| |
C © updated 07122007-26062007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
PROF DR FUAD HASSAN
Lahir:
Semarang, Jawa Tengah, 26 Juni 1929
Meninggal:
Jakarta, 7 Desember 2007
Agama:
Islam
Isteri:
Tjiptaningroem (Menikah 1958)
Anak:
Dua Orang
Ayah:
Ahmad Hassan
Pendidikan:
-Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta (Sarjana, 1958
-Filsafat dari Universitas Toronto, Kanada (1962)
- Doktor dari Universitas Indonesia, 1967)
- Guru Besar Fakultas Psikologi UI
Karir:
- Asisten pada Balai Psikoteknik Departemen P & K (1952- 1956)
- Asisten Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran UI (1956-1958)
- Tenaga Ahli diperbantukan pada Koti G-5 (1965)
- Anggota Tim Ahli bidang Politik Staf Presiden (1966-1968)
- Dosen Seskoad, Seskoal dan Lemhanas (1966-1976)
- Anggota DPR/MPR-RI (1968-1970)
- Dekan Fakultas Psikologi UI, merangkap Direktur Lembaga Studi
Strategis Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (1972-1976)
- Duta Besar RI untuk Mesir, merangkap Sudan, Somalia, dan Jibouti
(1976-1980)
- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Luar Negeri
(1980-1985)
- Anggota MPR-RI (1982-1987)
-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1985-1993)
Kegiatan Lain:
- Anggota International Institute for Strategic Studies, London
(1971-1988)
- Konsultan Dewan Nasional Keluarga Berencana (1974-1976)
Karya:
- Kita & Kami, the Two Basic Modes of Togetherness (1971)
- Berkenalan dengan Eksistensialisme (1972)
- Pengalaman Seorang Haji (1974)
-Heteronomia (kumpulan esei, 1977)
Penghargaan:
- Bintang Jasa Kelas I dari Pemerintah Mesir
- Bintang Republik Kelas I dari Mesir, 1980
Alamat Rumah:
Jl Brawijaya X/2 Kebayoran Baru, Jakarta Tel. 021-7202529 Fax.
021-7220419
|
|
| |
|
|
|
|
| FUAD HASSAN HOME |
|
|
 |
Fuad Hasan (1929-2007)
Wafat, Mantan Mendikbud 1985-1993
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Fuad Hassan
meninggal dunia Jumat 7 Desember 2007 pukul 15.40 di RS Cipto
Mangunkusumo. Pria kelahiran Semarang 26 Juni 1929 itu meninggal akibat
komplikasi beberapa penyakit. Jenazah disemayamkan di rumah duka Jl
Brawijaya X/2 Kebayoran Baru, Jakarta.
Fuad Hasan
Gesekan Biola Mendikbud 1985-1993
Prof Dr Fuad Hasan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Menteri P&K -
Mendikbud) Kabinet Karya Pembangunan IV dan V (1985-1993), tak pernah bercita-cita jadi menteri.
Pria kelahiran Semarang, 26 Juni 1929, ini semasa kecil, malah ingin menjadi konduktor.
Dia piawai menggesek biola, mengikuti darah seni ayahnya, Ahmad Hassan
pemain mandolin.
Anak kedua dari empat bersaudara terbilang nakal saat masih SD sampai SMA di Solo.
Dia sering membolos untuk main biola. Berangkat dari rumah membawa tas sekolah,
tapi sering
singgah ke rumah tetangga untuk mengambil biola, lalu ke RRI. Kenakalan
ini akhirnya ketahuan sama sang ayah, tetapi tidak dimarahi. Ayahnya yang berpaham liberal
memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk menekuni cita-cita,
apa saja baik, asal jangan setengah-setengah.
Bermaksud mengasah kemampuan musiknya, pada 1950 Fuad berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tes masuk sekolah musik di Roma,
Italia. Tapi niat itu urung karena pengaruh temannya. Dia juga melihat orang
yang main musik
puluhan tahun, tapi tak ada yang menggubris. Hal itu membuatnya
mengurungkan niat jadi musikus profesional.
Akhirnya, Fuad tidak jadi ke Roma. Dia memilih masuk
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), lulus 1958. Kemudian belajar
filsafat ke Universitas Toronto, Kanada, 1962. Setelah itu, Fud meraih gelar
doktor dari UI (1967), dengan disertasi berjudul Neurosis sebagai
Konflik Eksistensial. Kemudian dia menjadi guru besar (profesor)
Fakultas Psikologi UI (FPs- UI).
Fuad mengawali karir sebagai Asisten pada Balai Psikoteknik Departemen P & K (1952- 1956).
Kemudian menjadi Asisten Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran UI (1956-1958).
Tahun 1965 menjadi Tenaga Ahli diperbantukan pada Koti G-5 dan Anggota Tim Ahli bidang Politik Staf Presiden (1966-1968).
Selain dosen (guru besar) di Fakultas Psikologi UI, Fuad juga
meluangkan waktu menjadi Dosen Seskoad, Seskoal dan Lemhanas (1966-1976). Sebagai
dosen, Fuad dikenal dekat dengan mahasiswa. Tahun 1968-1970, berkiprah
politik praktis di Senayan sebagai Anggota DPR/MPR-RI. Setelah itu, Fuad
diangkat menjabat Dekan Fakultas Psikologi UI, merangkap Direktur Lembaga Studi
Strategis Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (1972-1976).
Kemudian, dia dipercaya menjabat Duta Besar RI untuk Mesir, merangkap Sudan, Somalia, dan Jibouti
(1976-1980). lalu menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Luar Negeri
(1980-1985) merangkap Anggota MPR-RI (1982-1987).
Karena Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Nugroho Notosusanto
meninggal dunia, Prof Dr Fuad Hassan dipercaya Presiden Soeharto
menggantikannya meneruskan periode Kabinet Karya Pembangunan IV
(1985-1988), dilantik 30 Juli 1985. Kemudian dia dipercaya kembali
memimpin Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Karya Pembangunan
V (1988-1993).
Saat hari pertama masuk kantor sebagai menteri, dia menegaskan tidak
mengganti perabotan ruang kerja pendahulunya. Tdak diubah sedikit
pun. Hal ini mencerminkan kebijakannya mencanangkan ''stabilitas kurikulum''
sampai akhir Pelita IV. Fuad ingin membuang konotasi 'ganti menteri ganti kurikulum. ''Gonta-ganti sistem dan kurikulum akan banyak
menimbulkan keresahan masyarakat, anak didik, juga para guru,'' katanya
sebagaimana dikutip Tempo.
Fuad juga segera membenahi administrasi untuk menghilangkan Siap. Forum Pendidikan
dan Kebudayaan pun dibentuk, yang anggotanya tokoh- tokoh pendidikan dan
kebudayaan di masyarakat. Forum inil dioptimalkan untuk menumbuhkan gagasan,
sekaligus menampung kecaman, kritik, untuk meningkatkan mutu pendidikan
dan kebudayaan.
Pria yang menikah dengan Tjiptaningroem (dosen di Fakultas Sastra UI)
tahun 1958 dan dikaruniai dua anak, juga membenahi pendidikan nonformal,
mengefisienkan promosi doktor, jaminan guru,
mengatasi perkelahian antarpelajar dan bisnis skripsi
pun dikecamnya. Di bidang seni, ia ingin membuat galeri nasional, yang
memajang karya seni bangsa.
Hari-hari senggangnya sering diisi dengan menyalurkan hobinya
menggesek biola. Walaupun dia tidak punya jadwal khusus untuk main biola.
Namun, kalau sudah main biola, dia bisa melepas segalanya dan lupa
segalanya, hingga pernah lupa ke kantor saking asyiknya. Dia memang
seorang pemimpin yang bersahaja, yang menikmati hidup apa adanya,
sebagai rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa. ►e-ti/tsl,
sumber pdat.co.id
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|