| |
C © updated 09092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Gamawan Fauzi, SH, MM
Lahir:
9 November 1957
Agama:
Islam
Isteri:
Vita Nova (Menikah 12 Oktober 1984)
Anak:
= Idola Prima Gita (19), mahasiswi di Padang
= Gina Dwi Fachria (17), pelajar SMA
= Gian Gufran (13), pelajar kelas III SMP negeri di Padang.
Ayah:
Haji Dahlan Saleh Datuak Bandaro (almarhum)
Ibu:
Hajjah Syofiah Amin (75),
Pendidikan:
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang tahun 1982
Karier:
= Staf biasa di Kantor Direktorat Sosial Politik (Ditsospol)
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat
= Sekretaris pribadi Gubernur Sumbar
= Kepala Biro Humas Pemprov Sumbar
= Bupati Solok 1995-2000 dan 2000-2005
Sumber:
Kompas Minggu, 10 Oktober 2004
Pewawancara:
Ahmad Zulkani
Yurnaldi
|
|
| |
|
|
|
|
Gamawan Fauzi
Penerima Bung Hatta Award 2004
Gubernur Sumatera Barat penerima Bung Hatta Award 2004, saat menjabat
Bupati Solok. Dia seorang pejabat yang
konsisten menegakkan aturan dan tidak korupsi. Namun, dia sendiri merasa
penghargaan itu sangat berat dan mungkin saja belum pantas. Lulusan FH
Universitas Andalas Padang (1982) itu menapak karier mulai dari staf
biasa di Kantor Ditsospol Pemprov Sumatera Barat.
Setelah sempat sebagai sekretaris pribadi Gubernur Sumbar, secara
mengejutkan dalam usia 36 tahun ia dipercaya sebagai Kepala Biro Humas
Pemprov Sumbar. Dianggap mengejutkan karena pada era itu tak lazim,
seorang staf dan pegawai negeri sipil (PNS) yang golongannya III C
menjabat kepala biro yang biasanya posisi ini diisi pejabat bergolongan IV
A atau III D senior.
Namun, baru satu setengah tahun sebagai kepala biro humas, pada 2 Agustus
1995 Gamawan Fauzi terpilih menjadi Bupati Solok. Komitmen dan
konsistensinya dalam menegakkan aturan dan antikorupsi membuat ayah tiga
putra-putri ini bisa mulus melewati eforia reformasi sehingga pada 20
Agustus 2000 secara demokratis terpilih kembali memangku jabatan Bupati
Solok periode kedua.
"Jujur saya katakan, tak ada satu sen pun saya keluar uang untuk meraih
jabatan kedua kali sebagai Bupati Solok. Silakan tanya anggota DPRD yang
memilih saya. Sejak awal masa jabatan sampai era reformasi sekarang,
alhamdulillah tak sekalipun saya didatangi para pengunjuk rasa, demonstran,
atau orang-orang yang memprotes kebijakan saya," kata Gamawan.
Gamawan Fauzi yang menikah dengan Vita Nova, 12 Oktober 1984,
dikaruniai tiga anak masing-masing Idola Prima Gita (19), mahasiswi di
Padang; Gina Dwi Fachria (17), pelajar SMA; dan satu-satunya anak lelaki
Gian Gufran (13), pelajar kelas III SMP negeri di Padang.
Ia mengaku sejak dari awal sudah mewanti-wanti dan mendidik untuk hidup
sederhana, memakan dan menikmati apa yang menjadi hak dan yang halal.
"Istri saya itu anak seorang pejabat tinggi di Sumatera Barat. Ke
mana-mana, misalnya kuliah, ia diantar mobil sendiri dengan sopir pribadi.
Pokoknya, dia itu anak orang terpandang yang saat itu sudah hidup
berkecukupan. Saya mungkin tergolong nekat karena sehari setelah menikah
saya langsung boyong istri ke rumah kontrakan. Tidak itu saja, saya pun
biasakan dia membonceng dengan sepeda motor ke mana-mana karena memang itu
yang saya punya. Tetapi, akhirnya semua jadi terbiasa sampai sekarang,"
kata Gamawan.
Tiga anaknya juga dibentuk seperti itu. Dari awal, ia sudah ingatkan
bahwa jabatan bupati yang diembannya hanya titipan sementara. Kapan pun,
ini akan berakhir.
"Ternyata anak-anak saya juga merasa biasa-biasa saja. Biar Bapaknya jadi
bupati, dapat penghargaan dan lainnya, hidup dan keseharian mereka tidak
ada beda dengan anak-anak yang lain. Jajannya di sekolah tak beda dengan
anak temannya. Sama kok, lihat saja Idola Prima Gita, jajannya Rp 6.000
sehari, Gina Dwi Fachria dapat sangu Rp 5.000 sehari, dan si bungsu Gian
Gufran Rp 3.000 per hari".
Begitu pula kekuarga yang lain. Orangtuanya, ayah Haji Dahlan Saleh Datuak
Bandaro (almarhum) dan ibu Hajjah Syofiah Amin (75), selama ini selalu
berperan sebagai "pengawas" atau “inspektur" yang paling tegas. Karena
ayahnya sudah meninggal, ibunya mengambil alih peran "inspektorat"
tersebut, tetap mengawasi dan mengingatkan agar selalu ingat Tuhan, peduli
dengan sesama, serta tidak bertindak dan mengeluarkan kebijakan yang
bertentangan dengan kehendak rakyat.
Ketika ia terpilih untuk kedua kali jadi Bupati Solok tahun 2000 dan juga
waktu mendapat penghargaan Bung Hatta Award, ibunya mengingatkan agar
sujud syukur. Berdoa agar selalu dilindungi Allah, juga tidak sombong dan
takabur serta hanya memakan rezeki yang halal, bukan hidup dengan
mengambil hak orang lain. Ibunya selalu mengingatkan ini.
Sampai kini ia hanya punya satu mobil pribadi, jenis sedan keluaran
tahun 1995. Mobil ini pun bukan beli baru, tetapi hasil lelang mobil dinas
Pemkab Solok yang di-dump dengan persetujuan DPRD. "Saya tidak punya yang
lain. Silakan cek ke siapa saja, termasuk ke pejabat Pemkab Solok dan DPRD,"
katanya.
Terus terang, soal kendaraan ini ia tetap merasa bukanlah pejabat yang
betul-betul sudah menjalankan aturan dengan benar, termasuk setelah
menerima Bung Hatta Award yang lalu. "Buktinya, kalau ke kondangan atau
berkunjung ke tempat keluarga, saya masih memakai mobil dinas. Padahal,
itu kan sebetulnya urusan pribadi bukan dinas sebagai bupati. Jadi, kalau
saya dikatakan bupati yang taat aturan, jujur atau apa pun namanya, saya
rasa tidak juga. Lihat saja soal pemakaian kendaraan dinas tadi," ujarnya.
Hingga sekarang dia hanya punya satu rumah di kompleks perumahan pemda di
Padang. Rumah ini dibeli jauh sebelum jadi Bupati Solok, yaitu ketika
masih sebagai staf di kantor gubernur. Rumah ini dulunya juga kredit.
"Nah, tentang rumah ini, saya sekarang jadi bingung. Kondisinya sama
sekali tidak bisa ditempati karena sudah bocor dan rusak. Sebetulnya, saya
mau merehab dengan uang tabungan yang saya punya sekitar Rp 200 juta. Uang
ini berasal dari tunjangan jabatan saya sebagai bupati yang ditabung
setiap bulan sejak bulan-bulan pertama jadi bupati," katanya.
Lebih lanjut soal rumah yang bocor dan rusak berat itu, ia bilang, kalau
saya perbaiki dengan uang tabungan tersebut sebetulnya boleh-boleh saja.
Tetapi, ia berpikir jangan-jangan ada orang yang sirik dan merasa tidak
enak hati. Karena itu, rumah pribadinya ini sampai sekarang masih
dibiarkan rusak.
Tetapi resikonya, kalau ia sedang tidak berdinas dan berlibur dengan
keluarga di Padang, terpaksa menumpang di rumah saudara. Kebingungannya
pun makin memuncak karena beberapa bulan lagi jabatan bupati berakhir dan
harus ke luar dari rumah dinas, kembali ke rumah pribadi. "Lha, saya jadi
bingung sekarang nanti sekeluarga mau numpang tidur di mana?" ujarnya.
Ketika berbincang dengan Kompas di Padang, Jumat (8/10/2004) malam, lelaki
kelahiran 9 November 2004 itu tampil santai, jauh dari kesan birokrat.
Menggunakan kemeja lengan pendek dan bersepatu tanpa kaus kaki, Gamawan
tampak bersemangat ketika pembicaraan lebih difokuskan pada berbagai
persoalan besar di negara ini.
Mulai dari soal penanganan korupsi yang sepertinya dianggap sebagai hal
yang biasa di negeri ini, perbincangan pun berlanjut pada soal penegakan
aturan dan hukum, perilaku para pejabat, disiplin pegawai, kinerja aparat,
soal gaji pegawai yang pas-pasan, hingga pro-kontra tudingan bupati yang
sok bersih dan munafik terutama pada bulan-bulan pertama ia mengeluarkan
aturan dan kebijakan melawan arus di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Solok.
Anda memulai dari mana dan sejak kapan?
Sejak tahun 1995 saya sudah punya komitmen untuk menginginkan sistem
pemerintahan yang lebih baik. Saya memulai dengan membuat aturan:
kontraktor tak boleh bertemu saya. Karena sebelumnya kedatangan kontraktor
untuk minta proyek dan mengiming-imingi uang. Saya tegaskan agar mereka
mengikuti prosedur. Jangan coba- coba beri saya uang. Kalau prosedur yang
jadi penghalang, saya akan benahi bagaimana agar pengusaha terlindungi.
Perbaikan sistem harus dibarengi dengan komitmen.
Kedua, saya membenahi soal perizinan. Biasanya, masing-masing bidang
mengeluarkan izin sendiri dan sulit menghindari terjadinya "beri memberi".
Ini saya pangkas. Saya buat sistem pelayanan satu pintu plus. Tarif
perizinan dicantumkan secara terbuka dan kapan harus selesai. Untuk
mengurus izin masyarakat pun diberi kemudahan, melalui pos. Jadi,
masyarakat tak perlu datang dan mengeluarkan uang yang banyak, hanya
membayar Rp 2.000 biaya pos. Kerja sama dengan pihak Pos dan Giro Oktober
1998. Tahun 2001 pelayanan satu pintu plus ini dapat penghargaan nasional,
Citra Pelayanan Prima, yang diserahkan Presiden.
Ketiga, soal proyek. Soal proyek tak perlu harus sampai ke bupati, cukup
sampai di tingkat pimpinan proyek (pimpro). Pimpro yang melaporkan dan
bertanggung jawab. Soal keuangan, tidak bayar cash, tetapi melalui giro.
Ini secara psikologis mengurangi pemberian, apalagi kita selalu gaungkan
tidak boleh memberi dan menerima.
Keempat, tahun 2003 kita lanjutkan dengan integrity pact, kesepakatan
kejujuran dalam menjalankan roda pemerintahan. Sekaligus kesepakatan untuk
tidak memberi dan menerima yang bersifat ilegal, dan panggilan hati nurani
untuk tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Kesepakatan
untuk membangun harkat dan martabat serta kejujuran aparatur. Ini saya
lakukan sepulang saya dari Korea setelah diundang untuk Kongres
Antikorupsi.
Lalu, saya buat kebijakan meniadakan honor dan membuat tunjangan daerah.
Karena selama ini berkembang ungkapan "meja mata air" dan "meja air mata",
pekerjaan yang bergelimang honor dan kering dengan honor. Padahal, yang
mereka kerjakan adalah pekerjaan fungsional mereka, tugas pokoknya. Tahun
2004 berhasil dikumpulkan uang honor itu sebesar Rp 14,5 miliar.
Sebanyak 5.000 guru dari 6.200 pegawai negeri sipil di Kabupaten Solok
selama ini tak pernah menikmati bagian honor yang mencapai Rp 14,5 miliar
itu karena jarang dilibatkan dalam berbagai kepanitiaan. Ukuran besaran
honor seseorang pun tak ada aturannya. Ini jelas tidak adil. Bagi instansi
yang banyak proyek akan banyak mendapat honor sehingga ini tidak
profesional karena banyak panitia yang tidak bekerja. Ini terjadi di
seluruh Indonesia dan seluruh instansi.
Dengan kebijakan tunjangan daerah, yang tujuannya untuk meningkatkan
kesejahteraan seluruh pegawai, semua pegawai dapat bagian dan itu lebih
besar pula dari tunjangan struktural. Misalnya, sekda itu eselon dua,
tunjangan struktural dari negara diatur bahwa ia dapat Rp 2,5 juta per
bulan. Resmi, di mana pun di Indonesia. Tetapi, dari tunjangan daerah
sekda dapat Rp 3,5 juta sehingga ia terima Rp 6 juta per bulan tambah gaji
pokok Rp 1,5 juta. Ini sudah cukup untuk tidak melakukan korupsi sebab
semua fasilitas ditanggung negara, mulai dari mobil dinas, rumah dinas,
listrik, telepon, dan minyak mobil. Tunjangan daerah paling kecil saya
berikan Rp 150.000 per bulan.
Kita sekarang berpikiran berapa gaji yang layak itu sehingga jangan ada
macam-macam lagi. Jika masih ada uang pemda, misalnya, honor Rp 14,5
miliar itu akan saya cukupkan menjadi Rp 20 miliar sehingga saya bisa
memberikan prioritas peningkatan kesejahteraan pada mereka yang level
bawah, seperti guru-guru. Sebenarnya, menurut saya, gaji pegawai harus
dirasionalkan.
Apakah gebrakan mendadak itu tidak berpengaruh terhadap kinerja staf?
Kinerja malah meningkat. Tunjangan daerah adalah untuk kehadiran 25 hari
kerja. Kalau tidak datang satu hari, tunjangan daerah dipotong sebesar 4
persen, tak hadir dua hari 8 persen dipotong, tak hadir 3 hari dipotong 12
persen. Yang paling efektif harus dikaitkan dengan kinerja, harus ada
standar kerja individual. Sekarang, rajin, malas, bodoh, dan pintar, gaji
sama saja diterima. Standar kerja individual belum jalan. Pada suatu saat,
saya yakin di pemerintahan hal seperti akan jalan sehingga motivasi PNS
untuk bekerja sungguh-sungguh.
Pernah Anda ditawari uang selama masa jabatan?
O, sering. Silakan cek ke banyak orang, tahu mereka siapa yang pernah
mendatangi saya dan berupaya hendak memberi saya uang. Ada pengusaha yang
hendak memberi saya uang cash ratusan juta rupiah karena mendapat proyek.
Selama ini, kata pengusaha itu, tak ada pejabat yang tak lewat.
Lantas menolaknya?
Saya minta maaf saja. Ada pula kepala dinas yang hendak memberi saya
telepon genggam, malah saya umumkan ke khalayak. Dimuat koran lokal
sehingga membuat yang lain menjadi kapok.
Agar penindakan efektif, setiap pejabat atau staf yang melanggar selalu
diumumkan ke publik. Hingga kini, ia mengakui sudah memecat 10 stafnya
karena terbukti melakukan pelanggaran berat. Di samping itu, ada 68 orang
yang di-"non-job"-kan dan 23 orang lain diturunkan pangkatnya.
Siapa yang paling Anda kagumi?
Ada tiga sosok yang menjadi figur idola saya, yakni Nabi Muhammad, kedua
orangtua, dan Bung Hatta.
Sebagai orang beragama Islam, saya kagum pribadi dan cara-cara nabi
memimpin umat. Siapa pun tidak akan bisa menyamainya. Sebagai umatnya,
kita bisa mencontoh dan meneladani. Begitu pula tentang kedua orangtua
saya, ia taat beragama dan selalu mengingatkan bahwa kita ini hidup tetap
akan mati. Dan, setelah mati nanti, apa yang kita kerjakan di dunia akan
dipertanggungjawabkan di akhirat.
Tentang Bung Hatta…, saya betul-betul sangat kagum dengan beliau. Ini
bukan karena saya mendapat Bung Hatta Award, tetapi kekaguman ini sudah
terpatri sejak saya masih remaja. Rasa kagum ini makin bertambah kental
lagi setelah saya melahap hampir semua buku-buku yang ditulis Bung Hatta.
Melalui buku-buku itu, saya temukan jati diri Bung Hatta. Ternyata ia
seorang pemimpin yang bijak, sangat agamis, serta memiliki komitmen dan
keberpihakan yang tegas terhadap rakyat.
Selama jadi bupati, apakah yang paling membanggakan Anda?
Ada tiga hal yang membuat saya bangga. Yakni, pertama hampir sepuluh tahun
jadi bupati syukur alhamdulillah daerah Solok yang saya pimpin ternyata
aman tenteram, tidak sekalipun ada bencana yang menimpa masyarakat dan
daerah ini. Bagi saya, ini jadi pertanda bahwa apa yang saya kerjakan
sangat diridai Allah.
Kedua, sejak awal masa jabatan bupati tahun 1995 sampai sekarang,
alhamdulillah saya belum pernah sekali pun didatangi demonstran, pengunjuk
rasa yang mempersoalkan kebijakan saya. Padahal, siapa pun tahu sejak
reformasi sampai sekarang siapa pun bisa menggugat, memprotes, dan
menghujat bupati atau pejabat.
Ketiga, yang membanggakan saya adalah selama menjadi bupati saya berhasil
"memerdekakan" dua desa yang dihuni hampir 500-an jiwa. Dua desa ini,
yaitu Desa Sariak Bayang dan Lubuak Tareh, sangat terisolasi dari luar.
Tidak ada jalan akses dari dan ke desa itu ke kota kecamatan, kecuali
jalan setapak yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama tiga hari
tiga malam dan itu saya alami sendiri. Begitu saya temukan kenyataan itu
ketika berkunjung kedua desa tersebut, saya sempat menangis melihat
kenyataan bahwa ternyata ada warga saya yang hidupnya seperti suku
terasing, jauh dari dunia luar.
Akhirnya saya putuskan, dua desa itu harus dipindahkan ke lokasi lain yang
lebih subur dan gampang diakses. Karena sekitar 140 keluarga yang menghuni
dua desa tersebut merupakan keluarga miskin, maka di permukiman baru
mereka saya bangunkan rumah tinggal secara gratis. Jalan akses beraspal
juga dibangun Pemkab Solok, di dua desa baru itu juga dibangunkan berbagai
fasilitas umum, ada pasar, penerangan listrik ke rumah-rumah, tempat
ibadah, sekolah, air bersih, tempat pelayanan kesehatan, dan lahan usaha
pertanian untuk menopang hidup warga di sana.
Adakah sesuatu cobaan hidup yang Anda rasakan selama jadi bupati?
Oh… ada, cobaan hidup yang paling berat adalah ketika saya sempat "hilang"
selama lima hari di hutan belantara ketika napak tilas perjuangan dari
Lubuak Minturun (Kota Padang) hingga ke Paninggahan (Kabupaten Solok)
tahun 1999. Nyasar di hutan ini saya anggap sebagai cobaan hidup karena
bersama saya ada 116 orang lainnya. Mereka ada yang pelajar, mahasiswa,
polisi, dan juga pejabat kabupaten.
Jangankan Tim SAR yang mencari menggunakan helikopter, saya di hutan yang
tersesat ketika itu pun betul-betul cemas dan sangat tertekan. Bayangkan,
kalau ada di antara peserta napak tilas yang meninggal, wah… saya sudah
pasti disalahkan dan dimintai tanggung jawab. Tetapi, bersyukur karena
saya dan rombongan ditemukan tim pencari. Inilah cobaan paling berat
selama jadi Bupati Solok, yang tidak akan saya lupakan sepanjang hidup
saya".
Setelah jadi bupati, obsesi dan target ke depan?
Saya akan jalani hidup ini seperti air mengalir. Tidak ada target saya,
habis ini harus menjadi ini, jadi itu dan lainnya. Tetapi, itu bukan
berarti saya apatis atau pesimistis. Ya..., apa adanya lah…. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|