| |
C © updated 29092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/suara merdeka |
|
| |
Nama:
Marsekal Muda TNI-AU Prof. Dr. Ir. Ginandjar Kartasasmita
Lahir:
Bandung, 9 April 1941
Agama:
Islam
Ayah:
Husen Kartasasmita
Ibu:
Ratjih Natawidjaja
Isteri:
Yultin Harlotina
Anak:
Gita, Gumiwang, Galih, Gaya
Pendidikan:
- SD, Jakarta
- SMP Canisius College, Jakarta (1953-1956)
- SMA Canisius College, Jakarta (1956-1959)
- ITB, Bandung (1959-1960)
- Tokyo University for Agriculture and Technology Chemical Engineering,
Tokyo, Jepang (1960-1965)
- STIA-LAN, Jakarta (1970-1980)
- Sekolah Dasar Perwira (1966-1967)
- Sekolah Ilmu Siasat (1968)
- Sesko AU (1974)
Karir:
- G-5 KOTI (1965-1966)
- Ditjen Penelitian & Pengembangan AURI
- Kabag Penelitian, Biro Analisa dan Perundang-undangan Sekneg (1968-1971)
- Sekr. Kabinet, Asisten Sekretaris Kabinet Urusan Administrasi
Pemerintahan (1976-1978)
- Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri
(1983-1988)
- Ketua BKPM (1985-1988)
- Menteri Pertambangan dan Energi (1988-1993)
- Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas
(1993-1998)
- Menko Ekonomi Keuangan dan Industri (1988)
- Wakil Ketua MPR RI
Penghargaan:
- Order of Kuwait Klas IV, Kuwait (1978)
- Dr.H.C. dari Universitas Takushoku, Jepang (1994), Northeastern
University, AS (1994) dan UGM, Yogyakarta (1995)
- Bintang Mahaputra Adipradana (1987)
Buku:
- Pembangunan untuk Rakyat (1996)
- Administrasi Pembangunan: Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di
Indonesia (1997)
Rumah:
Jl. Daksa II No. 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
Ginandjar Kartasasmita
Orba itu Hanya Masa Lalu
Anggota DPD dari Jawa Barat yang mantan Menteri Pertambangan dan Energi dan
Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas ini kendati diserang
sebagai bagian dari Orde Baru, akhirnya berhasil memenangi pemilihan ketua
Dewan Perwakilan Daerah dalam Rapat Paripurna DPD periode 2004-2001. Ia
didampingi Irman Gusman dan La Ode Ida sebagai wakil ketua.
Dia terpilih setelah melewati tiga tahap pemilihan dalam Rapat
Paripurna DPD yang dipimpin Ketua Sementara Mooryati Soedibyo (DKI
Jakarta) dan Muhammad Nasir (Jambi) itu, Jumat 1 Oktober 2004.
Dari 128 suara anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Ginandjar, meraih 72
suara, mengalahkan Irman Gusman dari Sumatera Barat, yang mendapat 54
suara. Satu suara tidak sah dan satu suara kosong.
Sejak pemilihan putaran pertama, Ginandjar sudah menggunguli pesaingnya.
Ginandjar meraih 49 suara, disusul Irman Gusman 29 suara, Sarwono
Kusumaatmadja (DKI Jakarta) 22 suara, La Ode Ida (Sulawesi Tenggara) 18
suara, Harun Al Rasyid (NTB) dua suara, Kasmir Tri Putra (Lampung) dan
Muhammad Nasir masing-masing satu suara, serta lima suara dinyatakan tidak
sah dan satu suara lainnya kosong.
Berhubung belum ada calon meraih lebih 50 persen suara, sesuai Tata
Tertib DPD pemilihan dilanjutkan ke putara kedua.Sebelum memasuki putaran
dua, tiga calon menyatakan mundur. Sehinga hanya tiga calon yang maju,
yakni Ginandjar, Irman Gusman dan Sarwono.
Dalam putaran kedua, Ginandjar kembali meraih suara terbanyak dengan 59
suara, disusul Irman Gusman 43 suara dan Sarwono 26 suara. Karena belum
ada juga calon meraih suara di atas 50 persen, pemilihan ketiga digelar
diikuti dua calon teratas. Sarwono tereliminasi.
Di putaran ketiga, Ginandjar kembali unggul dengan meraih 72 suara, dan
Irman 54 suara. Satu suara tidak sah dan satu suara kosong.
Setelah itu dilanjutkan pemilihan wakil ketua DPD. Pada pemilihan Wakil
Ketua mewakili wilayah Barat terpilih Irman Gusman (50 suara), mengalahkan
Nurdin Tampubolon (25 suara), Kasmir Tri Putra (23 suara), Malik Raden (14
suara), Bambang Suroso (delapan suara), dan Mediati Hafni Hanum (satu
suara). Sementara mewakili wilayah timur, terpilih La Ode Ida.
Orba itu Hanya Masa Lalu
Anggota DPD dari Jawa Barat yang Menteri Pertambangan dan Energi dan
Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas di era Orde Baru ini sering diserang
sebagai bagian dari Orde Baru. Padahal, menurutnya, Orba itu itu hanyalah
masa lalu. Hal itu dikemukakannya Senin (27/9/2004) dalam konteks
pencalonannya sebagai Ketua DPD.
Hal itu dikemukakan menanggapi pendapat bahwa orang yang mempunyai
beban masa lalu sepantasnya tidak memimpin Dewan Perwakilan Daerah.
Menurut Ginandjar, setiap anggota DPD berhak mencalonkan diri sebagai
ketua pada proses pemilihan ketua DPD, dan paling tidak, kandidat DPD
harus mendapat dukungan anggota dari satu provinsinya.
Perihal dirinya sebagai salah seorang tokoh orde baru, dia mengatakan,
keanggotaannya di kabinet semata-mata sebagai seorang profesional. "Saya
bagian dari sistem, tetapi saya sebagai profesional di kabinet," katanya.
Menurutnya yang salah bukan "orde"-nya, tetapi orang-orang yang terlibat.
Menanggapi tuduhan memiliki beban masa lalu sehubungan dengan pembuatan
Technical Assitance Contract (TAC) antara Pertamina dengan PT Ustraindo
Petro Gas untuk pengelolaan lapangan minyak Bunyu, Pendopo, Prabumulih,
dan Jatibarang, diamenegaskan, sesuai laporan perkembangan penyelidikan
pengadilan koneksitas tindak pidana korupsi atas namanya, sudah
disimpulkan bahwa proses pembuatan maupun isinya sesuai dengan ketentuan
sehingga TAC itu sah secara prosedural.
Diajuga menjelaskan, terhadap pelaksanaan keempat TAC tersebut berdasarkan
kesimpulan penyelidikan sudah bukan tanggung jawabnya sebab keterlibatan
dirinya hingga penandatanganan keempat TAC tersebut adalah sampai Maret
1993. Setelah itu iaa sudah tak lagi menjabat Mentamben/Ketua DKPP.
Menurut Ginandjar, dirinya memang meminta untuk dilakukan pemeriksaan atas
tuduhan koreksi itu agar tidak memiliki beban lagi. Jika nanti ada yang
bisa membuktikan bahwa dia terlibat korupsi, Ginanjar menyatakan bukan
saja akan mundur dari pencalonan ketua DPD tetap juga dari anggota DPD.
Dalam buku Apa Siapa Orang Sunda (Kiblat 2003) disebut tidak banyak
pejabat tinggi negara rezim Soeharto yang berperawakan atletis. Salah
satunya adalah Ginandjar. Dalam kabinet Soeharto, Ginandjar, sejak awal
1970-an hingga akhir 1990-an, pernah menduduki jabatan tinggi di
lingkungan sekneg dan anggota kabinet. Ia memang punya hobi berat olahraga
– hampir semua olahraga, ia sukai dan jalani. Apalagi, ia juga perwira
tinggi TNI-AU.
Ihwal aktifnya di dunia militer tidak terlepas dari keluarga. Baik dari
pihak ayah maupun ibunya banyak yang menjadi tentara. Ayahnya sendiri
adalah kolonel tituler dan pegawai Dephan. Dari keluarga ibunya ada tiga
pamannya yang menjadi tentara. Ginandjar juga mengaku nasionalis, karena,
baik ayahnya maupun ibunya, sama-sama aktivis PNI sebelum PD II.
Selepas SD, ayah empat anak ini masuk SMP Kanisius dan tinggal di asrama
Kanisius. Demikian pula SMA-nya. “Seringnya bergaul dengan kawan-kawan
yang kebanyakan berbeda agama dan nonpri, saya bisa melihat bagaimana
mereka belajar,” katanya. Kelebihan etnis Cina yang lebih serius dan rajin
ini telah membangkitkan rasa kebangsaan Ginandjar muda, “Muncul keinginan
untuk menunjukkan bahwa bangsa kita juga tidak kalah dengan mereka.”
Setahun di ITB, Ginandjar mendapat beasiswa untuk kuliah di Teknik Kimia
Universitas Tokyo (1960-1965). Sepulang dari Jepang, selama setahun
Ginandjar bekerja di KOTI. Sebelum meniti karier di Sekneg (mulai 1968),
ia bekerja di Direktorat Jenderal Penelitian dan Pengembangan AURI.
Sepanjang 1970-80, ia mengikuti kuliah di STIA LAN.
Barangkali, Ginandjar adalah orang Sunda yang berkarier paling lengkap. Di
militer, pria yang senyumnya sumringah ini mencapai pangkat marsekal muda.
Di sipil ia pernah menjadi menteri bahkan menko, dalam pemerintahan
Soeharto maupun Habibie.
Kini, ia salah satu wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Utusan Daerah.
Disebut-sebut, peran Ginandjar “menurunkan Soeharto” cukup besar, ketika
ia – bersama Akbar Tanjung dan sejumlah menteri lain – menolak duduk di
kabinet reformasi yang akan dibentuk Soeharto. Manuver ini ‘menghilangkan
minat’ Soeharto untuk terus berkuasa.
►mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|