| |
C © updated 12032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/pantau |
|
| |
Nama:
Siti Latifah Herawati Diah
Lahir:
3 April 1917
Suami:
B.M. Diah
Anak:
3 (Tiga) orang
Karir Media:
Pertama kali saat berusia 22 tahun sebagai stringer di kantor
berita United Press International (UPI)
Nama Media:
“Indonesia Observer” harian berbahasa Inggris dia terbitkan
pertamakali tahun 1955
Keanggotaan Organisasi:
Komisi Nasional (Komnas) Perempuan
Olahraga:
Mengikuti program klub osteoporosis dan bermain bridge
Alamat Rumah:
Taman Patra X/10, Kuningan, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
Herawati Diah
Pendiri Harian Indonesian Observer
Siti Latifah Herawati Diah kelahiran 3 April 1917 adalah pendiri harian
berbahasa Inggris Indonesian Observer (1955). Dia bersama suami B.M. Diah
adalah pelaku catatan panjang jurnalisme Indonesia. Suaminya B.M. Diah
adalah pendiri dan pemilik koran “Merdeka” yang diterbitkan pertama kali
Oktober 1945. tujuannya untuk mengisi kemerdekaan yang sudah
diproklamirkan 17 Agustus 1945.
Herawati Diah pada usia muda 22 tahun, awalnya sebagai stringer di United
Press International (UPI) sebuah kantor berita dari Negeri Paman Sam
Amerika Serikat, adalah masa pertama kali memasuki dunia jurnalisme. Pada
masa pendudukan Jepang itu pula dia resmi menikah dengan B.M. Diah.
Ketika terbetik kabar bahwa suaminya B.M. Diah mempunyai istri lagi maka
tanpa dapat terbendung “rumahtangga kemerdekaan” mereka tak urung sempat
retak jadinya. Namun yang paling membuat Herawati pernah sedih adalah
kenyataan bahwa “penanda terpenting” kehidupan perkawinan mereka yakni
harian “Merdeka” harus mati suri untuk beberapa saat lamanya.
Kesedihan itu belakangan secara perlahan namun pasti telah berubah menjadi
sedikit senyum lega. Pasalnya pembenahan manajemen telah berhasil
menghidupkan kembali harian “Merdeka”. Namun sekaligus dia harapkan pula
agar manajemen jangan hanya bisa membuat harian tersebut siuman melainkan
harus mampu jaya berkibar kembali sebagaimana di awal Kemerdekaan R.I.
saat harian “Merdeka” menempati posisi sebagai harian terpenting yang
mengawal api semangat kemerdekaan.
Sebagai orang media Herawati tahu betul bahwa bisnis media sekarang tak
lagi sesederhana tempo doeloe. Belakangan di era reformasi suratkabar baru
berhak lahir seperti jamur di musim hujan. Inilah yang membuat Herawati
tetap berharap-harap cemas masih adakah pembaca dan peminat lama harian “Merdeka”.
Di usia sepuhnya wanita tokoh pers tiga zaman ini menghabiskan sebagian
besar waktu uzurnya di sebuah rumah besar di kawasan elit Taman Patra
X/10, Kuningan, Jakarta Selatan. Ketiga orang anaknya sudah mandiri semua
bahkan sukses dalam kehidupan di dunia masing-masing. Selain di rumah dia
masih mempunyai beragam aktivitas luar rumah. Untuk memudahkan segala
sesuatunya dia dibantu oleh seorang sekretaris untuk mengatur berbagai
pekerjaan dan aktivitas luar rumah sehari-hari. Seperti menghadiri rapat
Komnas Perempuan, mengikuti program klub osteoporosis, atau bermain
bridge.
Karena termakan usia Herawati mulai mengalami gangguan osteoporosis atau
perapuhan tulang sehingga memaksanya untuk mengurangi aktivitas fisik.
Untuk mengatasi gangguan fisik itu dia masuk menjadi anggota klub
kesehatan osteoporosis di Senayan. Biasanya setiap hari Selasa, Kamis, dan
Sabtu pukul enam pagi Herawati sudah tiba di Senayan mengikuti program
klub osteoporosis tersebut.
Perempuan yang kendati telah jauh melewati usia 80 tahun namun masih saja
suka memakai kain kebaya ini sering tampak terlihat menghadiri rapat-rapat
di Komisi Nasional (Komnas) Perempuan. Selain itu bersama beberapa orang
ibu-ibu penggemar bridge dia ikut bergabung berkumpul-kumpul dan bermain
seminggu sekali secara bergiliran di rumah para anggotanya. Di perkumpulan
ibu-ibu penggemar bridge ini usia rata-rata anggota sudah jauh di atas 70
tahun sehingga tidak mengherankan jika mereka rata-rata fasih berbicara
dalam bahasa Belanda atau bahasa Inggris atau kedua-duanya. ►ht,
dari berbagai sumber terutama Pantau
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|