| |
C © updated 14082007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dok |
|
| |
Nama:
Gumilar Rusliwa Somantri
Nama Lengkap:
Prof Dr der Soz (der Sozialwissenschaften), Drs (Doktorandus)
Gumilar Rusliwa Somantri
Lahir:
Tasikmalaya, 11 Maret 1963
Agama:
Islam
Jabatan:
Rektor Universitas Indonesia (UI) 2007-2011
Istri:
Dra Nenden DY W Wasita Kusumah
Anak:
1. Aisha Rasyidilla Kusuma Somantri (P/15)
2. M Damara Suksma Kusuma Somantri (L/11)
3. M Germa Kencana Kusuma Somantri (L/7)
Ayah:
Ayah Oma Soma Wiradirdja (Alm)
Ibu:
Hj. Eutik Siti Soikoh Said
Pangkat/Jabatan:
IV C/ Guru Besar
Nomor KTP:
32.77.73.1006/15993/73033896
Pendidikan:
- Tahun 1976, lulus SD Negeri I Sukaratu, Tasikmalaya
- Tahun 1979, lulus SMP Negeri I Cisayong, Tasikmalaya
- Tahun 1982, lulus SMA Negeri I Ciawi, Tasikmalaya
- Januari 1982,lulus S-1 (Drs) Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta
- Juli 1995, lulus S-3 (Ph.D) Fakultas Sosiologi, Universitaet Bielefeld,
Jerman
Pelatihan/Kursus:
- Oktober 2006, mengikuti Pelatihan Kewirausahaan bagi Eksekutif
Universitas Indonesia, diselenggarakan oleh Direktorat SDM UI
- Juli 2006, Pelatihan Pengembangan SDM melalui metoda 165 Emotional and
Spiritual Quotient (ESQ), kelas Eksekutif ESQ Jakarta angkatan 48, ESQ
165, Jakarta
- Maret 2005, Pelatihan Self-Healing Reiki Tumo, ESQ 165, Jakarta
- Juni 2004, Kursus Akuntasi dan Manajemen Keuangan bagi Eksekutif di
Lingkungan Universitas Indonesia, UI
- Februari-Juni 2000, Kursus Bahasa Jepang, Pusat Studi Jepang
Universitas Indonesia
- Desember 1998, Peserta Pelatihan JICA bagi Pengembangan SDM, Tokyo,
Jepang, JICA.
- April-Mei 1998, Kursus Peningkatan Kemampuan Mengajar pada Perguruan
Tinggi (Program PEKERTI), UI
- Maret 1997, Kursus Penggunaan Multi-Media dalam Pengajaran di
Pendidikan Tinggi, AMIC, Singapura
- Januari-Maret 1993, Pelatihan Pra-Jabatan bagi Calon Pegawai Negeri
Sipil, Universitas Dipenogoro, Semarang (peserta titipan dari
Universitas Indonesia).
- April-September 1991, Pendidikan Bahasa Jerman, Goethe Institut di
Goettingen, Jerman
- Agustus 1990, Pelatihan Komputer bagi Calon Penerima Beasiswa Asing,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, bekerjasama dengan Universitas Gunadarma.
- September 1990-Februari 1991, Pendidikan Bahasa Jerman, Goethe
Institut di Jakarta
- Desember 1989, Peserta Pelatihan Penggunaan SPSS dalam Penelitian
Sosial, Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia
Kursus Tambahan:
- Oktober 2006, Pelatihan Kewirausahaan bagi Eksekutif
Universitas Indonesia, Direktorat SDM UI
- Juli 2006, Pelatihan Pengembangan SDM melalui metoda 165 Emotional and
Spiritual Quotient (ESQ), kelas Eksekutif ESQ Jakarta angkatan 48 ESQ
165, Jakarta
- Maret 2005, Pelatihan Self-Healing Reiki Tumo ESQ 165, Jakarta
- Juni 2004, Kursus Akuntasi dan Manajemen Keuangan bagi Eksekutif di
Lingkungan Universitas Indonesia.
- Februari-Juni 2000, Kursus Bahasa Jepang Pusat Studi Jepang
Universitas Indonesia
- Desember 1998, Peserta Pelatihan JICA bagi Pengembangan SDM, Tokyo,
Jepang, JICA
- April-Mei 1998, Kursus Peningkatan Kemampuan Mengajar pada Perguruan
Tinggi (Program PEKERTI), UI
- Maret 1997, Kursus Penggunaan Multi-Media dalam Pengajaran di
Pendidikan Tinggi, AMIC, Singapore
- Januari-Maret 1993, Pelatihan Pra-Jabatan bagi Calon Pegawai Negeri
Sipil, Universitas Dipenogoro, Semarang (peserta titipan dari
Universitas Indonesia).
- April-September 1991, Pendidikan Bahasa Jerman Goethe Institut di
Goettingen, Jerman
- Agustus 1990, Pelatihan Komputer bagi Calon Penerima Beasiswa Asing
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, bekerjasama dengan Universitas Gunadarma.
- September 1990-Februari 1991, Pendidikan Bahasa Jerman, Goethe
Institut di Jakarta
- Desember 1989, Peserta Pelatihan Penggunaan SPSS dalam Penelitian
Sosial, Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia
Karir:
- 2007-2011, Rektor Universitas Indonesia (UI)
-
2002-2006, 2006-2010, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Indonesia
- 2006-2010, Anggota, Badan Pembina Harian, Universitas Muhammadiyah
Jakarta
- 2006-2007, Anggota Dewan Ahli, Forum Komunikasi Alumni ESQ, Jakarta
- 2006, Ketua, Forum Dekan FISIP, FIA dan FIKOM seluruh Indonesia
- 2005-2006, Anggota, Dewan Riset Daerah Provinsi DKI Jakarta
- 2003-2006, Anggota, Senat Akademik Universitas Indonesia (SA-UI)
- 2002-2006, Anggota, Senat Akademik Fakultas (SAF), Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
-2002-2004, Anggota, Tim Peduli Jakarta (Memberi Masukan pada Gubernur
DKI Jakarta mengenai Issue dan Pemecahan Masalah Perkotaan).
- 2001-2002, Sekretaris, Majelis Wali Amanat MWA), Universitas Indonesia
- 2001-2002, Anggota, Senat Akademik Universitas Indonesia (SAU-UI),
Unsur Perwakilan Dosen
- 2001, Ketua, Komisi C Senat Akademik Universitas Indonesia (SAU-UI)
- 2001-2002, Anggota, Majelis Wali Amanat (MWA) UI dari unsur SAU-UI
- 2001-2002, Ketua, Tim Persiapan dan Pelaksanaan Otonomi Kampus,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
- 2000-2001, Koordinator, Panbanlit (Panitia Pengembangan dan Penelitian),
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
- 1997-2002, Anggota, Tim Juri, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS),
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional
- 1997-2006, Anggota, Tim Seleksi Bersama Beasiswa Program Doktor
Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) dan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
- 1997-2003, Wakil Direktur Eksekutif, Pusat Studi Jepang, Universitas
Indonesia
- Oktober 1997-September 1999, Anggota, Tim Ahli DPR-RI.
- Januari 1997-Mei 1997, Direktur, Pusat Antar Universitas Ilmu Sosial,
Universitas Indonesia
- Oktober 1995-Desember 1996, Ketua, Urban and Regional Research Centre
(URRC), Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia
- 1989-1990, Sekretaris, Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial,
Universitas Indonesia
- 1985, Wakil Ketua, Senat Mahasiswa FISIP-UI
- 1983-1987, Pengajar, Les Privat Siswa SMA untuk mata pelajaran
Matematika, Fisika, dan Kimia.
- 1980-1981, Ketua, OSIS SMA Negeri I Ciawi Tasikmalaya.
- 1978-1982, Penulis, Cerita Pendek dan Puisi di media nasional (Rubrik
untuk anak-anak dan remaja)
Organisasi Profesi:
- Sejak 2006, Anggota, Forum Komunikasi Alumni ESQ, Jakarta
- 2006, Anggota, Dewan Redaksi Jurnal Sosial Politik, UGM
- Sejak 2005, Anggota, Alumni Salzburg Seminar, Austria
- 2002-2006, Penasihat Redaksi, Jurnal “Bisnis dan Birokrasi”, FISIP-UI
- 2002-2003, Anggota, Dewan Redaksi Jurnal “Global”, FISIP-UI
- Sejak 2000, Anggota, Asosiasi Studi Jepang Indonesia/ASJI
- 1997-1999, Ketua, Komisi Studi Perkotaan Asosiasi Sosiologi Indonesia
(ASI)
- 1998-2002, Anggota, Dewan Redaksi Jurnal NIPPON, Pusat Studi Jepang UI
- Sejak 1998, Anggota, Perhimpunan Alumni Program Pelatihan JICA, Tokyo,
Jepang
-Sejak 1997, Anggota, Perhimpunan Alumni Jerman/PAJ
- 1995-2002, Anggota, Dewan Redaksi Jurnal “Masyarakat”, Universitas
Indonesia
- Sejak 1995, Anggota, International Urban Anthropological Association/IUAS,
Belanda
- Sejak 1995, Anggota, The International Communitarian Society, USA
- Sejak 1993, Anggota, Asosiasi Sosiologi Indonesia
Alamat Kantor:
Departemen Sosiologi Gedung B- 105
Kampus FISIP-UI Depok 16424
Telp 021-7863425, Faks 021-7863425
Alamat Rumah:
Pesona Khayangan Estat Blok FL 1 Depok RT 12/28 Kelurahan Mekarjaya,
Kecamatan Sukmajaya, Depok, 16411.
Buku:
- Looking at Gigantic Kampung, 2000
- People Making the City, 2000
- Village in Motion, 2000
- Ilmu Sosial di Persimpangan Jalan, 2006
Migration Within Cities, 2007
|
|
| |
|
|
|
|
| OTOBIOGRAFI |
|
|
 |
Gumilar Rusliwa Somantri
Akselerasi Transformasi dan Kepemimpinan UI Prof Dr der Soz (der Sozialwissenschaften), Drs (Doktorandus)
Gumilar Rusliwa Somantri, dilantik menjabat Rektor
Universitas Indonesia (2007-2011) di Balairung Kampus UI, Depok, Selasa
14 Agustus 2007. Dekan FISIP UI ini menggantikan
Usman Chatib Warsa.
Berikut ini kami sajikan otobiografi putera bangsa kelahiran Tasikmalaya, 11 Maret 1963
itu. Redaksi
***
Sejarah dan Gambaran Diri
Pengantar
Gambaran diri seseorang tidaklah terbentuk seketika. Ia dinamis dan
bertalian dengan proses belajar seseorang. Saya memberi judul tulisan
ini “Sejarah dan Gambaran Diri”. Tulisan ini dibagi pada beberapa sub
berdasarkan tingkat pendidikan. Memang tidaklah mudah menulis gambaran
diri. Karena, batas antara menyampaikan fakta dan keinginan manusiawi
“dihargai” teramat tipis.
Sebuah “auto-biografi” cenderung menyampaikan informasi selektif.
Oleh karena itu, saya bertumpu pada “kesadaran” bahwa banyak orang lain
mengalami hal luar biasa dalam perjalanan menuju kematangan. Sehingga,
saya dapat lebih objektif “menilai” diri sendiri.
Masa SD: Putra Sang Guru
Keluarga kami percampuran dua tradisi. Ayahanda berasal dari keluarga
religius berorientasi pendidikan dan berpikiran maju. Sedangkan ibunda
berasal dari tradisi pesantren. Ayahanda berpendidikan Sarjana Muda,
berasal dari “kota”, pernah bertugas beberapa tahun sebagai Tentara
Pelajar (TRIP) TNI-AL masa perang kemerdekaan. Kemudian beliau pergi ke
desa bekerja sebagai guru SD. Sedangkan ibunda kami adalah seorang
salihah lembut puteri ulama setempat amat disegani. Ibunda pernah
menjadi murid ayahanda ketika kelas VI SD.
Perbedaan usia diantara ayahanda dan ibunda sekitar 10 tahun. Mereka
menikah saat situasi genting pemberontakan DI/TII berkecamuk. Mereka
dikaruniai 7 anak. Saya adalah anak ketiga dan pertama laki-laki di
keluarga tersebut. Saya dilahirkan 44 tahun lalu di kota kecamatan,
Indihiang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Namun, saya dibesarkan di
sebuah desa berjarak 18 kilometer dari pusat kota kabupaten.
Ayahanda kami seorang penyayang, namun kerap keras juga dalam mendidik
disiplin anak-anaknya. Saya mempunyai tugas pasti dikerjakan setiap
harinya. Subuh saya dibangunkan ayahanda shalat dan mengaji di mesjid.
Pagi-pagi sekali, olahraga di depan rumah. Ayahanda mewajibkan saya lari
pagi. Kemudian saya menimba air mengisi bak mandi, memberi ikan makan di
kolam terletak dekat sawah, baru berangkat sekolah.
Waktu bermain adalah sore hari. Kami biasanya bermain sepak bola buah
jeruk bali, bermain perang-perangan, serta aneka permainan anak-anak di
pedesaan pada jaman itu seperti baren, galah, gatrik, cat-catan, dan
sebagainya. Malam hari saya mengerjakan PR pelajaran sekolah. Pada masa
itu, di desa tidak ada televisi, hanya terdapat radio transistor. Hal
paling saya gemari adalah mendengarkan warta berita RRI Jakarta. Pada
hari minggu, saya bermain dengan teman-teman sebaya. Namun, saya sering
mengisi waktu luang membaca buku dipinjam dari perpustakaan sekolah.
Kebiasaan membaca terus berlanjut apalagi setelah ayahanda berlangganan
koran. Pada masa itu, beliau satu-satunya warga desa berlangganan koran.
Ayahanda suka bekerja keras, mempunyai banyak ide dan gagasan baru.
Beliau sangat inovatif di bidang pertanian, dan sering menjadi rujukan
warga desa mengenai kemajuan. Misalnya ayahanda, di sela-sela kesibukan
mengajar dan menjadi kepala sekolah di SD, bertani sayuran bayam, kacang
panjang, serta buah-buahan terutama jeruk dan nanas. Kami belajar
menjajakan hasil pertanian kepada penduduk desa. Ayahanda selalu
mengatakan, kita harus belajar mengatasi malas dan rasa malu. Ibunda
membuat penganan aneka kacang goreng dibumbui manis-pedas dibungkus
plastik. Dengan menggunakan sepeda milik ayahanda, saya sejak kelas V SD
belajar menjajakan dagangan tersebut dari warung ke warung.
Ayahanda adalah tokoh Pramuka. Sejalan dengan aktivitas beliau, saya
sering dipilih teman-teman satu sekolah sebagai ketua regu pramuka. Pada
upacara-upacara saya biasanya ditunjuk guru-guru menjadi komandan
upacara. Demikian juga di kelas, saya sering menjadi ketua kelas.
Prestasi belajar saya di kelas I hingga kelas III SD termasuk
sedang-sedang saja. Ketika menginjak kelas IV, saya mulai masuk
peringkat 5 besar dan di kelas VI menjadi juara I di kelas.
Ayahanda selalu mendorong, mendukung, melatih dan menanamkan nilai-nilai
positif kepada anak-anaknya. Misalnya selain mempunyai “mimpi” dan
cita-cita tinggi, kami dididik kemandirian, berpegang teguh pada prinsip,
bekerja keras, jujur, berani, tegas dalam mengambil keputusan, disiplin,
ulet, kreatif, menghargai sesama, dan mengasihi orang tidak mampu.
Sebagai contoh beliau sering berceritera tentang tokoh-tokoh nasional
maupun internasional yang dikaguminya. Hal tersebut melahirkan banyak
mimpi masa kecil menggebu-gebu menjadi Jenderal yang dokter. Tidak
segan-segan beliau memberi tanggung jawab besar kepada putra-putrinya.
Kadang-kadang beliau menyuruh putra-putrinya mengantarkan bantuan kecil
bagi fakir miskin.
Semasa SMP: Penulis, Aktivis, dan Siswa Teladan
Pada tahun 1976 saya masuk SMP Negeri. Sekolah tersebut berlokasi lima
kilo meter dari desa kami. Saya setiap hari pulang-pergi berjalan kaki
melewati jalan desa berbatu. Tidak ada kelelahan dan patah semangat pada
kami. Pemandangan di sepanjang jalan menuju sekolah indah, lengkap
dengan kolam-kolam. Air subur-melimpah, beriak-riak diterpa angin
pegunungan.
Pada masa SMP kegemaran saya dalam membaca buku terus belanjut. Saya
mulai menulis puisi dan cerpen untuk koran dan majalah terdapat di Ibu
Kota (majalah anak-anak Kuncung dan Kucica, serta Koran Suara Karya dan
Pikiran Rakyat). Karena keluarga kami tidak mempunyai mesin tik, saya
mengetik karya satra di Balai Desa. Tulisan saya sering dimuat dan
mendapatkan honor lumayan. Saya mulai belajar bekerja memberi les
matematika pada dua orang siswa SD anak keluarga kaya di desa kami.
Ayahanda sering mengatakan penting mencari ilmu dan belajar mandiri
membiayai hidup, “Janganlah berharap mendapat warisan harta, carilah
ilmu setinggi-tingginya. Ilmu tidak berat dibawa-bawa. Jangan berharap
ayah membiayai seratus persen sekolahmu nanti, carilah separuh biaya
oleh dirimu sendiri.”
Prestasi belajar saya di SMP sangat baik, selalu masuk rangking
tertinggi di kelas. Aktivitas pramuka terus berlanjut. Bahkan, saya
ketika kelas II aktif pula di Palang Merah Remaja (PMR), tim Bola Voli,
kelompok pecinta alam dan OSIS. Sementara itu, saya kadang-kadang
membawa juga barang dagangan dititipkan di warung sekolah atau warung
lain sepanjang perjalanan menuju SMP. Untuk barang-barang tertentu
pernah saya menjajakannya di antara teman-teman di sekolah.
Dalam aktivitas ekstra-kurikuler saya sering menjadi ketua. Bahkan
ketika saya kelas III menggagas pendirian Majalah Dinding (Mading).
Gagasan ini cukup sulit untuk direalisasikan pada waktu itu. Gagasan
tersebut terlampau maju untuk ukuran SMPN di pelosok. Kepala Sekolah
memberi dukungan sehingga Mading dapat dibuat. Meskipun saya termasuk
siswa “populer”, pernah dihukum jemur oleh kepala sekolah. Pertama
karena panjang rambut melewati batas diperbolehkan. Kedua karena
terlambat upacara senin. Saya datang terlambat karena bangun kesiangan
dan cukup berat harus berjalan kaki lima kilometer melewati jalan
berbatu sepanjang perbukitan naik-turun. Faktor jiwa remaja senang
memberontak pada pembatasan, mulai muncul di usia remaja. Meskipun
demikian, saya belajar banyak dari peristiwa tersebut. Saya lulus
gemilang dan melanjutkan sekolah di sebuah SMA Negeri.
Semasa SMA: Antara Organisasi dan Persiapan Masuk Universitas
Saya melanjutkan sekolah di SMA Negeri Ciawi, Tasikmalaya, berjarak 40
kilo meter dari rumah. Saya kost di rumah salah seorang kerabat di kota
kewedanaan tersebut. Seminggu sekali pulang menumpang bis antarkota.
Kami biasanya berjalan kaki dua jam dari jalan provinsi ke desa. Karena
jadwal sekolah saya sore, maka perjalanan “pulang kampung” dilakukan
menjelang magrib. Saya tiba di desa sekitar jam 9.00 malam. Memang
perjalanan tersebut melelahkan, meskipun dilakukan tidak sendirian. Saya
tidak jarang terkantuk batu karena jalan tidak rata dan gelap-gulita.
Saya aktif dalam berbagai kegiatan seperti menjadi ketua kelas, ketua
OSIS, Pramuka dan sebagainya. Meskipun demikian, prestasi belajar sangat
baik. Rangking saya naik turun berkisar peringkat 1-3. Peringkat tidak
stabil karena faktor pubertas dan juga persaingan ketat di kelas IPA.
Saya dalam kapasitas ketua OSIS mengorganisir bimbingan tes di sekolah.
Saya mengatur jadwal, menghubungi guru dan mengumpulkan uang honorarium
dari siswa untuk guru.
Selain itu, saya bersama beberapa teman sekelas mengikuti les tambahan
di kota untuk mata pelajaran kimia dan fisika. Singkat kata, kerja keras
membuahkan hasil. Saya lulus ujian saringan di UI, teman-teman lain
diterima di ITB, Unpad, IKIP Bandung, AKABRI dan sebagainya. Prestasi
tersebut mencengangkan, karena kami merupakan lulusan pertama dari SMAN
terletak jauh dari pusat kota. Sekolah favorit (SMAN I dan SMAN II)
terkalahkan dalam hal jumlah lulusan diterima di PTN pada tahun tersebut.
Sewaktu di kelas I, saya sebagai ketua OSIS, melontarkan gagasan
mengadakan camping di puncak Galunggung. Kepala Sekolah tidak menyetujui
dengan alasan keamanan, sukar dan sebagainya. Saya berargumentasi acara
tersebut penting membangun kebersamaan, esprit de corps, dan kebanggaan
akan sekolahnya. Kepala Sekolah tetap tidak mengijinkan. Para siswa
mendukung gagasan tersebut. Pada akhir pekan, saat Kepala Sekolah agak
sakit, saya membawa rombongan sejumlah hampir 200 siswa ke puncak
Galunggung berjarak 50 kilo meter dari sekolah. Saya membentuk beberapa
tim bertanggung jawab akan transportasi, logistik, teknis pendakian,
acara, serta P3K.
Pada waktu itu guru olah raga bersimpati kepada para siswa dan ikut
menyertai. Kami berkemah selama dua malam. Pengalaman saya berorganisasi,
mendaki gunung dan pramuka dikerahkan untuk kesuksesan acara tersebut.
Saya ingin membuktikan kepada Kepala Sekolah apa yang dibayangkannya
sulit dan berbahaya dapat diatasi dengan baik melalui kesungguhan,
disiplin dan kerja keras. Singkat kata rombongan kembali dengan selamat.
Kegembiraan kami meluap-luap serta persahabatan semakin kuat. Pada hari
senin, saat upacara rutin, kepala sekolah “menegur” keras kami dalam
kata sambutannya.
Semasa Kuliah di UI: Menenun Kehidupan
Ketika kuliah di UI, saya tinggal di asrama mahasiswa Daksinapati,
Rawamangun. Komunitas berisi mahasiswa beraneka latar belakang, tabiat,
dan budaya. Saya memperoleh topangan hidup dari orang tua meskipun
jumlahnya relatif terbatas. Karir ayahanda membaik. Beliau dari kepala
SDN dipindahkan menjadi guru di Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN).
Bahkan beliau pernah menjabat kepala Tata Laksana Kandep P dan K
Kabupaten Tasikmalaya dan Cirebon. Beliau harus membiayai sekolah tujuh
putra dan putrinya, hingga semua kini sarjana.
Oleh karena itu, saya bekerja sebagai guru les privat matematika, kimia
dan fisika bagi siswa SMA. Meskipun “bekerja”, saya tetap aktif
berorganisasi. Misalnya, saya menjabat Wakil Ketua Senat Mahasiswa. Di
asrama mahasiswa Daksinapti saya duduk sebagai salah satu pengurus RT.
Sementara itu, saya bertahun-tahun memperkuat tim kampus dalam beberapa
kejuaraan bola voli antar universitas tingkat UI maupun nasional. Saya
kadang-kadang mempergunakan waktu di akhir pekan membantu beberapa
saudara sepupu tukang kredit barang di kawasan Condet berjualan
komoditas untuk keperluan rumah tangga.
Saya sejak masuk kuliah S1 telah menggantungkan cita-cita melanjutkan
studi di luar negeri memperoleh gelar doktor. Ketika menjelang lulus S1,
saya mulai mengumpulkan informasi studi lanjutan di manca negara. Bahkan
saya mengirimkan aplikasi S2 ke Thammasat, ISS Denhaag, Filipina, dan
sebagainya. Setelah lulus S1, saya bekerja sebagai CPNS dosen di FISIP-UI.
Dan upaya mencari beasiswa ke luar negeri semakin intensif dilakukan.
Saya selalu berani mencoba dan mencoba, serta tidak pernah mau menyerah
pada kegagalan. Belajar dengan cepat tentang segala hal, berani
mengambil keputusan, dan melihat jauh ke depan; melekat dalam perjalanan
hidup saya. Hal ini melatari juga keputusan saya untuk menikah di tahun
1990, meskipun pekerjaan sebagai asisten dosen belumlah mapan.
Studi Pascasarjana: Jendela Dunia
Pada tahun 1990 saya mendapat beasiswa peneliti tamu di Universitas
Groningen, Belanda, selama tiga bulan. Saya memanfaatkan kesempatan
tersebut memperbaiki bahasa Inggris dan menulis proposal studi lanjutan.
Dalam waktu dua bulan bahasa Inggris saya, melalui praktek dalam
pergaulan di lingkungan kampus, maju pesat. Seorang Asisten Professor di
Groningen tercengang ketika membandingkannya dengan kondisi sewaktu
pertama kali tiba di Belanda.
Sementara itu, proposal studi lanjutan saya selesaikan di akhir bulan
kedua tersebut. Saya mengunjungi Professor H-D Evers di Universitaet
Bielefeld, Jerman dan Dr Lins dari DAAD Bonn. Dr lins dan tim yang saya
jumpai di kantor pusat DAAD membuka percakapan, “Well Mr. Somantri,
bahasa Inggris anda sangat baik, kini pandai berbahasa Belanda pula, dan
juga dapat berbahasa Jerman”.
Saya menjawab sindiran tersebut dengan tenang, “Saya tidak dapat
berbahasa Belanda dan Jerman, hanya berbahasa Inggris”. Ia menukas,
“Jika anda tidak bisa berbahasa Jerman, bagaimana mungkin anda studi
lanjutan di Jerman? Tentu di dalam kampus semua orang dapat berbahasa
Inggis, namun orang kebanyakan di luar......?”. Saya menjawab dengan
penuh rasa percaya diri dan keberanian, “Persoalannya bukan saya saat
ini dapat berbahasa Jerman atau tidak, namun, apakah anda mau atau tidak
memberi saya beasiswa, jika anda memberikan saya kesempatan mendapatkan
beasiswa tersebut, akan saya kuasai bahasa Jerman dengan baik dan cepat”.
Professor Evers mengenal saya sejak asisten dosen di FISIP-UI. Beliau
senang saya mencapai kemajuan bahasa dan akademis secara cepat. Sebelum
kembali ke tanah air, saya stop-over di Singapore dan menjadi visiting
research fellow di ISEAS untuk beberapa minggu. Saya memperbaiki kembali
proposal yang disusun di Belanda. Dr Sharon Siddique, Wakil Direktur
ISEAS dan juga alumni Bielefeld, bersemangat membantu memberi masukan
termasuk mengirimkan proposal versi terakhir kepada Prof Hans-Dieter
Evers di Jerman.
Pada akhir tahun 1990, saya mengikuti tes beasiswa S3 DAAD di Jakarta.
Saya lulus dengan nilai tinggi dan menyisihkan banyak peminat lain. Saya
belajar bahasa di Goethe Institut Goettingen selama enam bulan. Pada
bulan pertama prestasi saya biasa-biasa saja dengan rata-rata tes cukup.
Di bulan kedua nilai tes meningkat rata-rata baik. Pada bulan ketiga
rata-rata tes sangat baik. Pada bulan keempat saya mendapatkan
penghargaan sebagai siswa terbaik di seluruh Goethe Institut. Hal ini
bukan saja karena prestasi di kelas, namun saya aktif dalam aneka
kegiatan seperti diskusi kelompok peminat politik dan pernah menulis
cerpen di sebuah majalah berbahasa Jerman terbit di Goettingen.
Saya masuk di universitas pada Oktober 1991. Saya bekerja keras membaca
banyak buku literatur dalam bahasa Inggris maupun Jerman. Saya dikenal
oleh para kolega di kampus selalu paling akhir keluar perpustakaan.
Pernah sekali waktu, hampir di tengah-tengah malam musim dingin yang
beku, Professor Evers, ketika pulang dari ruang kerjanya,
mengetuk-ngetuk kaca perpustakaan dari luar. Hal tersebut menjadi
penambah semangat luar biasa.
Di akhir tahun pertama di Universitas, saya diterima sebagai mahasiswa
program doktor. Saya menempuh doktor langsung dari jenjang S1. Pada
tahun 1995 saya dapat menyelesaikan disertasi dan lulus ujian doktor
dengan judisium Magna cum Laude. Sebelum ujian disertasi saya mendapat
khabar ayahanda meninggal dunia di Tasikmalaya. Kesedihan sedikit
terhibur dengan lahirnya putra kami sebulan kemudian. Masa studi saya
tempuh kurang dari empat tahun, dan termasuk sangat cepat.
Karir di UI: Jalan menuju Kematangan
Ketika saya kembali ke tanah merintis karir akademis sungguh-sungguh di
kampus UI. Karena banyak penelitian kolaboratif internasional dikerjakan,
saya sering diundang mempresentasikan makalah di seminar internasional
dan menjadi peneliti tamu. Pada tahun 1996-1997 saya menjadi ketua dari
Center for Urban and Regional Studies, di PAU-IS-UI. Pada tahun 1997
saya diangkat menjadi Wakil Direktur Pusat Studi Jepang UI.
Di tengah-tengah kesibukan bekerja di PSJ-UI, saya merintis agro-industri
tahun 2000 di Mega Mendung Bogor. Saya berkebun jati emas di samping
menanam bunga potong dan jagung manis. Luas areal kami tanami sekitar
15.000 m2 dibeli menyicil. Diharapkan setelah 30 tahun menghasilkan 750
m3 kayu dari 2500 pohon ditanam, atau 1000 pohon seleksi. Perkiraan
harga kayu jati emas di tahun 2028 adalah 10 juta rupiah per m3.
Sementara itu kenaikan harga aset selama tiga dasa warsa sekitar lima
kali lipat. Bisnis lain adalah produksi “Tanaman Buah dalam Pot” (Tabulampot),
peternakan ikan gurame dan koi lokal, serta peternakan burung perkutut.
Pada tahun 2001 saya menjadi ketua Tim Persiapan Penataan (TPP) Otonomi
kampus di FISIP-UI. Pada tahun 2002 saya terpilih mewakili dosen FISIP-UI
di Senat Akademik Universitas (SAU). Di SAU saya sempat menjadi ketua
Komisi III, namun mengundurkan diri saat terpilih menjadi anggota
Majelis Wali Amanat UI. Di MWA saya terpilih sebagai Sekretaris. Pada
akhir tahun 2002 saya terpilih menjadi Dekan FISIP-UI yang ke-9 (usia 39
tahun).
Gambaran Diri: Pembaharuan dari Hati
Jumlah mahasiswa FISIP-UI lebih dari 8000. Jumlah dosen tetap dan tidak
tetap hampir 500 orang. Jumlah departemen adalah delapan membawahi 32
program studi. Sebagai Dekan baru di tahun 2002, saya mengidentifikasi
masalah pokok dihadapi fakultas pada waktu itu, yaitu tradisi akademik
belum terlalu kuat. Saya memutuskan untuk meletakkan transformasi budaya
akademik sentral dalam rencana strategis. Berarti reformasi sistemik
harus menyentuh bidang pengajaran (knowledge transfer), riset (knowledge
development), dan pelayanan masyarakat (knowledge reproduction).
Tidaklah mudah berperan menjadi motor transformasi di Fakultas kompleks
seperti FISIP-UI. Budaya lama birokratis kuat melekat di tengah tuntutan
perubahan menuju knowledge enterprise faculty. Proses tersebut
memerlukan dukungan fasilitas, infrastruktur, dan sistem manajemen
modern. Saya bertekad memotong “lingkaran setan” kompleksitas masalah,
kemudian meraih prestasi membanggakan. Saya memotori pengembangan sistem
manajemen dan pelaporan keuangan real-time, online, dan mampu
menghasilkan neraca harian. Sistem ini selesai diimplementasikan selama
enam bulan. Pengembangan sistem administrasi akademik juga dilakukan
dengan mengacu pada payung di tingkat Universitas. Infrastruktur dan
fasilitas dibangun secara sistimatik dan fokus penumbuhan budaya
akademik maju.
Skema-skema pengembangan SDM termasuk program beasiswa S2 dan S3 bagi
dosen, fasilitasi seminar internasional (fiskal dan fees) dan penulisan
buku (enam juta per bulan), dan sebagainya diimplementasikan. Sistem SDM
nonakademik ditata termasuk remunerasi “layak” berbasis kinerja dan
merit (gaji naik 20 persen per tahun, jumlah gaji 14 kali). Sementara
itu, aktivitas mengajar dirangsang bergeser dari tradisi konvensional
pada research-based teaching. Sementara fasilitasi pengembangan riset
dilakukan memalui aneka skema termasuk dosen inti (sekitar sembilan juta
per bulan) dan pemberian grant. Pada dasarnya riset diarahkan pada dua
kebutuhan, yaitu akademis dan komersial. Hal yang disebut terakhir
mengindikasikan pelayanan masyarakat dilakukan berbasis riset dan dicari
relevansinya bagi pengembangan pengajaran (pemasukan dana riset terus
meningkat tajam).
Proses transformasi di atas telah menghantarkan FISIP-UI pada banyak
prestasi. Secara umum fakultas ini diperhitungkan di tingkat regional.
Daya saing dan keunggulannya FISIP-UI di tingkat regional dilihat dari
kualitas maupun kuantitas riset dan publikasi, performa pengajaran,
kecepatan lulusan mendapat pekerjaan, internasionalisasi perpustakaan,
ruang dosen, dan sebagainya. Sementara itu, implementasi sistem
manajemen modern di bidang akademik maupun non akademik telah melahirkan
sistem efisiensi, subsidi silang, serta pemanfaatan fasilitas bersama
optimal.
Sebagai motor dari perubahan, saya memberikan komitmen penuh waktu di
Fakultas. Tidak jarang saya bekerja hingga malam hari dan terjun
langsung dalam merubah mindset publik. Misalnya kampus kotor beberapa
tahun lalu kini menjadi sangat bersih. Saya langsung mengajak civitas
academica hirau masalah tersebut. Di awal menjadi Dekan, sering saya
memungut puntung rokok berserakan di lantai di tengah kerumunan
mahasiswa merokok. Mereka malu dan segan membuang puntung sembarangan,
bahkan akhirnya bersama-sama membersihkan puntung rokok. Karyawan dan
cleaning service tidak sembarangan lagi menangani kebersihan WC di
lingkungan kampus. Satu kran macet saja dapat diketahui.
Mahasiswa di fakultas di masa lalu dikenal gemar bermain kartu remi.
Mereka kini lebih banyak berada di perpustakaan, lapangan olahraga, atau
berkumpul di bangku-bangku taman asri, bekerja dengan lap-top
memanfaatkan sistem nir kabel. Saya keliling gedung dan lokasi dua kali
sehari untuk memastikan mereka tidak bermain kartu. Saya sering duduk
bersama mereka menjelaskan mengapa bermain kartu dilarang. Pada tahun
2006 kampus FISIP dinobatkan sebagai kampus terbersih dan terindah di
UI.
Sebagai pimpinan, saya menyelesaikan setiap persoalan secara cepat,
tepat, dan adil. Saya bukan tipe orang menyenangkan semua orang. Saya
teguh berpegang pada prinsip. Namun, saya mempunyai kemampuan untuk
melakukan persuasi melalui proses komunikasi empatif sehingga ketegasan
tersebut humanis. Sebagai contoh pernah seorang wali mahasiswa marah
karena putranya DO. Saya dengan tegas dan sopan meminta beliau meredakan
amarah, agar dapat dilayani baik. Setelah amarahnya reda, saya
memberikan penjelasan, berempati, dan memberikan perspektif alternatif
mengenai masa depan putranya. Beliau akhirnya lapang dada menerima
kenyataan putranya DO tidak memenuhi persyaratan akademik.
Meskipun pekerjaan rutin dan kasus-kasus dapat diselesaikan dengan baik,
publik masih belum terpuaskan rasa dahaga akan hadirnya kepemimpinan
kreatif dan inovatif. Mereka mengharapkan perubahan ditandai hal-hal
baru. Seperti dibahas di atas, saya melakukan transformasi. Hal yang
sebelumnya tidak ada menjadi ada, dan membawa manfaat luas. Pada
tingkatan ini publik menilai, selain kita mempunyai komitmen, integritas,
juga penuh daya kreatif dan inovasi. Secara umum, mereka mengatakan kita
mampu bekerja dan fakultas mengalami kemajuan pesat.
Saya sendiri tidak puas dengan hasil yang dicapai. Saya adalah tipe
orang mempunyai mimpi jauh ke depan dan bertumpu pada idealisme
membangun peradaban dan kemanusiaan. Saya selalu dipenuhi imajinasi
liar, di “luar kotak” (out of the box) rutinitas dan kemapanan. Visi
saya membangun fakultas sering dinilai sebagai hal yang mustahil dan
sulit dilakukan. Saya gigih meyakinkan hal tersebut dapat dicapai dan
mengambil langkah (terobosan) penuh resiko.
Strategi saya adalah merealisasikan mimpi tersebut satu per satu.
Sebagai contoh membangun Selo Soemardjan Research Center (SSRC) modern
di tahun pertama menjadi dekan adalah tidak mudah. Banyak pihak di
fakultas menyangsikan. Namun ketika mimpi tersebut menjadi kenyataan,
mereka mengakui gagasan itu baik dan realistik. Terlebih lembaga ini
berhasil mengumpulkan dana abadi cukup besar dari industri dan keluarga
almarhum Prof Selo.
Contoh lain, saya pernah menyampaikan kepada publik akan merubah total
perpustakaan kumuh, sistem pelayanan tertutup; menjadi pusat
pembelajaran (resource center) mutakhir dilengkapi sistem data digital.
Mereka mengatakan “mimpi” terlampau muluk, dan menyarankan cukup
memperbanyak buku baru serta kualitas pelayanan. Enam bulan kemudian
proyek tersebut selesai (dana satu milyar, dan mendapat grant 150.000 US
dolar) dengan nama Mirian Budiardjo Resource Center. Pengujung MBRC saat
ini mencapai angka 700-1000 mahasiswa per hari (bandingkan pengunjung
sebelumnya berkisar 100 mahasiswa per hari).
Publik tercengang terlebih kami mampu meningkatkan pelayanan dengan
menggunakan SDM yang sama. MBRC dilengkapi oleh kehadiran American
Corner (pada saat tulisan ini dibuat, World-Bank Corner, BPS Corner dan
BUMN Corner dalam proses pengerjaan). MBRC mempunyai akses journal
on-line pada 2500 judul jurnal. Sementara itu, akses digital e-book
hampir tak terbatas. MBRC kini diakui terbaik di Asia Tenggara dan
dimanfaatkan FISIP, FIS, FIA dan FIKOM, seluruh Indonesia. Singkat kata
MBRC menjadi unit aktif memotori dinamika budaya akademik maju.
Terobosan berani kami ambil dalam rangka menata SDM akademik. Pada tahun
2006 mulai diimplementasikan program dosen inti mendapat remunerasi
relatif tinggi berbais kinerja. Pembangunan ruang dosen dan student
business center bertaraf internasional selesai dibangun tahun 2006.
Pembangunan Gedung M baru saja selesai Mei 2007, menambah jumlah dan
kapasitas fasilitas modern di lingkungan UI. Upaya-upaya tersebut selalu
diawali pendapat sebagai hal mustahil di kalangan publik, namun kami
selalu membuktikan melalui keberanian, tekad yang kuat, dan kemampuan
manajerial tinggi; hal tersebut berhasil direalisasikan.
Membuat terobosan penataan SDM, infrastruktur, dan fasilitas seperti
dikemukakan di atas memerlukan dana besar. Saya berusaha keras untuk
mengembangkan sumber pendanaan non BOP melalui pengembangan
enterpreneurial relevan. Sebagai contoh kantin berisi 20 pedagang di
masa lalu memberikan kontribusi hanya jutaan rupiah per bulan menjadi
mesin uang dengan kontribusi di atas 1 milyar per tahun. Parkir motor
tampaknya tidak seberapa, mampu mendatangkan pendanaan di atas 100 juta
per tahun. Demikian pula foto kopi dan legalisir ijazah ditata serta
ditingkatkan kualitas pelayanannya sehingga mampu mendatangkan sejumlah
dana signifikan. Dana dari riset, training, dan aktivitas business baru
di gedung Koetjaraningrat juga memperbesar jumlah persentase pendanaan
non BOP. Sementara itu kerjasama dengan industri dan lembaga-lembaga
dalam dan luar negeri terus dilakukan dengan format “menjemput bola”.
Remarks: Akselerasi Transformasi dan Kepemimpinan UI
Trasformasi UI di tahun 2007-2012 menghadapi tantangan berat di bidang
non akademik maupun akademik. Di bidang non akademik terdapat lima
agenda sebagai berikut. Pertama transformasi sistem pengelolaan SDM PNS
menjadi BHMN terintegrasi di tahun 2010. Kedua sistem remunerasi
berbasis kinerja (rata-rata gaji Rp 10 juta bagi dosen, Rp 5 juta bagi
karyawan). Ketiga infrastruktur serta fasilitas (perpustakaan,
laboratorium, rumah sakit akademis, pusat riset dan science park, ruang
kelas, pusat kegiatan mahasiswa, pusat seni, pusat olahraga, lingkungan
kampus, dan sebagainya) dibangun bertaraf internasional.
Hal tersebut dikelola secara efisien termasuk penggunaan bersama lintas
unit dan disiplin ilmu. Keempat meningkatkan kemampuan pendanaan melalui
sumber non BOP hingga anggaran tahunan mencapai angka 1,5 trilyun hingga
2 triliun. Termasuk di dalamnya optimalisasi pemnafaatan aset UI di
Depok, Salemba, PGT dan Wisma Rini. Kelima melipatgandakan secara cerdas
jumlah dana abadi selama jangka waktu 5 tahun. Keenam mengembalikan
citra UI sebagai kampus milik rakyat, namun kuat secara finansial serta
akademis maju.
Di bidang akademik, kemahasiswaan dan hubungan alumni terdapat tujuh
agenda sebagai berikut. Pertama, menumbuhsuburkan riset berkelompok
(cluster) secara terintegrasi sehingga lahir tradisi riset yang kuat,
sinambung, dinamis serta membuka ruang konvergensi ilmu dan teknologi.
Kedua, mendongkrak jumlah dan kualitas aktivitas akademis internasional
(seminar, publikasi, pertukaran akademis, dan kolaborasi riset) sehingga
nilai akreditasi internasional meningkat. Ketiga, pengembangan budaya
inovasi dan perolehan paten. Keempat, pengajaran berkualitas
internasional dengan sistem memperhatikan fleksibilitas hubungan lintas
disiplin ilmu, serta memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan pasar
global. Kelima, pelayanan masyarakat (di bidang konsultasi, pelatihan,
dan kerja nyata di lapangan) berbasis riset, diarahkan menyelesaikan
masalah bangsa dan peradaban (kemiskinan, kesehatan, keadilan dampak
pembangunan pada kerusakan lingkungan hayati, pemanasan global,
perhubungan, pembangunan masyarakat industrial, digital literacy,
ketertinggalan iptek, dinamika budaya, dan sebagainya). Keenam,
fasilitasi kelembagaan dan aktivitas kemahasiswaan menjamin mereka
tampil matang sebagai calon pemimpin bangsa. Ketujuh, adalah
optimalisasi peran alumni dalam proses transformasi kampus.
Dalam rangka mencapai tiga belas agenda di atas serta agenda lain yang
penting dalam Kebijakan Umum (KU) universitas, diperlukan visi dan misi
tepat. Kami mengusulkan visi UI ke depan menjadi universitas riset dan
entrepreneurial maju di tingkat regional dan diakui secara internasional.
UI perlu mengembangkan unggulan di bidang pengajaran, riset, dan
pelayanan. Namun demikian, UI tetap bertumpu pada idealisme kebangsaan,
tidak tercerabut dari akar “Indonesia”, termasuk mempunyai perhatian
membantu anak bangsa berbakat yang tidak mampu dari seluruh pelosok
negeri memperoleh pendidikan terbaik secara murah bahkan cuma-cuma.
Dalam rangka merealisasikan mimpi tersebut, UI ke depan memerlukan
kiprah pemimpin tangguh. Dia mempunyai kemampuan manajerial mumpuni,
berani dalam melakukan terobosan, cepat dan cermat dalam mengambil
keputusan, jiwa kewirausahaan tinggi, mempunyai komitmen penuh pada UI,
serta mampu merealisasikan “mimpi” menjadi kenyataan.
Dalam kaitan dengan hal tersebut, saya mempunyai ciri dan kemampuan
kepemimpinan seperti dikemukakan di atas. Meskipun demikian, sebagai
manusia biasa saya mempunyai kelemahan mudah iba pada orang-orang
“kecil” kurang beruntung dirundung kemiskinan. Kelemahan ini di satu
sisi positif. Namun, jika kita terhanyut dalam perasaan, dapat membuat
keputusan menjadi bias. Namun demikian, selama ini saya banyak belajar
untuk matang dalam mengendalikan perasaan semacam itu dengan memasukan
rasionalitas dalam menilai setiap keadaan, sehingga perasaan iba
tersebut justeru menjadi penyeimbang positif. (Gumilar Rusliwa Somantri)
►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|