| |
C © updated
13122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr sh |
|
| |
Nama:
Herris B. Simandjuntak
Lahir:
Pematang Siantar, 9 Januari 1950
Pendidikan:
- Pernah kuliah di Akademi Usaha Perikanan Jakarta
- Alumni Universitas Krisnadwipayana Jakarta
- Alumni beasiswa pendidikan di Glasgow Caledonian Univesity,
Department of Banking and Insurance, Glasgow, Skotlandia
- Magiter Manajemen dari Prasetya Mulya Business School
Pengalaman Pekerjaan:
- Tahun 1977: PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo)
- 1993-1995 : Kepala Divisi Reasuransi PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo)
- 1995-1996 : Kepala Divisi Klaim PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo)
- 1996-2001 : Managing Director PT Asuransi Allianz Utama Indonesia
mewakili PT Jasindo
- Tahun 2001: Dirut Jasindo
- Tahun 2001: Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya
- Dosen pada Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti
Pengalaman Organisasi:
- Wakil Ketua Bidang Pengembangan Industri Asosiasi Asuransi Jiwa
Indonesia (AAJI)
- Ketua Bidang Litbang Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI)
Penghargaan:
- Meraih kualifikasi profesional, Associate of the Chartered
Insurance Institute (ACII), London (1989)
- Ahli Asuransi Kerugian, Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia
(1996)
- Chartered Insurer, the Chartered Insurance Institute, London, tahun 1997
Sumber:
= Sinar Harapan
|
|
| |
|
|
|
|
Herris B. Simandjuntak
Keteladanan Pintu Keberhasilan
Semenjak menjadi CEO PT.Asuransi Jiwasraya tahun 2001 lalu, Herris B.
Simanjuntak bertekad menjadikan Jiwasraya sebagai perusahaan asuransi jiwa
komersial terbesar di Indonesia, serta menjadi pemain yang tidak hanya di
pasar domestik, tetapi juga menjadi pemain di tingkat regional Asia
Pasifik. Sebagai agen perubahan dia menekankan dua hal penting yaitu
menjadi teladan dan menerapkan prinsip good corporate governance di
Jiwasraya.
Simanjuntak, kelahiran Pematang Siantar, 9 Januari 1950, ini dalam setiap
mengawali kepemimpinannya selalu dengan cara memberi keteladanan.
Menurutnya, jika ingin sukses memimpin suatu perusahaan harus memberi
keteladanan dan menerapkan prinsip good corporate governance. Tanpa
keteladanan, menurutnya, perubahan apa pun yang dilakukan tidak akan
berdampak besar bagi perusahaan. Prinsip itu jugalah yang dipegangnya
ketika dipercaya memimpin PT. Asuransi Jiwasraya, perusahaan asuransi
milik negara (BUMN) yang mempunyai aset Rp 2,5 triliun itu.
”Pada akhirnya yang terpenting adalah keteladanan. Kita ngomong ke sana ke
mari, kalau kita tidak bisa memberi keteladanan yang baik, jangan mimpi
berhasil. Jadi sebenarnya memimpin perusahaan tidak ruwet-ruwet banget,
asal kita bisa memberikan keteladanan, dan melakukan good corporate
governance, maka sebagai Chief Executive Officer (CEO) bisa
berhasil,” tuturnya.
Berbagai cara diusahakannya untuk memajukan perusahaan yang telah berusia
140 tahun itu. Berbicara di hadapan publik, juga dijadikannya sebagai
ajang promosi gratis untuk perusahaan. Menurutnya, setidaknya dengan cara
itu dia bisa mengangkat citra perusahaan sebagai perusahaan profesional.
Dengan tujuan itu pula, maka dia sangat rajin menjadi pembicara publik.
Bahkan kepada anak buahnya, ia juga mewanti-wanti agar mengambil setiap
kesempatan menjadi pembicara, yang tentu saja untuk urusan asuransi.
”Saya bilang ke teman-teman di daerah, kalau ada seminar di universitas
dan diminta bicara, kalian maju, jangan pikirkan honornya. Itu nanti akan
menjadikan citra, bahwa perusahaan ini merupakan perusahaan profesional,”
tuturnya.
Lagi-lagi demi menciptakan citra Jiwasraya sebagai perusahaan yang terbuka,
transparan dan profesional, alumni Universitas Krisnadwipayana Jakarta ini
juga paling gampang dihubungi, khususnya wartawan. Di mana pun dia berada,
entah di luar kota atau di luar negeri, kalau ada wartawan menghubungi via
telepon tak bakal ditolaknya. Sehingga banyak tulisan dan hasil
wawancaranya menghiasi beberapa media. Dan uniknya, tulisan-tulisan
tersebut dijadikannya sebagai media promosi bagi agen-agen Jiwasraya dan
ternyata sangat membantu meyakinkan calon nasabah. ”Mereka bahkan meminta
saya agar sering menulis di media,” katanya menambahkan.
Bagi pria yang pernah kuliah di Akademi Usaha Perikanan Jakarta, ini dunia
asuransi bukan dunia baru lagi. Sejak tahun 1977, dia sudah meniti karier
di PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), kemudian tahun 1993-1995 sudah
dipercaya menjabat Kepala Divisi Reasuransi, dan tahun 1995-1996 menjadi
Kepala Divisi Klaim. Selanjutnya ia ditunjuk menjadi Managing Director PT
Asuransi Allianz Utama Indonesia (1996-2001) mewakili Jasindo yang juga
memiliki saham 40 persen di perusahaan tersebut. Dan terakhir sempat
menduduki posisi teratas di PT Asuransi Jasindo tersebut yakni sebagai
Direktur Utama selama enam bulan sebelum kemudian dipercaya memimpin PT
Asuransi Jiwasraya perusahaan asuransi yang telah berusia 140 tahun itu.
Pengalaman-pengalaman selama berkarier di asuransi tersebut khususnya di
PT Asuransi Alianz Utama Indonesia, perusahaan asuransi patungan itu, dia
mengaku banyak belajar terutama dalam penerapan prinsip good corporate
governance, yang menjadi modalnya dalam memimpin Jiwasraya.
Herris yang mendapat beasiswa pendidikan di Glasgow Caledonian Univesity,
Department of Banking and Insurance, Glasgow, Skotlandia ini mengaku bahwa
ketika baru saja memimpin Jiwasraya tahun 2001 silam, ia merasa diwarisi
sejumlah beban berat. Sebagaimana juga merupakan beban yang dialami BUMN
pada umumnya, Jiwasraya tak luput dari citra yang kurang sedap, dimana
disebutkan bahwa BUMN itu lamban, SDM banyak tetapi kualitasnya rendah,
birokratis dan juga sering diasosiasikan sebagai lahan KKN, pencitraan
yang sedikit banyak berpengaruh terhadap citra Jiwasraya.
Demikian juga mengenai citra asuransi pada umumnya yang memang kurang
begitu bagus sehingga masih belum dipercaya masyarakat. Sering disebutkan
bahwa asuransi pada umumnya, ‘manis di depan pahit di belakang’,
pengurusan klaim yang susah, proses yang berbelit-belit, kurang ada
jaminan, dan pelayanan yang tidak memuaskan. Itu semua merupakan beberapa
citra negatif di bidang asuransi.
”Kalau seseorang masuk menjadi CEO di BUMN, yang pertama dihadapi adalah
masalah image BUMN. Citra BUMN itu banyak jeleknya, meskipun kita sudah
melakukan perubahan tetapi orang masih menduga-duga, ah BUMN. Tetapi apa
boleh buat, itu sudah merupakan beban kita. Kemudian kita menghadapi
tantangan kedua yaitu citra asuransi juga tidak bagus-bagus banget,”
ujarnya.
Pria yang juga Dosen pada Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti ini
mengaku beban lain yang dihadapinya selain citra BUMN dan perusahaan
asuransi umumnya adalah menyangkut citra perusahaan Jiwasraya sendiri.
Hasil sebuah survei kecil-kecilan menyebutkan, asuransi Jiwasraya cocoknya
untuk orang tua, logonya terkesan kuno dan kaku, birokratis, kerjanya
lambat, dan kurang dikenal.
”Jadi ketika ditunjuk pemerintah menjadi CEO Jiwasraya, saya menghadapi
tiga image ini. Citra BUMN yang kurang baik, citra industri asuransi yang
kebanyakan negatifnya dan citra terhadap Jiwasraya sendiri,” lanjutnya.
Tetapi tantangan sebenarnya baginya adalah kecenderungan market share dari
Jiwasraya yang menurun tiap tahunnya, meskipun dari segi pendapatan premi
meningkat 10-15 persen. Penurunan market share ini terjadi dipengaruhi
kenaikan rata-rata pertumbuhan industri asuransi yang naik 25-30 persen
per tahunnya. Pertumbuhan yang membuat persaingan merebut pasar menjadi
sangat ketat.
Khusus untuk asuransi jiwa, Jiwasraya masih berada di urutan tiga besar
dari 61 perusahaan asuransi yang meraih pendapatan premi tertinggi. Tetapi
perusahaan asuransi lain terutama perusahaan asuransi patungan terus
membuntuti dan menempel ketat posisi Jiwasraya tersebut. Menurutnya, jika
ingin tetap bersaing dengan perusahaan lain, tidak ada jalan lain kecuali
melakukan perubahan.
Dan yang menjadi tantangan menurutnya adalah, bagaimana
mengangkat citra Jiwasraya agar makin membaik, produktivitas meningkat
dan bisa mengejar market share Jiwasraya agar tumbuh minimun sebesar
rata-rata pertumbuhan industri. ”Kita melihat sebenarnya pesaing
terdekat kita adalah swasta asing (joint venture). Sedangkan, kalau yang
lokal masih bisa kita tandingi,” katanya.
Menyadari peta dan iklim industri asuransi jiwa saat ini dan mendatang
sudah jauh berbeda maka pembenahan citra perusahaan merupakan keharusan.
Jiwasraya bertekad menjadi perusahaan asuransi jiwa komersial terbesar
di Indonesia, serta menjadi pemain tidak hanya di pasar domestik, tetapi
juga menjadi pemain di tingkat regional Asia Pasifik. Inilah visi
Jiwasraya sekaligus visi Simanjuntak yang akan dipertajam.
Menurut penyandang gelar Magister Manajemen dari Prasetya Mulya Business
School ini, upaya masuk pasar regional itu telah mulai dirintis. Tapi
sementara masih menunggu perangkat pendukung seperti perbankan. Nantinya,
mungkin di Timor Leste dulu yang pertama dibuka, kemudian Kuching,
Serawak dan Papua Nugini. Setelah semua itu berjalan bagus, selanjutnya
baru ekspansi lebih jauh. ”Intinya, Jiwasraya ingin berubah menjadi
pemain global,” tuturnya.
Mendengar pencitraan Jiwasraya yang disebutkan cocoknya untuk orang tua,
tidak dikenal dan terkesan kaku dan kuno maka diapun melakukan terobosan
dengan mengganti logo perusahaan menjadi logo yang memberi kesan modern
dan dinamik. Melalui perubahan tersebut, diharapkan timbul kesan menarik,
optimisme dan perubahan di bidang pelayanan di semua jajaran.
Di bidang target pasar, Jiwasraya juga mulai memperluas. Kalau
sebelumnya ‘captive market’ Jiwasraya adalah instansi pemerintah seperti
Pemerintah Daerah, DPRD, Bank-bank Pembangunan Daerah, BUMN, dan BUMD,
kini akan diperluas supaya bisa mencakup segmen usia 25-45 tahun.
”Diharapkan dengan perubahan identitas perusahaan, kita akan menjadi
perusahaan asuransi jiwa yang profesional. Ke depan, kita juga tidak
terlalu mengunggul-unggulkan bahwa Jiwasraya merupakan perusahaan
asuransi jiwa milik negara. Kita hanya mau tonjolkan bahwa Jiwasraya
merupakan perusahaan asuransi jiwa yang profesional, kuat, dikenal dan
dipercaya masyarakat,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan dan mencapai visi tersebut, Ketua Bidang Litbang
Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI), ini sudah menyiapkan
strategi dengan apa yang dinamakannya 3 P (Product, Process dan
People).
Soal produk, Jiwasraya harus terus menciptakan produk-produk yang
kompetitif dengan mempunyai nilai yang tinggi. Belum lama ini Jiwasraya
telah mengeluarkan produk unit link (kombinasi antara asuransi dan
investasi) yang dinamakan JS Link. Respons pasar luar biasa terhadap
produk ini, bahkan saat ‘soft launching’ saja sudah Rp 1,1 miliar premi
masuk. Dalam waktu dekat Jiwasraya juga akan mengeluarkan produk
bancansurance kerja sama dengan sejumlah bank. Selain itu akan
dikeluarkan juga health insurance yang lebih kompetitif.
Sedangkan proses bisnis seperti mulai dari permintaan penutupan asuransi,
penerbitan polis, pembayaran premi, penyelesaian klaim, perpanjangan
polis dan yang lainnya, akan dilakukan secara efisien. Jiwasraya bahkan
telah menggunakan sistem online XL Indo (untuk pertanggungan perorangan)
dengan 17 kantor-kantor regional dan 70 kantor cabang. Untuk keperluan
ini investasi yang telah dikeluarkan mencapai Rp 6 miliar. ”Kita bisa
menjadi pelopor teknologi informasi di asuransi jiwa. Sejauh ini belum
ada perusahaan asuransi yang menggunakan teknologi sejenis ini,” ujarnya.
Di samping itu, Jiwasraya juga mengembangkan GL Indo, sistem online
untuk pertanggungan kumpulan, yang selesai pertengahan 2003. Kemudian
dilanjutkan dengan mengembangkan mengembangkan PL Indo, untuk
pertanggungan pensiun.
People, diartikan sebagai SDM yang berkualitas. Selain pendidikan dan
latihan untuk karyawan, Jiwasraya juga meningkatkan kesejahteraan yang
cukup signifikan bagi karyawannya. ”Bagi karyawan kan yang penting itu,
kalau kita ngomong perubahan-perubahan segala macam, kalau income-nya
tidak naik, mereka akan bilang ngomong doang nih,” kata Herris.
Wakil Ketua Bidang Pengembangan Industri Asosiasi Asuransi Jiwa
Indonesia (AAJI) ini mengatakan bahwa ketiga strategi tersebut bisa
sukses dijalankan kalau prinsip-prinsip good corporate governance
seperti transparansi, fairness dan tanggung jawab bisa diterapkan di
Jiwasraya. Lebih penting lagi adalah keteladanan dari pemimpinnya. Tanpa
itu, jangan bermimpi perubahan-perubahan yang dilakukan akan berhasil.
”Misalkan kalau rapat dimulai jam sembilan, ya... bosnya sebelum jam itu
harus sudah datang, tidak harus menunggu. Kalau dulu budayanya biasanya
telat. Kalau rapat mulai pukul sembilan, bosnya datang pukul sembilan
lewat atau pukul sepuluh. Sekarang harus on time, anak buah sudah
lengkap atau belum rapat dimulai. Akhirnya yang berikutnya, anak buah
tidak ada yang terlambat, takut. Juga kalau tidak ingin ada KKN, maka
pemimpinnya jangan KKN,” katanya.
Penggemar olahraga golf ini merasa perubahan manajemen yang dilakukan di
Jiwasraya sudah mulai terasa efeknya, meski secara kuantitatif belum
terlihat. Tetapi dalam jangka panjang 3-4 tahun mendatang, perubahan
tersebut akan menjadikan Jiwasraya sebagai perusahaan yang kuat dan
profesional.
Mengenai kinerja Jiwasraya, sampai akhir tahun 2002 terlihat terus
meningkat setiap tahunnya. Akhir Desember 2002, perusahaan ini mempunyai
Risk Based Capital (semacam rasio kecukupan modal di bank) yang
lumayan tinggi 109,51 persen atau melebihi ketentuan minimum yang
ditentukan pemerintah sebesar 75 persen. Bahkan ketentuan minimum tahun
2003 sebesar 100 persen pun telah terlampaui. ”Memang RBC kita disetel
tidak perlu terlalu tinggi. Kalau terlalu tinggi itu malah modalnya
banyak yang tidak jalan (idle),” ungkapnya menanggapi peningkatan RBC
tersebut.
Demikian juga perolehan Jiwasraya dari premi terus meningkat tiap
tahunnya. Jika pada tahun 2001 premi yang bisa diraih Rp 908,715 miliar,
maka pada tahun 2002 melambung menjadi Rp 955,001 miliar. Melihat
perkembangan tersebut maka untuk tahun 2003, Jiwasraya berani membuat
target fantastis sebesar Rp 1,4 triliun.
Dalam hal investasi, Jiwasraya masih dominan menginvest dalam bentuk
deposito. Dari total investasinya sebesar Rp 2,25 triliun pada tahun
2003 misalnya, sekitar 40-50 persen masih berupa deposito, 20 persen di
obligasi, sekitar 15 persen di properti, dan sisanya ada di reksadana,
pinjaman pemegang polis dan saham.
”Problemnya di asuransi jiwa sekarang, ‘kan idealnya kalau kita punya
kewajiban jangka panjang maka investasinya juga jangka panjang. Tetapi
di Indonesia, instrumen investasinya terbatas, sehingga kebanyakan
liability kita panjang tetapi kita investasikan dalam jangka pendek”.
Ucap pria peraih kualifikasi profesional, Associate of the Chartered
Insurance Institute (ACII), London (1989), Ahli Asuransi Kerugian,
Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (1996), dan Chartered
Insurer, the Chartered Insurance Institute, London, (1997) ini
menjelaskan perihal investasi tersebut.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|