| |
C © updated 04022003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
►e-ti |
|
| |
Nama:
Herry Tjahjono
Pendidikan:
Fakultas Psikologi, UGM
Profesi:
- Konsultan Manajemen
-
Penulis
Buku:
- Hidup Tanpa Judul
- Menjadi Pendekar di Atas Segala Pendekar
Dia eksekutif di bidang sumber daya manusia di sebuah grup perusahaan di
Jakarta. Ia juga menjabat sebagai President "X-Care Consultainment".
Menulis baginya merupakan bentuk pelayanan terhadap kehidupan itu sendiri
dan juga merupakan sebuah "proses membangun hidup sebagai jembatan menuju
orang-orang lain". Secara formal, ia adalah alumnus Fakultas Psikologi,
UGM, dan pendidikan informalnya dari "universitas kehidupan" telah
mengantarnya ke dimensi kehidupan seperti yang dijalaninya.
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3 4
5 6 7 8 9 10
== Oleh Herry Tjahjono
Masa Indah Kanak-kanak Sang Pemimpin
Mengamati perkembangan kepribadian para pemimpin kita, sangatlah
mengasyikkan, terutama secara psikologis. Dari sudut psikologi
perkembangan, ada tugas-tugas perkembangan yang wajib dilewati oleh
seorang manusia, sejak dia bayi, kanak-kanak, remaja, dan seterusnya.
Demikian juga secara analogis, ada tugas-tugas perkembangan (politis) yang
wajib dilewati oleh para pemimpin dalam seluruh perjalanan kehidupan
politiknya.
Membahas kepemimpinan nasional yang ada sekarang, baik mereka yang ada di
eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, akan tampak, ada dinamika
perkembangan politis yang menarik. Nyaris semua pemimpin nasional sekarang
(yang usia biologisnya rata-rata 50 sampai 60 tahun), ketika Soeharto
menancapkan rejim otoriter dan represif sekitar 35 tahun lalu, secara "umur
politis", mereka semua masih dalam tahap perkembangan masa kanak-kanak.
Secara biologis, mereka waktu itu mungkin sudah remaja atau paskaremaja
(15-25 tahun), tapi sekali lagi, secara analogis, umur politis mereka
barulah di tahap masa kanak-kanak. Pola kepemimpinan Soeharto yang
cenderung "mensterilkan" mereka dari dunia politis, bahkan sebagian besar
pemimpin sekarang yang waktu itu awalnya para aktivis idealis pendobrak
rejim Soekarno - "disterilkan" (dininabobokan, dijinakkan) dengan segala
macam hedonisme politis; ada yang dimasukkan sebagai anggota DPR-GR, dan
seterusnya.
Salah satu karakteristik pokok tugas perkembangan kanak-kanak adalah
dimensi permainan (games). Dengan sterilisasi dan nina bobok (plus
pengawasan) Soeharto, masa kanak-kanak itu demikian nikmat dengan segenap
permainannya. Soeharto seolah berkata: nikmati saja masa kanak-kanak
kalian dengan segenap permainan (politis) yang kuberikan, tak usah pusing
dengan segenap trik dan intrik politik riil.
Ibarat anak yang oleh orangtuanya diberi keleluasaan menikmati dunia
kanak-kanak dengan keindahan permainannya, mereka itu tak perlu ikut
pusing memikirkan ruwetnya urusan rumah tangga.
Ketika Soeharto telah berkuasa nyaris dua dasa warsa, sampailah dia di
puncak kejayaannya. Di sisi lain, usia biologis mereka rata-rata telah 35
45 tahun; dan secara analogis, usia politis mereka telah memasuki tahap
remaja. Mulailah timbul masalah, sebab pada saat itu, Soeharto mencapai
puncak totaliterismenya.
PADAHAL, di masa itu, ada yang namanya "storm period" - dinamika kejiwaan
menggelegak, yang membutuhkan kesempatan penyaluran dan pengelolaan yang
tepat. Periode itu juga meliputi tugas-tugas perkembangan : (1) gaining a
sense of identity dan realitasnya, semua identitas politis yang ingin
mereka capai ditutup sedemikian rupa, akibatnya menimbulkan kebingungan
peran-peran (politis), (2) learning independence proses belajar untuk
mandiri juga tak berkembang, semua kapasitas kepemimpinan politis dibuat
serba tergantung kepada sang jenderal. Kita tentu masih ingat, hampir
semua orang pada dimensi politik waktu itu serba berbudaya "mohon petunjuk"
dan tergantung pada sentral kekuasaan, (3) extending integrating values
proses eksplorasi nilai-nilai moral (politis) dimanipulasi sedemikian rupa,
mengikuti sang patron dengan segala prinsip tujuan menghalalkan cara (KKN,
misalnya).
Semua tugas perkembangan itu relatif gagal dilewati, akibat totaliterisme
rejim Soeharto. Masa remaja politis yang mengenaskan, setidaknya dibanding
masa kanak-kanak politis yang lebih indah.
Ketika Soeharto lengser pada tahun 1998, dan pada saat yang sama, mereka
itu ( yang kini berada di puncak-puncak kepemimpinan nasional) sudah
memasuki usia dewasa politis (secara biologis memasuki usia rata-rata 50
tahun ke atas). Kegagalan atas tiga tugas perkembangan masa remaja politis
tersebut, membawa simtom-simtom tertentu di masa dewasa politis. Jika kita
mengadaptasi Laventhal, simtom itu sebagai berikut.
Pertama, timbulnya kebingungan (politis). Kita melihat bagaimana para
pejabat atau pemimpin eksekutif bingung melaksanakan peran (pragmatisme)
eksekutifnya dengan layak, sedangkan mereka yang di DPR juga tak jelas
menjalankan peran (idealisme) legislatifnya secara baik.
Kedua, ketidakpercayaan diri (politis). Ini muncul dalam berbagai bentuk
ketidakmampuan dan ketidakmandirian dalam mengelola segenap konflik demi
kepentingan lebih besar. Ketidakpercayaan diri itu juga mengejawantah
dalam berbagai kecenderungan untuk berkelompok, berkomplot, trik dan
intrik berkolusi, untuk saling sikut demi keamanan diri sendiri (dan
kelompok).
Ketiga, kecemasan (politis). Ini muncul akibat inner conflict, benturan
nilai-nilai diri sebagai manusia biasa dengan perilaku politik yang
telanjur serba terkondisi oleh sang patron yakni rejim lama (misal; KKN).
Kecemasan politik mereka kompensasikan dalam bentuk serba "gaduh politik"
(tanpa alasan jelas) dan "sensasi politik" (tanpa esensi). Tentu secara
tak sadar, ini dimaksudkan untuk menutupi kecemasan (politisnya).
Pertanyaan-pertanyaan yang sering menghantui mereka (dengan adanya ketiga
simtom tersebut) misalnya; "apakah saya bisa lebih lama mempertahankan
kekuasaan ini (di dimensi apa pun)?", atau "apakah saya bisa mencapai (baca:
mendapatkan) kekuasaan orang atau kelompok itu," dan seterusnya?
DALAM konsep psikologi perkembangan, semua fenomena semacam itu, sadar
atau tidak, akan membenturkan seseorang kepada kondisi frustrasi di masa
dewasa (politisnya). Salah satu reaksinya, yang sesuai konteks tema ini
adalah terjadinya "regresi" (politis). Regresi yang dimaksud adalah
kembali pada satu fase perkembangan di mana seseorang berhasil mendapatkan
kepuasan.
Tak pelak lagi, para pemimpin itu yang sesungguhnya frustrasi akibat
mengalami kegagalan berbagai tugas perkembangan masa remaja dan dewasa
politis melakukan proses regresi, dan kembali ke fase atau tahap yang
memuaskan mereka, yakni masa kanak-kanak politis , yang penuh dengan
nuansa keindahan permainan.
Maka, segenap "gaduh dan sensasi" politik belakangan ini, seperti pada
kasus R&D dan kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan
telepon, merupakan bagian proses regresi politis mereka. Kasus R&D,
ramai-ramai diprotes rakyat, pemerintah ngotot, DPR ikut bersuara, semua
ngotot sampai ada "inpres R & D", belakangan ditunda, dan seterusnya.
Kasus kenaikan harga dan tarif, diprotes sampai ribut-ribut, DPR awalnya
adem-ayem, pemerintah ngotot, rakyat makin panas, pemerintah tetap ngotot,
DPR mulai tampil dengan gagah lewat rapat konsultasi, lalu pemerintah
mulai menunda kenaikan telepon, meninjau ulang yang BBM dan TDL, dan
seterusnya.
Semua itu dimunculkan dalam kegaduhan, kehiruk-pikukan. Meriah! Dan, para
pemimpin memperoleh kepuasan "masa kanak-kanaknya", sementara rakyat
ternganga-nganga.
Masih seabreg "gaduh dan sensasi" politik di republik ini, yang semuanya
bermuara pada "permainan"; dan ... ada regresi di sana. Sepintas, kembang
demokrasi mekar harum di kasus-kasus R & D dan kenaikan harga-tarif.
Seolah-olah hingar bingar demokrasi itu berbuah ranum karena pada ujungnya
toh pemerintah "mendengarkan" DPR (baca: rakyat); pemerintah mau mengalah
dan obyektif, dan ini ditunjukkan dengan berbagai perubahannya.
DPR-pun, yang semula melempem, tiba-tiba di tengah jalan tampil bak
pahlawan bagi rakyat. Padahal, tidak ada esensi (kerakyatan), kecuali
hanya sensasi demi permainan yang mereka nikmati seperti indahnya
permainan di masa kanak-kanak politis.
Itulah refleksi frustrasi kepemimpinan nasional. Urusan republik sebesar
ini dengan rakyat ratusan juta, dikelola dengan berbagai kebijakan yang
serba trial and error begitu saja; sementara harga-harga keburu naik, R &
D makin menikam rasa keadilan rakyat, ongkos sosial yang tinggi. Apa
namanya semua itu, kalau bukan "indahnya permainan (politis) akibat
regresi politis para pemimpin bangsa kita"?
Sampai 2004, mengingat regresi politis yang menghinggapi kepemimpinan
nasional, hanya permainan demi permainanlah yang bisa kita tonton.
Tampaknya, kita perlu menoleh pada generasi lebih muda, yang sejak
sekarang masih bisa kita siapkan serta kelola tahap dan tugas perkembangan
politisnya.
Ya sejak sekarang; agar mereka, dari dini bisa melaksanakan apa dikatakan
Napoleon Hill: "When you work, work, when you play, play. Dont get the
two mixed up!" ►Kompas Selasa, 04 Februari 2003
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
== 1
2
3 4
5 6 7 8 9 10
== |
|