| |
C © updated 04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Abdul Hasyim Muzadi
(KH Hasyim Muzadi)
Lahir:
Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944
Ayah:
H. Muzadi
Ibu:
Hj. Rumyati
Istri:
Hj. Muthomimah
Anak:
Enam putra dan putri
Pengalaman:
Ketua Umum PB NU
Ketua PWNU Jatim (1992-1999)
Wakil Ketua PWNU Jatim (1990-1992)
Ketua Ansor Jatim (1986)
Ketua PP GP Ansor (1985-1990)
Anggota DPRD Jatim (1984-1987)
Alamat:
Ponpes Mahasiswa Al Hikam, Malang
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3 ==
K.H. Hasyim Muzadi
NU Bukan Demi Kekuasaan
M-TI 09:
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Muzadi,
dinominasikan seba-gai salah seorang tokoh yang berpelu-ang menjadi
calon presiden atau wakil presiden pada Pemilu 2004. Kyai kelahiran
Tuban, 8 Agustus 1944, ini kemungkinan akan dicalon-kan Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia salah satu nama yang dicadangkan
menggantikan Gus Dur yang telah dijagokan dalam Mukernas PKB.
Ia juga direkomendasikan PB NU kepada PKB agar dicalonkan. Walau
tampaknya Gus Dur kurang menyukai pencalonan Hasyim Muzadi ini. Sehingga
tampak ke permukaan kekurangharmonisan hubungan mereka. Tetapi Badan
Otonom Nahdlatul Ulama, yang terdiri dari GP Ansor, Muslimat, Fatayat,
Ikatan Pelajar NU (IPNU), dan Ikatan Putra-Putri NU (IPPNU), meminta PKB
mencalonkan Ketua Umum PBNU ini sebagai pendamping KH Abdurrahman Wahid.
Beberapa partai telah mulai pula meliriknya untuk diajak berkoalisi. Di
antaranya, PDIP dan PAN. Namun menurut pengakuan kyai pengasuh Pondok
Pesantren Mahasiswa Al Hikam, Malang, ini belum ada satu partai pun yang
telah menghubunginya secara resmi. Hanya beberapa tokoh partai telah
menyebutnya menjadi calon wakil presiden, seperti PDI-P, Golkar dan PAN.
Dalam menjalankan organisasinya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (NU), ia memiliki prinsip bahwa NU tidak akan berpolitik
praktis dengan mengubah diri menjadi partai politik (parpol). Menurutnya,
pengalaman selama 21 tahun sebagai partai politik cukup menyulitkan
posisi NU.
Pengalaman pahit selama 21 tahun menjadi partai politik periode 1952
sampai 1973, kata Muzadi, menjadi pertimbangan signifikan dari pengurus
besar untuk mengubah bentuk organisasi itu. Waktu itu, kata mantan Ketua
NU Cabang Malang, ini kerja orang-orang NU hanya memikirkan kursi
legis-latif. Sementara kerja NU lainnya seperti usaha memajukan
pendidikan dan intelektual umat terabaikan.
Menjelang Pemilu 2004, NU didorong oleh berbagai kelompok untuk menjadi
partai politik. Desakan menjadi parpol juga datang dari kelompok dalam
NU (kalangan nahdliyin), tetapi sikap NU tidak goyah. Politik merupakan
salah satu kiprah dari sekian banyak sayap NU. Di mata Muzadi, partai
politik erat kaitannya dengan kekuasaan dan kepentingan, sementara sifat
kekuasaan itu sesaat. Di sisi lain NU dituntut memelihara kelanggengan
dan kiprah sosialnya di masyarakat. Oleh karena itu, NU akan menolak
setiap upaya perubahan menjadi partai politik.
Hasyim dikenal sebagai sosok kiai yang cukup tulus memosisikan dirinya
sebagai seorang pemimpin Indonesia. Selain sebagai ulama, sosok Hasyim
dikenal nasionalis dan pluralis. Apa saja yang dianggap perlu bagi
agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan.
Ketika terjadi peristiwa ditabraknya gedung WTC 11 September 2001, di
mana AS langsung menuduh gerakan Al Qaeda sebagai pelakunya dan
menangkapi orang-orang dan kelompok Islam yang diduga terkait dengan
jaring Al Qaeda, posisi Islam moderat Indonesia luput dari tuduhan.
Namun hal itu bukan berarti persoalan selesai.
Hasyim Muzadi memiliki pandangan, dunia internasional perlu mengetahui
kondisi Islam di Indonesia dan perilaku mereka yang tidak menyetujui
tindak kekerasan. Untuk itu perlu upaya komunikasi dengan dunia luar
secara intensif. Tak terkecuali dengan AS. Makin banyak dan intens
komunikasi maupun kontak ormas-ormas moderat Indonesia dengan
internasional dan AS, itu makin positif. Apalagi, di tengah keterpurukan
ekonomi, sosial, dan keamanan di Indonesia saat ini, kerja sama
internasional jauh lebih berfaedah daripada keterasingan internasional.
Hasyim Muzadi pun menjadi tokoh yang mendapat tempat diundang pemerintah
AS untuk memberi penjelasan tentang pemahaman masyarakat Islam di
Indonesia. Ia cukup gamblang menjelaskan peta dan struktur Islam
Indonesia. AS beruntung mendapat gambaran itu langsung dari ormas muslim
terbesar Indonesia. Indonesia juga bersyukur karena seorang tokoh ormas
muslimnya menjelaskan soal-soal Islam Indonesia kepada pihak luar.
“Saya gambarkan, umat Islam di Indonesia itu pada dasarnya moderat,
bersifat kultural, dan domestik. Tak kenal jaringan kekerasan
internasional,” ujar Hasyim.
Soal kelompok-kelompok garis keras di Indonesia-betapapun jumlah dan
kekuatannya cuma segelintir-Hasyim mengingatkan AS bahwa mengatasinya
harus tidak sembarangan. Jangan sekali-kali menggunakan represi. Apa
alternatif pendekatannya jika represi ditanggalkan? “Saya minta supaya
pendekatannya pendekatan pendidikan, kultural, dan social problem
solving. Dijamin, gerakan-gerakan kekerasan akan hilang,” tutur Hasyim.
► Majalah Tokoh Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|