| |
C © updated
28112002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Dr (HC) H Hamzah Haz
Lahir:
Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940
Agama :
Islam
Isteri:
1. Asmaniah
2. Titin Kartini
Pendidikan:
- SMP, Pontianak, Kalimantan Barat
- SMEA, Pontianak, Kalimantan Barat
- Akademi Koperasi Negara, Yogyakarta (1962) Jurusan Ekonomi Perusahaan,
Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura, Pontianak (tingkat V, 1970)
Karir:
- Guru SM Ketapang (1960-1962)
- Wartawan suratkabar Bebas, Pontianak, Kalimantan Barat (1960-1961)
- Pimpinan Umum Harian Berita Pawau, Kalimantan Barat
- Ketua PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, (1962)
- Ketua Badan Pemeriksa Induk Koperasi Kopra Indonesia (1965-1970)
- Ketua Presidium KAMI Konsulat Pontianak (1968-1971)
- Asisten Dosen di Universitas Tanjungpura Pontianak (1968- 1971)
- Anggota DPRD Tk I Kalimantan Barat (1968-1971)
- Anggota DPR RI (1971-2001)
- Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM (1998-1999)
- Wakil Ketua DPR (1999-2001)
- Menko Kesra dan Taskin (1999)
- Wakil Presiden RI (26 Juli 2001-2004)
Alamat rumah:
Jalan Tegalan No. 27
Jakarta Timur |
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3
4 5 6 7 ==
Dr. H. Hamzah Haz (1)
Tokoh Politik yang Akomodatif
Ketua Umum DPP PPP ini akhirnya dideklarasikan sebagai calon presiden
berpasangan dengan Agum Gumelar. Ia yang semua diproyeksikan menjadi
Cawapres, akhirnya menjadi Capres untuk menjalankan mandat parpol. Dia
mengaku memilih Agum karena menteri perhubungan itu nasionalis 24 karat,
untuk mengimbangi unsur Islam yang melekat pada PPP. Duet yang terkesan
mendadak ini, paling terakhir mendaftarkan pencalonan ke KPU, Rabu 12 Mei
2004.
Pasangan capres Hamzah Haz dan cawapres Agum Gumelar dari PPP ini tiba di
gedung KPU pukul 13.00 didampingi sejumlah fungsionaris pusat parpol
berlambang Ka’bah, seperti Ali Marwan Hanan dan Chozin Chumaidy. Setelah
pendaftaran, duet Hamzah-Agum dideklarasikan di Stadion Tennis Indoor,
Gelora Bung Karno, Jakarta. Duet ini bertekad untuk mewujudkan Indonesia
baru yang makmur, adil, sejahtera, dan mandiri.
Hamzah yang sebelumnya disebut-sebut akan menjadi wapres dari Megawati
dalam Pemilu 5 Juli 2004, mengakui proses pencalonannya sangat cepat,
begitu pula penetapan pasangannya. "Jangankan Anda, saya sendiri pun kaget.
Menurutnya, sebenarnya dengan perolehan pemilu legislatif yang tidak
sesuai dengan target partai, tidak ada rencana untuk menampilkan capres.
Tetapi, katanya, sesuatu terjadi di luar dugaan dan di luar hitungan
matematika secara rasional.
Di KPU Hamzah-Agum didaulat untuk memberikan keterangan pers. Wakil
Presiden Kabinet Gotong-Royong (Megawati) ini menjanjikan pemerintahannya
bersama Agum bakal selaras karena sudah lama bekerja sama dalam Kabinet
Gotong Royong. Menurut Hamzah, ia telah bertemu Presiden Megawati di rumah
dinas presiden, Jalan Teuku Umar, meminta izin untuk mendaftarkan diri
sebagai capres berpasangan dengan Agum. "Dalam pertemuan itu, saya tidak
mengajukan pengunduran diri dari kabinet," ujarnya.
Hamzah, mengakui sangat berat memimpin negara besar seperti Indonesia.
Menurutnya, tanpa problem yang serius pun sudah pasti amanah ini sangat
berat, apalagi sekarang bangsa ini belum keluar dari krisis multidimensi
yang dialami sejak enam tahun lalu.
Namun, katanya, apabila seluruh komponen bangsa bersatu, saling membantu
memecahkan persoalan yang ada, beban tersebut akan menjadi ringan. "Dengan
izin Allah subhanahu wa taala, tidak ada laut yang tidak dapat dilayari,
tidak ada sungai yang tidak dapat diseberangi, tidak ada gunung yang tidak
dapat didaki, tidak ada jalan terjal yang tidak dapat dilalui, dan tidak
ada masalah yang tidak dapat dipecahkan," ujar Hamzah.
Hamzah Haz melihat ada dua hal yang kini harus dihadapi bangsa, yaitu
krisis ekonomi dan keuangan, serta krisis kepribadian bangsa. Untuk
mengatasi hal tersebut diperlukan beberapa kebijakan pembangunan. Pertama,
melaksanakan sila Ketuhanan Yang Maha Esa secara konsekuen dan konsisten.
Kedua, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi sebagai pilar
pembangunan. Ketiga, membangun perekonomian rakyat, petani, dan nelayan
dengan menyinergikan kekuatan pengusaha besar dengan pelaku koperasi,
pengusaha kecil dan menengah. Memberi nilai ekonomi dan kesejahteraan
terhadap pelaksanaan otonomi daerah.
Hadir pada saat pendeklarasian duet Hamzah-Agum itu, antara lain Ketua
Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa Alwi Shihab,
Ketua DPP Partai Bulan Bintang Ahmad Sumargono, Ketua Majelis Syar’i PPP
KH Maemun Zubaer, dan Ketua Majelis Pertimbangan Partai PPP Ismail Hasan
Metareum. Acara deklarasi itu ditutup dengan doa oleh KH Abdullah
Gymnastiar.
Paling Akomodatif
Bila ada tokoh politik yang layak menyadang predikat akomodatif, maka
Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan yang juga menjabat Wakil
Presiden RI, ini pantas disebut. Ia tidak bersuara
terlalu vokal, tetapi juga tidak terlalu lunak. Hamzah punya gaya sendiri:
keras dengan kemauan tapi juga lembut dalam kompromi. Maka, kendati sempat
mendapat 'perlawanan' dalam Muktamar PPP Mei 2003, ia terpilih kembali
sebagai Ketua Umum PPP 2003-2008.
Hamzah lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940. Sejak SMP,
ia sudah aktif berorganisasi. Setamat Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA)
di Pontianak pada 1961, ia menjadi wartawan surat kabar Pontianak, Bebas.
Ia tidak memilih bekerja di bank, sebagaimana teman-temannya yang lulusan
SMEA. "Saya lebih suka menjadi wartawan. Di sini saya bisa langsung
bergaul dengan masyarakat secara luas," katanya.
Karir jurnalistik hanya sempat dijalaninya selama setahun. Sebab, tahun
berikutnya ia ikut ayahnya, anggota Koperasi Kopra yang mendapat tugas
belajar di Akademi Koperasi Negara Yogyakarta. "Mengingat koperasi juga
menyangkut orang banyak, saya memutuskan untuk ikut kuliah bersama ayah,"
kilahnya.
Karena giat organisasi sejak SMP, di kampusnya itu pun ia giat
berorganisasi dengan mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.
Sekaligus ia terpilih menjadi ketuanya.
Pada 1965, Hamzah kembali ke Pontianak dan membawa gelar sarjana mudanya.
Selanjutnya, ia meneruskan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas
Tanjungpura dan mengambil jurusan ilmu perusahaan. Di tempatnya kuliah itu,
ia sempat jadi asisten dosen. Selanjutnya, statusnya naik menjadi dosen di
fakultas tersebut. Di luar kegiatan akademis, ia menjadi Ketua Presidium
KAMI Konsulat Pontianak dan mewakili Angkatan 66 di DPRD Kalimantan Barat.
Hamzah sempat menjadi Wakil Ketua DPW Nahdlatul Ulama (NU) Kalimantan
Barat. Kemudian, mewakili NU ia hijrah ke Gedung DPR/MPR di Senayan pada
1971. Setelah NU berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan, ia
terpilih secara terus-menerus menjadi anggota DPR mewakili PPP. Di PPP, ia
sudah beberapa periode menjadi pengurus. Terakhir, ia menjadi salah
seorang ketua DPP PPP, sebelum akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum DPP
PPP pada akhir 1998.
Sebagai anggota DPR, Hamzah adalah seorang wakil rakyat yang sangat fasih
bicara masalah moneter, khususnya mengenai APBN. Memang, selama di DPR ia
selalu masuk dalam komisi APBN. Terakhir, bersama Umar Basalim, Ketua Umum
DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menulis buku "Kebijaksaan
Fiskal dan Moneter" yang diberi pengantar oleh Prof. Dr. Anwar Nasution.
Pada 1998 ia menjadi Menteri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) memperkuat kabinet Presiden Habibie. Semula, pria
necis berkumis tipis ini sempat enggan mengabulkan ajakan Habibie yang
sampai dua kali menelponnya. Ia mengaku, dibandingkan menjadi menteri, ia
lebih senang menjadi anggota DPR. Menurutnya, tugas menjadi anggota DPR
saja sudah berat, apalagi menjadi menteri yang harus juga mengurusi
masalah teknis dan lobi di masa krisis yang belum berakhir. Namun, karena
itu adalah tugas negara, maka ia menjalaninya dengan kesungguhan hati.
Selama menjadi Meninves/Kepala BKPM, Hamzah tidak menempati rumah dinas
bagi menteri. Sebab, ia tidak ingin menjabat posisi menteri selamanya.
Tanggal 10 Mei 1999, ia mengundurkan diri dari jabatan menteri karena ada
desakan masyarakat agar pimpinan partai tidak duduk sebagai menteri.
Sebagai hasil Pemilu 1999 terbentuk kabinet pimpinan Presiden KH
Abdurrahman Wahid. Tanggal 29 Oktober 1999, ia diangkat menjadi Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan (Menko
Kesra dan Taskin). Tetapi daripada dipecat ia memilih mengundurkan diri
pada 26 November 1999 untuk kembali berkonsentrasi penuh memimpin partai.
Pada hari Kamis, 26 Juli 2001, Hamzah terpilih sebagai Wakil Presiden ke-9
sejak Republik Indonesia ini berdiri 17 Agustus 1945. Langkah menuju
posisi RI-2 yang ditempuh Hamzah Haz bisa dikatakan berliku dan diluar
rencana. Hal ini terutama jatuhnya KH Abdurrahman Wahid dari kursi
presiden. Otomatis, Megawati yang menjabat wapres naik menjadi presiden.
Lowongnya kursi wapres itu tidak langsung ditempati Hamzah, melainkan ia
harus melalui proses pemilihan. Ia bertarung menghadapi nama-nama yang
cukup dikenal luas seperti Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, mantan
Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono, Menko Polsoskam Agum Gumelar,
dan Siswono Yudo Husodo.
Dalam pemungutan putaran ketiga dalam lanjutan Rapat Paripurna Sidang
Istimewa (SI) MPR ia berhasil mengungguli Ketua Umum Partai Golkar, Akbar
Tandjung. Dari 610 suara anggota MPR yang menghadiri sidang itu, Hamzah
meraih 340 suara atau unggul 103 suara dari Tandjung yang hanya meraih 237
suara. Suara abstain sebanyak 29 suara, dan empat suara dinyatakan tidak
sah.
Dalam pidato usai pelantikannya sebagai wakil presiden, Hamzah bertekad
akan menjalin hubungan yang harmonis dengan Presiden Megawati
Soekarnoputri sehingga bisa membentuk pemerintahan yang efektif. Ia pun
mengajak seluruh elemen bangsa untuk melakukan islah (rekonsiliasi
nasional).
Sikap islah itu ditunjukkannya dengan segera mengunjungi mantan Presiden
KH Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid di Istana Merdeka, usai terpilih sebagai
wakil presiden. Hamzah sebagai Wapres menyampaikan ucapan selamat jalan
kepada Abdurrahman Wahid yang akan berobat ke Amerika Serikat.
Itulah perjalanan karir politik Hamzah yang betul-betul dirintis dari
bawah. Dan banyak orang yang menilai bahwa selama karirnya di dunia
politik, Hamzah tidak pernah berbuat yang aneh-aneh. Karir politiknya
tampak datar walaupun ia sudah memimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
yang merupakan konfigurasi empat partai Islam, yakni Partai Nahdlatul
Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi, kemudian disingkat MI),
Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Islam Perti.
Hamzah dikenal sebagai orang yang sederhana. Ia bermukim di Jalan Tegalan
27, Matraman, Jakarta Timur. Hamzah Haz didampingi dua istri. Keduanya
telah menjadi hajah, Hj Asmaniah (tinggal di Jalan Tegalan 27, lahir 27
Juli 1942) dan Hj Titin Kartini (tinggal di Bogor, lahir 4 Mei 1946). Dari
kedua istri itu, ia memperoleh 12 anak (empat putra, delapan putri).
Kompromi
Ketika panglima Lasykar Jihad Ja'far Umar Thalib di tahan Mabes Polri,
setelah terjadi kerusuhan di Ambon, Hamzah malah menjenguknya. Padahal,
salah satu tuduhan yang dikenakan kepada Ja’far adalah ia menghina
presiden dan wakil presiden. Polisi pun sibuk menyiapkan perangkat hukum
untuk menjeratnya. Kedatangan Hamzah itu ditengarai akan menjadikan
tekanan politis terhadap upaya penegakkan hukum. Tetapi, apa yang Hamzah
katakan?
“Saya tidak mencampuri substansi persoalan. Saya datang hanya karena
beliau tertimpa musibah. Sebagai manusia, kan ada khilafnya. Walau langit
runtuh, penegakan hukum harus jalan terus. Tidak ada tekanan (politis) itu.
Presiden Filipina Arroyo juga menengok Estrada (bekas presiden yang
ditahan),” jelasnya sebagaimana dikutip dari Tempo.
Atas tindakannya itu, kemudian sempat muncul isu hubungan Hamzah dengan
Mega mulai retak. Mereka terlibat persaingan tersembunyi. Namun, Hamzah
lagi-lagi menetralisir isu itu dengan mengatakan, bahwa ia setiap saat
berkomunikasi dengan presiden. Melalui telepon juga bisa. Bahkan acara
sarapan pagi bersama setiap Selasa berlangsung secara rutin.
Saat kampanye Pemilu 1999, PPP termasuk partai yang vokal menolak presiden
wanita. Tetapi, kini justru Hamzah Haz menjadi wapres yang presidennya
seorang wanita. Menurutnya perubahan sikap politik itu adalah sesuatu yang
mungkin terjadi. “Saya dulu menolak karena kami wajib menyampaikan
pendapat dari para ulama. Kalau tidak bisa, ya sudah. Kita kan harus
realistis.”
Menyinggung tuntutan untuk mempercepat Muktamar PPP 2003, Hamzah
menilainya hal itu memang menjadi masalah internal yang mencuat ke luar.
Namun, ia menghendaki agar Muktamar itu dilaksanakan pada 2004. Alasannya,
agar proses konsolidasi menghadapi Pemilu 2004 berlangsung maksimal. Bila
harus muktamar lebih dulu, proses konsolidasi bisa terganggu. Namun, bila
desakan untuk mempercepat Muktamar itu terus menguat, ia menyatakan bisa
menerimanya. “Saya ini selalu akomodatif. Bagaimana dari semua sisi, itu
kita pertimbangkan. Kalau memang itu kita perlukan, ya mari. Kalau saya
tetap berpegang pada Mukernas II itu, sebaiknya dilakukan pada 2004.”
Menurut jadwal yang ditetapkan Mukernas, Muktamar PPP disepakati
berlangsung pada tahun 2004. Penundaan muktamar selama setahun itu bukan
karena ia ingin mempertahankan posisinya sebagai ketua umum partai periode
mendatang. Ia mengatakan, “Saya maksimal sampai 2004 dan setelah itu tidak
bersedia dipilih lagi.”
Walaupun kemudian, akhirnya Muktamar dilaksanakan pada 23 Mei 2003 dan ia
terpilih kembali sebagai Ketua Umum DPP PPP periode 2003-2008.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|