| |
C © updated 28062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti |
|
| |
Nama:
Goenawan Susatyo Mohamad
Lahir:
Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941
Agama:
Islam
Istri:
Widarti Djajadisastra
Anak:
2 orang
Pendidikan:
- SR Negeri Parakan Batang, (1953)
- SMP Negeri II Pekalongan, (1956)
- SMA Negeri Pekalongan, (1959)
- Fakultas Psikologi UI Jakarta, (tidak selesai)
Karya Tulis:
- Parikesit, (kumpulan puisi, 1973)
- Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (esei), (Pustaka
Jaya, 1974)
- Interlude, (puisi, 1976)
- Sex, Sastra, Kita (esei), (Sinar Kasih 1980)
- Catatan Pinggir, (Grafitipers, 1982)
Penghargaan:
- Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom
Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists),
(1998)
- Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World
Press Review, Amerika Serikat, (Mei 1999)
- Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat, (1997)
- Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda, (1992)
Organisasi dan Karir:
- Redaktur Harian KAMI, (1969-1970)
- Redaktur Majalah Horison, (1969-1974)
- Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, (1970-1971)
- Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985)
- Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO, (1971-sekarang) |
|
| |
|
|
|
|
Goenawan Susatyo Mohamad
Sastrawan ‘Catatan Pinggir’
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang
kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia
memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan
dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom "Catatan
Pinggir" di Majalah Tempo.
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran
Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini
pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut
menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang
menulis di berbagai media umum.
Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di
Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk
kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara
teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).
Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan
puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia
mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter
(Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan
majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. "Mbakyu saya juga ada yang menulis,
entah di harian apa, di zaman Jepang," tutur Goenawan.
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang
mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana
ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa
kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu
menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga
dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI),
asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut
mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja
mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga
memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat
kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan
reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah
politik.
Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998,
berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap
mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan
menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan
bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad
dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004).
Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai
telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.
Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas
Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di
Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti
Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan
berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam
Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa
Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam
Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra,
dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).
Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber
maupun peserta. Salah satunya, ia
mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill
Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah. ►atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|