| |
C © updated 24122007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Prof Dr Hasjim Djalal
Lahir:
Sumatera Barat, 25 Februari 1934
Isteri:
Ny Jurni Hasjim Djalal
Anak:
- Iwan Djalal, eksekutif perusahaan swasta
- Dino Pati Djalal, Jubir Luar Negeri Presiden SBY, Direktur Urusan
Amerika Utara dan Tengah Deplu
- Dini Djalal, wartawan, tinggal di Amerika
Ayah:
H Djamaludin
Ibu:
Ny Salamah
Pendidikan:
MA (1959) dan Ph.D (1961) dari University of Virginia
Jabatan:
- Anggota Dewan Maritim Indonesia
- Penasehat Senior Menteri Kelautan dan Perikanan RI
Karir:
Mantan diplomat di Deplu dan Dubes RI di beberapa negara
Karya (buku), al:
Indonesian Struggle for the Law of the Sea (1979) dan Indonesia
and the Law of the Sea (1995)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Prof Dr Hasjim Djalal
Pejuang Negara Kepulauan
Prof Dr Hasjim Djalal sebagai seorang diplomat
senior dan tokoh hukum laut internasional punya andil besar dalam proses
mewujudkan pengakuan dunia atas Indonesia sebagai suatu negara kepulauan
(archipelagic state). Pria kelahiran Ampat Angkat, Bukittinggi,
Sumatera Barat, 25 Februari 1934, itu berprofesi sebagai diplomat karier
sejak masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.
Penulis buku
Indonesian Struggle for the Law of the Sea (1979) dan Indonesia and the
Law of the Sea (1995) serta Preventive Diplomacy in Southeast Asia:
Lesson Learned (2003), itu pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk
PBB (1981-1983), Dubes di Kanada (1983-1985), dan Dubes di Jerman
(1990-1993) serta Dubes Keliling hingga masa pemerintahan Presiden BJ
Habibie.
Sampai setelah dia pensiun, 1994, dia masih aktif menulis buku dan
artikel di berbagai media serta berbicara di berbagai forum tentang
masalah hukum laut internasional. Juga masih sibuk melayani kontak dari
kolega-kolega internasionalnya. Pemikiran dan gagasannya tentang
kelautan masih dibutuhkan bangsa ini, sehingga dia masih dipercaya duduk
sebagai Anggota Dewan Martim Indonesia, Penasehat Senior Menteri
Kelautan dan Perikanan, dan Penasehat Kepala Staf TNI Angkatan Laut
serta di Kantor Menteri Percepatan Pembangunan Indonesia Timur.
Suami dari Ny Jurni Hasjim Djalal dan ayah dari tiga anak: Iwan Djalal,
eksekutif perusahaan swasta; Dino Pati Djalal, Jubir Luar Negeri
Presiden SBY, Direktur Urusan Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar
Negeri RI; dan Dini Djalal, wartawan, tinggal di Amerika, itu juga di
masa tuanya masih aktif sebagai anggota Komisi Konstitusi yang mengkaji
amandemen UUD 45.
Dia tidak mau berdiam diri (mengangur). Sebagai pegawai negeri,
pejabat eselon I dan II, memang diwajibkan pensiun pada usia 60 tahun.
Tapi sebagai manusia, dia tidak mengenal masa pensiun. Sepanjang hayat
masih dikandung badan, dia masih ingin aktif berkarya karena sudah
merupakan bagian dari kebiasaan hidupnya. "Saya masih terus berpikir dan
menulis. Kalau nggak kerja, rasanya sepi," katanya.
Sepertinya dia tidak kenal lelah. Karena dia mengaku sangat menikmati
kerja. Karena, baginya bekerja tidak sekadar bekerja karena pekerjaannya,
tapi juga sekaligus bekerja karena hobi dan sudah menjadi bagian dari
kebiasaannya.
Dengan prinsip kerja seperti itu, Hasjim Djalal di masa pensiunnya masih
terlihat segar bugar. "Karena saya selalu mengemukakan pikiran saya,
secara langsung maupun lewat tulisan. Saya suka ceramah, kuliah, menulis
di koran, majalah, membuat paper untuk workshop dan seminar. Pokoknya
apa saja. Keep you busy! Kita harus buat kehidupan ini berguna. Bahwa
pensiun, ya pensiun. Tapi yang perlu diingat bahwa hidup ini belum
berhenti," kata Hasjim Djalal sebagaimana dikutip Harian Republika,
Minggu, 09 Nopember 2003.
Sebagai manusia biasa, dia tentu juga perlu isterahat. "Tapi kadang kan
orang bekerja dengan istirahat," katanya memperkuat betapa dia sangat
menikmati (hobi) pekerjaan yang digumulinya. Selain itu, untuk
memelihara kebugaran, Hasjim Djalal aktif berolahraga golf, bukan untuk
mengejar poin, melainkan menikmati jalan kakinya itu.
Dalam usia senja, visinya masih tetap jauh menatap masa depan. Dia
gelisah atas tingkah-polah beberapa pemimpin saat ini yang tampaknya
hanya berpikir jangka pendek, hanya memikirkan jabatan. Tidak seperti
para pemimpin terdahulu, terutama para pendiri bangsa ini, yang berjuang
untuk kepentingan bangsanya, kendati pun harus mati dan dibuang.
Maka dia melihat perlunya aktualisasi Deklarasi Djoeanda yang visioner itu jauh ke depan.
Sebagaimana dituturkan kepada Wartawan Tokoh Indonesia Haposan
Tampubolon, Saud Situmorang dan Wilson Edwart (fotografer), Kamis 13
Desember 2007:
"Makanya saya sedang mikir-mikir, pada tahun 1945 kita memproklamirkan
kemerdekaan dengan wilayah nasional sebagaimana dimiliki Hindia Belanda
3 mil dari pantai, sehingga laut-laut itu bukan laut nasional kita.
Tetapi Djoeanda menjadikannya menjadi laut nasional. Itu sangat
visionaris.
Coba kita pikirkan. Setelah 50 tahun Deklarasi Djoeanda, ke mana bangsa
kita mau pergi. Pada tahun 1957 penduduk Indonesia masih sekitar 80 juta
jiwa, sekarang 240 juta jiwa. Untuk 50 tahun yang akan datang ke mana
mau kita bawa lagi bangsa ini. Djoeanda dulu membawanya kepada Kesatuan
Nusantara.
Nanti setelah kekayaan alamnya habis, demikian pula hutannya, ikannya,
terumbu karangnya, pemikir-pemikir kita sudah harus mulai belajar dari
Pak Djoeanda untuk memikirkan masa depan bangsa 50 tahun yang akan
datang."
Sang Diplomat Karir
Hasjim Djalal seorang diplomat karir. Dia memang sudah bercita-cita
jadi diplomat sejak kecil. Ketika dia masih duduk di kelas 2 SMP (1948)
dia sudah senang dan banyak membaca sejarah. Saat itu zaman perang
kemerdekaan dan Belanda menduduki Bukittinggi. Dia sering membeli
buku-buku kecil mengenai sejarah. Dia antara lain membaca kisah
kehidupan Jose Rizal, Gandhi, cerita-cerita tentang sejarah Romawi, atau
kisah Pangeran Diponegoro.
Dia senang membacanya terutama pada waktu-waktu senggang dan ketika
pulang sekolah naik kereta api. Kebiasaan membaca itu terus menjadi hobi
hingga dia dewasa. Bahkan sampai hari tuanya dia tidak pernah berhenti
dari kebiasaan membaca. Baik dalam mobil perjalanan pergi-pulang ke
kantor, ataupun dalam perjalanan jauh di pesawat, dia terus membaca.
Salah satu yang paling berkesan baginya dari bacaan sejarah itu adalah
kisah zaman ketika orang berupaya melakukan perdamaian di Eropa sesudah
Perang Dunia II pada awal abad ke-19. Kisah itu memantik berkeinginannya
menjadi diplomat. Saat lulus dari SMA di Bukittinggi, tahun 1953,
cita-citanya menjadi diplomat yang sudah tumbuh sejak SMP, menyala
semakin kuat.
Dia berbahagia, karena kedua orang tuanya, H Djamaludin dan Ny Salamah,
yang walau warga dusun, memberi dukungan penuh. besar. Maka selepas SMA,
Hasjim pun berangkat ke Jakarta untuk sekolah di Akademi Dinas Luar
Negeri. Oleh karena kondisi ekonomi kala itu, orangtuanya membekalinya
dengan uang sangat pasan-pasan. Beruntung dia pun dibekali sebuah sepeda
pemberian Paman Marah Sutan Maraju, sehingga mobilitasnya terbantu.
Setamat dari Akademi Dinas Luar Negeri, Hasjim mulai meniti karir di
Depatemen Luar Negeri RI, 1 Januari 1957 (pensiun sebagai pegawai negeri
pada 1994). Pertama kali dia ditugaskan ke luar Jakarta (luar negeri)
adalah ke Irian (Kala itu Irian memang sudah wilayah RI, tapi tengah
dikuasasi Belanda dan sedang berlangsung diplomasi untuk dikembalikan
kepada Indonesia, dan kesepakatan tercapai tahun 1962).
Hasjim ditempatkan di perwakilan pemerintah pada UNTEA (United
Nations Temporary Executive Administration) di Irian, sebuah badan PBB
yang punya misi mempersiapkan peralihan pemerintahan di Irian dari
Belanda ke PBB lalu ke Indonesia. Hasjim bertugas sebagai legal advisor.
Namun, lama-lama tanpa disengaja dia jadi interpreter untuk
Administrator PBB, Djalal Abduh, asal Iran.
Dia menyertai Administrator PBB itu keliling-keliling di Irian. Karena
Administrator PBB itu tidak bisa berbahasa Indonesia, maka Kepala
Perwakilan Indonesia di UNTEA, Soedjarwo Tjondronegoro (almarhum),
menugasi Hasjim jadi penerjemah. Dia pun menjalankan tugasnya dengan
baik.
Setelah bertugas di Irian dia kembali ke Jakarta, bertugas di basisnya,
Direktorat Hukum Deplu, sekarang namanya Direktorat Perjanjian
Internasional. Setelah itu, dia ditempatkan ke Beograd, Yugoslavia
(1964), masa kepemimpinan (komunis) Josip Broz Tito (sahabat Bung Karno).
Hasjim punya pengalaman menarik dengan Tito. Sebagai pegawai kedutaan
dia merasa bangga pernah ngobrol-ngobrol lama dengan Tito dia atas kapal.
Kejadiannya tidak disengaja. Kala itu, Hasjim pulang dari sekolah di
Amerika, akhir 1960, dengan naik kapal dari New York ke Jakarta. Kapal
itu mampir-mampir di beberapa tempat, termasuk Eropa, sehingga
seluruhnya memakan waktu 35 hari.
Di tengah perjalanan dari New York sampai ke Eropa, selama satu
minggu, Hasjim satu kapal dengan Tito, yang sama-sama suka main di
geladak. Sebagai seorang anak muda, pulang sekolah, orang Indonesia yang
friendly terhadap Yugoslavia, Hasjim mula-mula berbicara akrab dengan
para security officer yang menjaga di sekeliling Tito. Sehingga
lama-lama para security officer itu tidak keberatan Hasjim berdiri dekat
Tito dan akhirnya ngobrol di geladak kapal itu.
Memang, hanya obrolan ringan. Hasjim mengaku lebih banyak mendengar dan
banyak belajar. Tito yang bersahabat dengan Bung Karno bicara mengenai
Indonesia, bicara juga mengenai Yugoslavia. Bicara juga soal Presiden
Soekarno yang baru saja (menghadiri) persiapan Konferensi Boegrad tahun
1961 mengenai Non Blok dan soal Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.
Dalam pandangan Hasjim, pemimpin Yugoslavia itu seorang pribadi yang
senang bergaul, orangtua yang human, dan pejuang bagi bangsa dan
negerinya. Tito juga punya pandangan-pandangan tajam terhadap Non Blok.
Namun waktu itu, kata Hasjim, kemampuannya untuk memahami pembicaraan
Tito, belum terlalu banyak.
Hasjim pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk PBB (1981-1983),
Dubes di Kanada (1983-1985), dan Dubes di Jerman (1990-1993) serta Dubes
Keliling hingga masa pemerintahan Presiden BJ Habibie. Saya pernah jadi
Duta Besar Keliling selama enam tahun pada zaman Presiden Soeharto dan
Habibie.
Selama bertugas di luar negeri, Hasjim memanfaatkan sebagian waktunya
untuk sekolah. Hanya enam bulan setelah jadi pegawai negeri, dia pergi
ke Amerika untuk sekolah S-2 dan S-3 selama empat tahun di University of
Virginia. Tahun 1961 dia sudah selesai S-3 dengan disertasi mengenai
kelautan: The Limit and Territorial Sea in International Law.
Sejak itu, Hasjim makin gigih memperjuangkan hukum laut. Sebuah fokus
perjuangan diplomasi yang paling berkesan baginya. Dia tertarik masalah
kelautan karena waktu mulai belajar di Amerika pada 1957, dia melihat
Indonesia banyak sekali menghadapi persoalan yang merongrong kesatuan
bangsa. Di Sumatera Barat, kampungnya sendiri, dan Sulawesi Utara ada
pemberontakan PRRI/Permesta. Ada juga masalah Darul Islam yang waktu itu
belum selesai, dan perjuangan Irian Barat belum selesai-selesai.
Indonesia pernah menganut sistem parlementer dan konstituante sesudah
Pemilu 1955. Tapi tidak berjalan baik. Sistem partai politik yang dicoba
waktu itu, kurang membawa kestabilan. Lantas, Hasjim berpikir, how do
you create national unity? Apa penyebab semua ini?
Hasjim berpikir, barangkali bangsa kita tidak memahami fungsi laut
sebagai pemersatu bangsa. Bukankah negara kita sebuah negeri kepulauan.
Indonesia berbeda dengan India, Rusia, Cina, Jerman, atau Amerika, yang
negerinya kontinental. Bagi mereka fungsi laut lebih pada fungsi
ekonomis.
Sementara, bagi Indonesia, di samping fungsi ekonomis, berfungsi juga
sebagai pemersatu bangsa. Tapi ironisnya, selama ratusan hingga ribuan
tahun sejarah kepulauan Indonesia, laut malah menjadi berfungsi sebagai
pemecah bangsa.
Sebab itu, Hasjim ingin mengembangkan satu attitude bahwa laut itu
jangan menjadi pemisah, tapi menjadi pemersatu antarpulau Indonesia. Dia
memberi contoh, Selat Sunda jangan jadi pemisah antara Jawa dan Sumatera,
tapi justru sebagai penghubung dan pemersatu antara Jawa dan Sumatera.
Bahkan sampai saat itu, fungsi ekonomi laut pun tidak ada artinya bagi
Indonesia. Nelayan-nelayan tradisional di sepanjang pantai hanya bisa
menangkapi ikan teri. Tapi laut lepas atau laut bebas, tidak
dimanfaatkan. Kala itu, yang menangkapi ikan tuna di Laut Banda, orang
Jepang. Alasannya, itu laut bebas. Kita tidak bisa melarang.
Lalu pada 13 Desember 1957, Perdana Menteri Ir Djoeanda mendeklarasikan
bahwa laut antarpulau Indonesia adalah wilayah Indonesia. Deklarasi ini
mendapat tantangan dari seluruh dunia, terutama Amerika, Jepang dan
Australia. Tindakan Indonesia dianggap ''merampok'' laut. Tapi
pemerintah bersikukuh bahwa itu merupakan hal yang sangat vital bagi
kesatuan dan masa depan bangsa.
Dari kasus itulah, Hasjim menulis disertasi tentang kelautan. Dialah
orang Indonesia pertama menulis disertasi tentang kelautan. (Pada waktu
Hasjim pulang meraih gelar S-3, Mochtar Kusumaatmadja, yang tengah
mengajar di Universitas Padjadjaran Bandung, juga sedang mempersiapkan
disertasi tentang hukum laut. Sejak saat itu, Hasjim mempunyai hubungan
cukup erat dengan Mochtar yang kemudian hari menjadi Menlu).
Sehingga kala itu disertasi Hasjim mendapat perhatian dari
kelompok-kelompok tertentu, terutama TNI Angkatan Laut. Maka sepulang
dari Amerika, Kepala Staf TNI AL, Laksamana Martadinata langsung meminta
disertasi Hasjim tersebut. Hasjim pun dilibatkan aktif menjadi
sekretaris Panitia Hukum Dewan Maritim yang diketuai KSAL Laksamana
Martadinata.
Banyak pihak yang memandang disertasi Hasjim agak aneh. Tetapi pihak
University of Virginia sendiri yang menganut intelectual liberty,
menganggapnya sebagai karya ilmiah yang sepatutnya dihargai. Sementara
beberapa pihak menganggapnya aneh. Merasa aneh ada negara nusantara,
negara kepulauan.
Sementara, pada 1948, sudah ada orang Norwegia, Jens Evensen, yang
menulis bahwa gugus pulau itu bisa dianggap sebagai satu unit. Hal ini
oleh Hasjim dan Mochtar dijadikan salah satu acuan disertasi. Jens
Evensen merinci gugus pulau itu dalam ukuran kecil-kecil (seperti Pulau
Seribu). Teori itu berkembang, lalu dalam konvensi tahun 1958 dikatakan
bahwa gugus pulau sepanjang pantai juga bisa dianggap menyatu dengan
pantai unitnya itu.
Walaupun teori Jens Evensen, tidak cocok bila digunakan untuk Indonesia
yang pulaunya besar-besar. Gugusan pulau yang bertebaran seperti di
Indonesia dengan jarak ribuan mil, susah bagi orang mencari teori
bagaimana menyatukannya.
Tapi Hasjim dan Mochtar mengembangkan teori bahwa satu negara yang
terdiri atas kepulauan, dianggap satu, dan menyatukan seluruh perairan
di dalamnya sebagai wilayah nasionalnya.
Perjuangan atas teori dan gagasan itu ditempuh melalui jalan panjang dan
berliku. Hasjim dan Mochtar menghadiri berbagai konferensi internasional
untuk mengetes sikap berdasarkan teori itu. Hasjim sendiri hadir dalam
pertemuan di Kairo tahun 1964. Namun kala itu tak ada reaksi dan
dipandang tidak ada urgensinya untuk dibahas.
Kemudian setelah ada persiapan ke arah Konferensi ke-3 PBB, yang dimulai
tahun 1967, dan Indonesia menjadi anggota PBB pada 1969, Hasjim
ditugaskan pemerintah menjadi peninjau. Kala itu sudah ada yang mulai
tergerak perihal pandangan negara kepulauan itu.
Lalu pada pertemuan Badan Hukum Asia Afrika di Colombo, 1971,
sudah tertarik untuk membahas. Dalam kesempatan ini, Hasjim mengemukakan
teori itu dan mulai mendapat simpati, meskipun lebih karena solidaritas
sesama Asia-Afrika.
Dengan perjuangan diplomasi panjang bertahun-tahun dan manfaatkan
solidaritas sesama negara Asia-Afrika, akhirnya Indonesia mendapat
dukungan dunia internasional. Pada 1972 Indonesia pun rumuskan
prinsip-prinsip pokoknya.
Ketika Konferensi PBB 1973, Hasjim aktif menggalang negara-negara
tetangga dan negara-negara yang kira-kira sama dengan Indonesia
merupakan negara-negara kepulauan, seperti Filipina, Fiji, dan
Mauritius. Juga organisasi dunia lainnya didekati. Konferensi Asia
Afrika, tiap tahun didukung. Organisasi negara-negara Afrika, juga
digarap. Hasjim beberapa kali menghadiri pertemuan di bidang kelautan di
berbagai belahan dunia. Akhirnya mereka banyak mendukung teori (gagasan)
negara kepulauan. Termasuk pada 1974, koferensi di Caracas yang
berlangsung delapan tahun.
Sementara Amerika, Inggris, Jepang dan Australia, sebagai
negara-negara maritim internasional, yang punya perkapalan, angkatan
laut, dan punya apa-apa di seluruh dunia, berupaya keras menentang.
Mereka antara lain kuatir bahwa wawasan nusantara itu akan merintangi
dan menghalangi mobilitas angkatan laut mereka dari satu samudera ke
samudera lain.
Namun karena keuletan para diplomat Indonesia, di antaranya Hasjim
Djalal dan Mochtar Kusumaatmadja, gagasan wawasan nusantara itu akhirnya
bisa diterima dunia. Hasjim sendiri sampai lupa berapa kali dia
bernegosiasi dengan Amerika, Jepang, dan Rusia, saking seringnya. Dalam
setiap pertemuan itu, Hasjim menjelaskan dan menegaskan sikap bahwa
negara kepualauan itu mutlak bagi Indonesia.
Ketika Presiden Soeharto ke Tokyo (Jepang), Hasjim ditugaskan ke sana
antara tahun 1974-1975. Salah satu tugas utamanya adalah bagaimana
supaya ketika Pak Harto datang, Jepang mau mengeluarkan pernyataan
mengakui wawasan nusantara Indonesia. "Bagi saya ini suatu tugas yang
sangat vital bagi bangsa Indonesia," kenang Hasjim Djalal. Misi ini pun
berhasil.
Setelah setiap persoalan terselesaikan dalam berbagai pertemuan
seminar dan diplomatik, dirumuskanlah dalam Konvensi Hukum Laut
Internasional pada tahun 1982. Seluruh negara pun mengakui bahwa
Indonesia adalah negara kepulauan.
Namun, sampai saat ini (era reformasi), Hasjim merasa prihatin bahwa
setelah itu dapat, bangsa Indonesia kurang mampu memanfaatkannya.
Menurut Hasjim, posisi strategis Indonesia sudah sangat banyak diketahui bahwa kita
sangat penting. Dalam arti letak perairannya berada di antara dua
samudera dan dua benua. Susah mencari negara di dunia yang memiliki
posisi seperti itu.
Namun, kata Hasjim, permasalahan yang dihadapi bangsa kita sejak dahulu, sudah berlangsung
ratusan tahun, yang pandai memanfaatkan posisi itu justru orang luar.
"Sampai hari ini kita tidak mampu mengambil keuntungan dari posisi yang
sangat strategis itu. Yang pandai dan mampu adalah Singapura," ujarnya.
Singapura dalam posisi di tengah jalan mampu mengembangkan industrinya,
perkapalannya dan segala macam. Kita kelihatannya belum mampu, padahal
memiliki unsur-unsur yang sangat strategis. Tidak ada orang yang bisa
lewat dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik tanpa melalui kita, atau
dari Pasifik ke Hindia.
Itu satu poin. Yang kedua, walau keadaan kita sangat strategis, besar,
banyak, dan kaya, Singapura tidak mempunyai resources karena dia kecil,
tetapi karena kita kurang pandai memanfaatkan alam maka banyak dicuri
orang. Sejak jaman penjajahan sudah begitu, sampai sekarang masih
seperti itu juga. Kekayaan alam kita banyak tetapi tidak mampu
memakmurkan rakyat.
Yang ketiga, karena kita besar, kekayaan alam banyak, akhir-akhir ini
terasa kita lebih banyak merusak daripada memanfaatkannya. Seperti hutan
yang hancur, laut kita juga sudah rusak. Sekarang kita menghadapi
terumbu karang yang rusak. Karena tidak paham, kita menganiaya alam.
Maksudnya mungkin tidak untuk menganiaya, tapi begitulah yang terjadi. ► ti
robinson binsar halomoan
Bersumber wawancara wartawan Tokoh Indonesia Haposan
Tampubolon dan Saud Situmorang, 13 Dsember 2007 dan refrensi Harian
Republika Minggu, 09 Nopember 2003)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|