| |
C © updated 21072007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dok pribadi |
|
| |
Nama:
Gumilar Rusliwa Somantri
Nama Lengkap:
Prof Dr der Soz (der Sozialwissenschaften), Drs (Doktorandus)
Gumilar Rusliwa Somantri
Lahir:
Tasikmalaya, 11 Maret 1963
Agama:
Islam
Jabatan:
Rektor Universitas Indonesia (UI) 2007-2011
Istri:
Dra Nenden DY W Wasita Kusumah
Anak:
1. Aisha Rasyidilla Kusuma Somantri (P/15)
2. M Damara Suksma Kusuma Somantri (L/11)
3. M Germa Kencana Kusuma Somantri (L/7)
Ayah:
Ayah Oma Soma Wiradirdja (Alm)
Ibu:
Hj. Eutik Siti Soikoh Said
Pangkat/Jabatan:
IV C/ Guru Besar
Nomor KTP:
32.77.73.1006/15993/73033896
Pendidikan:
- Tahun 1976, lulus SD Negeri I Sukaratu, Tasikmalaya
- Tahun 1979, lulus SMP Negeri I Cisayong, Tasikmalaya
- Tahun 1982, lulus SMA Negeri I Ciawi, Tasikmalaya
- Januari 1982,lulus S-1 (Drs) Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta
- Juli 1995, lulus S-3 (Ph.D) Fakultas Sosiologi, Universitaet Bielefeld,
Jerman
Pelatihan/Kursus:
- Oktober 2006, mengikuti Pelatihan Kewirausahaan bagi Eksekutif
Universitas Indonesia, diselenggarakan oleh Direktorat SDM UI
- Juli 2006, Pelatihan Pengembangan SDM melalui metoda 165 Emotional and
Spiritual Quotient (ESQ), kelas Eksekutif ESQ Jakarta angkatan 48, ESQ
165, Jakarta
- Maret 2005, Pelatihan Self-Healing Reiki Tumo, ESQ 165, Jakarta
- Juni 2004, Kursus Akuntasi dan Manajemen Keuangan bagi Eksekutif di
Lingkungan Universitas Indonesia, UI
- Februari-Juni 2000, Kursus Bahasa Jepang, Pusat Studi Jepang
Universitas Indonesia
- Desember 1998, Peserta Pelatihan JICA bagi Pengembangan SDM, Tokyo,
Jepang, JICA.
- April-Mei 1998, Kursus Peningkatan Kemampuan Mengajar pada Perguruan
Tinggi (Program PEKERTI), UI
- Maret 1997, Kursus Penggunaan Multi-Media dalam Pengajaran di
Pendidikan Tinggi, AMIC, Singapura
- Januari-Maret 1993, Pelatihan Pra-Jabatan bagi Calon Pegawai Negeri
Sipil, Universitas Dipenogoro, Semarang (peserta titipan dari
Universitas Indonesia).
- April-September 1991, Pendidikan Bahasa Jerman, Goethe Institut di
Goettingen, Jerman
- Agustus 1990, Pelatihan Komputer bagi Calon Penerima Beasiswa Asing,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, bekerjasama dengan Universitas Gunadarma.
- September 1990-Februari 1991, Pendidikan Bahasa Jerman, Goethe
Institut di Jakarta
- Desember 1989, Peserta Pelatihan Penggunaan SPSS dalam Penelitian
Sosial, Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia
Kursus Tambahan:
- Oktober 2006, Pelatihan Kewirausahaan bagi Eksekutif
Universitas Indonesia, Direktorat SDM UI
- Juli 2006, Pelatihan Pengembangan SDM melalui metoda 165 Emotional and
Spiritual Quotient (ESQ), kelas Eksekutif ESQ Jakarta angkatan 48 ESQ
165, Jakarta
- Maret 2005, Pelatihan Self-Healing Reiki Tumo ESQ 165, Jakarta
- Juni 2004, Kursus Akuntasi dan Manajemen Keuangan bagi Eksekutif di
Lingkungan Universitas Indonesia.
- Februari-Juni 2000, Kursus Bahasa Jepang Pusat Studi Jepang
Universitas Indonesia
- Desember 1998, Peserta Pelatihan JICA bagi Pengembangan SDM, Tokyo,
Jepang, JICA
- April-Mei 1998, Kursus Peningkatan Kemampuan Mengajar pada Perguruan
Tinggi (Program PEKERTI), UI
- Maret 1997, Kursus Penggunaan Multi-Media dalam Pengajaran di
Pendidikan Tinggi, AMIC, Singapore
- Januari-Maret 1993, Pelatihan Pra-Jabatan bagi Calon Pegawai Negeri
Sipil, Universitas Dipenogoro, Semarang (peserta titipan dari
Universitas Indonesia).
- April-September 1991, Pendidikan Bahasa Jerman Goethe Institut di
Goettingen, Jerman
- Agustus 1990, Pelatihan Komputer bagi Calon Penerima Beasiswa Asing
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, bekerjasama dengan Universitas Gunadarma.
- September 1990-Februari 1991, Pendidikan Bahasa Jerman, Goethe
Institut di Jakarta
- Desember 1989, Peserta Pelatihan Penggunaan SPSS dalam Penelitian
Sosial, Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia
Karir:
- 2007-2011, Rektor Universitas Indonesia (UI)
-
2002-2006, 2006-2010, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Indonesia
- 2006-2010, Anggota, Badan Pembina Harian, Universitas Muhammadiyah
Jakarta
- 2006-2007, Anggota Dewan Ahli, Forum Komunikasi Alumni ESQ, Jakarta
- 2006, Ketua, Forum Dekan FISIP, FIA dan FIKOM seluruh Indonesia
- 2005-2006, Anggota, Dewan Riset Daerah Provinsi DKI Jakarta
- 2003-2006, Anggota, Senat Akademik Universitas Indonesia (SA-UI)
- 2002-2006, Anggota, Senat Akademik Fakultas (SAF), Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
-2002-2004, Anggota, Tim Peduli Jakarta (Memberi Masukan pada Gubernur
DKI Jakarta mengenai Issue dan Pemecahan Masalah Perkotaan).
- 2001-2002, Sekretaris, Majelis Wali Amanat MWA), Universitas Indonesia
- 2001-2002, Anggota, Senat Akademik Universitas Indonesia (SAU-UI),
Unsur Perwakilan Dosen
- 2001, Ketua, Komisi C Senat Akademik Universitas Indonesia (SAU-UI)
- 2001-2002, Anggota, Majelis Wali Amanat (MWA) UI dari unsur SAU-UI
- 2001-2002, Ketua, Tim Persiapan dan Pelaksanaan Otonomi Kampus,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
- 2000-2001, Koordinator, Panbanlit (Panitia Pengembangan dan Penelitian),
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
- 1997-2002, Anggota, Tim Juri, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS),
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional
- 1997-2006, Anggota, Tim Seleksi Bersama Beasiswa Program Doktor
Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) dan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
- 1997-2003, Wakil Direktur Eksekutif, Pusat Studi Jepang, Universitas
Indonesia
- Oktober 1997-September 1999, Anggota, Tim Ahli DPR-RI.
- Januari 1997-Mei 1997, Direktur, Pusat Antar Universitas Ilmu Sosial,
Universitas Indonesia
- Oktober 1995-Desember 1996, Ketua, Urban and Regional Research Centre
(URRC), Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia
- 1989-1990, Sekretaris, Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial,
Universitas Indonesia
- 1985, Wakil Ketua, Senat Mahasiswa FISIP-UI
- 1983-1987, Pengajar, Les Privat Siswa SMA untuk mata pelajaran
Matematika, Fisika, dan Kimia.
- 1980-1981, Ketua, OSIS SMA Negeri I Ciawi Tasikmalaya.
- 1978-1982, Penulis, Cerita Pendek dan Puisi di media nasional (Rubrik
untuk anak-anak dan remaja)
Organisasi Profesi:
- Sejak 2006, Anggota, Forum Komunikasi Alumni ESQ, Jakarta
- 2006, Anggota, Dewan Redaksi Jurnal Sosial Politik, UGM
- Sejak 2005, Anggota, Alumni Salzburg Seminar, Austria
- 2002-2006, Penasihat Redaksi, Jurnal “Bisnis dan Birokrasi”, FISIP-UI
- 2002-2003, Anggota, Dewan Redaksi Jurnal “Global”, FISIP-UI
- Sejak 2000, Anggota, Asosiasi Studi Jepang Indonesia/ASJI
- 1997-1999, Ketua, Komisi Studi Perkotaan Asosiasi Sosiologi Indonesia
(ASI)
- 1998-2002, Anggota, Dewan Redaksi Jurnal NIPPON, Pusat Studi Jepang UI
- Sejak 1998, Anggota, Perhimpunan Alumni Program Pelatihan JICA, Tokyo,
Jepang
-Sejak 1997, Anggota, Perhimpunan Alumni Jerman/PAJ
- 1995-2002, Anggota, Dewan Redaksi Jurnal “Masyarakat”, Universitas
Indonesia
- Sejak 1995, Anggota, International Urban Anthropological Association/IUAS,
Belanda
- Sejak 1995, Anggota, The International Communitarian Society, USA
- Sejak 1993, Anggota, Asosiasi Sosiologi Indonesia
Alamat Kantor:
Departemen Sosiologi Gedung B- 105
Kampus FISIP-UI Depok 16424
Telp 021-7863425, Faks 021-7863425
Alamat Rumah:
Pesona Khayangan Estat Blok FL 1 Depok RT 12/28 Kelurahan Mekarjaya,
Kecamatan Sukmajaya, Depok, 16411.
Buku:
- Looking at Gigantic Kampung, 2000
- People Making the City, 2000
- Village in Motion, 2000
- Ilmu Sosial di Persimpangan Jalan, 2006
Migration Within Cities, 2007
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Gumilar Rusliwa Somantri
Jadikan UI Mozaik Indonesia Rektor Universitas
termuda Universitas Indonesia Prof Dr der Soz Gumilar Rusliwa Somantri,
yang dilantik Selasa
14 Agustus 2007 berjanji untuk tetap menjadikan UI sebagai kampus rakyat
dan mozaik Indonesia. "Siapa
saja yang berprestasi, termasuk mereka yang kurang mampu dari seluruh Indonesia, harus
bisa kuliah di sini," kata suami Dra Nenden DY W Wasita Kusumah itu.
Untuk mewujudkan hal itu, dia memaparkan beberapa skema, di antaranya beasiswa bebas
sepenuhnya, bebas sebagian dengan hanya membayar beberapa beban kuliah,
bantuan biaya hidup selama kuliah, hingga skema pinjaman lima tahun
hampir tanpa bunga. Hal itu akan diprioritaskan kepada mahasiswa kurang mampu.
Beasiswa ini tentu membutuhkan dana yang besar. Untuk beasiswa sepanjang tahun 2006 saja
mencapai Rp 25 miliar. Sehubungan dengan sumber pendanaannya, Gumilar menyatakan akan menggalang sumber dana
baru. Salah satunya akan bertumpu pada sumber dari kedermawanan sosial (filantropi).
Gumilar juga diharapkan dapat mewujudkan Universitas Indonesia
sebagai world class research university (universitas riset berkelas
dunia). Harapan itu disampaikan Ketua Majelis Wali Amanat UI Purnomo
Prawiro pada acara pelantikan Gumilar Rusliwa Somantri menjadi Rektor UI
(2007-2001) di Balairung UI, Depok, Selasa 14 Agustus 2007. Pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Maret 1963
itu menggantikan Usman Chatib Warsa.
Gumilar terpilih menjadi Rektor UI, Jumat 20 Juli 2007, melalui pemungutan suara Majelis Wali Amanah Universitas
Indonesia atau MWA-UI. Gumilar meraih 25 suara dari 30 suara MWA-UI, atau lebih dari 85 persen.
Calon lain Sutanto Soehodho (guru besar Fakultas Teknik UI, saat
ini Wakil Rektor I UI), meraih 4 suara dan Hasbullah Thabrany (guru
besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI) tidak mendapat suara. Sementara
satu suara
abstain.
Rektor UI Termuda
Gumilar Rusliwa
Somantri menjadi Rektor Universitas Indonesia termuda, di
usianya yang masih 44 tahun. Dia mendobrak tradisi Rektor UI yang
selalu berasal dari Fakultas Kedokteran. Dia menjadi rektor ke-3 UI (di antara 15 periode jabatan) yang
berlatar belakang ilmu nonkedokteran. Dua rektor lainnya adalah
Soemantri Brodjonegoro (1964-1973) dan Nugroho Notosusanto (1982-1985).
Walau saat terpilih menjabat Rektor UI
periode 2007-2012, memang tidak lagi terlalu mengejutkan banyak pihak yang
sejak awal mengikuti tahapan pemilihan calon rektor. Sebab, dari 7 kandidat yang mencalonkan diri, Gumilar mendapat bobot nilai
paling tinggi oleh Senat Akademik UI. Nyaris sempurna, nilai yang
diperolehnya 99, jauh melampaui calon rektor UI lainnya yang
disingkirkan di pemilihan 3 besar, yakni Prof Dr Soetanto Soehodho yang
hanya memperoleh bobot nilai 47, atau Prof Dr Hasbullah Tabrani yang
cuma mendapat bobot nilai 30.
Dibandingkan
doktor-doktor atau profesor-profesor UI lainnya yang telah sering tampil di
media massa, sosok Gumilar memang belum terlalu dikenal publik. Namun,
bagi yang mengenalnya, terutama setelah menjabat Dekan FISIP UI sejak 2002, pria
yang akrab disapa Mas Gum oleh mahasiswa itu, dikenal sebagai seorang
pemimpinan yang kreatif dan inovatif.
Dia selalu berani
mencoba dan mencoba, serta tidak pernah mau menyerah pada kegagalan.
Belajar dengan cepat tentang segala hal, berani mengambil keputusan, dan
melihat jauh ke depan. Dia juga tipe pemimpin yang tidak puas dengan hasil yang
sudah dicapai. Dia tipe
orang yang mempunyai mimpi jauh ke depan dan bertumpu pada idealisme
membangun peradaban dan kemanusiaan. Dia selalu dipenuhi imajinasi
liar, di “luar kotak” (out of the box) rutinitas dan kemapanan.
Visinya membangun fakultas sering dinilai sebagai hal yang mustahil dan
sulit dilakukan. Namun dia gigih meyakinkan hal tersebut dapat dicapai dan
mengambil langkah (terobosan) penuh resiko.
Pengalamannya memimpin FISIP-UI diyakini akan mampu melakukan pembenahan di bidang akademik dan nonakademik
di UI.
"Saya siap mewujudkan transparansi administrasi keuangan universitas,"
kata Gumilar. Termasuk di dalamnya mengembalikan citra UI sebagai kampus milik rakyat,
namun kuat secara finansial serta akademis maju.
Beberapa hal yang menjadi fokus yang akan dibenahi adalah transformasi
sistem pengelolaan SDM PNS menjadi BHMN, sistem remunerasi berbasis
kinerja (rata-rata gaji Rp 10 juta bagi dosen, Rp 5 juta bagi karyawan),
pembenahan infrastruktur serta fasilitas dan meningkatkan kemampuan
pendanaan anggaran tahunan mencapai angka 1,5 triliun hingga 2 triliun.
Gumilar mempunyai tiga visi sebagai Rektor UI yang baru. Visi itu sejalan dengan keinginan
Majelis Wali Amanat. Pertama, mentransformasi UI yang multifakultas
menjadi universitas. ''UI secara historis dibentuk dari
fakultas-fakultas. Tradisi fakultas sangat kuat, sehingga kepaduan
sebagai universitas, menjadi agak sedikit tertinggal. Itu tecermin, yang
namanya alumni UI, itu lebih dekat pada fakultasnya dari pada ke
UI-nya.
Kedua, UI harus melakukan internasionalisasi. 'UI di domestik, peringkat pertama. Tapi, internasional, masih ada
tugas-tugas tertentu yang harus dilakukan.
Ketiga, manajemen dengan struktur yang birokratis ditransformasi menjadi
lebih enterprise, enterpreneursing university.
Enterpreneursing itu bukan komersialisasi, tapi dalam manajemen,
bagaimana supaya diatur lebih efisien, lebih teratur.
Jika UI menjadi universitas kelas dunia, akan menjadi
preseden yang mampu mengubah rasa percaya diri bangsa, rasa percaya diri
elite-elite politik, dan mengubah harga diri kita sebagai bangsa.
Guna mencapai hal itu, Gumilar menyadari tentu harus kerja keras,
visioner, kreatif dan inovatif. Gumilar ingin meningkatkan pula jumlah
guru besar. Kini, hanya 10 persen dari jumlah dosen. Guru besarnya harus menjadi 90 persen. Staf pengajar itu harus profesor,
harus periset unggul. Dan, ini harus didukung oleh SDM pendukung,
karyawan. Ini tidak kalah penting. Dua-duanya harus betul-betul
profesional.
Dia pun menginginkan UI terus menjadi
think tank kemajuan bangsa. Akan dibuat national think thank group. Lembaga ini,
katanya, untuk memfasilitasi SDM dari berbagai
disiplin ilmu. Kemudian, tiap tahun think thank group ini akan membuat
semacam review tahunan dalam perjalanan bangsa. Mulai dari ekonomi,
politik, dan sebagainya, dirangkum menjadi satu buku ringkas yang
komprehensif, yang berisi analisis dan saran-saran bagaimana mengambil
jalan keluar.
Sementara mengenai pendanaannya, Gumilar mengatakan tentu tidak bisa hanya mengandalkan sumber dari masyarakat berupa
SPP dan BOP (biaya operasional perkuliahan). "Akan ditata kembali
sumber pendanaan dari BOP, ditata ke arah tecerminnya subsidi silang
yang adil, dan juga tecerminnya akses warga negara yang punya talenta.
"Tidak peduli dia miskin atau kaya, kalau dia punya talenta, bisa masuk
UI. Yang kaya bayar lebih, yang miskin tentu dibantu," jelas suami Dra Nenden DY W Wasita Kusumah
dan ayah tiga anak (Aisha Rasyidilla Kusuma Somantri, M Damara Suksma Kusuma Somantri
dan M Germa Kencana Kusuma Somantri) itu.
.
Hal ini memang sudah dilakukan selama ini, walaupun masih
lebih pada pondasi secara sistem untuk melakukan subsidi silang.
Kemudian akan dikembangkan agar sistem subsidi silang itu betul-betul menjadi
nyata dan menjadi bagian yang membangun kepercayaan dari semua pihak
bahwa memang UI hirau dengan kualitas dan mempunyai aksesabilitas yang
terbuka lebar bagi semua orang yang bertalenta.
Sehingga tidak terjadi penafsiran yang keliru seolah UI terbuka bagi orang-orang miskin,
walaupun tidak punya kemampuan, tidak punya talenta. Hal ini harus
dipahami bahwa
konsepsi universitas sebagai private good itu artinya selektif. Bukan berarti bisa dimasuki oleh semua orang, tapi
hanya orang yang punya kemampuan (berprestasi).
Harus juga dipahami bahwa operasional pendidikan itu mahal,
kualitas pendidikan itu mahal. Maka orang yang mampu harus bayar lebih. Orang yang tidak mampu tapi pintar, bebaskan. Bahkan beri
biaya hidup supaya dia bisa kuliah dengan tenang. Tapi, juga harus
mendidik karena dia itu bibit unggul calon penerus pemimpin bangsa di
masa depan yang harus punya mental baja, mental mandiri, mental yang
sehat. Caranya, diberikan pinjaman yang harus dikembalikan setelah lima
tahun bekerja atau luluslah. Juga bekerja di kampus, di unit-unit
kegiatan, unit-unit usaha. Bekerjanya juga harus standar, yang normal,
yang layak.
Jangan mentang-mentang terima beasiswa lalu dibayar murah. Akan dikembangkan semacam knowledge venture.
Akan didayagunakan ahli-ahli UI
yang hebat-hebat, membuat seminar-seminar tertentu di
hotel-hotel berbintang.
Knowledge venture ini
bagian dari academic venture, ada kegiatan seperti konsultasi,
pelatihan-pelatihan, bahkan summer course, kuliah musim panas bagi
mahasiswa-mahasiswa asing, dari Cina, Jepang. Selain itu ada commersial
venture. Kita mengembangkan usaha-usaha yang cukup punya prospek ekonomi
besar, misalnya ICT, lalu real estate.
UI juga
punya aset banyak. Commersial venture dikaitkan dengan
manajemen aset. UI itu punya aset luar biasa. Misalnya, bikin rumah sakit
diintegrasikan dengan hotel. Bikin parkir yang terintegrasi. Bikin
apartemen blok di dalam kampus untuk mahasiswa asing. Belum lagi strategi partnership. Sebagai contoh,
kita membuat link and match center. R and D dan HRD dari industri ditarik ke kampus, mereka
training di UI dengan fasilitas lengkap.
Tantang untuk mewujudkan hal ini justru mind set. "Kita sering berbicara mengenai
world class, kualitas, tapi mind set dan perilaku kita masih perilaku
yang sebelumnya," katanya. Upaya yang harus segera dilakukan ialah
memperbesar jumlah orang-orang yang memahami itu dan punya keinginan ke
sana, sehingga tidak terlalu capek sosialisasi program.
Transformasi Pendidikan
Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri akhir Juni 2007 menerbitkan dua
buku sekaligus yakni, "Transformasi Pendidikan Tinggi di Era Knowledge Based
Society: Studi Kasus Universitas Indonesia" (170 halaman) dan "Transformasi
Perguruan Tinggi Berbasis Riset dan Berdaya-Usaha: Catatan Pengalaman
FISIP UI 2002-2006" (96 halaman).
Buku Transformasi persembahan lengkap untuk mengawal perubahan
Universitas Indonesia (UI) jadi universitas riset dan berkewirausahaan.
Gumilar sering menyebut "turbulensi" sebagai kata kunci untuk
menggambarkan proses transformasi itu.
Tentang bukunya, Gumilar menuturkan: "Dukungan dana dari pemerintah turun seiring dengan otonomi pendidikan.
Biaya pendidikan meningkat dan globalisasi serta kompetisi juga terus
naik. Pasar juga butuh pelayanan pendidikan tinggi yang lebih baik.
Inilah tantangannya."
Dalam kerdua buku yang saling terkait, melengkapi, dan terprogram itu
Gumilar menawarkan berbagai
solusi konkret. Mulai dari masalah kepemimpinan di fakultas
yang memiliki keunikan karena keberagaman ilmu (sosial, politik,
administrasi, komunikasi, kriminologi, dan lain-lain) ke tingkat
universitas. Menurutnya, kini zamannya ilmu-ilmu sosial dan politik. Setiap fakultas telah
mempunyai sistem serupa, tinggal dikonvergensikan dengan kepemimpinan
yang mengandalkan keberagaman.
Kemudian, keberagaman disiplin ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia (FISIP UI) tentu akan membentuk inkorporasi yang
lebih padu. Ini masalah capacity building. Contohnya fitur-fitur
telepon genggam yang tak ada artinya jika berdiri sendiri-sendiri. Namun,
kalau disajikan bersamaan, telepon genggam menjadi benda yang meledakkan
perubahan besar.
Gumilar juga banyak mengulas good
governance sebagai satu-satunya opsi dalam pengelolaan universitas
sebagai lembaga pendidikan. Menurutnya, good governance telah
menjadi tuntutan wajar. "Masalah tinggal bagaimana setiap fakultas dan
juga universitas bersama-sama mengubah UI dari good menjadi great,"
tambahnya.
Gumilar pernah ditunjuk jadi ketua Panitia Pengarah Hari Lahir Pancasila yang
menghadirkan 600 intelektual dan tokoh dalam "Seminar Pancasila" tahun
2006. Acara itu dilanjutkan dengan pembacaan "Maklumat Keindonesiaan"
dan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 1 Juni di Jakarta yang
dihadiri sekitar 3.500 tokoh.
Di kalangan alumni dia dijuluki "The Green Dean" (Dekan Peduli Alam)
karena kehirauan dia pada pelestarian lingkungan. Dia kolektor berbagai
jenis ikan, aneka unggas, dan beragam tanaman. Kampus disulap menjadi
taman asri yang membuat betah dosen, karyawan, serta mahasiswa.
Berpikir di luar kotak
Sebagai dekan dia percaya pada moto "berpikir di luar kotak" alias
artinya "tidak mau biasa". Kampus yang jadi tempat sekitar 8.000
mahasiswa belajar kini bak hotel berbintang lima. Karyawan wajib
berseragam, tetapi gaji mereka naik rata-rata 20 persen per tahun. Gaji
dosen inti rata-rata Rp 9 juta per bulan (di luar gaji PNS) berkat kas
fakultas yang terbesar kedua di UI—sekitar Rp 30 miliar per tahun.
Di kampus ada restoran masakan Korea, toko IT (information technology),
toko suvenir, toko buku internasional, atau kantin yang menampung 20
pedagang kaki lima. Dari parkir motor saja FISIP UI mendapat penghasilan
tambahan sekitar Rp 200 juta. FISIP terpilih sebagai kampus tebersih dan
terindah UI, merebut Piala Rektor dalam lomba yang pertama kali diadakan
tahun 2006.
Rasa mewah terasa di Miriam Budiardjo Resource Center atau Selo
Soemardjan Research Center yang sudah empat tahun ber-"Wi-Fi". Ruang
kerja staf pengajar layaknya kantor eksekutif perusahaan raksasa yang
bertebaran di Jalan Sudirman, Jakarta. Perpustakaannya lengkap dan
dikunjungi 700-1.000 orang per hari.
Gumilar memelopori terselenggaranya Research Days yang di UI pertama
kali diadakan FISIP tahun 2004. Waktu penyelenggaraan tahun 2006
dipresentasikan 200 karya ilmiah. Kesempatan itu juga dimanfaatkan jadi
ajang pertemuan perdana dekan FISIP se-Indonesia dan berbagai kegiatan
ilmiah domestik serta internasional lainnya. UI pun tak mau kalah dan
akan menyelenggarakan Gelar Ilmu tanggal 29 Juli mendatang.
"Semua dekan, termasuk almarhum Pak Selo Soemardjan, almarhumah Ibu
Miriam Budiardjo, atau Pak Juwono Sudarsono, sampai Pak Martani Huseini
adalah para pelopor dengan cara masing-masing. Insya Allah saya hanya
meneruskan saja," ujar pria kelahiran 11 Maret 1963 ini. "Saya memakai
pola ’berpikir di luar kotak’ untuk memotong lingkaran setan. Bagi FISIP
yang terpenting memperbaiki infrastruktur dulu, baru fokus ke berbagai
upaya mencapai academic excellence," ujar mantan ketua Organisasi Siswa
Intra Sekolah saat sekolah menengah atas (SMA) di Tasikmalaya itu.
Bagi sebagian orang ia mengganggu "harmoni". "Saya banyak belajar
mengendalikan perasaan dengan memasukkan rasionalitas dalam menilai
keadaan. Akselerasi membutuhkan toleransi agar perubahan yang cepat juga
menimbang cermat kondisi riil. Cara berpikir di luar kotak tak mudah
dimengerti orang, saya juga selalu memeriksa kelemahan-kelemahan saya,"
kata doktor lulusan Fakultas Sosiologi, Universitas Bielefeld, Jerman,
itu.
Gumilar berobsesi menjadikan Universitas Indonesia (UI) dalam lima tahun ke
depan masuk kelompok universitas terbaik ASEAN (5 besar), Asia (10
besar), dan dunia (100 besar). Namun, di visi itu, UI tetap menjadi aset
nasional yang tidak tercabut dari akar Indonesia. ►e-ti,
dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|