| |
C © updated 21102007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Hasyim Rangkuty alias Hamsad Rangkuty
Lahir:
Titikuning, Medan, 7 Mei 1943
Isteri:
Nurwindasari
Anak:
- Bonang Kiswara
- Kirindra
- Bungaria
- Anggi Mauli
Pekerjaan:
- Cerpenis
- Pemimpin Redaksi Horison, 1986-2002
Karya, al:
- Kumpulan Cerpen Cemara, 1982
- Lukisan Perkawinan, 1982
- Sampah Bulan Desember, 2002
- Bibir dalam Pispot, 2003
- Novel Ketika Lampu Berwarna Merah, 2002
Penghargaan:
Khatulistiwa Literary Award, 2003
|
|
| |
|
|
|
|
| HAMSAD HOME |
|
|
 |
Hamsad Rangkuty
Cerpenis dari Lorong Pasar di Kisaran
Kemiskinan adalah bencana. Ia bukan sekadar persoalan memenuhi
kebutuhan pangan, tetapi meniadakan harapan dan cita-cita manusia. Maka,
amarah dan dendam kerap muncul ketika orang berjalan terbongkok-bongkok
dan ringsek memikul beban kemiskinan.
Cerpenis Hamsad Rangkuty (64) merasakan bencana itu sebagai hal nyata
saat ayahnya, Muhammad Saleh Rangkuty, mengatakan tidak punya uang untuk
membeli buku. Hamsad yang baru duduk di bangku kelas I SMA di
Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada awal 1960, akhirnya harus berhenti
sekolah.
Ia kembali ke kehidupan yang dia lakoni selama ini, yakni menemani
ayahnya sebagai penjaga malam di pasar kota kecil, Kisaran, sekitar 150
kilometer dari Medan, Sumut. "Setiap kali saya berpapasan dengan pelajar
SMA yang berangkat atau pulang sekolah, muncul dalam diri saya gejolak
amarah dan dendam kepada Ayah," ujar Hamsad.
Lahir 7 Mei 1943 di Medan, orangtuanya memberi nama Hasyim Rangkuty.
Ketika masih balita, orangtuanya memboyong Hasyim pindah ke Kisaran,
kota kecil yang dikelilingi perkebunan karet dan sawit. Dalam perjalanan
waktu, Hasyim mengubah namanya menjadi Hamsad Rangkuty.
Hamsad tidak menjelaskan apakah kepindahan itu terkait dengan situasi
Kota Medan menjelang usainya Perang Pasifik, yang disusul perang Medan
Area dan pergolakan politik di dalam negeri. Dalam perang Medan Area
(1946) melawan pasukan kolonial Belanda, barisan laskar menerapkan
taktik bumi hangus dan mengungsikan penduduk secara besar-besaran.
Terkait atau tidak dengan perang kemerdekaan, orangtua Hamsad adalah
wong cilik dalam arti sesungguhnya. Tidak mempunyai rumah tempat
berteduh, kecuali menumpang di rumah saudara secara berpindah-pindah.
Ayahnya yang meninggal pada usia 88 tahun, hampir sepanjang hidupnya
bekerja sebagai penjaga malam dan pemikul air di sebuah pasar di Kisaran.
Ibunya menjual buah-buahan pada malam hari di depan bioskop. Dari
penghasilan inilah keenam anaknya—tiga pria dan tiga wanita—bertahan
hidup.
Dalam penulisan sejarah perang kemerdekaan, jenis wong cilik seperti
Muhammad Saleh tidak tercatat. Sumbangsihnya dianggap nihil karena
dianggap terikat pada perkara besar dan mendesak diselesaikan, yaitu
memenuhi kebutuhan pangan. Penulis sejarah lebih gemar bertutur dan
berilusi tentang "kepahlawanan" tokoh tertentu.
Lantas, seperti halnya kanker yang cenderung merambat ke bagian tubuh
lain, kemiskinan juga demikian. Sejak duduk di bangku SD, Hamsad, anak
keempat dari enam bersaudara, tidur di lorong-lorong kios menemani
ayahnya.
Sementara ibunya, Djamilah, akhirnya terserang penyakit TBC. Penyakit
ini makin ganas dari waktu ke waktu.
Atas keinginan mempertahankan hidup, Djamilah dibawa ke Medan untuk
berobat. Itu pun dengan harapan saudara-saudara yang tinggal di kota
tersebut akan tergugah membantu biaya.
Saudara adalah saudara dalam arti seluas-luasnya maupun khusus. Tetapi,
ketika sampai pada masalah uang, ikatan darah tersebut menjadi semu dan
hanya sebatas ucapan. Masing-masing pihak memilih menyembunyikan setiap
rupiahnya sebagai tabungan pengaman pada zaman pergolakan politik.
Alhasil, seperti halnya warga miskin lainnya, perawatan di rumah sakit
hanyalah impian. Djamilah akhirnya mengembuskan napas di Medan tahun
1954, atau lima tahun setelah pengakuan kedaulatan RI.
Dalam hal ini revolusi sosial di Sumatera Timur, termasuk Kisaran, yang
dimotori kelompok kiri (1946), ternyata bukan merevolusionerkan hubungan
produksi. Ia hanya sekadar aksi balas dendam dan penjarahan yang memakan
banyak korban. Salah satu di antaranya adalah penyair Amir Hamzah, yang
dibunuh secara biadab.
Maka di tengah eforia kemerdekaan dan revolusi bersenjata, mereka yang
melarat tetap melarat dan terasing. Seperti halnya keluarga Muhammad
Saleh.
Sejak sekolah rakyat
Hamsad mulai mengarang cerpen sejak duduk di bangku SD (dahulu SR,
sekolah rakyat). Awalnya adalah kegemarannya membaca cerpen di surat
kabar terbitan Medan yang ditempelkan di papan pengumuman kantor
kawedanan. Lokasinya persis di depan pasar. "Kerap cerpen yang dimuat
terjemahan karya Anton Chekhov, Hemingway, atau Maxim Gorky," ujar
Hamsad mengenang masa lalu.
Hamsad lalu menjadi tertarik menulis cerpen dengan memanfaatkan mesin
ketik di kantor kawedanan. Tanpa sepengetahuannya, sepupunya mengirim
cerpennya ke salah satu surat kabar di Medan dan diterbitkan. Hamsad
terperanjat, antara percaya dan tidak.
Sejak dimuatnya Sebuah Lagu di Rambung Tua, tumbuh keyakinan dirinya
untuk menjadi penulis. Cerpen tersebut ditulis saat Hamsad di bangku
kelas VI SD.
Setelah putus sekolah di SMA akibat kesulitan ekonomi, Hamsad yang
memendam amarah dan kecewa kepada ayahnya sempat lama luntang-lantung di
pasar Kisaran. Sikapnya mulai berubah setelah bergabung dengan sanggar
drama setempat. Mementaskan drama di desa-desa dan gedung bioskop secara
musiman, khususnya menjelang 17 Agustus.
Di sini persoalan purba muncul kembali. Ia harus makan agar tetap hidup.
Pentas drama sendiri bukanlah bentuk pekerjaan yang dapat memberi nafkah.
Alhasil, Hamsad bekerja sebagai pemecah batu. Kelak meningkat setahap
lagi sebagai tukang cat atap rumah. Lowongan pekerjaan lain adalah hal
mustahil karena saat itu berjubel angkatan muda pengangguran.
Lompatan besar dalam hidupnya terjadi ketika pindah ke Medan atas
permintaan neneknya, tahun 1960. Berkat bantuan sepupunya, seorang
militer berpangkat kapten TNI AD, Hamsad diterima bekerja sebagai
pegawai negeri golongan C2 di Inspektorat Kehakiman Kodam II/Bukit
Barisan.
Sejak itulah Hamsad mulai bernapas lega, menyisihkan uang membeli buku
dan mesin ketik. Cerpen-cerpennya muncul di surat kabar terbitan Medan.
Berbeda dengan cerpenis setempat yang gandrung pada kisah-kisah asmara,
Hamsad tampil dengan sosok kritik sosial. Dengan sendirinya dia
mengejutkan para seniman mapan di Medan.
Impiannya melihat ibu kota Indonesia terwujud ketika ia disertakan dalam
delegasi Kongres Karyawan Pengarang Indonesia di Jakarta (1964). Mantan
buruh bangunan ini merasa bersyukur karena dalam kongres tersebut dapat
bertemu dengan pengarang-pengarang besar.
Namun, sejak itu pula Hamsad terpikat kehidupan seniman di Jakarta.
Sekembalinya di Medan, ia gelisah. Pikirannya tetap melambung ke
Jakarta. Hamsad kemudian mencari-cari jalan bagaimana caranya agar dapat
ke Jakarta dan menetap di sana.
Tahun berikutnya hal ini terjawab. Ia disisipkan mewakili seniman
berbasis NU dalam rombongan Kongres Tani di Jakarta (1965). Sejak itulah
Hamsad menetap di Jakarta. Awalnya menumpang di rumah Zulharman Said dan
Balai Budaya.
Pencatat naskah
Tidak ada yang abadi di dunia, kecuali kematian. Selama manusia dapat
berpikir, meskipun dalam kepahitan, perubahan bukan hal mustahil. Hamsad
Rangkuty mengalaminya ketika Arief Budiman menawarkan pekerjaan sebagai
pencatat naskah di majalah Horison tahun 1969. "Tidak terbayangkan
dahulu bahwa saya akan diterima bekerja di majalah sastra Horison," kata
Hamsad.
Hamsad merasa bangga dan meningkat statusnya. Walaupun hanya pencatat
naskah, ia bekerja bersama sastrawan sekaliber HB Jassin. Lebih
menggembirakan lagi, beberapa tahun kemudian ia "dipromosikan" sebagai
korektor.
Keajaiban lain tiba-tiba muncul ketika Arief Budiman meminta Hamsad agar
bersedia menjadi Pemimpin Redaksi Horison. Pada waktu itu keluar
keputusan pemerintah mengenai perubahan SIT (surat izin terbit) menjadi
SIUPP (surat izin usaha penerbitan pers). Permohonan SIUPP harus
diajukan pemimpin redaksi yang lulus P4 dan anggota PWI. Celakanya,
tidak seorang pun pimpinan Horison bersedia untuk itu.
Hamsad Rangkuty menerima tawaran tersebut karena mengikuti kursus P4 dan
menjadi anggota PWI bukanlah kejahatan. "Saya tidak campur urusan
politik, kecuali menulis karangan yang memuat kritik sosial," ujarnya.
Hamsad kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Horison periode 1986-2002.
Status yang dahulu kala dianggapnya "keramat".
Tahun 2003, kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot, memenangkan
Khatulistiwa Literary Award. Ia mendapat hadiah Rp 70 juta dan British
Council mensponsori perjalanannya bersama istri selama satu bulan di
Inggris.
"Saya menangis menyaksikan lukisan asli Rembrandt dan (Vincent) van Gogh
di museum, London. Tidak terbayangkan anak seorang penjaga malam di
sebuah pasar berkesempatan menyaksikan langsung karya asli pelukis besar
itu," kata Hamsad.
Lebih dari sekadar mengenang masa lalu dan keprihatinan Hamsad terhadap
jutaan anak-anak orang melarat, ihwal kemiskinan itu sendiri ternyata
berkesinambungan. Seperti halnya usia Hamsad Rangkuty (64), kemiskinan
hadir sebelum maupun setelah Indonesia merdeka. Beranak-pinak dan
merembes di mana-mana.
Dalam hal ini kemerdekaan RI hanyalah sebatas ucapan, seperti halnya "selamat
pagi" atau "apa kabar?" (Maruli Tobing, Kompas 21 Oktober 2007) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|