|
=
1
2
3 4
5
6 =
Dr HM Hidayat Nur Wahid, MA (3)
PKS Solusi Permasalahan Bangsa (2)
Secara internal bagaimana PKS mempersiapkan
kader-kadernya sesuai visi yang Anda tadi telah jelaskan?
Kita sejak awal menegaskan PKS adalah partai kader.
Oleh karena partai kader, maka aktivitas kader terus berjalan. Bahkan
kader-kader dalam berbagai lingkaran pengkaderannya, ada pertemuan yang
dalam bentuk mingguan, pertemuan dua minggu, per bulanan untuk
menginternalisasikan nilai-nilai yang di PKS. Dan dengan demikian maka
otomatis pengkaderan dan calon pemimpin sudah berjalan, tentu melalui
training, kajian-kajian bedah buku serta pertemuan kader-kader.
Tentu sangat sulit, bahkan tidak mungkin, bagi PKS
melakukan perbaikan keadaan bangsa tanpa menggandeng kekuatan di luar PKS.
Apa yang dilakukan PKS supaya menggalang kekuasaan, biarpun itu dengan
kekuatan yang berbeda?
Pertama saya tegaskan bahwa pentingnya pendidikan dan
pembelajaran bagi publik. Secara kongkrit kami lakukan dalam berbagai
cara, seperti rapat terbuka yang dapat dinikmati publik, itu juga
pembelajaran publik. Kemudian kami melakukan demo damai, dan itu adalah
pembelajaran politik bagi publik juga, Bahwa mereka perlu dan harus berani
melakukan kritik tetapi tetap santun sebagai bangsa Indonesia, itu bisa
kami lakukan dan saya pikir sekarang hal itu telah menjadi trend bagi
demo-demo yang ada.
Demo-demo yang kami lakukan hanya ada di
sentral-sentral kota, namun oleh karena faktor media maka tersebar ke
seluruh Indonesia. Itu adalah cara kami supaya publik dilibatkan dalam
proses perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetapi secara praktis
dan pragmatis, selain dari faktor opini itu, kami juga banyak terlibat
dengan beragam aliansi untuk menyelamatkan bangsa.
Contohnya sebelum Pemilu tahun 1999, kami bersama PPP
dan PAN membentuk koalisi dengan sebutan Koalisi Kartika Chandra. Kemudian
setelah Pemilu kami membentuk Poros Tengah. Kami melihat itu sebagai
aktivitas politik yang kami pilih dan dalam logika kami turut dalam
menyelesaikan masalah bangsa. Termasuk ketika saya juga ikut dalam Forum
Indonesia Damai, itulah salah satu bentuk kebersamaan baik ormas, orpol,
lintas agama untuk kepedulian kepada bangsa.
Tentu hal yang sangat penting juga adalah menyadari
bangsa kita adalah bangsa yang besar dengan problematika yang besar juga
sementara potensi kami terbatas. Maka selain kami mengadakan afiliasi dan
pembelajaran politik bagi rakyat, kami juga melakukan apa yang disebut
sebagai pemberdayaan kelompok-kelompok lain.
Misalnya, kami sangat akrab
dengan LSM dan ormas. Kami menyadarkan peran mereka yang partai politik
tidak pernah dapat lakukan. Misalnya, peran terhadap pengawasan proses
Pemilu, kita bisa mengadakan kritik-kritik Pemilu dan seluruh prosesnya.
Kalau partai politik yang melakukan itu, akan ada penilaian yang
menganggap ada kepentingan politik. Akan tetapi, jika yang melakukan LSM
maka publik akan menerima sebagai kewajaran, sebagai satu hal yang
objektif dan tidak tendensius.
Dari keadaan tersebut saya berkesimpulan bahwa
masyarakt kita jangan pernah dikotak-kotakkan, mana yang menjadi tugas
ormas atau orpol. Kita hilangkan dikotomi itu dan bersama-sama berperan
maksimal sesuai porsi masing-masing. Jadi selain aliansi kami mendorong
ormas dan LSM dan seluruh komponen masyarakat melakukan peran yang
maksimal dalam menyelamatkan bangsa.
Sebagai organisasi politik bagaimana organisasi ini
dikonsolidasikan untuk siap meraih suara dalam Pemilu yang akan datang?
Saya jelaskan kepada kawan-kawan bahwa kita tidak boleh
terjebak kepada logika memenangkan Pemilu dan kemudian terjebak seperti
perilaku partai politik yang lain, yaitu menganut paham mencapai tujuan
dengan segala cara, kalau pun perlu membuat teror politik, money
politics, korupsi untuk politik atau manipulasi politik.
Saya jelaskan kepada seluruh kader-kader PKS, bahwa
keinginan kita untuk memenangkan Pemilu, sukses Pemilu berarti sukses
dalam menjalankan program-program partai tidak boleh lupa bahwa esensi
dasar dari PKS adalah partai dakwah. Partai dakwah berarti bergandengan
dengan moral. Karena berhubungan dengan moral berarti dilarang melakukan
segala cara untuk mencapai tujuan. Kemenangan ini tidak perlu didesak
untuk melakukan lompatan.
Kami memahami bahwa ada proses yang harus ditempuh,
untuk apa tergesa-gesa. Yang terpenting, walaupun kami kecil, namun solid,
komit dan bisa membuktikan kepada publik bahwa partai ini adalah partai
yang bebas dari KKN. Berani mengkritik yang salah, berani mendukung yang
benar, partai yang mampu memberikan alternatif, partai yang tidak
terpecah-pecah.
Saya yakin suatu saat rakyat semakin terdidik, sadar
untuk membedakan satu partai dengan partai yang lainnya. Sehingga publik
masih mengerti masih ada kelompok-kelompok masyarakat yang komitmen dengan
penegakan hukum, komitmen membela rakyat, komitmen tidak korupsi, komitmen
menghadirkan politik yang santun.
Sejak zaman demokrasi terpimpin sampai tumbangnya rezim
Soeharto yang terjadi otoriterisme. Tapi sangat tidak mungkin dalam waktu
yang singkat masyarakat akan memahami terhadap alternatif moral, itu
memerlukan waktu. Sehingga apa yang saya sampaikan kepada kader-kader PKS,
jangan sampai mereka terprovokasi dengan bagaimana bisa menang, tetapi
yang dipentingkan yaitu dengan potensi yang kita miliki melakukan amal
sebanyak-banyaknya dan kontribusi-kontribusi positif bagi publik melalui
atraksi politik yang baik.
Karena menurut PKS yang utama adalah bukan
menang itu sendiri, tapi adalah bagaimana merealisir program partai, entah
itu kita secara langsung atau melalui orang-orang lain yang simpatik
terhadap penampilan kita.
Jadi, kalau program partai dapat tercapai, bagi kami
adalah sebuah kemenangan. Misalnya, pada Pemilu 1999, kami katakan adalah
“Siapapun dan di manapun Anda, kalau Anda menegakkan keadilan maka Anda
adalah bagian dari kami dan kami bagian dari Anda”. Bukan berarti kami
mengatakan semua orang adalah anggota PKS, tetapi kami berharap di manapun
Anda kalau menegakan keadilan dan menyejahterakan rakyat, maka Anda adalah
bagian dari kami dan kami bagian dari Anda.
Indonesia mayoritas penduduknya Islam, tetapi partai
Islam dalam sejarahnya tidak bisa lebih kuat. Apa penyebabnya?
Banyak orang berpendapat bahwa partai Islam kalah
karena terpecah-pecah, itu adalah pendapat yang keliru, sebab masalah
menang-kalah tidak dapat dikaitkan dengan keberagamaan.
Pada Pemilu 1955
partai yang berbasis bukan Islam jauh lebih banyak dari partai-partai
Islam. Jadi sebabnya adalah bukan karena kepelbagaian, tetapi oleh karena
penghayatan penduduk muslim Indonesia yang mayoritas sekularistik. Oleh
karenanya bukanlah masalah, kalau seseorang muslim yang rajin shalat
bahkan haji sekalipun tidak bergabung dengan partai Islam. Itu karena cara
berpikir yang sekuler tadi.
Sedangkan yang terjadi pada Pemilu zaman Orde Baru dan
Reformasi ini, kita tidak memiliki akses yang tepat terhadap hasil-hasil
suara. Contohnya pada Pemilu tahun 1999, hasil suara di wilayah DKI yang
dapat diverifikasi hanya sekitar 35 persen saja. Apalagi dengan
daerah-daerah yang lain. Akhirnya kita dapat meyakini hasil yang
ditampilkan oleh negara dan kemudian memunculkan anggota dewan itu
sungguhnya konspirasi pemilihan rakyat.
Bagaimana dengan Pemilu 2004
Pemilu tahun 2004 harus tetap diwaspadai, karena kasus
tahun 1999 dimulai dari tidak ada informasi yang valid terhadap hasil
suara yang ada di setiap kecamatan di seluruh Indonesia. Oleh karena itu
kita tidak tahu sampai sejauh mana terjadi manupulasi, karena tidak adanya
data. Sampai tahun 2004 pun KPU tidak mampu menjamin hal tersebut. Hasil
suara yang dapat dipantau hanya sebatas kabupaten. Sehingga di situlah
manupulasi politik bermain dan KPU tidak bisa memberikan jaminan.
Jadi jika ditanyakan mengapa mayoritas penduduk
Indonesia Islam tetapi yang menang adalah partai-partai non-Islam, ini
perlu dikritisi, apakah memang karena faktor keberagamaan yang sekuler dan
kemudian juga oleh karena Pemilunya yang belum bersih. Dari sini bisa kita
katakan bahwa kita belum mempunyai tolok-ukur sesungguhnya suara Islam
dalam konteks Pemilu, karena Pemilunya belum tampil dalam bentuk yang
jujur.
Salah satu kasus pada masa pemerintahan Gus Dur, ketika
KPU sedang mengumpulkan lebih dari 2000 penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi selama penyelenggaraan Pemilu. Saat kasus-kasus tersebut hendak
diserahkan kepada pengadilan. Eksekutif dan Legislatif mengadakan
“selingkuh” dengan mengeluarkan perundangan pembubaran KPU, akhirnya KPU
dibubarkan dan semua kasus penyimpangan tadi hilang semua. Semua yang
terjadi dalam Pemilu 1999, serba penuh tanda tanya.
Berapa target PKS dalam Pemilu mendatang?
Target optimisnya adalah antara 3-10 persen.
Saat ini PKS memiliki lambang partai yang baru, dengan
tambahan gambar padi dan kata ‘Sejahtera’, apa makna dari lambang
tersebut?
Akibat dari diberlakukannya electoral threshold
maka partai harus “berubah”. Perubahan itu tidak perlu terlalu banyak
karena bagaimanapun juga kita bertarung dengan waktu dan juga asosiasi
publik terhadap kami, sehingga tidak perlu membuat nama dan lambang yang
sama sekali baru.
Kami hanya mengubah garis tengah yang bermakna sebagai
sebuah komitmen yang tegak kokoh dalam menegakkan keadilan. Kemudian dua
buah bulan sabit simetris menandakan proses berkeadilan. Dia juga berarti
bulan sabit ketika terbit, dan bulan sabit ketika tenggelam yang artinya
ada perputaran waktu terhadap kaderisasi, tidak ada seorang pemimpin yang
tidak mempersiapkan kader berikutnya. Kemudian kami tambahkan dengan
lambang padi, karena padi melambangkan makna sejahtera yang kongkrit,
karena bangsa kita mayoritas mengomsumsi beras.
Jadi keadilan yang kami maksudkan adalah bukan keadilan
dalam tingkat nilai atau retorika saja, tetapi keadilan yang mempublik,
keadilan yang menuntut hajat rakyat dan mensejahterakan rakyat. Padi yang
menguning ini, memang kemudian memunculkan perhatian dari para pemerhati
beras. Mereka bertanya mengapa padinya tegak lurus.
Padi yang tegak lurus ini memilki dua pengertian,
pertama padi yang tegak lurus berarti padi yang muda, dan kebanyakan kader
PKS adalah yang muda-muda yang sewaktu ketika akan menjadi padi yang
berisi. Kemudaan yang ditampilkan adalah kemudaan yang berisi, produktif
dan bisa menenteramkan publik.
Pengertian kedua adalah padi ini adalah padi yang
tinggal sekamnya, sebab isinya sudah habis kami bagikan ke seluruh rakyat.
Ini berarti kesejahteraan yang ada dalam PKS adalah kesejahteraan yang
insyaallah tidak terkorupsikan, dia akan terbagi habis untuk seluruh
rakyat Indonesia. Sedangkan warna kuning emas adalah warna kecermerlangan,
keceriaan dan kemenangan. Jadi kami ingin menyampaikan bahwa ada harapan
untuk menang dan bangkit.
PKS berpotensi untuk menembus electoral threshold
dan dengan demikian memenuhi syarat mengajukan bakal calon presidennya.
Apakah Anda akan mencalonkan diri sebagai calon presiden?
Tidak! Kami sudah menggelar satu aktivitas yang kami
sebut Jaring Capres Emas (JCE). Penjaringan calon presiden berbasiskan
kader, konstituen, dan massa. Kegiatan ini sejensi konvensi Golkar tetapi
berbeda. Jika di Golkar tokoh datang untuk mengambil formulir, lalu
mengisinya, setelah itu masuk dalam konvensi. Sedangkan di dalam JCE tidak
seperti itu, yang datang bukan calon presiden. Yang kami lakukan adalah
kami bertanya kepada konstituen, simpatisan, atau kader PKS, siapakah
menurut mereka yang layak dicalonkan menjadi presiden yang dipercayakan
melalui PKS. Kami (pusat) hanya memberi kriterianya saja.
Kriterianya adalah pertama seorang presiden itu orang
yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia dan tidak pernah mengkhianati
rakyat. Kedua tidak terdakwa dalam kasus korupsi dan kriminal, sehingga
bisa menjadi panutan dalam menegakkan hukum dan memberantas KKN. Ketiga,
ia adalah orang yang minimal berijazah S1 tetapi mempuyai kapasitas
intelektual dan profesional yang dapat mengeluarkan bangsa ini dari
krisis.
Ia juga seorang negarawan, karena itu ia harus mau melepaskan
rangkap jabatannya. Dia harus juga seorang yang peduli terhadap “wong
cilik” secara jujur. Dia harus memiliki jiwa dan semangat sebagai
pemersatu ummat dan bangsa, dan dapat diterima dalam lingkungan masyarakat
internasional. Kriteria ini kami serahkan kepada seluruh kader, konstituen
PKS, dan kami menunggu jawabannya. Apakah itu tokoh dari dalam atau luar
partai, ini adalah sebuah pilihan terbuka.
Perkiraan kami proses ini akan selesai pada minggu
terakhir pada bulan Januari 2004, di situ kami akan umumkan siapa calon
presiden dari PKS. Saya berharap teman-teman memilih di luar saya. Karena
saya percaya di Indonesia ini masih banyak tokoh-tokoh yang lebih baik
yang mampu memenuhi kriteria itu dan mampu membawa Indonesia keluar dari
krisis.
Bagaimana mekanismenya?
Sederhana sekali. Karena struktur PKS sudah mencapai
tingkat kecamatan, dan seluruh kabupaten, sehingga kami kirimkan informasi
JCE ini ke seluruh kabupaten di seluruh Indonesia. Dari situ mereka
mengumpulkan nama-nama yang dipilih oleh konstituen PKS di seluruh daerah
yang akan dikirim ke Jakarta. Di pusat daftar nama yang ada akan diolah
dan dikaji. Dan jika dalam daftar nama-nama tersebut terdapat nama yang
memenuhi kriteria yang diminta oleh DPP PKS, maka kami dari pusat akan
mengadakan kunjungan dan kami akan sampaikan apa yang selama ini menjadi
aspirasi warga PKS, setelah itu kami tanyakan kesiapannya.
Dalam melaksanakan program dan mekanisme JCE PKS,
keanggotaan partai terdiri dari dua, yaitu anggota dan simpatisan.
Simpatisan ini mereka yang belum bersedia jadi kader atau anggota tetapi
selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kami atau mereka yang tidak bisa
menjadi anggota karena mereka adalah PNS tetapi punya hak untuk memilih.
Ketika PKS melakukan kegiatan ini, kami mencoba
melepaskan ego partai, sehingga ketika yang terpilih nantinya adalah orang
dari luar partai, maka tidak ada masalah. Tetapi kembali saya katakan
tidak perlu tokoh itu datang, sebab dari apa yang kami pegang sebagai
sebuah etika yang terdapat dalam Islam melalui para ulama, seorang tokoh
tidak patut untuk meminta-minta.
Tetapi jika diberikan amanah atau
diminta, jangan ditolak. Sebab ada beberapa ulama menabukan sikap meminta.
Oleh karena itu sejak tahun 1999 PK tidak memberikan usulan ketua partai
kami menjadi calon presiden dari PK. Malah Pak Didin (Hafidhuddin) yang
sebenarnya pada waktu itu bukanlah anggota atau kader PK. => (Bersambung)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|