| |
C © updated 22102004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
►e-ti |
|
| |
Nama:
Herry Tjahjono
Pendidikan:
Fakultas Psikologi, UGM
Profesi:
-
Corp HR Director & Corp Culture Therapist, Jakarta - Konsultan Manajemen
-
Penulis
Buku:
- Hidup Tanpa Judul
- Menjadi Pendekar di Atas Segala Pendekar
Dia eksekutif di bidang sumber daya manusia di sebuah grup perusahaan di
Jakarta. Ia juga menjabat sebagai President "X-Care Consultainment".
Menulis baginya merupakan bentuk pelayanan terhadap kehidupan itu sendiri
dan juga merupakan sebuah "proses membangun hidup sebagai jembatan menuju
orang-orang lain". Secara formal, ia adalah alumnus Fakultas Psikologi,
UGM, dan pendidikan informalnya dari "universitas kehidupan" telah
mengantarnya ke dimensi kehidupan seperti yang dijalaninya.
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3 4
5 6 7 8 9 10
== Oleh Herry Tjahjono
Psikologi Pesona Presiden Selebritis
Susilo Bambang Yudhoyono, presiden baru kita, tampil sebagai sosok
memesona di hadapan rakyat. Pesona itu mengandung berbagai muatan,
misalnya, sebagai presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat
sehingga legitimasi "akar-rumput" sangat kuat. Juga, sejuta harapan yang
dipercayakan kepadanya, mungkin luapan harapan akan perubahan yang
terbesar dibandingkan dengan para pendahulunya.
Namun sayangnya, semua pesona itu tampaknya hanya terjadi di masa
prapelantikannya sebagai seorang presiden. Pesona itu terutama menonjol
selama masa kampanye berlangsung. Sejak pelantikannya tanggal 20 Oktober
2004, lalu proses penetapan struktur dan susunan kabinet, tampaknya pesona
itu mulai goyang. Masyarakat, terutama kalangan kritis, mulai teringat
hal-hal yang kurang kondusif pada dirinya sebagai presiden. Salah satunya
yang menonjol adalah "sinyalemen" kelemahannya soal ketidaktegasan,
kebimbangan, dan seterusnya sebagai seorang pemimpin. Singkatnya, Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) disinyalir sebagai indecisive leader.
Pendeknya, idiom yang berbunyi "kesan pertama begitu memesona", bagi SBY
menjadi "kesan pertama, tak begitu memesona". Banyak hal yang mencerminkan
hal itu, misalnya susunan anggota kabinet (calon menteri) yang "bolak-balik"
berubah akibat berbagai tarikan kepentingan. Salah satu contoh menarik
adalah beberapa kali perubahan posisi Sri Mulyani yang awalnya sebagai
menteri keuangan (akhirnya sebagai Kepala Bappenas), termasuk posisi Mari
Pangestu. Belum lagi isu soal kebimbangan SBY oleh desakan PKS yang kurang
suka kedua wanita tangguh itu berkutat dengan posisi-posisi berbau
keuangan karena dianggap pro-IMF. Profesionalisme akhirnya jadi di bawah
kepentingan (politik) partai.
Banyak lagi kebimbangan dan ketidaktegasan dalam mengambil keputusan di
seputar struktur dan susunan kabinet sehingga "janji" pengumuman susunan
itu tertunda-tunda beberapa kali. Tampaknya, juru bicara kepresidenan Andi
Mallarangeng sekarang mesti berpikir dua kali untuk tidak seoptimistis dan
semanis seperti sebelumnya dalam menjalankan fungsinya sebagai penyambung
lidah SBY, khususnya soal "janji-janji".
SECARA psikologis, pesona pada seseorang itu ada dua jenis; (1) pesona
internal-yang bersifat bawaan, given, artinya pesona itu murni karunia
Tuhan yang inheren pada seorang manusia sejak ia dilahirkan. Contoh
konkretnya adalah Bung Karno; dan (2) pesona eskternal- bersifat rekayasa,
kemasan, atau dipengaruhi faktor lingkungan. SBY tampaknya termasuk yang
kedua ini. Ada proses psikologis yang menjelaskan bahwa pesona SBY
bersifat eksternal.
Pesona SBY mencuat pertama kali sejak ia diuntungkan oleh dinamika "psikologi
orang kalah" (lihat "Psikologi Orang- orang Kalah", Kompas, 14/4/2004).
Garis besarnya, sejak momentum "perseteruannya" dengan Megawati, lalu
mundur dari kabinet, dan terjadi blessing in disquise lewat ucapan Taufik
Kiemas (waktu itu) tentang SBY yang disebut seperti "anak kecil saja".
Lahirlah klarifikasi psikologis dari rakyat, SBY sebagai sosok orang
teraniaya, tersingkirkan, dan seterusnya. Dan, rakyat yang selama ini
memang hidup dalam dinamika (psikologi) sebagai orang-orang kalah
melakukan proses identifikasi pada sosok SBY, merasa senasib dan simpati,
dan lahirlah popularitas SBY secara luar biasa.
Pesona eksternal dan popularitas ini ditangkap dengan jitu oleh SBY
beserta tim suksesnya, dan semakin muluslah proses rekayasa pesonanya. Ini
bisa dilihat dari segenap body language, penampilan, pemanfaatan momen
sosial (selama kampanye), yang semuanya bermuara pada sosok sebagai the
celebrity leader. Jadi jelas, SBY dan timnya hanya mengandalkan modal
pesona ini, dan kurang mempertimbangkan aspek-aspek manajerial penting,
seperti misalnya "persiapan kerja" yang memadai. Ini tampak pada
ketidaksiapannya menggunakan "hak prerogratifnya" secara decisive dalam
menentukan struktur dan susunan kabinet. Mestinya, sambil bersibuk-ria
dengan urusan pesona (dan popularitas), secara paralel-simultan dia sudah
melakukan berbagai persiapan pembentukan kabinet meski mungkin tidak
secara terbuka. Ingat "pepatah manajemen": persiapan yang baik sudah
merupakan lima puluh persen kesuksesan!
SAYANGNYA, pesona bersifat eksternal ini lebih gampang "luntur"
dibandingkan dengan pesona internal. Logikanya sederhana, pesona internal
itu ibarat gula yang sudah larut dalam air, meski tumpah ke tanah pun ia
tetap manis, dan contoh itu, sekali lagi, mengejawantah pada sosok Bung
Karno. Sedangkan pesona eksternal, ibarat bedak yang melekat di wajah
seseorang (yang mungkin wajahnya biasa-biasa saja), ketika bedaknya hilang,
kecantikan memudar dengan sendirinya.
Dalam konteks pesona SBY dan kaitannya dengan kapabilitas dirinya sebagai
presiden (pemimpin)-khususnya sebagai indecisive leader-ada beberapa hal
yang perlu diwaspadai: pertama, jika "bedak" pesonanya mulai luntur dan
yang tersisa "wajah asli" (baca: indecisive leader) belaka, legitimasi
dari rakyat dalam bentuk dukungan, simpati, dan seterusnya sebagai modal
sosial mau tak mau juga akan ikut meluntur.
Kedua, jika itu yang terjadi, akan sangat berat baginya untuk bisa
berkinerja prima. Secara psikologis, modal sosial dari rakyat itu
sesungguhnya modal terbesar baginya sebagai faktor motivator luar biasa
hebat yang mampu membuatnya bekerja dan berkinerja bahkan di luar
batas-batas kapasitas dan kemampuan normalnya. Namun, jika kelunturan
benar terjadi dan berekses pada motivasinya, apalagi sampai terjadi
demotivasi dan demoralisasi pribadi, bisa dibayangkan seperti apa output
dan outcome pemerintahannya.
Ketiga, tantangan bangsa yang sedang ditimpa krisis multidimensi ini luar
biasa berat. Tantangan itu tidak bisa diselesaikan oleh pemimpin yang
indecisive. Kondisi ini, plus perubahan global dunia yang serba tak
menentu, sangat memerlukan pemimpin yang punya kapasitas survival of the
fastest sebab kapasitas survival of the fittest sudah tak mencukupi lagi.
Kelambanan dan ketidakpastian soal penentuan susunan kabinet adalah contoh
aktual kurangnya kapasitas survival of the fastest, padahal di kantongnya
sudah tersedia hak prerogatif sebagai presiden.
Keempat, last but not least-perlu dipertimbangkan sebuah pertanyaan
reflektif; bisakah SBY mengubah diri, mentransformasi diri, untuk jauh
lebih decisive dalam menunjang profesionalisme pribadinya-khususnya dalam
masa evaluasi 100 hari ini? Itulah yang membuat sebagian kalangan mulai
pesimistis dan skeptis. Sebab secara psikologis, kita bisa mengadaptasi
konsep William James yang pernah mengisyaratkan tentang hal ini. Umumnya
manusia, apalagi para pemimpin, pada batas-batas usia lima tahunan ke atas
akan cenderung mempunyai karakter seperti gips, yang sulit untuk melunak
lagi (berubah ke arah lebih baik).
Di balik tantangan obyektif permasalahan multidimensi bangsa, SBY
mempunyai tantangan subyektif permasalahan pribadi untuk menyelesaikan
gaya kepemimpinannya yang cenderung menjadi pemimpin selebritis sekaligus
the indecisive leader. Tantangan obyektif tersebut tak mungkin dihadapi
dengan kedua gaya kepemimpinannya itu.
Baiklah Presiden, di sela kesibukan luar biasa sebagai presiden baru,
semoga masih sempat merenungkan seluk-beluk "psikologi pesona" ini! ►Kompas
Jumat, 22 Oktober 2004
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
== 1
2
3 4
5 6 7 8 9 10
== |
|