| |
C © updated 23032005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Ir. M. Hatta Rajasa
Lahir:
Palembang, 18 Desember 1953 |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Hatta Rajasa
PAN Miniatur Republik Indonesia
TI 21/3/2005: Pidato Politik Muhammad Hatta Rajasa dalam rangka Deklarasi
Pencalonan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Periode 2005-2010, di
Jakarta 21 Maret 2005.
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Membaca Indonesia hari ini, kita membaca perubahan yang masih centang-
perenang. Jika kita diajak berbicara tentang ‘masa depan Indonesia’
seolah-olah kita dihadapkan dengan jalinan benang kusut, suasana yang
carut marut, atau problematika yang nyaris tak terumuskan. Begitu
kompleknya permasalahan bangsa ini, sehingga banyak di antara kita yang
skeptis menatap masa depan negeri ini.
Bagaimanapun kita tak boleh menyerah. Kita memang masih berusaha
melepaskan simpul-simpul kesemrawutan yang luar biasa itu. sebagai
peninggalan dari pemerintahan sebelumnya. Wujud masa depan yang
sesungguhnya belum tampak di depan mata kita. Namun. bagaimana cara kita
mengelola masakini-lah yang menentukan masa depan kita!
Jika kita meluruskan niat kita maka tonggak-tonggak kecemerlangan akan
terhujam ke bumi. Masa depan adalah sesuatu yang nyata dan tidak kabur.
Semua tergantung pada kerja kita hari ini. Kita tidak akan membutakan mata
kita terhadap masa depan karena itu adalah cerminan dari jiwa pengecut dan
mentalitas yang lemah. Kita menyadari bahwa ada tanggungjawab atas apa-apa
yang telah kita pilih di masa lalu.
Visi Masa Depan
Visi masa depan kebangsaan itulah yang telah banyak kita singgung. Sejak
deklarasi, PAN telah terbukti memberikan sumbangan positif dalam menata
masa depan yang baik bagi bangsa ini. Rasanya masih segar dalam ingatan
kita tentang bagaimana partai kita ini lahir. PAN merupakan bagian dari
amanat gerakan reformasi.
Kita adalah bagian dari pendobrak sejarah yang memiliki cita-cita besar
untuk perubahan. Tentu perubahan yang kita inginkan adalah perubahan
kearah kehidupan politik yang lebih demokratis, kehidupan ekonomi yang
lebih sejahtera, dan kehidupan sosial yang lebih rukun dan terbuka. Semua
cita-cita itu berlandaskan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
Sudah sejauh ini kita berjalan. Banyak dinamika internal yang telah kita
hadapi. Sebagai partai yang baru akan berumur tujuh tahun, pengalaman
partai kita belumlah banyak. Namun, justru dengan pengalaman yang sedikit
itu kita menata diri. Kita juga tidak boleh bermimpi bahwa tiba-tiba saja
kita menjadi partai terbesar di Republik Indonesia ini, sekarang. Kita
harus selalu membangun langkah agar Insya Allah di masa datang partai kita
ini mendapatkan simpati publik yang luas.
Memang sejauh ini kita belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Sejumlah
perbedaan pendapat muncul di sana sini, begitu juga ketidak-puasan dari
berbagai unsur yang membentuk PAN. Tetapi, bukan sikap yang baik untuk
menyalahkan masa lalu, apalagi sampai mencari kambing hitam. Bagi kita apa
yang telah terjadi adalah bagian dari pendewasaan dan pembelajaran
politik. Kinilah saatnya kita melakukan kembali konsolidasi partai untuk
menguatkan kembali cita-cita dan platform yang sudah kita bangun.
Masa Depan Politik
Masa depan kehidupan politik yang lebih cerah sesungguhnya menanti kita.
Bahkan mungkin saja keadaan itu jauh lebih cemerlang dari yang kita
bayangkan, mengingat kita belum sepenuhnya menggali potensi diri. PAN
memiliki banyak sumberdaya manusia handal di berbagai bidang ilmu
pengetahuan, agama dan kiprah sosial. Apabila kita mampu bekerjasama
dengan baik, maka bukan mustahil kita akan menjadi partai politik moderen
yang dipercaya banyak kalangan.
Oleh sebab itu, marilah kita melipatggandakan kerja keras untuk
memperbaiki masa kini. Lalu dengan modal itu kita menata masa depan.
Melalui PAN, kita kuatkan tekad, semangat dan tenaga kita untuk berjuang
menegakkan kehormatan bangsa. Bagaimanapun, partai politik adalah ujung
tombak demokrasi. Partai politik telah dipercaya menjadi agen perubahan
dan penentu pengendalian lembaga-lembaga pemerintahan, yakni eksekutif dan
legislatif. Kepercayaan itu patut disambut baik oleh partai-partai
politik, dengan cara memperbaiki diri. Jangan sampai orang-orang yang
tidak percaya kepada demokrasi lantas membelokkan keadaan dengan cara
meminggirkan lagi peran partai-partai politik.
Namun demikian, partai-partai politik juga tidak boleh berpongah diri. PAN
harus menjadi pelopor dari kerendah-hatian dalam berpolitik. Oleh sebab
itu kita harus melakukan penguatan dari dalam. Reformasi dan rekonsolidasi
internal adalah sebuah keharusan guna menjawab tantangan zaman.
Di antara reformasi internal yang paling penting adalah pembangunan sistem
(system building) agar organ-organ partai dapat bekerja efektif dan
efisien. PAN harus membentuk sayap-sayap organisasi yang saling menunjang
kehidupan politik yang sehat, termasuk memberikan masukan kepada kalangan
anggota parlemen. Memang bukan persoalan yang mudah dan membutuhkan waktu
yang tidak sebentar untuk mengkonsolidasikan kekuatan partai kita. Untuk
itu banyak agenda mendesak yang harus kita kerjakan.
Miniatur Indonesia
PAN akan menjadi besar jika mengukuhkan dan mengartikulasikan dirinya
sebagai partai terbuka yang religius. Saya percaya, kekuatan utama
masyarakat Indonesia terletak pada keterbukaannya atas nilai-nilai
perubahan dari luar, tanpa harus lewat jalan kekerasan, sembari tetap
teguh mempertahankan jati diri.
Sebagai miniatur dari Republik Indonesia, pasti PAN merupakan partai
plural dan multikultural. PAN tidak bisa ditempatkan sebagai partai
politik yang mempunyai pikiran-pikiran sempit.
Dengan kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang besar maka keragaman ini
menjadi kekuatan kita. PAN adalah partai yang secara ideologis mengambil
posisi tengah, yang memiliki komitmen kerakyatan yang kental. PAN juga
berdiri berlandaskan moralitas keagamaan, cita-cita kebangsaan, dan
kesejahteraan rakyat.
Bagi partai kita, kekuasaan hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan utama,
‘Power is a means, but not our ultimate goal.’ Tujuan utama kita adalah
mewujudkan Indonesia baru yang demokratis, berkeadilan, terbuka, dalam
masyarakat majemuk yang saling menghormati. Untuk mencapai tujuan tersebut
kita menetapkan dua sasaran utama.
Pertama, public empowering, yaitu melakukan pemberdayaan kepada masyarakat
dalam segala aspek, terutama masyarakat marginal. Tentu saja dengan
keberpihakan yang demikian jelas itu, PAN akan tetap berada pada barisan
partai-partai politik yang membela kepentingan rakyat kecil.
Kedua, good and clean government, yaitu menciptakan tata pemerintahan yang
baik dan pemerintahan yang bersih. Prinsip-prinsip ini akan dimulai dari
dalam tubuh PAN. PAN bersiap menjadi clean and good party.
Key Performance Indicator
PAN menyadari betul bahwa tanpa adanya internalisasi demokrasi dan
recruitment yang sehat dalam tubuh partai politik maka konsolidasi dan
modernisasi demokrasi di negeri kita akan sulit dicapai. Untuk itulah PAN
harus senantiasa menyempurnakan sistem recruitment politik dan pengkaderan
di dalam tubuh partai.
Kita ditantang untuk terus menerus menyiapkan SDM yang handal dan
menghargai karier politik pengurus partai dengan menerapkan prinsip ‘the
right man on the right place’. PAN menyerahkan segala sesuatu kepada
yang ahli. Oleh karenanya, PAN mempelopori recruitment calon-calon anggota
legislatif dari kalangan profesional, sekalipun para profesional itu belum
pernah menjadi politisi.
Demikian pula sebagai wujud akuntabilitas, harus ada tolok ukur yang adil
dalam penilaian kinerja dari seorang pengurus partai mengenai jabatannya.
Harus dibangun semacam Key Performance Indicator (KPI) untuk menilai dan
mengevaluasi para fungsionaris PAN, termasuk juga yang berkiprah sebagai
anggota legislatif dan eksekutif.
Fase Baru Hubungan Pusat dan Daerah
Proses demokratisasi bangsa kita kini bergerak selangkah lebih maju lagi.
Setelah kita melewati era Pemilihan Presiden secara langsung, tidak akan
lama lagi kita menghadapi Pemilihan Kepala Daerah secara langsung untuk
jabatan Gubernur-Wakil Gubernur, Walikota-Wakil Walikota dan Bupati-Wakil
Bupati. Hal ini berarti kita menghadapi tantangan dan peluang baru dalam
berdemokrasi. Rakyat yang dulu hanya ‘terima jadi’ lewat proses pemilihan
kepala daerah di DPRD, kini justru sangat menentukan posisi seseorang.
Artinya, di tingkat akar rumput demokrasi sudah menjadi realitas politik.
Fase baru demokrasi yang kita alami sekarang telah mensyaratkan adanya
kesetaraan antara pusat dan daerah. Hubungan antara pengurus pusat dengan
pengurus daerah juga berada dalam posisi yang setara. Dalam rangka
membangun kesetaraan, organ partai di tingkat pusat harus melucuti
perannya yang eksesif dan mengurangi intervensi. Tidak boleh ada
intervensi politik pengurus pusat kepada pengurus daerah untuk hal-hal
yang selayaknya menjadi kewenangan daerah. Pengurus pusat selayaknya lebih
banyak menyusun standarisasi yang menyangkut kebijakan berskala nasional.
Dengan cara seperti itu. pengurus di daerah dididik untuk mampu mengurus
dirinya sendiri dan menemukan kearifan-kearifan lokal untuk menyelesaikan
berbagai persoalan yang muncul di antara mereka. Kesetaraan memungkinkan
daerah untuk mengontrol pusat dan melakukan dialog untuk menghasilkan
kesepakatan-kesepakatan, serta menghindari oligarki politik. Dengan begitu
keterikatan dan rasa saling membutuhkan akan tumbuh dengan kuat. Ini
adalah modal penting untuk mewujudkan kemenangan kita. Kita bisa melakukan
desentralisasi partai tanpa harus kehilangan kendali.
Keputusan di Kongres
Beranjak dari pemikiran-pemikiran tersebut, saya memberanikan diri untuk
mencalonkan diri sebagai calon ketua umum DPP PAN dalam Kongres PAN di
Semarang, 7-10 April 2005 nanti. Proses pencalonan ini tidak datang
tiba-tiba, melainkan muncul lewat pertimbangan yang matang.
Namun. dalam kehidupan politik. tentu keputusan tertinggi berada di tangan
Kongres PAN. Saya akan menerima apapun keputusan itu.
Dalam kesempatan ini, sudah sepatutnya kita mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada orang-orang yang selama ini bekerja keras
melahirkan dan membesarkan PAN. Orang pertama yang pantas menerimanya
adalah Bapak Amien Rais. Jauh sebelum lahirnya partai ini, meninggalkan
kampusnya yang asri di Yogyakarta.
Pak Amien Rais rela berjuang dan berkeringat di belantara kota Jakarta.
Tak lelah menggalang dukungan berbagai kalangan dan memimpin rapat bahkan
sampai dini hari. terkadang apa yang beliau lakukan melampaui daya fisik
seorang manusia. Kita tentu tetap membutuhkan sumbangsih beliau. Pak Amien
Rais akan selalu menjadi inspirasi perjuangan PAN di masa mendatang.
Dengan pencalonan saya ini, mudah-mudahan spekulasi yang berkembang selama
ini menjadi hilang. Sebagai partai berlambang matahari, PAN sedang
menantang banyak perubahan di tingkat global. Perubahan yang terjadi di
planet bumi ini mau tidak mau berdenyut ke jantung, hati dan pikiran
fungsionaris PAN.
Tentu, PAN tidak ingin tenggelam, sebagaimana matahari tenggelam di sore
hari. Usia PAN masih pagi, sehingga suasana terang- benderang terlebih
dahulu menanti, sebelum sore menjelang dan malam mendekap...
Billaahitaufiq wal hidayah. Fastabiqul khairaat.
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Jakarta, 21 Maret 2005 ►ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|