| |
C © updated 23052005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/antara |
|
| |
Nama:
Hadi Utomo
Lahir:
Semarang,15 Agustus 1945
Agama:
Islam
Isteri:
Mastuti Rahayu (Putri Sarwo Edhi Wibowo)
Jabatan
- Ketua Umum DPP Partai Demokrat periode 2005-2010
- Anggota DPR/MPR 2004-2009
Pendidikan:
- Akabri 1970
- Sekolah Tinggi Hukum Militer (1998)
- S2 (Magister Manajemen) STIE Widya Jayakarta (2001)
Pangkat Terakhir:
Kolonel Infanteri AD
Karir:
- Kepala Trantib (Ketenteraman, Ketertiban dan Perlindungan
Masyarakat) DKI Jakarta
Organisasi:
- Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat (2001-2005)
- Ketua Umum DPP Partai Demokrat (2005-2010)
|
|
| |
|
|
|
|
| HADI UTOMO HOME |
|
|
 |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time.
Hadi Utomo
Adik Ipar SBY, Ketua Partai Demokrat
Bali 23/5/2005: Bukan nepotisme, Hadi Utomo, menantu Sarwo Edhi Wibowo
dan adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terpilih sebagai Ketua
Umum Partai Demokrat (PD) periode 2005-2010 dalam Kongres I PD di Sanur,
Bali, dini hari pukul 03.35 WITA, 23/5/2005. Dalam pemilihan putaran
kedua, Hadi meraih 302 suara menyisihkan dua kandidat lainnya, yakni
Subur Budhisantoso 108 suara dan Surato Siswodihardjo 39 suara.
Sebelumnya, pada siang hari 22/5/2005, Kongres I PD yang berlangsung di
Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali, dengan mulus memilih
Susilo bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina PD. Dewan Pembina
ini mempunyai kuasa pembinaan tertinggi dalam tubuh partai itu.
Hadi Utomo kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 15 Agustus 1945, berlatar
belakang militer dengan pangkat terakhir kolonel. Dia alumni Akabri
angkatan 1970, yang sudah memasuki masa purnawirawan. Dia adalah salah
satu kader PD yang terakhir menjabat menjabat Wakil Sekjen DPP. Dia
terkenal gigih berjuang dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden
2004. Terakhir di PD. Dia pun terpilih menjadi anggota DPR dari PD
periode 2004-2009. Keanggotaan di DPR itu akan dilepaskannya setelah
terpilih menjadi Ketua Umum PD.
Proses pemilihan Ketua Umum DPP berlangsung a lot, mulai dari pembahasan
persyaratan pendidikan minimal sarjana strata 1 (S1) dan suara Dewan
Pimpinan Cabang (DPC) bermasalah. Pemungutan suara tahap pertama
dilakukan terhadap delapan bakal calon ketua umum DPP, yakni Agus Abu
Bakar, Hamidah Hamid, Subur Budhisantoso, Hadi Utomo, Sutan Bhatoegana,
Suratto Siswodihardjo, Nurhayati Ali Assegaf dan Ahmad Mubarok. Pada
pemilihan putaran pertama yang berakhir pukul 00.45 WITA, tiga calon
masuk putaran kedua yakni Hadi Utomo (264 suara), Subur Budhisantoso
(106), dan Suratto Siswodihardjo (72).
Setelah sidang diskor selama 30 menit, pemilihan putaran kedua dimulai.
Dalam pemilihan putaran kedua, yang berakhir dini hari pukul 03.35 WITA,
23/5/2005, Hadi meraih 302 suara, menyisihkan dua kandidat lainnya,
yakni Subur Budhisantoso 108 suara dan Surato Siswodihardjo 39 suara.
Sebelumnya, persyaratan bakal calon ketua umum menjadi pembahasan a lot
dalam kongres. Setelah syarat harus telah menjadi pengurus minimal
selama satu tahun dibahas sehari sebelumnya, kemudian persyaratan
pendidikan minimal S1 berlangsung a lot sehingga harus divoting.
Anggota panitia pengarah, Irzan Tandjung, secara berapi-api sempat
menolak syarat S1 itu. "Orang cerdas tidak ada hubungannya dengan titel.
Banyak pemimpin yang lahir tidak berpendidikan tinggi. Mereka itu kita
hormati karena wisdomnya. Apalagi UU Pemilu Presiden hanya mensyaratkan
calon presiden lulus SLTA," ujar guru besar ekonomi itu.
Hujan interupsi beralngsung, hingga pimpinan sidang, Marcus, menawarkan
apakah akan melaksanakan voting atau tidak. Akhirnya disepakati divoting
dengan dua pilihan calon ketua umum harus lulusan S1 atau SLTA/SMA/ SMU.
Dari total jumlah suara dalam voting itu 467 suara, dengan rincian satu
suara DPP, 32 suara DPD, dan 434 suara DPC, hanya 447 suara yang
mengikuti voting. Hasilnya sebanyak 246 suara memilih S1 dan 196 suara
memilih SLTA. Empat suara tidak sah dan satu suara abstain.
Persyaratan yang kemudian disahkannya sebagai syarat ke-10 dalam Pasal
27 peraturan tata tertib kongres yang menyebutkan seorang calon ketua
umum PD minimal harus S1, telah membuat Sys NS dan Soekartono
Hadiwarsito tersingkir dari bursa calon ketua umum. Sehingga calon
tinggal sembilan orang. Lalu mendadak Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara Taufiq Effendi mengundurkan diri. Tinggal delapan nama
yang mengikuti pencalonan.
Bukan Nepotisme
Adik ipar SBY, Hadi Utomo, saat mendeklarasikan diri sebagai calon ketua
umum di gazebo Hotel Inna Grand Bali Beach, didampingi istri dan aktor
Aji Massaid, menegaskan, pencalonannya jangan dikaitkan dengan SBY.
''Tak ada unsur KKN di sini,'' tegas anggota DPR RI itu menjawab
pertanyaan wartawan.
Menurut Hadi, SBY sebagai seorang demokrat sejati, tak mungkin
memberikan dukungan politik kepada figur tertentu sebagai calon ketua
umum pada kongres kali ini. ''Itulah SBY,'' tegasnya. Namun, Hadi
mengakui, pencalonannya bisa jadi bumerang politik. Dia menyadari,
lawan-lawan politiknya bisa mengembuskan isu nepotisme untuk
menggagalkan pencalonannya. ''Akan tetapi, yakinlah kami tak melakukan
KKN dalam kaitan pencalonan ini.''
Hadi mengatakan, tak ada pengarahan atau petunjuk apa pun yang diberikan
SBY kepadanya. “Ya, biarlah peserta kongres yang memilih calon ketua
umumnya. Tolong bedakan posisi saya sebagai saudara dengan Pak SBY.
Faktanya, saya adalah adik ipar Pak SBY. Namun, saya tak mengandalkan
itu untuk maju menjadi calon ketua umum. Presiden SBY sibuk dengan tugas
kenegaraan. Untuk itu, perlu ketua umum yang mampu bekerja lebih banyak
untuk mempraktikan apa yang telah dilakukan Pak SBY dalam membangun
partai ini,'' jelasnya. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|