| |
C © updated 26032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Biodata
Nama:
IBU SOED (Saridjah Niung Bintang Soedibio)
Lahir
Sukabumi, Jawa Barat, 26 Maret 1908
Agama
Islam
Suami:
Bintang Soedibio (Alm)
Ayah Kandung:
Mohamad Niung
Ayah Angkat:
Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer
Pendidikan:
- Kweekschool, Bandung
- Belajar seni suara, musik dan main biola pada Prof. Dr. Mr. J.F.
Kramer
Karir:
- Guru HIS Petojo, Guru HIS Jalan Kartini, Guru HIS Arjuna
(1925-1941)
Karya:
- Mencipta sekitar 200 lagu anak-anak, antara lain:
- Tanah Airku
- Berkibarlah Benderaku
- Kutilang
- Hujan
- Nenek Moyang
- Menanam Jagung
Kegiatan lain:
Membatik
Alamat Rumah:
Jalan Moh. Yamin 50, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| IBU SOED HOME |
|
|
 |
Ibu Soed (Saridjah Niung)
Pencipta Lagu Anak-Anak
Ibu Soed, bernama lengkap Saridjah Niung Bintang Soedibio, kelahiran
Sukabumi, Jawa Barat, 26 Maret 1908, seorang pencipta lagu anak-anak
legendaris. Dia mencipta 200 lebih lagu anak-anak. Tokoh musik tiga
jaman (Belanda, Jepang, Indonesia), ini pertama kali mengumandangkan
suaranya di radio NIROM Jakarta 1927.
Ibu Sud juga mahir mengalunkan biola. Sebagai pemusik biola, dia ikut
mengiringi lagu Indonesia Raya ketika pertama kali didengungkan di
Gedung Pemuda 28 Oktober 1928.
Ibu Soed bernama asli Saridjah, bungsu dari dua belas orang bersaudara,
putri Mohamad Niung, seorang pelaut berdarah Bugis yang kemudian menetap
di Sukabumi, Jawa Barat menjadi pengawal Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer,
seorang indo-Belanda -- beribukan keturunan Jawa ningrat. Prof. Dr. Mr.
J.F. Kramer, pensiunan Vice President Hoogerechtshof (Kejaksaan Tinggi)
di Jakarta, yang waktu itu menetap di Sukabumi mengangkat Saridjah
sebagai anak.
Bakat musiknya terasah sejak kecil oleh ayah angkat yang mengasuhnya
Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer. Di bawah pengasuhan sang ayah angkat,
Saridjah mendapat pendidikan seni suara, seni musik dan belajar
menggesek biola.
Setelah menamatkan pendidikan di Kweekschool, Bandung, Saridjah mengajar
di HIS HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna (1925-1941). Di
sini dia mulai mengajar anak-anak menyanyi. Dia prihatin melihat
anak-anak Indonesia yang tampak kurang berbahagia. Lalu dia berpikir
untuk menyenangkan anak-anak itu dengan menyanyi.
Dia pun berpikir sebaiknya anak-anak Indonesia itu dapat menyanyi dalam
bahasa Indonesia. Tentu akan lebih menyenangkan daripada harus
mengajarkan lagu berbahasa Belanda kepada murid-murid Indonesia. Maka,
dia pun mulai mencipta lagu untuk anak-anak Indonesia.
Lagu-lagu ciptaannya, tidak hanya memberi kegembiraan kepada anak-anak,
tetapi juga mendorong mereka berkhayal, berimajinasi menjadi anak bangsa
yang kelak berbakti dan mencipta untuk kejayaan bangsanya. Selain
menciptakan sejumlah lagu kanak-kanak berirama ceria, antara lain Hai
Becak, Ketilang, Kupu-kupu, dan Bila Aku Besar, juga lagu ceria
patriotik seperti Tanah Airku dan Berkibarlah Benderaku.
Berkibarlah Benderaku diciptakan setelah dia melihat kegigihan Yusuf
Ronodipuro, seorang pimpinan RRI pada tahun-tahun pertama Indonesia
merdeka. Yusuf menolak menurunkan Sang Saka Merah Putih yang sedang
berkibar di kantornya, walaupun dalam ancaman senjata api.
Semangat cinta tanah air juga terukir dalam lirik lagu Tanah Airku:
Tanah airku tidak kulupakan/ Kan terkenang selama hidupku/ Biarpun saya
pergi jauh/ Tidak kan hilang dari kalbu/ Tanah ku yang kucintai/ Engkau
kuhargai. Walaupun banyak negri kujalani/ Yang masyhur permai dikata
orang/ Tetapi kampung dan rumahku/ Di sanalah kurasa senang/ Tanahku tak
kulupakan/ Engkau kubanggakan.
Lebih dari 200 lagu telah dia ciptakan. Tapi saying, hanya separuh yang
bisa terselamatkan. Di tengah kesibukannya mengajar dan mencipta lagu,
ia juga pernah menulis naskah sandiwara dan sekaligus mementaskannya.
Yakni Operette Ballet Kanak-kanak Sumi di Gedung Kesenian, Jakarta,
1955. Ia mementaskannya bersama Ny. Nani Loebis Gondosapoetro sebagai
penata tari dan RAJ Soedjasmin sebagai penata musik.
Selain itu, saat aktif sebagai anggota organisasi Indonesia Muda tahun
1926, ia juga membentuk grup Tonil Amatir. Tonil itu mereka pentaskan
untuk memperoleh sejumlah uang membiayai penginapan mahasiswa Club
Indonesia. Hasilnya, lebih dari cukup. Selain aktivitasnya tidak hanya
menonjol sebagai guru dan aktivis organisasi pemuda, tetapi juga
berperan dalam berbagai siaran radio sebagai pengasuh siaran anak-anak
(1927-1962). Bahkan, ia juga piawai membatik. Atas karya pengabdiannya,
dia menerima Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah.
Dia menikah dengan Bintang Soedibio, dikaruniai tiga orang putrid. Sejak
menikah namanya lebih dikenal dengan Ibu Soed. Suaminya meninggal tahun
1954 dalam suatu musibah kecelakaan pesawat BOAC di Singapura. ►ti/binsar
halomoan
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|