A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Wawancara
 ► Berita
 ► Kegiatan Lain
 ► Galeri
 ► Link
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
  C © updated 10032004  
   
  ► e-ti  
  Nama:
Ir. M. Hatta Rajasa
Lahir:
Palembang, 18 Desember 1953
Agama:
Islam
Jabatan:

2001-2004: Menteri Riset dan Teknologi Kabinet Gotong Royong
2000-Sekarang Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (DPP-PAN)
 
 
     

==   1    3   4    6   7   8   9   ==

Hatta Rajasa (4)

PAN Membangun Rasa Tenteram


Partai Amanat Nasional (PAN) menargetkan menjadi pemenang ketiga dalam Pemilu Legislatif dan optimis akan mengantarkan Ketua Umumnya, Prof Dr. H.M. Amien Rais memenangkan Pemilu Presiden 2004. Sekretaris Jenderal PAN Ir Hatta Rajasa mengatakan, bagi PAN, masalah human security (bukan sekadar keamanan fisik tetapi mencakup rasa tenteram orang) adalah persoalan mendasar bangsa ini. Maka PAN bertekad bagaimana membangun masyarakat yang terbebas dari rasa ketakutan dan rasa kelaparan.

Hatta Rajasa yang juga menjabat Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kabinet Gotong-Royong, diwawancarai TokohIndonesia DotCom dalam tiga kali kesempatan. Wawancara pertama mengenai perjalanan hidup (biografi) dan visi pribadinya. Wawancara kedua mengenai bidang tugasnya sebagai Menristek. Dan, wawancara ketiga mengenai politik dalam kapasitasnya sebagai Sekjen DPP PAN. Kesempatan wawancara ini tidak terlepas dari komitmen pribadinya sebagai seorang putera bangsa negarawan yang harus mampu menempatkan diri pada posisi seharusnya.

Ia seorang politisi yang memegang prinsip tidak akan mendahulukan kepentingan partai manakala duduk sebagai menteri atau pejabat negara. “My loyality to the party end when loyality to the state began,” katanya. Ia benar-benar menghindari terjadinya abuse of power. Percakapan pertama mengenai biografi dan visi pribadinya kami tulis dalam Rubrik Tokoh Utama dengan judul: Hatta Rajasa Sosok Politisi Negarawan.

Dalam percakapan bidang riset dan teknologi (ristek), ia menekankan seharusnya bangsa ini menempatkan inovasi sebagai salah satu ukuran kinerja pembangunan ekonomi. Rapuhnya perekonomian kita adalah karena belum mengedepankan inovasi sebagai salah satu ukuran kinerja pembangunan ekonomi. Hasil percakapan bidang ristek ini kami sajikan di bawah subjudul wawancara: Inovasi Ukuran Kinerja Ekonomi.

Sementara dalam percakapan bidang politik, ia memaparkan berbagai hal, antara lain mengenai pluralisme, dikotomi Islam-Nasionalis, pendekatan prosperiti, koalisi partai dalam rangka pencalonan presiden, proses internalisasi demokrasi dan rekutmen politik yang sehat di tubuh partai politik, serta posisi PAN yang unik sebagai partai berbasis Muhammadiyah dan berasas Pancasila. Petikan percakapan bidang politik ini kami angkat menjadi judul utama Rubrik Wawancara: PAN Membangun Rasa Tenteram.

Berikut petikan percakapan Hatta Rajasa dengan wartawan Tokoh-Indonesia Yusak, Marjuka, Atur Lorielcide, Haposan Tampubolon dan Ch Robin Simanullang dalam tiga kesempatan tersebut:

M-TI: Kita mulai pembicaraan tentang pola kaderisasi dan konsolidasi PAN menghadapi Pemilu 2004 yang semakin ketat persaingannya. Apa yang bisa Anda jelaskan?

HATTA: Ya, saya mulai dari pilihan kita secara politik sejak reformasi bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang betul-betul ingin mempraktekkan demokrasi secara benar. Dalam hal ini keberadaan partai politik menjadi ujung tombak bagi negara demokrasi. Partai Amanat Nasional (PAN) menyadari betul, bahwa tanpa ada suatu internalisasi demokrasi dan rekutmen politik yang sehat di tubuh partai politik, partai politik manapun, maka konsolidasi demokrasi dan modernisasi demokrasi itu sulit tercapai.

Nah, PAN dengan menyadari akan hal tersebut sangat mempersiapkan betul masalah rekrutmen politik dan pengkaderan ini. Misalnya, untuk menghadapi Pemilu, jauh-jauh hari PAN sudah menyiapkan Badan Pemenangan Pemilu. Dalam badan tersebut termasuk rekrutmen politik, rekrutmen yang membuka akses tidak hanya kepada anggota partai tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat, untuk mendaftarkan dirinya menjadi calon legislatif (caleg) melalui PAN. Oleh sebab itu kita menyusun mekanisme rekrutmen caleg yang diputuskan dalam rapat kerja nasional. Disusun tata cara rekrutmen caleg yang memberikan skoring kepada setiap orang yang menjadi caleg.

Pertimbangan dalam rekrutmen itu menyangkut hal moralitas, kapabilitas, akseptibilitas serta keseimbangan pluralisme dan isu jender. Kita menetapkan kriteria itu sebagai sesuatu yang mendasar.

Inilah kira-kira hal yang sangat penting, di samping tentu partai politik itu kan tidak hanya mempersiapkan diri untuk Pemilu. Keliru kalau partai politik dikiranya hanya mempersiapkan diri untuk Pemilu walaupun itu hal signifikan bagi partai politik. Tidak ada partai politik yang didirikan untuk tidak mempersiapkan dirinya menuju kepada sebuah kekuasaan baik legislatif maupun eksekutif, karena memang arus partai politik ke situ.

Namun tidak hanya untuk itu, sebuah partai politik juga haruslah berfungsi sebagai wahana pendidikan politik masyarakat. Oleh sebab itu, PAN juga mempersiapkan diri untuk melakukan fungsi-fungsi pemberdayaan masyarakat dalam segala aspek. Apakah itu menyangkut masalah hukum, politik, ekonomi dan sebagainya. Dengan adanya kader-kader yang memiliki kemampuan di bidangnya itu, partai dapat berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat, tidak hanya sekedar menuju Pemilu.

M-TI: Apa saja, kriteria yang menonjol untuk menetapkan seseorang menjadi caleg PAN?

HATTA: Saya katakan tadi, yang pertama dia harus memiliki moralitas. Moralitas ini harus betul-betul menjadi ukuran. Kita tidak mungkin mencalegkan seseorang yang moralitasnya menjadi persoalan di publik. Apakah dia pencoleng, apakah dia pernah melakukan suatu tindakan kriminal dan sebagainya.

Kedua menyangkut akseptabilitas. Dia diterima oleh masyarakat karena berbuat untuk masyarakat. Akseptabilitas ini dicerminkan dalam bentuk rekomendasi atau dukungan dari bawah.

Ketiga adalah kapabilitas. Kapabilitas ini di PAN ditunjukkan tingkat pendidikan formal atau kesarjanaan yang mencerminkan kapabilitas dan tingkat intelektualitas seseorang di bidang tertentu, termasuk tingkat kepekaan sosialnya. Tingkat pendidikan itu dibobot, S-1, S-2 dan S-3 diberi bobot.

Keempat, kita juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pluralisme. Karena partai ini adalah partai yang terbuka, partai yang lintas agama, lintas etnik atau plural, maka kita harus menerima seluruh kelompok etnik, agama dan sebagainya.
Juga, kelima, memperhatikan masalah jender. Masalah kuota 30 persen perempuan, kita betul-betul inginkan itu.

Di samping itu, kita juga memberikan peluang kepada mereka-mereka yang belum menjadi anggota PAN sebesar 40 persen. Kita sediakan, silakan mendaftar, dan mereka diberikan hak untuk ikut dalam Pemilu, dan kalau dia mendapatkan suara bilangan pembaginya maka otomatis dia akan menjadi caleg dari PAN.

M-TI: Dari mekanisme penja-ringan Caleg itu apakah hasil yang dicapai maksimal?


HATTA: Menurut saya, tidak ada di dalam proses politik itu sesuatu yang maksimal. Karena kita selalu mengupayakan setiap hari harus lebih baik. Jadi dalam proses penjaringan ini tidak ada satu partai politik pun yang tidak mengalami hambatan-hambatan. Misalkan, saya ambil contoh saja, kalau di satu daerah pemilihan hanya diprediksikan kita itu mendapatkan dua kursi, maka semua orang yang mendaftar di situ ingin memperebutkan nomor urut satu dan dua. Kalau kita memiliki empat kader terbaik di situ maka dua kader yang lain itu harus kita hitung ke mana.

Dan di situlah fungsi skoring bekerja. Walaupun skoring yang bersifat kuantitatif itu hanya salah satu penilaian, karena ada juga penilaian yang bersifat kualitatif. Kualitatif, yang judgment kita terhadap seseorang itu tidak bisa atau sulit dikuantifisir. Anda mau mengukur moralitas seseorang yang sama-sama terjaga, Anda mau beri poin berapa, 90, 80, tidak bisa (sulit). Maka yang bersifat kualitatif ini ditentukan oleh board.

Penilaian bersifat kualitatif inilah yang sering berpotensi menimbulkan konflik internal partai. Jadi, untuk mencegah timbulnya konflik internal partai dalam rangka rekrutmen politik, (terutama proses pencalegan) itu maka Undang-undang harus diubah menuju pemilihan langsung secara distrik terbuka, dimana siapa yang mendapat suara terbanyak itulah yang terpilih menjadi anggota legislatif. Sedangkan urutan itu hanya mencerminkan abjad nama saja. Kalau begitu tidak ada konflik lagi, dan semua orang akan bekerja untuk diterima oleh masyarakat. Menurut saya, kita harus menuju ke situ.

M-TI: Apakah platform PAN sesuai dengan prinsip itu?

HATTA: Oh iya, platform kita mengatakan begitu. Coba Anda lihat kemarin di legislatif tentang hal itu. Kita minta divoting, dan kita kalah, tidak apa-apa. Tapi kita sangat konsisten untuk memperjuangkan itu. The next mudah-mudahan berhasil.

M-TI: Kemudian, sebagai partai, PAN pastilah dinamis, kehidupannya penuh tantangan, bukan hanya dari faktor eksternal tapi juga dari faktor internal. Mungkin ada masalah internal, termasuk dalam proses rekrutmen caleg yang menjadi faktor penyebab timbulnya konflik di tubuh PAN?

HATTA: Saya kira ini hampir menjadi persoalan semua partai politik, dimana para pengurus terasnya ingin menjadi caleg pada nomor urut jadi. It’s fine, it’s oke, nggak ada masalah soal itu. Akan tetapi, menurut saya, manakala yang melakukan penilaian itu adalah pengurus partai, dan kemudian pengurus partai itu juga merupakan calon, mau tidak mau, seobjektif apapun akan menimbulkan persoalan internal. Kembali saya katakan, bahwa hampir semua partai politik mengalami persoalan itu walaupun sebetulnya proses bottom up itu terjadi. Mereka dari bawah didukung dan sebagainya, tetapi pada akhirnya untuk tingkat pusat penilaiannya dilakukan oleh pusat.

Dalam hal ini, PAN memberi kewenangan penuh kepada DPW dan DPD pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk melakukan seleksi sesuai aturan dan juklak tata cara yang sudah disepakati. Kecuali kalau dia menyimpang atau membangkang dari tata cara pencalegan dan skoring yang kita tetapkan, maka kita bisa menegor dan mengambil tindakan agar sesuai dengan garis partai.

M-TI: PAN mengutip uang sejumlah tertentu dari Calegnya dan sempat dikritisi oleh para pengamat, apa latar belakangnya?

HATTA: Saya kira itu pemikiran yang salah karena informasinya tidak pas. PAN mewajibkan kepada setiap caleg untuk membiayai dirinya sendiri. Misalkan mulai dari proses penjaringan caleg, proses pendaftaran dan sebagainya. Oleh sebab itu kita hitung, proses administratif itu kira-kira jumlahnya berkisar antara dua juta hingga tiga juta rupiah. Kita tidak mungkin membiayai, sebab partai ini tidak mempunyai uang untuk membiayai sekian banyak orang daam proses administratif calegnya.

Nah, kemudian mereka (caleg) juga punya kewajiban untuk membiayai kampanyenya sendiri nanti. Maka silakan hitung sendiri, untuk beli bendera, kaos dan sebagainya. Ada yang mengancar-ancar biayanya 10 sampai 15 juta. Silakan, cuma jangan melewati angka yang ditetapkan oleh undang-undang. Semua partai politik juga begitu.

M-TI: Seandainya oleh rakyat Indonesia kader PAN dipercaya untuk memimpin bangsa, apa grand design PAN?

HATTA: PAN yang telah menetapkan Pak Amien Rais sebagai calon presiden memiliki apa yang disebut dengan 17 langkah membangun bangsa ini. Di situ ada persoalan-persoalan mendasar yang menjadi sorotan bagi PAN. Dimulai dari hal yang paling filosofis, yang sangat mendasar.

Ke-17 langkah itu adalah (1) mempertahankan dan memperkuat NKRI; (2) meningkatkan kualitas pendidikan; (3) meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi; (4) berpihak kepada petani dan nelayan; (5) memperhatikan kesejahteraan kaum pekerja; (6) memberantas korupsi; (7) melepaskan diri dari ketergantungan luar negeri; (8) membangun perekonomian nasional yang tangguh secara realistis; (9) memantapkan kehidupan demokrasi dengan memberantas segala bentuk diskriminasi; (10) membangun pemuda; (11) mempertahankan kelestarian alam; (12) mengupayakan rekonsiliasi nasional untuk memperkokoh persatuan dan kerukunan nasional; (13) membangun politik luar negeri yang bebas dan akfif; (14) memudayakan sikap kritis dan korektif; (15) kedaulatan harus dikembalikan kepada rakyat berdasarkan konstitusi; (16) meneegakkan HAM; dan (17) melindungi seluruh aspek budaya.

Ke-17 langkah itu merupakan penjabaran tujuan kita bersama dalam bernegara (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Dimana pertama disebutkan, melindungi segenap tumpah darah. Artinya, setiap insan rakyat Indonesia harus merasa tenteram dan aman hidup di wilayah NKRI ini.

Maka PAN menganggap, masalah human security adalah persoalan yang mendasar. Human security itu bukanlah dalam arti kata sekadar keamanan secara fisik dengan memperkuat polisi dan menjaga orang, bukan demikian. Human security yang kita maksud mencakup membangun rasa tenteram orang, membangun masyarakat yang terbebas dari rasa ketakutan dan rasa kelaparan. Ini antara lain yang esensial.

Kemudian yang kedua, mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, masalah pendidikan ini sangat fundamental buat PAN. Tidak mungkin kita mencerdaskan kehidupan bangsa manakala masalah pendidikan disepelekan. Masalah pendidikan ini, baik kualitas maupun kesempatan, harus sama bagi seluruh masyarakat. Bagaimana kita memberikan masyarakat miskin untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang memadai.

Dan ketiga, memajukan kesejahteraan umum. Artinya ada spiritual dan material yang mencukupi, yang memadai. Itu berarti kegiatan ekonomi masyarakat harus dibangun. PAN menyikapi betul pembangunan ekonomi masyarakat, pengangguran dan kemandirian bangsa. Juga meningkatkan kembali rasa percaya diri masyarakat dan bangsa kita, meningkatkan kembali kehormatan bangsa di mata internasional.
Dan kalau Pak Amien jadi presiden, maka agenda 100 hari itu akan banyak ke sana dan itu harus straight kelihatan.

M-TI: Salah satu dari 17 lang-kah PAN tadi mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final, kemudian salah satu kriteria caleg adalah memperhatikan pluralisme, lalu, bagaimana pendapat Anda tentang masih adanya dikotomi faham kebangsaan (nasionalis) dan agama (Islam)?

HATTA: Ini memang menarik. Ini realitas di masyarakat kita yang tumbuh demikian, dan saya termasuk orang yang tidak begitu setuju dengan pendekatan konfigurasi seperti itu. Menurut saya, kenapa pada waktu dahulu konstituante gagal mencapai suatu kesepakatan, karena tidak mencairnya antara kelompok nasionalis dan Islam sehingga ada ruang kosong di tengah. Kalau kita membuat suatu peta dua dimensi, di kanan atas itu kita ibaratkan Islam dan di kiri nasionalis pada waktu itu, kemudian ada populis ada elitis, di tengahnya kosong. Dan pendekatan ideologis seperti ini, tarik-tarikannya sangat kuat mengakibatkan tidak adanya titik temu. Walaupun ini sebuah realita, kalau menurut saya, ke depan sudah tidak bisa lagi pendekatan seperti itu.

Sebuah negara modern dimana pun, kita melihat, tidak lagi melalui pendekatan seperti itu, tapi pendekatan prosperiti, dan pendekatan program. Harus menjadi suatu ukuran bagi sebuah partai politik, sejauh mana partai politik itu mampu membawa kesejahteraan, keadilan, dan ketenteraman bagi masyarakat. Ketimbang kita hanya membuat slogan-slogan yang dalam praktek perjuangannya sama sekali nanti menyimpang dari apa yang dikonfigurasikan itu.

Oleh sebab itu, menurut saya, walaupun tahun ini tidak terhindarkan konfigurasi seperti itu, akan tetapi kita harus berjuang untuk menuju kepada mencairnya suatu pandangan-pandangan baru. Kita harus mencari pandangan-pandangan baru. Mengajak masyarakat Indonesia berpandangan dan berpendirian baru, bahwa we are in the same bout, we are equal, we are in the same vision. Jadi kita harus membangun Indonesia baru atas dasar kebersamaan itu. Dan siapa di antara kita yang memiliki program yang bisa membawa kesejahteraan masyarakat dan didukung rakyat melalui Pemilu, silakan memimpin bangsa ini. Pendekatannya, menurut saya, sudah mengarah ke situ, walaupun itu memerlukan waktu.

M-TI: Kita sebagai orang luar melihat, PAN itu lahir dengan basis Muhammadiyah tetapi dalam azas Pancasila dan seperti Anda jelaskan mempertimbangkan pula unsur pluralisme. Kalau bisa kami katakan PAN itu partai yang unik yang bisa menyebut diri sebagai partai Islam sekaligus nasionalis, apa komentar Anda?

HATTA: Ya, memang! Oleh sebab itu PAN ini harus menjadi partai tengah. Seperti saya katakan tadi, kalau konfigurasi seperti kiri-kanan nasionalis dan Islam, PAN itu memang partai tengah. Partai yang di tengah, yang harus populis, dan harus ada nilai-nilai moralitas keagamaan di dalamnya apapun agamanya. Keunikan ini, partai nasionalis iya, partai agama iya, ini sebuah modalitas. Modalitas menuju apa yang saya sebutkan tadi untuk kemudian membangun sebuah partai modern yang berkembang yang menjadi kuat karena program-program yang ditawarkannya. Saya menganggap itu sebuah modalitas, walaupun memang terkadang tarikan-tarikan itu sesuatu yang manusiawi. Di situlah pentingnya kita memanej, yang saya katakan tadi, karena kekuatannya justru di situ.

M-TI: Jadi visinya sudah jelas, bahwa Indonesia ini hanya bisa dipertahankan dengan cara pandang seperti itu, pluralisme?

HATTA: Iya. Pluralisme itu adalah sebuah kekuatan kita. Pluralisme is our strength, modalitas kita.

Sebagai pembanding, kita bisa melihat dua bangsa memanej pluralisme, yang satu berhasil yang satu tidak. Kita melihat Jugoslavia yang hancur berkeping-keping karena masalah etnik yang tidak mampu dimanej. Tapi kita melihat sebuah model pluralisme yang terbesar di dunia yaitu Amerika Serikat, berbagai macam etnik ada di situ, kadang-kadang di tentaranya kita lihat ada orang Arabnya, ada etnik macam-macam. Kita bisa belajar dari pengalaman kedua bangsa itu.

M-TI: Mengenai target perolehan suara PAN pada Pemilu Legislatif 2004?

HATTA: Target PAN masuk ke tiga besar. Kalau dulu lima besar nanti kita akan jadi tiga besar.

M-TI: Dengan tiga besar apakah sudah optimis untuk memenangkan Dr. Amien Rais menjadi RI-1?

HATTA: Memang ini sesuatu yang lain sama sekali. Kalau PAN mengatakan partainya nanti nomor tiga, it doesn’t mean that Pak Amien Rais akan menjadi nomor tiga dalam Pemilihan Presiden, it’s compeletly different. Pemilihan presiden ini adalah pemilihan one man one vote. Dimana pada pemilihan legislatif orang berada pada partainya, memilih partainya, tapi pada Pemilu presiden seseorang berada pada Partai A bisa nanti memilih presidennya dari (yang sama dengan) Partai B dan C. Nah, melihat situasi itu, maka saya sangat yakin Pak Amien akan terpilih. Saya sangat optimis, sangat optimis.

M-TI: Kenapa tidak bikin target menjadi nomor satu, untuk PAN dalam Pemilu Legislatif?

HATTA: Kami realistik. PAN ini umurnya baru tujuh tahun. Umur tujuh bulan kita berada pada lima besar, kita syukuri itu adalah sebuah modalitas. Berikutnya kita akan nomor tiga, Nanti, next election kita akan kejar ke nomor satu.

M-TI: Anda sangat optimis bahwa Pak Amien akan terpilih jadi presiden?

HATTA: Kemarin (pada SU-MPR 1999) Pak Amien Rais kalau mau sudah menjadi presiden. Ketika itu beberapa partai politik di rumah Pak Habibie sudah meminta Pak Amien sebagai calon presiden, dan saya hadir di situ sebagai saksi. Pak Habibie minta Pak Amien, Pak Wiranto sebagai Panglima ABRI sudah oke, semua sudah oke, tinggal masuk ke Senayan, MPR bersidang, selesai. Tapi apa kata Pak Amien, saya baru satu minggu menjadi Ketua MPR, saya sudah komit itu untuk Gus Dur dan saya tidak akan berubah.

Sekarang lain, sekarang ini rakyat memilih langsung. Kita tidak bisa melakukan sebuah koalisi dalam arti elit-elit politik melakukan koalisi seperti dulu. Sekarang ini rakyatnya langsung yang melakukan koalisi.

M-TI: Oke, one man one vote, tapi bagaimanapun pengaruh partai cukup signifikan terhadap keberhasilan mengantar kadernya menjadi pemimpin. Nah, bagai-mana PAN mengondisikan jalan bagi Pak Amien menjadi RI-1?

HATTA: Sesuai prosedur dan sebagainya, PAN akan meloloskan Pak Amien menjadi calon. Kita sangat optimis, karena persyaratannya hanya tiga persen. Sementara kita juga melihat beberapa partai lain mendukung Pak Amien sebagai Presiden. Dan kita juga melihat dari poling-poling bahwa Pak Amien selalu tiga besar. Dan beberapa pengamat juga memprediksi bahwa pasangan presiden itu cuma tiga di antaranya Pak Amien. Jadi, ya, orang kadang-kadang mengatakan Pak Amien lebih besar dari partainya, saya harus mengakui itu sebagai sebuah realitas.

M-TI: Kiprah Pak Amien dalam Sidang Umum MPR 1999 membuktikan itu?

HATTA: Ya, kita bisa lihat, kalau kita hanya mendasarkan perolehan suara PAN, Pak Amien most impossible to be a chairman, speaker of the MPR. Tapi kan politik menunjukkan bagaimana beliau berperan besar.

M-TI: Bagaimanapun, koalisi antarpartai akan mempengaruhi para pemilih untuk memilih presiden, karena koalisi ini akan juga menentukan program atau visi si calon presiden untuk membawa bangsa ini ke mana. Pertanyaan kami, kalau Anda mengakui bahwa hal itu ada pengaruh, dengan partai mana PAN berkoalisi dalam rangka mendorong image masyarakat ini untuk memilih Pak Amien Rais?

HATTA: Iya, ini sebetulnya too early. Saya ingin mengatakan kepada partai mana kita akan berkoalisi itu adalah sesuatu yang tidak akan bisa terhindarkan, itu pasti akan terjadi. Karena saya tidak yakin ada partai yang secara sendirian akan menguasai single majority dalam arti 50 persen plus satu. Sehingga koalisi itu akan terjadi walaupun koalisi tahun 1999 dengan sekarang sangat berbeda, sangat berbeda.

Dengan sistem presidential cabinet, koalisi itu sebetulnya tidak dalam konteks membangun kekuasaan, seperti dalam parlementer cabinet. Hanya memang, menurut saya, masyarakat terlalu membuat konfigurasi yang simpel.

Tadi dikatakan PAN itu partai agama oke, sehingga partai-partai yang berdasarkan agama ini juga mendukung koalisi dengan PAN. Tapi PAN juga dikatakan partai yang nasionalis, sehingga PAN juga didukung oleh partai-partai yang berbasiskan nasionalis itu. Sehingga, saya mengatakan, koalisi yang akan dibangun itu adalah dengan siapapun, partai manapun yang memiliki visi yang sama. Saya lebih senang mengatakan, partai yang reformis apapun color-nya, mari kita sama-sama.

M-TI: Jadi, bisa dirumuskan dalam satu kata: partai yang reformis?

HATTA: Iya, dan saya kira tidak ada satu partai pun yang merasa dirinya tidak reformis, ha..ha... ha.. Jadi, oleh sebab itu, kita merasa siapa pun oke, kita sama-sama karena kita mau mengedepankan kita ini reformis.

M-TI: Anda sangat yakin Pak Amien Rais akan menjadi presiden. Apakah Anda juga yakin bahwa Pak Amien mempunyai kepemimpinan yang akan membawa bangsa ini lebih cepat keluar dari masalah rumit yang kini tengah dihadapi?

HATTA: Ya, tentu, tentu saya yakin.

M-TI: Alasannya?

HATTA: Selain adanya platform 17 langkah membangun bangsa yang telah saya sebut tadi, saya melihat begini: Saya men-descript apa yang menjadi persoalan bangsa saat ini. Yang terberat adalah masalah korupsi yang luar biasa. Bukan hanya kita yang mengatakan begitu, akan tetapi lembaga-lembaga internasional dalam indeks-indeksnya mengatakan Indonesia ini tiga besar hingga lima besar negara terkorup di dunia. Korupsi itu menyengsarakan rakyat. Kenapa, karena sebagian dana yang untuk rakyat diambil oleh orang-orang rakus itu. Jadi, dalam hal memberantas korupsi ini saya sangat yakin, karena Pak Amien memiliki moralitas terjaga selama ini.

Kedua, leadership-nya yang memiliki visi, memiliki keberanian dan kejujuran. Walaupun yang lain juga memiliki visi dan sebagainya, tapi saya sangat yakin dengan program-program yang dikembangkan Pak Amien yang tertuang dalam 17 Langkah Membangun Bangsa dan dengan intelektual, integritas dan moralitas yang dimiliki Pak Amien, saya sangat yakin ada akselerasi dalam membangun bangsa ini.

M-TI: Jika masalah bangsa yang terbesar adalah korupsi, bagaimana PAN menggariskan itu kepada kader-kadernya?

HATTA: Sesuatu contoh yang simpel saja, saya mengeluarkan surat edaran di bawah Pak Amien, yang mengatakan seluruh kader, yang mereka itu kebanyakan menjadi anggota-anggota legislatif sekarang, yang terindikasi, tersangka, tidak boleh mengurusi partai dan tidak boleh menjadi caleg. Dan nanti seluruh caleg-caleg itu harus menandatangani sebuah surat, yang isinya adalah anti-KKN, dan mereka kalau nanti menjadi anggota dewan terindikasi itu maka otomatis dia mengundurkan diri dengan surat resmi.

M-TI: Mengenai moral bangsa ini bagaimana kira-kira?

HATTA: Seperti saya katakan tadi, korupsi itu kan erat kaitannya dengan moralitas. Kalau meminjam istilah Pak Syafii Ma’arif, dia mengatakan, menjadi sempurnalah kebobrokan bangsa ini, sampai begitu. Dan itu artinya memang, kerusakan yang utama itu terjadi pada value moral. Barangkali nilai-nilai kita itu bergeser. Orang sekarang sudah tidak merasa malu lagi untuk minta komisi. Kenapa, karena value menganggap itu sudah bukan sesuatu yang memalukan.

Jadi menurut saya, memberantas korupsi ini bukan seperti membalik telapak tangan. Harus dimulai dari hardware perundang-undangan, kemudian sistem sampai kepada manusianya. Jadi artinya, di samping melakukan fungsi-sungsi pengawasan dan law enforcement tapi juga membangun moralitas bangsa ini mulai dari pendidikan, sistem pendidikan.

M-TI: Dalam konteks hubungan internasional, PAN sebagai partai yang seperti Anda katakan menjadi pemenang ketiga dan dengan optimis Pak Amien akan terpilih menjadi presiden, berarti platform PAN-lah nanti yang akan dibawa dalam kepemimpinannya, bagaimana PAN memproyeksikan Indonesia dalam pergaulan internasional?

HATTA: Saya kira sudah menjadi kesepakatan landasan bangsa ini dalam pergaulannya, yaitu politik luar negeri yang bebas aktif. Politik luar negeri yang bebas aktif itu artinya apa? Artinya dalam setiap kehidupan bangsa, tidak hanya menyangkut politik tapi juga perdagangan, sistem budaya sosial dan sebagainya, kita mengedepankan adanya kebebasan dalam arti bahwa kita memiliki bebas dan aktif dalam setiap elemen-elemen hubungan bilateral dan multilateral pergaulan antarbangsa. Di situ sesungguhnya terkandung esensi yang paling fundamental yaitu adanya kemandirian bangsa.

Menurut saya, para founding father meletakkan dasar-dasar politik luar negeri bebas aktif, itu menunjukkan sebuah kemandirian bangsa. Kemandirian bangsa yang tidak ingin menggadaikan bangsa ini, yang tidak ingin mensubordinatkan bangsa ini kepada bangsa-bangsa manapun di dunia ini. Tidak ingin menjebak diri kita sendiri ke dalam perangkap-perangkap. Apakah perangkap ekonomi maupun perangkap teknologi atau perangkap politik. Jadi, menurut saya, kemandirian bangsa, harga diri bangsa, dan kesetaraan dalam pergaulan bangsa harus menjadi landasan. Dan itu harus kita lakukan.

M-TI: Ada kekuatiran sehubungan dengan pernyataan KSAD, kemudian beberapa petinggi militer tentang kemungkinan Pemilu berdarah-darah. Bagaimana PAN melihat kemungkinan ancaman kekacauan Pemilu?

HATTA: Indonesia ini bukan sekali ini melaksanakan Pemilu. Kita melaksanakan Pemilu sudah beberapa kali sejak 1955 dan sejarah membuktikan tidak ada yang berdarah-darah. Jadi kalau ada yang berdarah-darah, siapa yang mau berdarah-darah itu. Jadi menurut saya, kita artikan saja sinyalemennya KSAD itu sebagai satu alert (sinyal) atau satu himbauan bahwa kita harus hati-hati dan menjaga bersama-sama.

M-TI: Secara internal, bagaimana PAN mempersiapkan Pemilu yang damai?

HATTA: Pertama hendaknya partai-partai itu tidak saling menghujat dalam melakukan kampanyenya. Dan kampanye-kampanye jangan memancing hal-hal yang bersifat isu sara. Jadi kita sudah memiliki kode etik seperti itu. Dan menurut saya, apa yang digagas oleh KPU untuk melakukan kampanye yang sehat, yang damai, itu bagus. Jadi tidak negative campaign, misalnya menghujat partai-partai lain karena itu akan menimbulkan keberingasan.

Marilah kita lebih memperbanyak kampanye-kampanye yang bersifat dialogis dalam program-programnya. Kalau perlu calegnya itu head to head diadu dan ditonton sama rakyat. Nggak ada masalah, ketimbang kita membuat panggung terus dangdutan, ketika si calonnya ingin kampanye malah disorakin, ‘saya nggak minta you, kami minta dangdutnya’, katanya. Lama-lama Pemilu menjadi arena hiburan ketimbang arena politik.

M-TI: Ada yang mengatakan, beberapa partai yang ada saat ini menjadi masalah bangsa karena masalah-masalah internal atau masa lalunya, bagaimana dengan eksistensi PAN?

HATTA: Saya tidak setuju kalau ada yang mengatakan bahwa partai-partai itu adalah masalah bangsa. Partai itu adalah ujung tombaknya demokrasi. Orang yang mengatakan bahwa partai-partai ini adalah masalah bangsa adalah orang yang tidak memahami pemikiran-pemikiran demokrasi. Itu, saya yakin orang yang ingin kembali ke sistem otoritarianism. Bahwa partai-partai ini masih memerlukan internalisasi demokrasi, masih memerlukan penguatan-penguatan, fine, betul, it’s oke, karena kita juga masih baru tapi jangan partai itu dimusuhi.

Marilah orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan, orang-orang intelektual, orang yang merasa dirinya mampu, bisa, joint-lah dengan partai, partai apapun yang dia mau pilih, beri penguatan pada partai politik. Kalau partai dimusuhi, atau tidak diakrabi apalagi punya pemikiran partai itu menjadi beban, maka yang masuk ke partai adalah bisa saja hanya warga negara kelas tiga dan kelas empat. Jika demikian, makin jauh kita dari konsolidasi demokrasi. ►tsl/ht/ms

 

==   1    3   4    6   7   8   9   ==


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)