|
|
 |

Nama:
George Djuhari
Lahir:
Medan, 19 Oktober 1959
Anak:
Bryan dan Beverly
Pendidikan
University of Ittawa, Kanada
Pekerjaan
Gesuri Lloyd (15 tahun)
Owner dan CEO Star Group
Alamat Kantor:
Jalan Talan Betut, Jakarta Pusat |
|
George Djuhari Bintang dari Star Group
Ketika Indonesia sedang dilanda krisis, dia mampu mampu membangun sebuah
kelompok usaha yang menaungi delapan perusahaan dari kondisi awal yang ia
sebut "tidak ada apa-apanya" menjadi memiliki asset sekitar US$ 400 juta.
Luar biasa. Demikian ungkapan yang pas untuk mengomentari sepak terjang
bisnis bintang Star Group ini.
Bagaimana tidak, hanya dalam waktu sekitar tiga
tahun, pria kelahiran Medan pada Oktober 1959 itu mampu membangun sebuah
kelompok usaha bernama Star Group yang menaungi delapan perusahaan.
Hebatnya, kelompok usaha ini dibangun ketika Indonesia sedang ditimpa
krisis pada 1997 lalu. Membangun sebuah kelompok usaha dari kondisi awal
yang ia sebut "tidak ada apa-apanya" itu, kini Star Group memiliki asset
sekitar US$ 400 juta. Siapa atau perusahaan mana di tengah iklim ekonomi
yang kurang kondusif ini mampu melipatgandakan asset dan memperkukuh pijakan
usaha?
Uniknya lagi, bisnis andalan yang digeluti Goerge bukanlah bisnis yang
mengandalkan kepintaran mengotak-atik angka atau yang dikenal luas sebagai
financial engineering. Bisnis George adalah riil yang mengandalkan
ketekunan, jaringan yang luas dan servis yang prima kepada para pelanggan.
Ya, pelayaran cargo adalah ladang usaha yang ditekuni ayah dua anak -
Bryan dan Beverly ini. "Darah daging kami adalah usaha pelayaran. Keluarga
dan saudara-saudara kami sebagian besar bergerak di bisnis itu," ungkapnya.
George memang bukan orang baru di bidang usaha ini. Sebelum memutuskan
membangun perusahaan pelayaran sendiri, ia telah berkarir di Gesuri Lloyd
lebih dari 15 tahun. Mulai dari karyawan trainee, terakhir pria yang rutin
bermain golf seminggu sekali itu menduduki kursi direktur di perusahaan
tersebut. George membina hubungan dan membuka jaringan secara luas dengan
berbagai pihak. Mereka inilah yang kemudian membantu Goerge dalam
mengembangkan Star Group hingga mencapai posisi sebagai perusahaan
pelayaran yang cukup disegani.
Beberapa kalangan dekatnya menyebut kesuksesan George sebagai sebuah
keajaiban. Sebuah fenomena langka di dalam dunia bisnis saat ini.
Bagaimana ia menyikapi kesuksesan hadir dalam waktu relatif singkat itu? "Sebagaimana
pesan orang tua, saya harus bersyukur kepada Tuhan atas semua yang saya
capai saat ini," ujar pengagum Jack Welch, CEO GE itu. Bangunan
bisnisnya memang sudah kukuh berdiri di atas fondasi visi yang jelas. Ia
ingin mengembangkan Star Group sebagai perusahaan pelayaran yang tidak
mesti menjadi nomor satu, tetapi memiliki standar pelayaran yang berkelas.
Peraih gelar BSc, bidang teknik mesin dari University of Ittawa, Kanada
ini adalah sosok pengusaha muda yang tidak terlalu suka suasana formal. Di
kantornya, ia tidak menempati ruangan khusus. Ia membaur dengan direksi
lain dalam satu ruangan. "Dengan berada dalam satu ruangan, membuat
komunikasi dengan rekan kerja lebih intensif," katanya. Suasana kerja yang
mengadopsi model Jepang ini akan tetap dipertahankan di kantornya yang
baru dan milik sendiri di Jalan Talan Betut, Jakarta Pusat. (Tokoh
Indonesia, Repro Eksekutif)
|
|