A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Publikasi
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 01122005  
   
  ► e-ti/wes  
  Nama:
Prof. DR. H. Haryono Suyono, MA
Lahir:
Pacitan, Jawa Timur, 6 Mei 1938
Ayah:
Alimoeso
Ibu:
Padmirah
Istri:
Astuti Hasinah (Menikah 30 Agustus 1963)
Anak:
Ria Indrastuti (1964),
Dewi Pujiastuti (1965),
Fajar Wiryono (1967),
Rina Mardiana (1968)

Pendidikan:
- SR Pacitan, 1951
- SMP IV Negeri Yogyakarta, 1954
- SMA IVB Negeri Yogyakarta, 1957
- Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (dua tahun, tidak tamat, 1959)
- Akademi Ilmu Statistik (AIS), Jakarta (1963)
- S1, S2 dan S3 di University of Chicago, Amerika Serikat (1969-1972)
- Profesor pada Universitas Airlangga

Pengalaman Kerja:
- Asisten Direktur Akademi Ilmu Statistik, 1963
- Wakil Kanwil Kantor Sensus dan Statistik DKI Jakarta, 1965
- Pjs Kanwil Kantor Sensus dan Statistik DKI Jakarta, 1966
- Kepala Bagian Konsultasi dan Humas Kantor Biro Pusat Statistik, 1966-1969
- Tugas Belajar di University of Chicago, AS, 1969-1972
- Deputi beberapa bidang di BKKBN, 1973-1983
- Kepala BKKBN, 1983-1993
- Menteri Negara Kependudukan dan Kepala BKKBN, Kabinet Pembangunan VI, 1993-1998
- Menko Kesra dan Taskin dan Kepala BKKBN, Kabinet Pembangunan VII, 1998
- Menko Kesra dan Taskin Kabinet Reformasi Pembangunan, 1998-1999


 
 
     
 
BIOGRAFI

 

BIOGRAFI:   01   02   03   04   05   06   ==

Haryono Suyono (04)

Pengalaman Unik dan Lucu

 

Haryono mengalami beberapa kejadian unik dan lucu dalam perjalanan karirnya. Di antaranya, dipanggil mendadak oleh Presiden untuk makan singkong goreng. Juga pernah melompat dari helikopter dan Presiden ‘melapor’ kepadanya, serta pengalaman terperosok.


Pada tahun 1997, saat dia akan mengadakan kampanye di Malang, karena dia pembina Golkar wilayah Jawa Timur. Pagi-pagi setelah sarapan di Hotel Garden Surabaya, mendadak Ajudan Presiden menelponnya dari Jakarta, mengharapkan Haryono segera menghadap Presiden di Istana.


Dengan tidak banyak pertimbangan, Haryono akhirnya memutuskan untuk membatalkan acara kampanye yang telah direncanakan. Dia langsung menuju Bandara Juanda, Surabaya, dan terbang ke Jakarta. Perasaan berdebar-debar, takut, penasaran berbaur menjadi satu. Dalam hatinya berkata: “Ada apa ini, mengapa Presiden mendadak memanggil saya.” Tidak seperti biasa, kalau menteri ingin bertemu atau menghadap presiden, memerlukan persiapan, waktu dan jadwal yang telah diatur secara protokoler.


Sesampai di Istana Negara, Haryono langsung menghadap dan mohon petunjuk, kira-kira apa yang bisa dikerjakan. Sembari tersenyum, Pak Harto menawarkan santapan singkong goreng. Kebanggaan dan kebingungan campur aduk. Bangga karena diajak makan bersama Presiden. Bingung karena yang ada di depan mereka hanya singkong goreng.


Kemudian Pak Harto berkata: “Saya sengaja memanggilmu untuk menemani aku makan singkong goreng siang ini. Karena para menteri banyak yang sedang berkampanye, jadi kamu di sini saja menemani saya sambil ngobrol-ngobrol.” Menghadiri upacara bersama Presiden bagi dia hal biasa. Tapi ngobrol-ngobrol sambil makan singkong goreng suatu pengalaman tersendiri.


Pengalaman menarik lainnya. Pernah pada suatu ketika dia diajak Presiden berkunjung ke Aceh untuk mengadakan dialog dengan masyarakat Aceh. Pesawat helikopter yang ditumpangi Haryono beserta rombongan mengalami kerusakan dan terbakar saat akan tinggal landas di Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh.

Kejadiannya begini. Setelah terbang dengan ketinggian lebih kurang 10 -15 meter, tiba-tiba mesin pesawat helikopter mati. Haryono panik. Akhirnya dia melompat dan menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Dia selamat. Hanya luka di tubuhnya tidak bisa dihindari, terutama di bagian tangannya. Sebagai seorang yang beriman, dia pun bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwasanya dia masih diberi umur panjang dan terhindar dari malapetaka.

Pengalaman unik lainnya, ketika Haryono menjabat Menko Kesra dan Taskin. Di sebuah perbukitan di Bali, terjadi musibah tanah longsor. Dengan menggunakan pesawat Kepresidenan, Haryono mewakili Presiden dan Pemerintah Pusat mendatangi lokasi musibah tanah longsor tersebut.

Hujan lebat disertai angin kencang, mengakibatkan tanah di sekitar lokasi basah dan licin. Pada saat Haryono meninjau lokasi, dia terpeleset, hampir saja masuk jurang. Tuhan Yang Maha Kuasa masih melindunginya. Pengawal memegang tangannya sehingga Haryono terselamatkan. Peristiwa itu langsung dibidik kamerawan televisi yang mengikuti rombongan.  ►e-ti/crs-sh-am

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)