| |
C © updated 21072007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dok pribadi |
|
| |
Nama:
Gumilar Rusliwa Somantri
Nama Lengkap:
Prof Dr der Soz (der Sozialwissenschaften), Drs (Doktorandus)
Gumilar Rusliwa Somantri
Lahir:
Tasikmalaya, 11 Maret 1963
Agama:
Islam
Jabatan:
Rektor Universitas Indonesia (UI) 2007-2011
Istri:
Dra Nenden DY W Wasita Kusumah
Anak:
1. Aisha Rasyidilla Kusuma Somantri (P/15)
2. M Damara Suksma Kusuma Somantri (L/11)
3. M Germa Kencana Kusuma Somantri (L/7)
Ayah:
Ayah Oma Soma Wiradirdja (Alm)
Ibu:
Hj. Eutik Siti Soikoh Said
Pendidikan:
- Tahun 1976, lulus SD Negeri I Sukaratu, Tasikmalaya
- Tahun 1979, lulus SMP Negeri I Cisayong, Tasikmalaya
- Tahun 1982, lulus SMA Negeri I Ciawi, Tasikmalaya
- Januari 1982,lulus S-1 (Drs) Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta
- Juli 1995, lulus S-3 (Ph.D) Fakultas Sosiologi, Universitaet Bielefeld,
Jerman
Karir:
- 2007-2011, Rektor Universitas Indonesia (UI)
-
2002-2006, 2006-2010, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Indonesia
- 2006-2010, Anggota, Badan Pembina Harian, Universitas Muhammadiyah
Jakarta
- 2006-2007, Anggota Dewan Ahli, Forum Komunikasi Alumni ESQ, Jakarta
- 2006, Ketua, Forum Dekan FISIP, FIA dan FIKOM seluruh Indonesia
- 2005-2006, Anggota, Dewan Riset Daerah Provinsi DKI Jakarta
- 2003-2006, Anggota, Senat Akademik Universitas Indonesia (SA-UI)
- 2002-2006, Anggota, Senat Akademik Fakultas (SAF), Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
-2002-2004, Anggota, Tim Peduli Jakarta (Memberi Masukan pada Gubernur
DKI Jakarta mengenai Issue dan Pemecahan Masalah Perkotaan).
- 2001-2002, Sekretaris, Majelis Wali Amanat MWA), Universitas Indonesia
- 2001-2002, Anggota, Senat Akademik Universitas Indonesia (SAU-UI),
Unsur Perwakilan Dosen
- 2001, Ketua, Komisi C Senat Akademik Universitas Indonesia (SAU-UI)
- 2001-2002, Anggota, Majelis Wali Amanat (MWA) UI dari unsur SAU-UI
- 2001-2002, Ketua, Tim Persiapan dan Pelaksanaan Otonomi Kampus,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
- 2000-2001, Koordinator, Panbanlit (Panitia Pengembangan dan Penelitian),
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
- 1997-2002, Anggota, Tim Juri, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS),
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional
- 1997-2006, Anggota, Tim Seleksi Bersama Beasiswa Program Doktor
Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) dan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
- 1997-2003, Wakil Direktur Eksekutif, Pusat Studi Jepang, Universitas
Indonesia
- Oktober 1997-September 1999, Anggota, Tim Ahli DPR-RI.
- Januari 1997-Mei 1997, Direktur, Pusat Antar Universitas Ilmu Sosial,
Universitas Indonesia
- Oktober 1995-Desember 1996, Ketua, Urban and Regional Research Centre
(URRC), Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia
- 1989-1990, Sekretaris, Pusat Antar Universitas-Ilmu Sosial,
Universitas Indonesia
- 1985, Wakil Ketua, Senat Mahasiswa FISIP-UI
- 1983-1987, Pengajar, Les Privat Siswa SMA untuk mata pelajaran
Matematika, Fisika, dan Kimia.
- 1980-1981, Ketua, OSIS SMA Negeri I Ciawi Tasikmalaya.
- 1978-1982, Penulis, Cerita Pendek dan Puisi di media nasional (Rubrik
untuk anak-anak dan remaja)
Alamat Kantor:
Departemen Sosiologi Gedung B- 105
Kampus FISIP-UI Depok 16424
Telp 021-7863425, Faks 021-7863425
Alamat Rumah:
Pesona Khayangan Estat Blok FL 1 Depok RT 12/28 Kelurahan Mekarjaya,
Kecamatan Sukmajaya, Depok, 16411.
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Gumilar Rusliwa Somantri
Berpikir di Luar Kotak Akhir Juni lalu Prof Dr
Gumilar Rusliwa Somantri (44) menerbitkan dua buku sekaligus, "Transformasi
Pendidikan Tinggi di Era Knowledge Based Society: Studi Kasus
Universitas Indonesia" (170 halaman) dan "Transformasi Perguruan Tinggi
Berbasis Riset dan Berdaya-Usaha: Catatan Pengalaman FISIP UI 2002-2006"
(96 halaman). Ia mengubah FISIP UI sejak jadi dekan tahun 2002 berkat
kepemimpinan "berpikir di luar kotak" atau "thinking out of the box".
Buku Transformasi persembahan lengkap untuk mengawal perubahan
Universitas Indonesia (UI) jadi universitas riset dan berkewirausahaan.
Gumilar sering menyebut "turbulensi" sebagai kata kunci untuk
menggambarkan proses transformasi itu.
"Dukungan dana dari pemerintah turun seiring dengan otonomi pendidikan.
Biaya pendidikan meningkat dan globalisasi serta kompetisi juga terus
naik. Pasar juga butuh pelayanan pendidikan tinggi yang lebih baik.
Inilah tantangannya," kata Gumilar tentang bukunya.
Mau tak mau pengelolaan universitas harus lebih profesional dan itu
sudah dibuktikan Gumilar lewat buku Catatan Pengalaman FISIP UI. Ia tak
membusungkan dada karena bukti sudah terlalu banyak. "Kata orang, FISIP
UI maju pesat. Harus diakui kami paling rapi dalam implementasi
administrasi akademik dan non-akademik. Bahkan, kami pelopor di ASEAN
yang mengenalkan sabatical leave dengan orientasi acedemic-contagion-effect
yang sangat berorientasi keilmuan," ujarnya dengan menyebut contoh
sosiolog Dr Robert Lawang dan pengajar ilmu politik Dr Makmur Keliat
sebagai contoh.
Kedua buku saling baku kait, melengkapi, dan terprogram dengan berbagai
solusi konkret. Pertama, Gumilar menawarkan kepemimpinan di fakultas
yang memiliki keunikan karena keberagaman ilmu (sosial, politik,
administrasi, komunikasi, kriminologi, dan lain-lain) ke tingkat
universitas.
"Kini zamannya ilmu-ilmu sosial dan politik. Setiap fakultas telah
mempunyai sistem serupa, tinggal dikonvergensikan dengan kepemimpinan
yang mengandalkan keberagaman," katanya.
Kedua, keberagaman disiplin ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia (FISIP UI) tentu akan membentuk inkorporasi yang
lebih padu. "Ini masalah capacity building. Contohnya fitur-fitur
telepon genggam yang tak ada artinya jika berdiri sendiri-sendiri. Namun,
kalau disajikan bersamaan, telepon genggam menjadi benda yang meledakkan
perubahan besar," katanya.
Ketiga, di kedua buku itu Gumilar banyak bercerita tentang good
governance sebagai satu-satunya opsi dalam pengelolaan universitas
sebagai lembaga pendidikan. "Tak bisa lain, good governance telah
menjadi tuntutan wajar. Masalah tinggal bagaimana setiap fakultas dan
juga universitas bersama-sama mengubah UI dari good menjadi great,"
tambahnya.
Gumilar ditunjuk jadi ketua Panitia Pengarah Hari Lahir Pancasila yang
menghadirkan 600 intelektual dan tokoh dalam "Seminar Pancasila" tahun
2006. Acara itu dilanjutkan dengan pembacaan "Maklumat Keindonesiaan"
dan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 1 Juni di Jakarta yang
dihadiri sekitar 3.500 tokoh.
"Itu prakarsa bersama-sama yang dimulai karena kegalauan kami terhadap
anggapan bahwa Pancasila itu salah. Padahal, ia merupakan nilai-nilai
inti dari kehidupan kebangsaan kita," ujarnya.
Di kalangan alumni ia dijuluki "The Green Dean" (Dekan Peduli Alam)
karena kehirauan dia pada pelestarian lingkungan. Ia kolektor berbagai
jenis ikan, aneka unggas, dan beragam tanaman. Kampus ia sulap menjadi
taman asri yang membuat betah dosen, karyawan, serta mahasiswa. Ia
memang lahir sampai jadi siswa di daerah Bumi Priangan.
"Ayah orang India alias Indhiang, kota kecil di Tasikmalaya. Ibu asli
Turki alias Turunan Kidul, di Tasik Selatan," kata Gumilar tertawa lepas.
Berpikir di luar kotak
Sebagai dekan ia percaya pada moto "berpikir di luar kotak" alias
artinya "tidak mau biasa". Kampus yang jadi tempat sekitar 8.000
mahasiswa belajar kini bak hotel berbintang lima. Karyawan wajib
berseragam, tetapi gaji mereka naik rata-rata 20 persen per tahun. Gaji
dosen inti rata-rata Rp 9 juta per bulan (di luar gaji PNS) berkat kas
fakultas yang terbesar kedua di UI—sekitar Rp 30 miliar per tahun.
Di kampus ada restoran masakan Korea, toko IT (information technology),
toko suvenir, toko buku internasional, atau kantin yang menampung 20
pedagang kaki lima. Dari parkir motor saja FISIP UI mendapat penghasilan
tambahan sekitar Rp 200 juta. FISIP terpilih sebagai kampus tebersih dan
terindah UI, merebut Piala Rektor dalam lomba yang pertama kali diadakan
tahun 2006.
Rasa mewah terasa di Miriam Budiardjo Resource Center atau Selo
Soemardjan Research Center yang sudah empat tahun ber-"Wi-Fi". Ruang
kerja staf pengajar layaknya kantor eksekutif perusahaan raksasa yang
bertebaran di Jalan Sudirman, Jakarta. Perpustakaannya lengkap dan
dikunjungi 700-1.000 orang per hari.
Gumilar memelopori terselenggaranya Research Days yang di UI pertama
kali diadakan FISIP tahun 2004. Waktu penyelenggaraan tahun 2006
dipresentasikan 200 karya ilmiah. Kesempatan itu juga dimanfaatkan jadi
ajang pertemuan perdana dekan FISIP se-Indonesia dan berbagai kegiatan
ilmiah domestik serta internasional lainnya. UI pun tak mau kalah dan
akan menyelenggarakan Gelar Ilmu tanggal 29 Juli mendatang.
"Semua dekan, termasuk almarhum Pak Selo Soemardjan, almarhumah Ibu
Miriam Budiardjo, atau Pak Juwono Sudarsono, sampai Pak Martani Huseini
adalah para pelopor dengan cara masing-masing. Insya Allah saya hanya
meneruskan saja," ujar pria kelahiran 11 Maret 1963 ini. "Saya memakai
pola ’berpikir di luar kotak’ untuk memotong lingkaran setan. Bagi FISIP
yang terpenting memperbaiki infrastruktur dulu, baru fokus ke berbagai
upaya mencapai academic excellence," ujar mantan ketua Organisasi Siswa
Intra Sekolah saat sekolah menengah atas (SMA) di Tasikmalaya itu.
Bagi sebagian orang ia mengganggu "harmoni". "Saya banyak belajar
mengendalikan perasaan dengan memasukkan rasionalitas dalam menilai
keadaan. Akselerasi membutuhkan toleransi agar perubahan yang cepat juga
menimbang cermat kondisi riil. Cara berpikir di luar kotak tak mudah
dimengerti orang, saya juga selalu memeriksa kelemahan-kelemahan saya,"
kata doktor lulusan Fakultas Sosiologi, Universitas Bielefeld, Jerman,
itu.
Metafora pulang kampung
Gumilar adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, sekaligus anak lelaki
tertua. "Saya diwajibkan Ayah lari pagi dan memberi makan ikan di kolam
dekat sawah. Lari pagi untuk kesehatan diri dan kasih makan ikan untuk
tambahan uang sekolah. Setelah itu, baru sekolah," kenangnya.
Ayahnya guru lulusan sarjana muda dan menjadi kepala sekolah dasar. "Tak
heran jika kami anak-anak wajib punya rapor bagus. Kalau rapor jelek,
itu aib bagi keluarga. Ayah saya juga mengerjakan lahan tanaman sayur
dan buah, sama dengan penduduk kampung lainnya. Ia menanam jeruk dan
nanas. Ia pernah bergabung dengan Tentara Pelajar TNI AL, tetapi
memutuskan menjadi pendidik.
Jejak sang ayah yang telah membangkitkan keinginan Gumilar ikut-ikutan
menjadi guru walau pernah terobsesi jadi jenderal atau dokter. "Kenapa
jenderal? Sebab Ayah suka cerita tentang tokoh-tokoh pergerakan nasional
yang mimpin. Saya kagum kepada dokter karena mengobati orang sakit.
Sederhana kan?" katanya sambil tertawa renyah.
Sang ayah satu-satunya orang desa yang berlangganan koran. "Kami
langsung tahu informasi apa yang terjadi di luar desa. Selain koran,
sumber lainnya radio yang selalu memancarkan warta berita RRI Jakarta,"
katanya lagi.
"Ada prinsip yang selalu saya ingat hingga kini. Kami tujuh bersaudara
dididik mengatasi rasa malas dan malu. Malas membuat kami tidak mau
berusaha, maunya dapat hasil besar tanpa berkeringat. Bagi saya itu
tidak adil dan dalam agama tidaklah halal mendapatkan sesuatu tanpa
berkeringat. Rasa malu juga membuat kita enggan bertanya, padahal banyak
yang kita tak tahu dalam hidup ini," tuturnya.
Dengan bekal dua pesan penting inilah Gumilar tetap gembira meski ketika
sekolah di sekolah menengah pertama (SMP) harus menempuh jarak lima
kilometer (km) dari desa. Begitu juga ketika harus melanjutkan sekolah
di SMA Negeri Ciawi, Tasikmalaya. Jaraknya sekitar 40 km dari desa. "Makanya,
saya indekos di rumah kerabat di kota kawedanan tersebut. Seminggu
sekali saya pulang dengan bus antarkota. Turun dari bus, belum langsung
tiba di rumah, jalan kaki lagi dua jam. Karena jadwal sekolah sore hari,
acara ’pulang kampung’ itu saya lakukan menjelang magrib. Tak heran baru
tiba di rumah sekitar jam sembilan malam," kenang dia.
Perjalanan ini sering kali terasa melelahkan, meskipun ia tidak
sendirian karena ada teman-teman sekampung. Namun, tak jarang kaki
terantuk batu di jalan terjal dan gelap. Itu sebabnya ia senang sekali
kalau sedang bulan purnama, jalan agak terang.
Metafora "pulang kampung" bersama teman di bawah temaram Bulan
menghindari jalan terjal dan gelap inilah yang membentuk kepribadian
Gumilar memimpin FISIP UI. Ia selalu ingin bersama-sama mengerjakan apa
pun, enggan meninggalkan dosen, karyawan, maupun mahasiswa yang dia asuh
nun di belakang sana.
►e-ti, Kompas, budiarto shambazy & imam prihadiyoko
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|