| |
C © updated
21122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sh |
|
| |
Nama:
Gatot Pudjo Martono
Lahir:
Purworejo, Mei 1943
Pendidikan:
Penerbang TNI AU 1965
Pengalaman Pekerjaan:
Penerbang di Skuadron II Halim Perdanakusuma, 1965
Penerbang sipil di Merpati Nusantara Airlines
Penerbang sipil di AOA Zamrud Airlines.
Ditugaskan di maskapai penerbangan Dirgantara Air Service (DAS) dan Air
Indonesia (Medan).
Kepala Pelabuhan Udara (Kapelud) Bandara Polonia Medan, 1983.
Direktur Operasi PT Angkasa Pura I, 1989-1998.
Direktur Utama PT Angkasa Pura I, 1998-2003.
Sumber:
Sinar Harapan Senin, 06 Oktober 2003/Krisman Kaban
|
|
| |
|
|
|
|
Gatot Pujo Martono
Bertekad Berbuat yang Terbaik
Selama menjabat Direktur Utama PT Angkasa Pura I, ia merasa cukup enjoy
karena bisa melaksanakan tugas dengan baik. Dari sisi pelayanan, lima dari
13 bandara yang dikelola PT AP I (Bandara Ngurah Rai, Bandara Sepinggan,
Bandara Selaparang, Bandara Juanda, Bandara Hasanuddin) mendapat
penghargaan pelayanan prima dari Menteri Perhubungan. Ia berjuang keras
untuk menjadikan kelima bandara itu dapat diandalkan di Asia Pasifik.
AP I yang berdiri pada 20 Februari 1962 mengelola bandara di kawasan
tengah dan kawasan timur Indonesia. Mulai dari bandara Adisumarmo (Surakarta),
bandara Adisutjipto, (Yogyakarta), bandara Ahmad Yani (Semarang), bandara
Juanda (Surabaya), bandara Ngurah Rai (Bali), bandara Hasanuddin (Makassar),
bandara Sepinggan (Balikpapan), bandara Syamsudin Noor (Banjarmasin),
bandara Sam Ratulangi (Menado), bandara Pattimura (Ambon), bandara
Selaparang (Lombok), bandara El Tari (Kupang), dan bandara Frans Kaisiepo
(Biak).
Dari semua bandara tersebut, sembilan di antaranya berstatus internasional.
Namun, hanya beberapa bandara saja yang aktif melayani penerbangan
internasional seperti Ngurah Rai, Juanda, Hasanuddin, Sam Ratulangi, dan
Sepinggan. Bandara internasional lainnya beberapa tahun terakhir tidak
lagi melayani penerbangan internasional karena bisnis penerbangan sedang
mengalami keterpurukan.
Gatot Todjo Martono lahir di Purworejo, Mei 1943. Ia merupakan lulusan
penerbang TNI AU tahun 1965 yang ketika menyelesaikan pendidikan dilantik
oleh Presiden Soekarno di Istana Negara. Setelah lulus ditempatkan sebagai
penerbang di Skuadron II Halim Perdanakusuma. Selain itu, juga berperan
sebagai penerbang sipil di Merpati Nusantara Airlines dan juga AOA Zamrud
Airlines. Kemudian pernah ditempatkan di maskapai penerbangan Dirgantara
Air Service (DAS) serta Air Indonesia (Medan).
Tahun 1983 ia ditugaskan sebagai Kepala Pelabuhan Udara (Kapelud) Bandara
Polonia Medan. Pada tahun 1989 dilantik menjadi Direktur Operasi di PT AP
I. Dan tahun 1998 hingga 2003 menjabat sebagai Direktur Utama.
Sadar masa jabatannya berakhir, ia segera menghadap Menteri Perhubungan
Agum Gumelar dan juga pejabat Kantor Menneg BUMN untuk melaporkan mengenai
jabatannya yang sudah berakhir beberapa waktu lalu. Sebagai bawahan ia
melaporkan bahwa masa jabatannya sudah selesai.
Rencana pergantian jajaran direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT (Persero)
Angkasa Pura I (AP I) sebenarnya sudah cukup lama berembus. Bahkan, Kantor
Menneg BUMN pun sudah beberapa kali meminta nama-nama calon pengganti.
Namun, proses pergantian itu dinilai terlalu memakan waktu lama, sehingga
sedikit banyaknya telah mempengaruhi kinerja direksi.
Bagi Gatot Pudjo Martono, rencana penggantian direksi di PT Angkasa Pura I
justru tidak lagi berpengaruh karena dirinya memang sudah ingin pensiun.
”Lagi pula, saya sudah mengabdi sekitar 30 tahun dan kini usia saya sudah
60 tahun. Jadi, sebaiknya memang sudah harus istirahat dan pengelolaan
perusahaan ini diserahkan kepada yang muda-muda dan profesional,” katanya.
Gatot mengaku, sudah berbuat secara maksimal sesuai kemampuannya di
perusahaan yang ia pimpin tersebut. Dan sejak awal tekadnya cuma satu
yakni, ”Saya akan berikan dan tinggalkan yang terbaik di PT AP I. Hanya
itu yang dapat saya lakukan,” tuturnya.
Selama menjabat sebagai direksi di PT AP I, lanjutnya, pihaknya merasa
cukup enjoy karena bisa melaksanakan tugas dengan baik. Dari sisi
pelayanan misalnya, lima bandara yang dikelola PT AP I mendapat
penghargaan pelayanan prima dari Menteri Perhubungan karena mampu
memberikan pelayanan terbaik kepada penumpang. Kelima bandara yang
mendapat penghargaan pelayanan prima masing-masing Bandara Ngurah Rai,
Bandara Sepinggan, Bandara Selaparang, Bandara Juanda, Bandara Hasanuddin.
Dari sisi kinerja keuangan, prestasi yang diraih AP I juga lumayan. Meski
perolehan laba berfluktuasi akibat berbagai peristiwa yang dihadapi bangsa
ini, tetapi dia merasa bersyukur karena perusahaan yang dipimpinnya masih
tetap mampu memberikan kontribusi kepada pemerintah.
Ketika awal krisis tahun 1998 AP I meraih laba bersih Rp 592 miliar. Tahun
1999 laba bersih yang diraih turun menjadi Rp 171,3 miliar. Memasuki tahun
2000 laba bersih naik lagi menjadi Rp 323,6 miliar. Perolehan laba itu
terus meningkat dan 2001 diperoleh Rp 418,1 miliar. Tahun 2002 akibat
tragedi bom Bali, laba perusahaan kembali turun menjadi hanya Rp 197,1
miliar.
Namun dia menambahkan, apa yang diraih tersebut bukan semata karena
kehebatan dirinya, melainkan berkat kerja keras direksi dan seluruh
karyawan di AP I. ”Saya kebetulan dibantu oleh direksi yang bagus dan
profesional. Tanpa mereka mungkin saya tidak dapat berbuat banyak,”
tuturnya.
Semasa krisis tahun 1998, katanya, AP I sangat tertolong dengan
penerbangan luar negeri. Ketika penerbangan domestik berkurang, maka
penerbangan internasional justru memberikan kontribusi cukup besar,
terutama karena naiknya kurs dolar terhadap rupiah. Sebab, untuk
penerbangan internasional diterapkan sistem pembayaran dengan mata uang
dolar AS. Dalam tarif, perbandingan antara penerbangan domestik dan
internasional 1 berbanding 15. Artinya, 1 kali penerbangan internasional
sama dengan 15 kali penerbangan domestik.
Dari sisi airport tax misalnya, penerbangan luar negeri dikenakan Rp
75.000 per penumpang dan domestik cuma Rp 20.000. Kemudian, over flying
domestik ditarik Rp 350 per rute per unit dan untuk tarif internasional
sebesar 0,55 sen dolar AS. ”Perbedaan tarif penerbangan domestik dan
internasional ini memang sempat diprotes sejumlah airlines asing,” katanya.
Pada waktu itu, pendapatan AP I dari dolar AS sangat tinggi. Keuntungan
yang diraih tahun 2000 hingga 2001 juga lumayan besar. Pendapatan AP I
mulai menurun tajam ketika diguncang tragedi WTC, Bom Bali, dan SARS. Tapi
sekarang, baik penerbangan domestik maupun internasional sudah mulai
mengalami banyak kemajuan.
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, AP I mengalami berbagai
gelombang peristiwa yang sangat mempengaruhi kinerja perusahaan. Tapi
untungnya, kata Gatot, dampaknya tidak terlalu lama, sehingga perusahaan
yang dipimpinnya masih bisa memperoleh laba. Dari semua peristiwa tersebut,
hanya tragedi Bali yang paling parah dampaknya. Sebab, ketika itu hampir
semua penerbangan luar negeri menghentikan penerbangannya ke Bali. Padahal,
dapat dikatakan, Bandara Ngurah Rai, bahkan PT AP I hidup dari penerbangan
luar negeri.
Dari 13 bandara yang dikelola PT AP I, lanjutnya, hingga saat ini cuma
tiga bandara yang sudah meraih laba. Yaitu bandara Ngurah Rai, bandara
Hasanuddin dan bandara Juanda. Selebihnya masih merugi dan harus disubsidi
cukup besar. Bahkan bandara internasional Frans Kaisiepo di Biak, Papua
yang pemanfaatannya kurang optimal karena minimnya pesawat yang datang,
tetap harus dirawat agar tidak rusak.
Bisnis pengelolaan bandara, kata Gatot, sangat terkait dengan bisnis
airlines (penerbangan). Tanpa airlines bandara tidak bisa hidup. Karena
itu, persaingan pengelolaan bandara juga semakin ketat dengan memberikan
pelayanan yang terbaik. Masing-masing pengelola berupaya menarik sebanyak
mungkin airlines.
PT AP I akan berjuang keras untuk menjadikan bandara-bandara yang
dikelolanya dapat diandalkan di Asia Pasifik. Pangsa pasar Asia Pasifik
cukup potensial dan Indonesia berada di tengah-tengahnya.
Pangsa pasar Asia, khususnya Asia Tenggara yang kini dikuasai Singapura
dilirik oleh sejumlah negara untuk dialihkan sebagian ke negaranya,
termasuk oleh Indonesia. Indonesia memiliki sejumlah bandara internasional
yang bisa diandalkan untuk bersaing. Salah satunya adalah bandara Ngurah
Rai. Sebagai tujuan wisata dunia dan berlokasi antara dua benua, Ngurah
Rai terus dikembangkan untuk memenuhi permintaan pengguna jasa. Banyak
negara Asia misalnya sudah membuka penerbangan langsung ke Bali tanpa
singgah ke negara lain.
Karena itu, bandara Ngurah Rai perlu dikembangkan. Kalau tidak
dikembangkan, tidak akan mampu menampung tingginya frekuensi penerbangan
ke Bali. Selain itu, jika fasilitas terbatas, maka airlines asing tidak
akan datang. Padahal, bandara hidup dari lalu lintas penerbangan dan
penumpangnya.
Menurut dia, ada beberapa upaya yang dilakukan oleh AP I dalam
mengembangkan bandara agar didatangi airlines. Disebutkan, pengembangan
bandara internasional Juanda, Surabaya melalui proyek tahap II. Kemudian,
rencana pengembangan bandara Hasanuddin, Makassar yang akan dijadikan
sebagai hub (basis) oleh sejumlah airlines nasional.
Salah satu upaya pengembangan bandara adalah dengan melakukan privatisasi.
AP I merencanakan bandara pertama yang diprivatisasi adalah Ngurah Rai
yang kini tinggal menunggu keputusan pemerintah. Namun AP I sudah membuat
satu persyaratan dalam privatisasi tersebut di mana investor yang masuk
harus mengembangkan bandara Selaparang, Lombok. Sebelumnya, dimasukkan
juga bandara El Tari sebagai suatu persyaratan. Namun, belakangan dinilai
kurang menarik bagi investor. Jadi, waktu itu ditawarkan sistem cluster
yakni privatisasi bandara Ngurah Rai dikaitkan dengan pengembangan bandara
Selaparang dan El Tari, Kupang.
Mengenai perkembangan privatisasi AP I itu sendiri, menurut Gatot, masih
sesuai jadwal dan belum ada perubahan sama sekali. Realisasi privatisasi
BUMN yang mengelola bandar udara tersebut ditargetkan tuntas paling lambat
akhir tahun 2003. ”Sejauh ini rencana privatisasi itu masih berjalan
sesuai schedule. Dalam waktu dekat, pemerintah—dalam hal ini Menteri
Negara BUMN—diharapkan sudah mengumumkan perusahaan pemenang penasihat
keuangan (Financial Advisor / FA) dan Legal Advisor untuk menangani
privatisasi tersebut,” tuturnya.
Gatot mengakui, ada kemunduran soal waktu pengumuman pemenang FA dan LA
privatisasi PT AP I tersebut. Sebab, nama calon pemenang sudah disampaikan
kepada Kantor Meneg BUMN pada pertengahan bulan ini. Dan, perusahaan
pemenangnya seharusnya sudah diumumkan September lalu. Terdapat sekitar 24
peserta yang berminat.
Dari 24 peserta itu, tim privatisasi AP I sudah menyeleksi calon penasihat
keuangan maupun penasihat hukum untuk mengikuti tender. Calon pemenang
yang direkomendasikan masing-masing tiga perusahaan. Namun yang menentukan
pemenangnya diserahkan sepenuhnya kepada Kantor Menneg BUMN.
Bandara Ngurah Rai, lanjutnya, pada tahun 2020 diprediksi tidak mampu
menampung pertumbuhan pergerakan pesawat. Oleh karena itu, harus ada
bandara berskala internasional sebagai alternatifnya. Karena itu,
dipersiapkan bandara di Lombok.
Secara perlahan, krisis ekonomi di Indonesia dan global mulai dapat
diatasi. Jika kondisi ekonomi telah kembali normal, maka arus wisatawan
pun akan ramai. Menghadapi kondisi demikian, Indonesia perlu mempersiapkan
diri dengan baik. Salah satunya adalah penyediaan bandara berkelas
internasional yang siap melayani penerbangan berskala internasional.
Masalahnya adalah saat ini terjadi penurunan kinerja bandara yang cukup
signifikan di Indonesia sebagaimana yang dirasakan PT (Persero) Angkasa
Pura I (AP I). Selain terpaan krisis ekonomi yang membuat turunnya arus
wisatawan lokal dan mancanegara, peristiwa teror, terutama teror bom Bali
membuat pengaruh yang cukup signifikan. Apalagi teror itu mengenai sasaran
utama yang menjadi tulang punggung PT AP I, yakni bandara Ngurah Rai,
Denpasar, Bali. Bandara ini merupakan penyumbang laba terbesar PT AP I
yakni hingga mencapai 50 persen. Kontribusi kedua terbesar disumbang oleh
bandara Juanda, Surabaya sebesar 10 persen, ketiga bandara Hasanuddin,
Makasar sebesar 16 persen dan sisanya 24 persen disumbang oleh 10 bandara
lainnya.
Padahal, tanpa pengeboman saja, Bali sudah terganggu dengan tragedi WTC,
Amerika Serikat, 11 September 2001. Sebelumnya, juga merasakan dampak
krisis ekonomi yang melanda beberapa negara Asia. Setelah itu, terjadilah
tragedi WTC, dan diikuti dengan tragedi Bom Bali dan peristiwa lainnya.
Pada seputar setiap peristiwa tersebut, aktivitas penerbangan ke Bali
langsung ikut berkurang. Sebab, banyak warga dunia yang membatalkan
penerbangannya, termasuk ke Bali. Bahkan orang yang tadinya sudah
mempersiapkan jauh-jauh hari untuk bepergian terpaksa membatalkannya
akibat aksi teroris tersebut. ”Dengan adanya tragedi-tragedi tersebut,
maka pendapatan PT AP I juga mengalami penurunan,” kata Direktur Utama PT
AP I, Gatot Pudjo Martono.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|