| |
C © updated 01122005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
YAYASAN DAMANDIRI
Badan Pendiri:
Ketua merangkap Anggota:
H.M. Soeharto
Sekretaris merangkap Anggota:
Prof. Dr. Haryono Suyono
Para Anggota:
– Soedono Salim
– Sudwikatmono
Badan Pengurus:
Ketua:
H.M. Soeharto
Wakil Ketua I:
Prof. Dr. Haryono Suyono
Wakil Ketua II:
Soedono Salim
Wakil Ketua III:
Sudwikatmono
Sekretaris:
Drs. Subiakto Tjakrawerdaja
Wakil Sekretaris:
Drs. Fuad Bawazir
Bendahara:
Bambang Trihatmodjo
Wakil Bendahara:
Anthony Salim
Para Anggota:
– Dra. Endang Inten Suweno
– Ir. Tungky Ariwibowo
– Drs. Saadillah Mursjid
– Prajogo Pangestu
– Eka Tjipta Widjaja
– Moh. Hasan
– Rachman Halim
– Putera Sampurna
– Henry Pribadi
– Usman Admadjaja
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06 ==
Haryono Suyono
Sepululuh Tahun Yayasan Damandiri
Tepat tanggal 15 Januari 2006, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (YDSM
atau Damandiri), genap berusia sepuluh tahun. Namun, walaupun yayasan
yang resmi berdiri 15 Januari 1996, itu masih relatif muda, kiprahnya
membantu pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan sudah cukup
berarti, dalam pasang-surut pengabdiannya.
Akte Pendirian Yayasan Damandiri ini ditandatangani HM Soeharto,
Prof.DR.Haryono Suyono, Sudwikatmono dan Sudono Salim. Didirikan untuk
mengawinkan upaya pemerintah menyejahterakan masyarakatnya dengan
kesediaan pengusaha membantu si kecil. Kala itu, Para pengusaha sepakat
bahwa mereka yang mempunyai keuntungan di atas Rp 100 juta per tahun
untuk rela memberi sumbangan bagi usaha-usaha pengentasan kemiskinan
untuk keluarga-keluarga kurang mampu di luar desa tertinggal melalui
yayasan ini.
Apa latarbelakang pendirian yayasan ini? Apa dan bagaimana kegiatannya
sampai hari ini? Siapa-siapa tokoh yang berperan di dalamnya? Itulah
berbagai pertanyaan yang antara lain muncul di tengah masyarakat banyak.
Didorong Keinginan Luhur
Pembangunan nasional yang berkesinambungan, dari satu Pelita ke Pelita
berikutnya telah berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tingkat
kemiskinan yang pada tahun 1970-an masih berada pada angka 60 – 70
persen, turun menjadi 12-13 persen pada tahun 1993-1994, bahkan mencapai
sekitar 11 persen tahun 1996.
Namun sejak tahun 1990-an itu penurunan angka kemiskinan makin melambat
bahkan cenderung mandeg. Sehingga, kala itu (1993-1994), pemerintah
mengambil langkah konkrit dengan Program Inpres Desa Tertinggal yang
terkenal sebagai Program IDT. Suatu pendekatan pemberdayaan langsung
kepada sasaran, yaitu keluarga atau penduduk miskin.
Namun, Haryono Suyono, yang kala itu menjabat Menteri Negara
Kependudukan merangkap Kepala BKKBN, merasa kurang pas dengan konsep
Inpres Desa Tertinggal yang dijabarkan Bappenas, hanya mencakup 22.000
desa yang perlu didanai oleh pemerintah. Padahal saat itu ada 65 ribu
desa di Indonesia.
Apalagi peta kependudukan dan kemiskinan yang dimiliki BKKBN jauh lebih
sempurna daripada yang disusun Biro Pusat Statistik yang menjadi acuan
Bappenas. Maka Haryono berupaya menanyakan kepada Pak Harto: “Apakah 43
ribu desa lagi harus menunggu giliran?” Pak Harto balik bertanya:
“Maksud kamu bagaimana?” Haryono menjelaskan, program yang dirancang
Bappenas itu tidak akan bisa membantu keluarga miskin di 43.000 desa
lainnya.
Haryono mengatakan program 22 desa itu tidak bisa digunakan di dalam
proses pemberdayaan rakyat. Haryono mengusulkan alternatif kreatif
dengan sekaligus harus mengajari rakyat menabung dan berusaha
kecil-kecilan. Jadi 43 ribu desa lainnya tidak perlu menunggu giliran,
bisa segera mulai.” Argumen itu bisa diterima oleh Presiden.
Kebetulan saat itu konglomerat sudah mulai bicara-bicara masalah
kemiskinan. Mereka juga prihatin atas makin melambatnya penurunan
tingkat kemiskinan tersebut. Lantas Pak Harto berbicara dengan sejumlah
konglomerat. Mereka pun merasa terketuk hatinya untuk ikut bersama
pemerintah memikirkan jalan keluar yang terbaik.
Dalam kesempatan yang sama, oleh BKKBN mulai diadakan pula
program-program pemberdayaan keluarga dalam rangka pengembangan keluarga
kecil yang bahagia dan sejahtera. Lalu para pengusaha yang peduli
mengusulkan kepada Presiden untuk ikut serta menangani keluarga dan
penduduk di desa yang tidak tertinggal.
Para konglomerat itu maunya donasi yang dikumpulkan dari mereka dikelola
oleh sebuah yayasan. Haryono. Pak Harto memerintahkan Haryono menyiapkan
konsepnya sekaligus lebih meyakinkan para konglomerat itu. Para
pengusaha itu pun setuju pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan rakyat
dilakukan lewat jalur peserta KB.
Presiden Soeharto juga memberi dukungan dan kesempatan agar jajaran
BKKBN bisa mempunyai program memberdayakan keluarga-keluarga miskin,
yaitu membantu keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I
mengentaskan kemiskinan yang di deritanya.
Karena pemerintah tidak mempunyai cukup dana, maka Presiden memutuskan
untuk mengembangkan program yang paralel di seluruh desa dengan
pendanaan yang disediakan secara gotong royong dengan bantuan
masyarakat. Beliau memerintahkan untuk segera dikembangkan kerjasama dan
sinergy dengan para pengusaha yang telah menyatakan keprihatinan
terhadap masyarakat miskin.
Lalu, Haryono dan jajarannya mengadakan koordinasi dengan para pengusaha
dan mendapatkan jaminan bahwa para pengusaha bersedia bekerja sama untuk
ikut membantu mengentaskan kemiskinan di desa-desa yang tidak tercakup
dalam program. Atas dasar komitmen itu kemudian disusun program dimana
para keluarga yang telah mengikuti KB dan tergabung dalam
kelompok-kelompok, lebih-lebih yang mempunyai minat untuk mengikuti
pemberdayaan ekonomi keluarga, diajak serta untuk belajar menabung.
Kemudian disusun program atau gerakan keluarga sadar menabung agar
supaya para keluarga yang sekarang masih miskin bisa belajar menabung.
Dalam rancangan awal dana yang ditabung itu akan dijadikan modal bersama
untuk dipergunakan secara bergulir oleh para penabungnya. Dengan memberi
kesempatan para peserta KB yang telah bergabung dalam kelompok-kelompok
untuk menabung akan diperoleh dana yang cukup untuk bisa dipergunakan
secara bergulir.
Namun karena keluarga-keluarga itu pada umumnya miskin, atas petunjuk
Presiden modal awal tabungan itu disumbang oleh para pengusaha. Gerakan
Keluarga Sadar Menabung itu kemudian dicanangkan oleh Presiden pada
tanggal 2 Oktober 1995 dan tabungan para keluarga pra sejahtera dan
keluarga sejahtera I itu kemudian terkenal sebagai Tabungan Keluarga
Sejahtera atau Takesra.
Dengan dimulainya gerakan keluarga sadar menabung itu diharapkan segera
terkumpul dana yang memadai untuk membantu keluarga di desa tidak
tertinggal. Namun kemudian disadari bahwa dana yang dibutuhkan untuk
43.000 desa dengan keluarga kurang mampu ternyata sangat besar dan akan
lama sekali apabila harus menunggu dana yang ditabung oleh keluarga yang
ada. Juga disadari bahwa jumlah keluarga miskin di desa tidak tertinggal
ternyata lebih besar dibandingkan dengan jumlah keluarga miskin di desa
tertinggal.
Atas dasar kenyataan itu disusun suatu program alternatip dengan
mengharapkan sumbangan yang lebih besar dari para pengusaha yang ada.
Para pengusaha sendiri juga sadar bahwa mereka harus segera mengulurkan
tangan membantu upaya yang luhur ini. Bahkan ada yang mengusulkan agar
para pengusaha menyumbangkan sekitar dua persen dari keuntungannya untuk
mempercepat upaya pengentasan kemiskinan tersebut.
Para pengusaha itu kemudian menghubungi dan mohon kepada Presiden
Soeharto untuk membentuk suatu wadah yang bisa menampung partisipasi
masyarakat dan dana sumbangan para pengusaha tersebut. Untuk itu
dicetuskan gagasan membentuk Yayasan dengan permintaan dari para
pengusaha agar Pak Harto sendiri bersedia memimpinnya.
Maka pada tanggal 15 Januari 1996 dibentuk dan resmi berdiri Yayasan
Dana Sejahtera Mandiri (YDSM atau Damandiri). Akte Pendirian Yayasan
Dana Sejahtera Mandiri itu ditanda tangani HM Soeharto, Prof.DR.Haryono
Suyono, Sudwikatmono dan Sudono Salim. Para pengusaha sepakat bahwa
mereka yang mempunyai keuntungan di atas Rp. 100 juta per tahun untuk
rela memberi sumbangan bagi usaha-usaha pengentasan kemiskinan untuk
keluarga-keluarga kurang mampu di luar desa tertinggal melalui yayasan
ini.
Demikian kisah ringkas berdirinya Yayasan Damandiri (YDSM), yang
didorong oleh keinginan luhur untuk mengentaskan sesama rakyat Indonesia
yang masih tertinggal tingkat kesejahteraannya. Dana yang terkumpul pada
YDSM disimpan dan dikelola oleh PT Bank BNI, kemudian disalurkan pada
kelompok-kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera
(UPPKS) dalam bentuk Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (KUKESRA). Pinjaman
dan tabungan yang dilakukan kelompok-kelompok UPPKS, dilayani oleh PT
Pos Indonesia.
Kala itu kondisi kesejahteraan satu per satu akseptor KB sudah
diketahui. Tanggal 2 Oktober 1995 dimulailah gerakan menabung di jajaran
10,3 juta peserta KB. Pengalaman membagi 10,3 juta buku tabungan bukan
pekerjaan mudah. Bank hanya mampu membagi sejuta buku tabungan dalam
sebulan. Jadi 10,3 juta dibagikan dalam tempo 10 bulan.
Soalnya, harus mencari dan mencocokkan, apakah seorang akseptor
tergolong keluarga miskin atau tidak. “Tetapi karena dilakukan 10 bulan,
tidak ada gejolak. Selalu ada jawaban, bulan depan. Berbeda dengan
keadaan pembagian kartu miskin belakangan ini yang berbuntut ekses
karena dibagikan sekaligus,” tutur Haryono Suyono yang selain pendiri
menjabat Wakil Ketua Umum Yayasan Damandiri sejak berdiri.
Bank membagikan kartu tabungan yang sudah ada isinya, 1 dolar AS dan Rp
20.000. Kalau mereka mengisi sendiri Rp 20.000, boleh pinjam dalam
jumlah sepuluh kali dari tabungan itu, atau Rp 200.000. Demikian
seterusnya. Jika mereka sudah melunasi pinjamannya, tabungannya
bertambah Rp 20.000. Jika penyelesaian pinjamannya lancar, kinerja
usahanya membaik, ini punya efek ganda pada kelompok lain.
Namun, pada era hura-hura (reformasi), jaringan ini berantakan, bubar
semua. Pinjaman tidak dikembalikan. Kelompok-kelompok tidak bisa dibina
lagi. Padahal dulu yang membina para petugas lapangan pertanian dan
koperasi. Cita-citanya, usaha koperasi bisa berkembang. Karena hura-hura
reformasi tahun 1998, koperasinya dibubarkan, kelompoknya dibubarkan.
Nah, sekarang disuruh hidupkan lagi. Kondisinya sudah susah, sulit
menggalang kembali partisipasi mereka.
Adapun program-program yang telah dilakukan atau mendapat dukungan
Yayasan Damandiri sejak berdiri antara lain: TAKUKESRA tahun 1995-2002;
KPKU dan KPTTG TASKIN tahun 1998-1999; PUNDI, SUDARA dan KUKESRA MANDIRI
tahun 1999 sampai sekarang; dan KREDIT MIKRO BANKING tahun 2002 sampai
sekarang.
Takukesra (1995-2002)
Program ini merupakan bantuan pembinaan keluarga prasejahera dan
keluarga sejahtera I yang tergabung dalam kelompok-kelompok Usaha
Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS). Kelompok-kelompok ini
mendapat pembinaan secara berkelanjutan dari BKKBN. Yayasan Damandiri
memberikan dukungan dana untuk pembinaan dan skim kredit yang diberikan
kepada kelompok dan anggotanya.
Bantuan pinjaman dalam skim kredit itu adalah untuk modal kerja bagi
keluarga-keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I yang dikenal dengan
Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (KUKESRA), di mana para nasabah
diwajibkan untuk menabung dalam tabungan yang dikenal dengan nama
Tabungan Keluarga Sejahtera (Takesra).
KPKU dan KPTTG Taskin (1998-1999)
Skim ini disediakan untuk beberapa kelompok dan keluarga yang sangat
berhasil. Mereka membutuhkan jumlah dana yang lebih besar dari
Rp.320.000,- per keluarga untuk melanjutkan usahanya dengan lebih besar
dan mengangkat anggota keluarga lain menjadi binaannya karena keluarga
yang bersangkutan tidak berhasil berusaha secara mandiri.
Dalam hal ini dikembangkan skim pembinaan baru yang pembinaannya
diharapkan dapat datang dari para pengusaha yang berpengalaman dan
kreditnya akan didukung dengan dana oleh Yayasan Damandiri dan dana yang
ditempatkan oleh BUMN pada Bank-Bank Pemerintah, yaitu skim Kredit
Pengembangan Kemitraan Usaha (KPKU) yang memberikan pinjaman untuk modal
kerja dengan dana yang lebih besar.
Karena sesuatu sebab, dana dari BUMN tidak jadi ditempatkan untuk
mendampingi dana dari Yayasan Damandiri, sehingga karena sudah terlanjur
dimasyarakatkan maka dana untuk skim ini hanya berasal dari Yayasan
Damandiri, dengan harapan bahwa program ini dikemudian hari dapat
memperoleh pendampingan dari sumber lainnya.
Pundi, Sudara dan Kukesra Mandiri (1999-2003)
Dalam praktek skim KPTTG Taskin tidak juga bisa memenuhi kebutuhan
kelompok atau keluarga yang berhasil karena dengan adanya berbagai
pergantian pemerintahan ada beberapa instansi yang dihapus atau tidak
lagi tertarik dengan upaya pengentasan kemiskinan.
Untuk membantu kelompok atau keluarga yang berhasil agar mereka tidak
kembali jatuh miskin, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, sesuai dengan
arahan Ibu Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden pada waktu itu,
melanjutkan upaya pemberdayaan keluarga dengan wilayah yang lebih
sempit, yaitu Kawasan Timur Indonesia.
Arahan itu juga menggariskan bahwa Yayasan diminta melaksanakan program
dan kegiatannya secara mandiri dengan rekan kerja atau mitra kerja yang
dianggap tepat. Dengan petunjuk itu skim baru yang diperkenalkan
dinamakan Pembinaan Usaha Mandiri atau Pundi, yang berisi pembinaan dan
skim kredit mandiri dengan bunga pasar.
Untuk mencoba apakah skim ini dapat dilaksanakan sesuai petunjuk Ibu
Wakil Presiden, Yayasan menggalang kerjasama dengan Bank Perkreditan
Rakyat (BPR) Nusamba dengan tugas membantu pembinaan kelompok atau
keluarga secara langsung dengan sistem kredit dengan bunga pasar dan
menjemput bola.
Sistem menjemput bola itu adalah bahwa para nasabah dikunjungi di tempat
usahanya dan dibantu untuk mempersiapkan diri bagaimana mendapat kredit
dan melakukan usahanya dengan baik. Percobaan itu berhasil dengan baik
dan dilanjutkan dengan percobaan lain bekerjasama dengan BPR Artha Huda
Abadi dan BPR Yekti Insan Sembada, dengan Koperasi Swamitra yang berada
di bawah binaan Bank Bukopin serta pengembangan warung dengan Koperasi
Warung Jembatan Kesejahteraan atau Koperasi Warung JK.
Kredit Mikro Banking (2002-2003)
Program lain yang dikembangkan adalah kelanjutan dari Kukesra dalam
bentuk Kukesra Mandiri dan Kredit Mikro Banking dimana cara dan bunga
banknya mengikuti sistem penyaluran yang lebih aman, yaitu dengan sistem
executing. Program Kukesra Mandiri ini pembinaannya dilakukan oleh BKKBN
dan jajarannya sedangkan penyaluran dananya dilakukan oleh Bank BNI dan
Bank Bukopin di 12 provinsi terpilih. Program Kredit Mikro Banking
bekerjasama dengan Bank BNI dalam penyalurannya di Seluruh Indonesia.
Pemberdayaan SDM (1996-2003)
Selain itu Yayasan Damandiri juga melakukan pemberdayaan keluarga kurang
mampu menyangkut pula pemberdayaan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Sejak tahun 1996 Yayasan Damandiri ikut serta memberikan bantuan untuk
pemberdayaan anak-anak keluarga kurang mampu itu melalui pemberian
bantuan beasiswa untuk anak-anak SD, SLTP dan SMU melalui Lembaga
GN-OTA.
Atas dasar latar belakang itu Yayasan Damandiri bekerjasama dengan
Yayasan Supersemar berusaha merangsang anak-anak keluarga kurang mampu
yang sekolah di SMU, negeri dan swasta, untuk mengikuti Ujian Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).
Program awal yang dikerjakan adalah membantu anak-anak itu membeli
formulir ujian, mondok di tempat ujian dan membayar uang SPP anak-anak
itu kalau di terima di Perguruan Tinggi Negeri. Namun harus diakui bahwa
kualitas anak-anak keluarga kurang mampu itu begitu rendahnya sehingga
target bantuan yang disediakan setiap tahun tidak bisa diserap
seluruhnya.
Untuk memperbaiki kondisi itu, mulai tahun 2002 bantuan itu ditingkatkan
menjadi Bantuan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Anak-anak dari
Keluarga Kurang Mampu yang bersekolah di SMU, SMK dan Madrasah Aliyah di
kawasan timur Indonesia. Bantuan berupa tabungan itu dinamakan Program
Belajar Mandiri. Program peningkatan mutu pendidikan tersebut telah
diangkat secara nasional pada tanggal 2 Mei 2002 yang lalu sebagai
“gerakan nasional peningkatan mutu pendidikan”. ►e-ti/crs-sh-am
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|