahasiswa lagi berdemonstrasi menuntut
Presiden Soeharto turun.
Namun kepercayaan Presiden Soeharto itu tidak membuat mantan Ketua
Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) cabang Jogja 1967-1968, ini
memilih berseberangan dengan mahasiswa yang tengah menyuarakan reformasi
dan menuntut turun Pak Harto.
Dia malah tak sekadar turut turun meramaikan unjuk rasa mahasiswa,
tetapi juga memfasilitasinya dengan menyediakan panggung lengkap dengan
pengeras suaranya, serta memberikan jaminan kepada para mahasiswa bahwa
selama unjuk rasa berada di dalam kampus, aparat tidak bisa menangkap
mereka.
Karena keberpihakannya yang tegas pada gerakan reformasi itu, dia pun
dijuluki mahasiswanya sebagai rektor reformis. Amal punya pertimbangan
matang atas pilihannya mendukung gerakan mahasiswa yang dituduh
pemerintah melakukan politik praktis, itu. Dia menilai unjuk rasa
mahasiswa itu murni menyuarakan kepentingan rakyat.
Maka dalam buku 50 Tahun UGM di Seputar Dinamika
Politik Bangsa, disebut: "Beruntung UGM memiliki Prof
Dr Ichlasul Amal. Lelaki kecil dengan nyali besar. Di pengujung rezim
Soeharto, di tengah pesona psikologis pergantian milenium yang
diharapkan membawa perubahan, dia merupakan figur yang tepat pada saat
yang tepat. Dia muncul dengan berani untuk menegakkan demokrasi yang
sehat di negeri ini."
Walaupun Pak Harto sendiri, di ujung kekuasaannya masih berupaya
merangkul
Amal dengan menawarkan jabatan Mendikbud Kabinet Pembangunan Reformasi
yang diniatkan menggantikan Kabinet Pembangunan VII. "Saya diminta langsung oleh Pak Harto. Dua kali malah, langsung ke
handphone saya," katanya suatu saat sebagaimana dirilis Jawa Pos.
Tapi tawaran itu terpaksa tak dipenuhi, karena prinsip dan merasa tidak enak
terhadap mahasiswa dan lingkungan sekitarnya.
Setelah Presiden Soeharto lengser, digantikan oleh BJ Habibie, Amal
menunjukkan sikap politiknya yang tetap konsisten menyuarakan
kepentingan rakyat. Saat itu dia menolak tawaran Habibie untuk menduduki
jabatan menteri pendidikan dan kebudayaan.
Kemudian disusul munculnya berbagai partai politik, pakar ilmu
politik ini pun mengajak 76 parpol baru berdialog di kampus UGM, dalam
acara "Dialog Antarpartai tentang Pemilu". Namun dia sendiri menolak
tawaran bergabung dalam partai politik dengan dalih sebagai pegawai
negeri. Lalu, dia juga mencetuskan ide pemantau pemilu sebagai ganti
kuliah kerja nyata bagi mahasiswanya.
Selama menjabat rektor, dia membangun hubungan yang cair dengan segenap
jajaran di kampusnya. Dia juga mengimplementasikan kebebasan berpikir
terutama
pentingnya berpikir alternatif. Menurutnya, berpikir bahwa berbuat sesuatu yang
berbeda bukanlah hal yang salah.
Sampai alumni S1 Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM (1967), ini melepas jabatannya, tidak
terpilih lagi sebagai rektor, dia tetap konsisten dalam sikap
politiknya. Saat melepas jabatan rektornya, dia didaulat sejumlah
karyawan dan mahasiswa mengenakan ikat kepala bertulikan "reformasi" dan
mengaraknya dengan andong di seputar kampus.
Masa Kecil
Suami dari Ery Hariati dan ayah dari dua orang anak (Amelin Herani SE
dan Akmal Herawan) ini dibesarkan di tengah keluarga pedagang yang
berbudaya santri. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan pondok pesantren
dan pernah dijadikan markas Partai Masyumi.
Pada saat kecil, Amal mengaku tak punya cita-cita. Dia tidak
bercita-cita jadi pedagang seperti orang tuanya atau kebanyak anak-anak
sebayanya ketika itu. Ada budaya pesantren di kampungnya itu lebih
banyak bercita-cita jadi pedagang, ketimbang jadi pegawai negeri.
Cita-citanya mengalir saja laksana air.
Amal mengecap pendidikan SD, SMP dan SMA di kota kelahirannya. Dia
selalu mendapat ranking pertama. Lulus SMA, dia mendaftar dan diterima
di dua universitas, yakni UGM dan Unair Surabaya. Lalu, Amal memilih
Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM. Dia pun tekun mengikuti
kuliah, dan diselesaikan lima tahun (1967).
Dia pun langsung diangkat menjadi dosen di almamaaternya, tanpa melamar.
Ketika itu, 1967, UGM mengalami kekosongan pengajar karena banyak dosen
terlibat G30S dan dikeluarkan. Dua tahun berikutnya (1969), dia menikah
dengan Ery Hariati, adik kelasnya waktu kuliah. Mereka dikaruniai tiga
anak, namun satu meninggal dunia akibat leukemia.
Lalu, dia pun berkesempatan melanjutkan studi ilmu politik di Northern
Illinois University, Illinois, Amerika Serikat, atas beasiswa
Fullbright, meraih gelar MA.
Kemudian, sambil merawat anaknya yang sakit di Australia, Amal
melanjutkan S3 di Monash University, Melbourne, Australia. Dia pun
menggondol gelar doktor (PhD) dengan disertasi mengenai politik dalam
negeri dalam kaitan hubungan pusat dengan daerah.
Selain sebagai guru besar politik di UGM, dia pun dikenal sebagai
pengamat politik yang jernih tanpa mempunyai interes pribadi. Setelah
tidak menjabat rektor, ia pun tetap menjadi pengamat politik. Dia pun
senang dalam hobinya berolahraga tenis dan voli serta berkebun dan
memelihara ikan dan aneka burung. Dia punya kandang burung setinggi tiga
meter dan aquarium besar di rumahnya, Pendeansari Blok I No. 5 Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. ►e-ti/tsl,
dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|