| |
C © updated 03032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/jamsostek |
|
| |
Nama:
Hotbonar Sinaga
Lahir:
Cipanas, Jawa Barat, 20 Mei 1949
Jabatan:
Direktur Utama PT Jamsostek (Persero)
Pendidikan:
- Sarjana Ekonomi Manajemen Konsentrasi Pemasaran Universitas
Indonesia
- Non Degree-Shipping (Professional Shipping Management) Norwegian
Shipping Academy
- Insurance Broking (Certified Indonesian Ins. & Reinsurance Brokers) &
APAI (Ahli Pialang Asuransi Indonesia) ABAI, Jakarta
- Perencanaan Keuangan ChFC (Chartered Financial Consultant) The
American College & Singapore College of Insurance.
Karir:
- Pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Program
Sarjana Strata 1 dan Magister management
- Direktur Utama PT. Asuransi Berdikari
- Komisaris Independen: PT. Asia Pratama General Insurance, PT. Sarana
Proteksi Broker Asuransi, PT. Sinar Mas Multi Artha Tbk., PT. Asuransi
Sinar Mas, PT. Asuransi Eka Life, PT.Asuransi Mega Life
- Komisaris Utama PT.Mitra Finansial Wicaksana
- Komite Audit: PT.Pindo Deli, PT. Lontar Papirus Pulp & Paper
- Direktur Utama PT.Jamsostek (Persero).
|
|
| |
|
|
|
|
| HOTBONAR SINAGA |
|
|
 |
Hotbonar Sinaga Saya Siap Dicopot
Di usia pensiunnya, Hotbonar Sinaga, 58, justru
mendapat tantangan berat. Sejak 16 Februari 2007, ia diminta membenahi
Jamsostek, perusahaan beraset Rp47 triliun, menggantikan Iwan
Pontjowinoto. Hotbonar menargetkan tahun ini Jamsostek berhasil
membukukan laba bersih Rp800 miliar, naik sedikit dibanding 2006 yang
Rp793 miliar. Sementara itu, jumlah peserta ia patok bertambah 2 juta
orang.
Hotbonar mengaku tak pernah terpikir olehnya untuk berkarier di
industri asuransi. "Semua by accident, karena ajakan Pak Sonny," katanya.
Sonny Dwi Harsono, mantan dirut PT Tugu Pratama Indonesia, adalah teman
Hotbonar, sesama dosen di Universitas Indonesia. Sonny memperkenalkan
Hotbonar kepada Julius Tahija. Mantan presdir PT Caltex dan pemilik Bank
Niaga itu kemudian menawarinya menjadi managing director PT Johnson &
Higgins Indonesia (J&HI), perusahaan pialang asuransi.
Mulanya Hotbonar merasa heran dengan tawaran itu, sebab dia tak tahu
dunia asuransi. Namun, Julius menegaskan, "Saya memang cari orang yang
tidak tahu asuransi agar mudah dibentuk." Di J&HI, Hotbonar bertahan
lima tahun (1986–1991). Selepas itu, ia menjadi direktur produksi dan
pemasaran PT Tugu Mandiri, perusahaan asuransi jiwa milik Pertamina,
(1991–1997). Lalu, ia pindah ke PT MetLife Sejahtera dengan jabatan
direktur operasi (1997–2000). Terakhir, Hotbonar menjadi dirut PT
Asuransi Berdikari (2000–2005).
Hotbonar Sinaga lahir di Cipanas, Jawa Barat, 20 Mei 1949. Anak
kelima dari delapan bersaudara ini meraih gelar sarjana ekonomi dari
Universitas Indonesia pada 1980. Selepas itu, ia menjadi dosen di
almamaternya sampai sekarang. Ayah dua anak ini juga sempat mengajar di
Institut Pertanian Bogor dan Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, Jawa Barat.
Di tengah kesibukannya, Hotbonar aktif di berbagai organisasi. Di
antaranya, sebagai Sekjen Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (ADPLK,
1997–2000) dan ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI, 2000–2005). Akibat
kesibukannya, Hotbonar mengaku tak lagi sempat menjalani hobinya: main
golf. Katanya, satu-satunya hobi yang masih ia jalani adalah, "Menjadi
pembicara seminar… hahaha."
Saya Siap Dicopot
Kepada Prayogo P. Harto dan Sufri Yuliardi dari Warta Ekonomi, Selasa
(6/3) petang, di kantornya, Menara Jamsostek, di Jl. Gatot Subroto,
Jakarta, Hotbonar bertutur panjang seputar rencananya membenahi
Jamsostek. Petikannya:
Mengapa kerap terjadi pertentangan antara komisaris dan direksi di tubuh
BUMN, seperti Jamsostek?
Itu dulu. Sekarang direksi dan komisaris Jamsostek sangat kompak. Saya
kira konflik ini timbul karena masalah komunikasi yang kurang lancar,
enggan bersilaturahmi. Itu saja.
Apakah bukan karena direksinya dari luar Jamsostek?
Saya juga dari luar, tetapi insya Allah tak ada resistensi karyawan. Ini
mungkin karena sebagian kenal saya. Mereka tahu saya mantan ketua Dewan
Asuransi Indonesia, sering menulis, jadi pembicara seminar di mana-mana,
dan pernah jadi konsultan Jamsostek. Mereka ingin memberi kesempatan, "Coba
buktikan, bisa tidak membereskan masalah Jamsostek".
Ada yang menyebut direksi sekarang merupakan "orangnya" Iwan
Pontjowinoto. Komentar Anda?
Kebetulan saya kenal Iwan sejak di Bank Papan Sejahtera. Kalau Iwan
dengan Indrasjwari, direktur investasi Jamsostek, pernah sekantor di PT
Danareksa. Begitu juga Myra S.R. Asnar, direktur keuangan Jamsostek, itu
mantan bawahan Iwan. Jadi, kalau kemudian orang menduga begitu, ya
sah-sah saja. Namun, sebenarnya itu keliru. Begitu diangkat, yang
pertama kali saya katakan, jangan ada lagi istilah orang-orang Iwan dan
non-Iwan, orang luar atau orang dalam. Di sini yang ada hanya orang
Jamsostek!
Apa yang akan Anda lakukan untuk membenahi Jamsostek?
Mereka yang keluar koridor akan saya masukkan. Lalu, yang keluar aturan,
misalnya korupsi, saya tindak tegas. Mulai dari pemberian surat
peringatan sampai PHK. Tetapi, saya kira di Jamsostek tidak ada korupsi…
hahaha.
Bagaimana komposisi investasi Jamsostek?
Sekitar 90% di obligasi pemerintah dan deposito. Sisanya di saham,
investasi langsung di perusahaan, dan properti. Untuk saat ini, saya
akan memakai patokan PP No. 22/2004. Jadi, Jamsostek tak akan mengambil
margin, tetapi fee. Dari seluruh dana yang dikelola Jamsostek, maksimal
kami hanya akan mengambil fee 2%. Kebijakan itu mulai kami laksanakan
tahun ini.
Iwan Pontjo sempat ingin menggunakan perusahaan independen untuk
mengelola investasi Jamsostek…?
Sampai detik ini masih akan kami kelola sendiri. Namun, tak tertutup
kemungkinan, untuk investasi saham, kami serahkan ke manajer investasi.
Bagaimana Anda memproteksi Jamsostek dari kepentingan politik?
Politisasi harus kami hilangkan. Tentu saja tidak frontal, tetapi
persuasif. Saya harus jelaskan, dana Jamsostek ini duit masyarakat, tak
bisa dipakai seenaknya. Lagi pula, ada PP No. 22/2004 yang mengatur
dana-dana untuk partai politik. Jadi, saya tak berani memberikan
seenaknya. Namun, kalau permainannya cantik dan tak melanggar peraturan,
ya tidak apa-apa.
Maksud Anda "permainan cantik"…?
Masih dalam koridor. Misalnya, dengan kegiatan yang ada kaitannya,
seperti seminar ketenagakerjaan. Jika sebatas itu, kami bisa bantu. Itu
sah karena masih terkait dengan tenaga kerja dan bermanfaat meningkatkan
kesejahteraan pekerja. Namun, kalau terlalu vulgar, akan saya tolak.
Saya tak ingin ada politisasi.
Anda pernah memimpin Asuransi Berdikari, kini Jamsostek. Sejauh mana
bedanya?
Jelas berbeda. Dulu ratusan miliar, kini triliunan. Dulu mobil biasa,
kini truk tronton… hahaha. Namun, yang penting SIM-nya cocok. Dulu SIM
A, kini SIM B. Akan tetapi, dengan pengalaman saya dan dukungan
Kementerian BUMN, saya kira masalah Jamsostek bisa ditangani.
Belakangan, banyak tuntutan agar swasta boleh menyelenggarakan asuransi
dan jaminan sosial. Tanggapan Anda?
Boleh saja, tetapi tak ada dasar hukumnya. Menurut UU No. 3/1992 tentang
Jamsostek, asuransi ini punya tiga ciri. Pertama, memberikan manfaat.
Kedua, wajib. Dan ketiga, harus BUMN. Sedangkan untuk jaminan social,
dasarnya UU No. 40/2004. Di situ disebutkan yang menjadi penyelenggara
sistem jaminan sosial adalah BUMN. Jadi, swasta tidak memiliki peluang
untuk menyelenggarakan asuransi atau jaminan sosial.
Mengapa harus Jamsostek?
Menurut perubahan ke-4 UUD 1945 Pasal 34 ayat (2), jaminan sosial adalah
kewajiban negara. Kemudian, UU No. 28/2004 mengatakan pemerintah sebagai
pemegang saham penyelenggara jaminan sosial bisa mengambil kebijakan
khusus untuk mempertahankannya. Jadi, kalau ada mismanajemen,
misinvestasi, atau kesulitan likuiditas, pemerintah boleh turun tangan.
Kalau swasta, siapa yang menjamin?
Bagaimana dengan tudingan monopoli?
Monopoli Jamsostek ini harus pakai tanda kutip. Sebab, bisa saja
asuransi dan jaminan sosial diselenggarakan BUMN lain, bukan cuma
Jamsostek. Misalnya, jaminan tenaga kerja, PT Taspen penyelenggaranya.
Begitu juga asuransi kesehatan, selain Jamsostek ada PT Askes.
Menurut Anda, apakah sebaiknya monopoli Jamsostek ini diubah?
Kalau saya berpikir objektif, tanpa mengaitkan kedudukan sebagai dirut
Jamsostek, sebaiknya UU ini tidak diubah. Saya mempertimbangkan faktor
keamanan dananya. Sebaiknya dana yang dikelola ini harus ada yang
menjamin, yakni pemerintah. Dan, pemerintah hanya bisa menjamin BUMN.
Kalau swasta, tak ada yang mau menjamin.
Ngomong-ngomong, kapan Jamsostek go public?
Jamsostek tak akan pernah go public. Tak pernah ada di negara mana pun
di dunia penyelenggara jaminan sosial itu perusahaan publik. Mengapa?
Kalau kami go public, sebagian sahamnya akan dimiliki masyarakat.
Artinya, pemerintah tak bisa lagi menjamin. Sebab, pemerintah hanya bisa
menjamin kalau 100% sahamnya milik mereka. Padahal, tanpa jaminan,
pengalaman membuktikan, banyak penyelenggara asuransi yang bangkrut.
Bukankah ada reasuransi?
Reasuransi itu kaitannya dengan pertanggungan. Bagaimana kalau salah
investasi? Tak ada. Bahkan, kalau kami serahkan pengelolaan dananya
kepada manajer investasi, mereka juga tak mau menjamin. Jangankan
menjamin dananya, menjamin pengembalian dengan tingkat bunga tertentu
saja mereka tidak mau. Sebab, itu dilarang UU Pasar Modal.
Jamsostek cepat membayar santunan asuransi kecelakaan kerja untuk
kamerawan SCTV yang meninggal karena tenggelam belum lama ini. Apa
maksudnya?
Itu momen yang baik untuk sosialisasi karena mendapat publikasi yang
luas. Pesan yang ingin saya sampaikan, "Tirulah SCTV. Ini perusahaan
yang baik karena menyertakan karyawan dalam Jamsostek." Maka, jika
terjadi sesuatu pada pekerjanya, Jamsostek akan meringankan beban mereka
dan keluarga yang ditinggalkan.
Bisa Anda ceritakan kronologi pemilihan dirut Jamsostek?
Hari Minggu (11/2) saya di-SMS Kementerian BUMN untuk ikut fit & proper
test. Senin (12/2) pagi saya diwawancara. Saya lihat yang ikut wawancara
ada lebih dari 20 orang, termasuk mantan komisaris dan direktur
Jamsostek. Sorenya, dilanjutkan wawancara dengan eselon satu dari
Kementerian BUMN. Besoknya saya diwawancarai Pak Sugiharto. Ini pertama
kalinya saya bertemu secara formal dengan beliau.
Apa yang pertama kali Anda lakukan begitu tahu terpilih menggantikan
Iwan?
Saya langsung sujud syukur dua kali, meski waktu itu belum ada keputusan
resmi. Kepastiannya saya tahu dari wartawan. Namun, sehari sebelumnya
ada menteri yang menelepon mengucapkan selamat.
Bagaimana sikap keluarga Anda?
Bersyukur campur khawatir, terutama dari segi kesehatan. Sejak jadi
dirut Jamsostek, pagi-pagi saya sudah berangkat, pulang larut malam.
Padahal, biasanya pagi-pagi saya bingung, mau ke mana ya… hahaha.
Anda tak khawatir sewaktu-waktu dicopot?
I have nothing to lose. Kalau saya dicopot, tak masalah. Toh, sebetulnya
saya sudah lewat usia pensiun. Mei nanti usia saya 58 tahun. Jadi, saya
tak akan protes kalau tiba-tiba diberhentikan. Asalkan, jangan
buntut-buntutnya dipanggil KPK… hahaha.
Ngomong-ngomong, mengapa direksi Jamsostek mayoritas wanita?
Wah, saya tidak tahu, sebab yang menentukan pemegang saham. Tetapi,
mungkin karena dirutnya Hotbonar, jadi lebih aman… hahaha. Ini pendapat
pribadi, kalau wanita kan lebih sensitif. Kalau tak sependapat, mereka
tidak akan frontal. Paling-paling ngambek… hahaha. (Jum'at, 27 April
2007 00:45 WIB - warta ekonomi.com) ►e-ti
Susunan Dewan Direksi Jamsostek
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor: KEP-15/MBU/2007 tentang
Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan
Perseroan (Persero) PT Jamsostek, tanggal 16 Februari 2007, berikut
adalah profil Dewan Direksi PT Jamsostek (Persero):
H. Hotbonar Sinaga
Direktur Utama
Lahir: Cipanas, 20 Mei 1949. Pendidikan: Sarjana Ekonomi Manajemen
Konsentrasi Pemasaran Universitas Indonesia, Non Degree-Shipping
(Professional Shipping Management) Norwegian Shipping Academy, Insurance
Broking (Certified Indonesian Ins. & Reinsurance Brokers) & APAI (Ahli
Pialang Asuransi Indonesia) ABAI, Jakarta, Perencanaan Keuangan ChFC
(Chartered Financial Consultant) The American College & Singapore
College of Insurance. Karir: Sebagai Pengajar di Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Program Sarjana Strata 1 dan Magister management,
Sebagai Direktur Utama PT. Asuransi Berdikari, Komisaris Independen: PT.
Asia Pratama General Insurance, PT. Sarana Proteksi Broker Asuransi, PT.
Sinar Mas Multi Artha Tbk., PT. Asuransi Sinar Mas, PT. Asuransi Eka
Life, PT.Asuransi Mega Life, Komisaris Utama PT.Mitra Finansial
Wicaksana, Komite Audit: PT.Pindo Deli, PT. Lontar Papirus Pulp & Paper,
Saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT.Jamsostek (Persero).
H.D Suyono
Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Informasi
Lahir: Sragen, 10 Desember 1953.Pendidikan: Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Agustus 1945 Semarang. Karir: di PT.Jamsostek (Persero),
pernah menduduki Jabatan Kepala Biro Humas PT.Jamsostek (Persero),
Kepala Kantor Wilayah V Semarang, menjabat Kepala Kantor Wilayah VIII
Makasar, menjabat Kepala Biro Sekretariat Perusahaan PT.Jamsostek (Persero).
Saat ini menjabat sebagai Direktur Perencanaan pengembangan dan
Informasi PT.Jamsostek (Persero).
Myra Soraya Ratnawati Asnar
Direktur Keuangan
Lahir: Surabaya, 28 Desember 1956. Pendidikan: Sarjana Ekonomi
Universitas Indonesia, Magister Manajemen, Lembaga Pembinaan dan
Pendidikan Manajemen (PPM). Karir: di PT.Jamsostek (Pesero), sebelumnya
pernah menduduki Jabatan sebagai Kepala Biro Perencanaan dan
Pengembangan PT. Jamsostek (Persero). Saat ini menjabat sebagai Direktur
Keuangan PT. Jamsostek (Persero).
Achmad Ansyori
Direktur Operasi dan Pelayanan
Lahir: Plaju, 23 Juli 1963. Pendidikan: Sarjana Hukum Universitas
Balikpapan. Karir: di PT.Jamsostek (Persero), sebelumnya pernah
menduduki Jabatan Kepala Biro Hukum PT.Jamsostek (Persero), menjabat
Kepala Biro Personalia PT Jamsostek (Persero), menjabat Kepala Kantor
Wilayah I Medan PT.Jamsostek (Persero). Saat ini menjabat sebagai
Direktur Operasi dan Pelayanan PT.Jamsostek (Persero).
Rahmaniah Hasdiani
Direktur Umum dan SDM
Lahir: Jakarta, 19 Juni 1961. Pendidikan Sarjana Matematika Institut
Teknologi Bandung (ITB), Diploma Hydraulic Engineering, IHE, Delft,
Netherland (Post Graduate), Master of Science (MSc) Management
Information System, University of Colorado at Denver, USA, Master of
Business Administration (MBA), University of Colorado at Denver, USA.
Karir: di PT.Jamsostek (Persero), pernah menduduki jabatan sebagai Pjs.
Kepala Biro personalia PT.Jamsostek (Persero), sebagai pengajar
Statistik Matematika BPPK (D3 Program Aktuaria) Departemen Keuangan,
Pengajar Metode Numerik pada Universitas Islam As Syafiah dan mengajar
matematika Bisnis di Universitas Paramadina. Saat ini menjabat sebagai
Direktur Umum dan SDM PT.Jamsostek (Persero).
Indraswari K.S. Kartakusumah
Direktur Investasi
Lahir: Washington D.C., USA. 9 Februari 1957. Pendidikan: Master Of Arts
Ekivalen Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia. Karir: sebagai pengajar
di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sebagai Director Marketing di
PT. Bahana TCW Investment management, menjadi Institutional Business
Director pada PT. Danareksa Fund management. Saat ini menjabat sebagai
Direktur Investasi PT. Jamsostek (persero).
Dewi Hanggraeni
Direktur Kepatuhan dan Manajemen Resiko
Pendidikan: MBA, University of Fayetteville, Arkansas, USA (Graduated
Cum Laude). Economics Institute, Boulder, Colorado, USA (Graduated Summa
Cum Laude). Faculty of Economics, Accountancy, University of Indonesia.
Karir: Executive Director of Risk Center, Faculty of Economics,
University of Indonesia, Director of Finance, Administration and Human
Resource Lembaga Management, Faculty of Economics, University Indonesia.
Independent Commissioner, Head of Audit Committee, PT Rajawali Nusantara
Indonesia (Persero). Saat ini menjabat sebagai Direktur Kepatuhan dan
Risk Management PT Jamsostek (Persero).
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|