| |
C © updated 07092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Han Awal
Lahir:
Malang, 16 September 1930
Istri:
Anastasia Maria Theresia
Anak:
- Paulus Rachmat Trisna Awal
- Gregorius Antar Awal
- Maria Daryanti Awal
Maria Widyati Awal
Pendidikan:
- Techniche Hoogeschool Delft, Belanda, 1950-1957
- Techniche Universitat, Faculatfur Architectur, Berlin Barat, 1957-1960
Karier:
- Direktur PT Han Awal & Partners Architect, 1971
- Pembantu Rektor/Dosen Akademi Pertamanan DKI Jakarta, 1969-1971
- Proyek Conefo/MPR-DPR sebagai Asisten I Kepala Proyek, 1964-1972
- Dosen Tak Tetap FTUI Jurusan Arsitektur, 1965-2000
- Dosen Pembina FT Unika Soegiyapranata, Semarang, 1990-2003
- Dosen Pembina FT Universitas Merdeka, Malang, 1997-2004
- Dosen Tak Tetap Program Pascasarjana FT UI, 2003
Organisasi Profesi:
- Ikut mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur
- Anggota Dewan Kehormatan IAI DKI Jakarta
Penghargaan:
- Penghargaan AIA untuk Kompleks Universitas katolik Atma Jaya,
Jakarta, 1984
- Penghargaan AIA untuk Konservasi Gedung Arsip Nasional, 1999
- Award of Excellence UNESCO Asia Pasific Heritage, bersama Budi Lim dan
Cor Passchier, 2001
- Prof Teeuw Award, bersama Soedarmadji JH Damais dan Wastu Pragantha
Zhong, 2007
Alamat:
Biro Arsitek Han Awal & Partners, di Pondok Pinang, Jakarta
Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| HAN AWAL HOME |
|
|
 |
Han Awal
Arsitek Pemugar Bangunan Tua
Han Awal, seorang arsitek santun bersuara lembut lamat-lamat. Arsitek
yang ikut berperan merancang Gedung MPR/DPR sebagai
asisten arsitek Soejoedi, itu lahir di Malang, 16 September 1930. Karya
penerima penghargaan Prof Teeuw Award, itu sudah tersebar di beberapa
tempat. Belakangan, dia lebih dikenal sebagai arsitek konservatoris.
Han menyukai arsitektur setelah terinspirasi keindahan Kota Malang,
tempat kelahirannya. "Malang itu kota yang ideal. Kota yang nyaman dan
memiliki banyak bangunan indah. Saya sangat terkesan," kata Han, bapak
empat anak dan kakek empat cucu ini.
Saat lulus SMA tahun 1950, Han sebetulnya ingin belajar arsitektur di
ITB. Namun, waktu itu ITB belum memiliki jurusan arsitektur. Terpengaruh
brosur program pendidikan ahli bangunan di Technische Hoogeschool di
Delft, Belanda, ia melanjutkan studi di sekolah itu dengan beasiswa dari
Keuskupan Malang. Di tempat ini, dia berkenalan dengan mahasiswa asal
Indonesia, seperti Bianpoen, Soewondo, Pamoentjak, dan Soejoedi.
Ketegangan hubungan Indonesia-Belanda gara-gara sengketa Papua mulai
terasa akhir tahun 1956. Ini membuat Han pindah ke Jerman dan
melanjutkan kuliah arsitektur di Technische Universitat, Berlin Barat,
dan lulus tahun 1960.
"Di Belanda, saya banyak belajar arsitektur dari segi teknis. Mungkin
karena negerinya kecil, para arsitek Belanda sangat mementingkan presisi.
Perbedaan ukuran sesentimeter saja bisa dipersoalkan. Baru di Jerman
saya mendapat pengetahuan tentang konsep-konsep besar arsitektur,"
ceritanya.
Sebagai arsitek, jejak Han tersebar di banyak tempat. Di Jakarta,
sentuhan Han, misalnya, bisa dilihat di Gedung MPR/DPR. Ia menjadi
asisten arsitek Soejoedi dalam proyek pembangunan gedung megah di
Senayan, yang awalnya dibangun sebagai Gedung Conefo (Conference of New
Emerging Forces) 1964-1972. Kampus Universitas Katolik Atma Jaya di
Semanggi dan gedung sekolah Pangudi Luhur di Kebayoran Baru, Jakarta,
juga karya dia.
Ciri banyak bangunan karya Han adalah kesederhanaan, dengan dinding dan
langit-langit yang sering dibiarkan telanjang. Ia juga mempertimbangkan
iklim tropis Indonesia saat merancang, misalnya dengan memperhitungkan
sirkulasi udara silang agar bangunan tak perlu pendingin ruang dan hemat
energi.
"Prinsip arsitektur tropis tak selalu bisa diterapkan. Teori ventilasi
silang, misalnya, hanya cocok untuk gedung rendah. Untuk bangunan tinggi,
teori ini tak bisa dipakai karena di lantai-lantai atas angin terlalu
kencang," papar Han yang merasa sebagai arsitek fungsionalis ketimbang
minimalis.
Mendalami konservasi
Han belakangan lebih dikenal sebagai arsitek konservatoris yang
menggeluti pemugaran bangunan-bangunan tua. Pada tahun 1988 ia terlibat
proyek pemugaran Katedral Jakarta yang sudah mengalami kerusakan berat
di berbagai bagian. Ia mengusulkan mengganti atap sirap gereja Katolik
yang hampir berusia seabad itu dengan pelat tembaga yang tahan lama.
Karya Han yang monumental di bidang pemugaran adalah Gedung Arsip
Nasional, Jalan Gajah Mada 111, Jakarta. Bersama arsitek Belanda, Cor
Passchier dan Budi Lim, arsitek lulusan Inggris, ia terlibat pemugaran
besar-besaran atas gedung yang dibangun pejabat VOC, Renier de Klerk,
akhir abad ke-18 itu. Pemugaran dibiayai oleh berbagai pihak swasta di
Belanda, sebagai hadiah ulang tahun emas Proklamasi Kemerdekaan RI,
tahun 1995.
"Bangunan tua harus diberi aura baru, sesuai dengan tuntutan zaman.
Lampu harus dibuat lebih terang dari dulu, juga pengatur udara," kata
Han yang sangat memerhatikan detail.
Dalam menggarap pemugaran bangunan tua, ia sering terkesima dengan aspek
estetis dan budaya yang melekat pada bangunan itu. Untuk merekam semua
itulah, Han mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur bersama sejumlah
arsitek.
"Bangunan-bangunan tua umumnya tak lagi mempunyai gambar, baik gambar
desain arsitektur maupun konstruksi. Jadi, untuk memugar, saya harus
mengukur ulang. Saya sering terpaksa melakukan penggalian data sampai ke
Belanda, KITLV di Leiden, Koninklijk Instituut voor de Tropen di
Amsterdam, atau kepada teman-teman yang juga bekerja pada konservasi,"
ujarnya.
Han pun menjalin pertemanan dengan para arsitek Belanda, termasuk Cor
Passchier. Kerja sama intensif baru terjadi setelah ia bertemu para
arsitek Negeri Kincir itu di sebuah seminar tentang bangunan warisan
sejarah di Indonesia yang digelar IAI tahun 1980-an.
"Sebagai pemugar bangunan tua, saya menemukan hal-hal tak terduga.
Ternyata, tak semua bangunan tua bikinan Belanda itu baik. Banyak
konstruksi yang diselewengkan dan kaidah arsitektur yang tak
dilaksanakan dengan benar. Konstruksi jadi tambal sulam. Tapi, itu kan
manusiawi dan bukan hal memalukan," papar Han.
Penghargaan Profesor Teeuw
Han kini sedang sibuk menangani pemugaran Gedung Bank Indonesia, Jakarta
Kota. Bekas gedung Javasche Bank, bank sentral Hindia Belanda yang
berdiri sejak 1828. Setelah itu, ia berencana memugar bangunan Gereja
Imanuel, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, dan sebuah rumah tua di
Jalan Prapatan, Jakarta. Bangunan itu pada abad ke-19 adalah rumah
seorang mayor China.
Pertengahan Agustus 2007, dalam sebuah acara di Erasmus Huis, Jakarta,
dia menjadi salah satu dari tiga orang Indonesia yang dianugerahi
penghargaan Profesor Teeuw. Penghargaan yang menggunakan nama Profesor
AA Teeuw, guru besar kajian budaya Indonesia di Universitas Leiden,
Belanda, itu diberikan dua tahun sekali sejak 1992 kepada warga
Indonesia atau Belanda yang dinilai berjasa meningkatkan hubungan
kebudayaan kedua negara. ( Mulyawan Karim, Kompas, Jumat, 07
September 2007 ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|