| |
C © updated
12032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Letjen TNI (Purn) Hari Sabarno
Lahir:
Solo, Jateng, 12 Agustus 1944
Agama:
Islam
Isteri:
RA Dewi Margawati
Anak:
Vina S Priamsari dan Fery Indrayudha
Pendidikan:
- Akademi: AMN 1967
- S1: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 1994
- S2: Magister Manajemen 1998
Pekerjaan:
Menko Polkam Ad Interim (12 Maret 2001 - 2004)
Menteri Dalam Negeri Kabinet Gotong Royong 2001-2004
Anggota DPR (1999-2004) Fraksi TNI/Polri
Penghargaan:
"The Best Executive Award" Reformasi 1999, Bintang Kartika Eka
Paksi Nararya dan Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya dan Pratama serta
Bintang Mahaputra Adhipradana.
Alamat Kantor:
Jalan Medan Merdeka Utara No.7, Jakarta 10110
Telepon (021) 3842222 -3450038 pes 2212
Fax (021) 38112221
Alamat Rumah:
Jalan Denpasar Raya Blok C III No.2, Kuningan, Jakarta
|
|
| |
|
|
|
|
Hari Sabarno
Mencegah Disintegrasi Bangsa
Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno ditunjuk Presiden Megawati Soekarnoputri
sebagai Menko Polkam ad interim, Jumat 12 Maret 2003, menggantikan Susilo
Bambang Yudhoyono yang sehari sebelumnya mengajukan permohonan undurkan
diri. Presiden mengangkat Hari Sabarno karena yang bersangkutan dinilai
cakap dan memahami tugas Menko Polkam.
"Beliau pejabat di lingkungan polkam yang paling senior. Dan, dari
penilaian presiden, beliau cakap untuk tugas itu," kata Menteri Sekretaris
Negara Bambang Kesowo dalam jumpa pers di Sekretariat Negara, Jumat malam.
Penunjukan itu ditetapkan dalam surat Sekretaris Negara kepada Menteri
Dalam Negeri (Mendagri) Hari Sabarno tertanggal 12 Maret 2004. "Keputusan
itu telah diberitahukan kepada Mendagri," paparnya.
Sebagai Menteri Dalam Negeri, ia melihat tantangan ke depan adalah adanya
gejala disintegrasi melalui gerakan yang halus sampai terbuka. Harus
dipelajari kedalamannya apakah murni kepingin merdeka sendiri atau hanya
sebagai satu move karena rasa keadilan politik, ekonomi, kesejahteraan
yang kurang diperhatikan.
Mendengar namanya disebut dalam pengumuman pembentukan Kabinet Gotong
Royong, ia merenung. Tetapi karena itu satu amanah, satu permintaan dari
negara melalui presiden, ia sebagai individu yang berlatar belakang
militer tidak pernah menawar sesuatu perintah atau tugas, sebab tugas dan
perintahan itu adalah kehormatan. Bahwa menjadi menteri itu tidak untuk
enak-enakkan, tetapi mengemban tugas berat dan mulya. Kepercayaan besar
yang diberikan kepadanya merupakan satu kehormatan dan pengakuan atas
integritas diri dan kemampuan untuk memimpin suatu departemen yang
strategis.
Jenderal bintang tiga, ayah dua orang anak, Vina S Priamsari dan Fery
Indrayudha, ini mengatakan bahwa sebagai orang yang berlatar belakang
prajurit, kalau diberi suatu kepercayaan maka semua itu harus dilakukan
seoptimal mungkin.
Bagi pria kelahiran Solo, 12 Agustus 1944 ini, pengangkatannya menjadi
Menteri Dalam Negeri, selain amanah juga merupakan "kado" istimewa hari
ulang tahunnya yang ke-57. Sebelum pengumuman itu, sebenarnya malam
harinya pukul 01.00 ia telah ditelepon Ibu Presiden. Saat ditelepon itu,
ia menyatakan ini satu kehormatan, amanah dari Allah SWT.
Tentang pengangkatannya, suami RA Dewi Margawati, ini yakin bahwa presiden
bersama para stafnya tentunya sudah melakukan penilaian mendalam kepada
dirinya.
Pengalamannya di Majelis menjadi modal yang sangat berharga baginya masuk
ke dunia eksekutif. Karena ia dari legislatif, ia paham bagaimana harus
berhadapan dengan legislatif. Waktu jadi Ketua Komisi II ia bertanya
kepada Mendagri, tentu gilirannya yang akan ditanya oleh Ketua Komisi II.
Sebelum menjabat Mendagri, ia masih menjabat Wakil Ketua MPR dari Fraksi
TNI/Polri. Perjalanan kariernya berawal pada tahun 1967, setlah lulus dari
pendidikan militer dengan pangkat Letnan Dua. Ia mendapat promosi pertama
sebagai Komandan Peleton dan Kasi-2 Brigade Infantri di Kodam Brawijaya
antara tahun 1968-1975.
Kemudianj jabatan Komandan Batalyon (Danyon) dan Komandan Korem (Danrem)
di Kodam Siliwangi diembannya dari pangkat Letkol hingga Kolonel dalam
kurun waktu 11 tahun (1982-1993). Karier militernya makin menanjak setelah
ia dipromosikan menjabat Wakasospol dan Asospol Kasospol ABRI di Mabes
ABRI, pada 1994-1995.
Setelah itu, ia dipercayakan mewakili ABRI di lembaga legislatif sejak
1995. Langsung menjadi Ketua Fraksi ABRI. Kemudian terpilih menjadi Wakil
Ketua MPR/DPR dari Fraksi TNI/Polri hingga 2001 dengan pangkat terakhir
Letjen TNI. Kiprahnya di lembaga legislatif itu sangat berhasil. Terbukti,
masa aktifnya diperpanjang selama dua tahun agar ia bisa tetap mejabat
unsur pimpinan MPR/DPR mewakili TINI/Polri.
Jenderal yang murah senyum ini mendapat penghargaan "The Best Executive
Award" Reformasi 1999. Ia juga menggenggam sejumlah bintang jasa seperti
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya dan Pratama, Bintang Yudha Dharma
Nararya dan Pratama serta Bintang Mahaputra Adhipradana. ►tsl, dari berbagai
sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|