| |
C © updated 21062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Franz Magnis-Suseno, SJ (dahulu Franz Graf von Magnis)
Lahir:
Eckersdorf, Jerman 26 Mei 1936
Agama:
Katolik
Jenis Kelamin:
Laki-laki
Keluarga:
Tidak berkeluarga (rohaniwan)
Ayah:
Dr. Ferdinand Graf von Magnis
Ibu:
Maria Anna Grafin von Magnis, prinzessin zu Lowenstein
Kakak-Adik:
5 orang adik, satu laki-laki (sudah meninggal), empat perempuan.
Pendidikan Akademik:
1957-1960: Studi Filsafat di Philosophische Hochschule Pullach
1964-1968: Studi Teologi di Institut Filsafat Teologi di Yogyakarta.
1971-1973: Studi doktoral di Ludung Maximilians Universitat di Munchen
Gelar akademik terakhir:
1973 Doctor Philosophiae summa cum laude dari Ludung Maximilians-
Universitat di Munchen dengan disertasi "Die Funktion normbativer
Voraussetzungen im Denken des Jungen Marx (1843-1848) dengan promotor
Prof. Dr. Nikolaus Lobkowicz dan Copromotor Prof. Dr. Hans Baumgartner.
Instansi tempat kerja:
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta
Jabatan Akademik:
Guru Besar, tgl. 1 April 1996
Jabatan Struktural:
Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Penghargaan:
1. Satyalancana Dundyia Sistha dari Menhankam 24-11-1986.
2. Das grobe Verdienstkreuz des Verdienstordens Republik Federasi Jerman
Alamat rumah:
Johar Baru VI A/6. Jakarta 10560
Tel: (021)4209377
Fax: (021)42875347
Alamat kantor:
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Jl. Cempaka Putih Indah 100A, Jembatan Serong, Rawasari Jakarta 10520
Tel: (021 )4259847/4247129.
Fax: (021 )4224866.
email: magnis@dnet.net.id
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3
4 5 6 7 8 ==
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ, Wawancara (3)
Bicara Pemerintahan Baru 2004
Kepemimpinan yang bagaimana yang bisa membawa bangsa ini menjadi lebih
baik? Menurut Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ dalam percakapan dengan
Wartawan Tokoh Indonesia, dia harus demokratis, inklusif dan punya
komitmen pada solidaritas bangsa serta mampu memproyeksikan sebuah misi
bagi seluruh bangsa.
Menurut, pastor yang sering dijuluki “Kasman” atau bekas Jerman
yang sangat Indonesianis, ini kita perlu seorang pemimpin yang memang
mampu memimpin, melihat manakah tantangan, dan ke manakah kita harus
berjalan. Ia juga mampu memproyeksikan sebuah misi bagi seluruh bangsa.
Jadi, tidak cukup dia sendiri tahu, dia sendiri mengambil keputusan yang
tepat. Tetapi, sebetulnya dia harus menyemangati bangsa, apalagi bangsa
yang terpuruk supaya tidak terus sibuk dengan masalahnya sendiri. Perlu
dilihat, kami dipimpin ke masa depan yang menjanjikan, dan itu sangat
penting. Mengenai substansi, tentu seorang pemimpin sekurang-kurangnya
harus mempunyai tiga keyakinan yang kemudian menjadi prakteknya.
Berikut
petikan wawancara TokohIndonesiaDotCom dengan Romo Franz Magnis-Suseno,
SJ berlangsung di kantor STF Driyarkara, Jakarta.
Indonesia hendak menuju Pemilihan Umum. Menurut Romo, kepemimpinan
yang bagaimana yang bisa membawa bangsa ini menjadi lebih baik?
Memang, saya kira ini pertanyaan yang cukup penting sebetulnya. Kita
perlu seorang pemimpin yang memang mampu memimpin. Dan, itu berarti dia
melihat manakah tantangan, dan ke manakah kita harus berjalan. Ia juga
mampu memproyeksikan sebuah misi bagi seluruh bangsa.
Jadi, tidak cukup dia sendiri tahu, dia sendiri mengambil keputusan
yang tepat. Tetapi, sebetulnya dia harus menyemangati bangsa, apalagi
bangsa yang terpuruk supaya tidak terus sibuk dengan masalahnya sendiri.
Perlu dilihat, kami dipimpin ke masa depan yang menjanjikan, dan itu
sangat penting. Mengenai substansi, tentu seorang pemimpin
sekurang-kurangnya harus mempunyai tiga keyakinan yang kemudian menjadi
prakteknya.
Pertama, dia harus yakin demokratis. Jadi, dia tidak boleh kembali ke
Orde Baru. Orde Barulah yang menghasilkan situasi politik sekarang.
Jangan dilupakan, bukan reformasi. Tapi, keterpurukan ekonomi dan
perpecahan itu di bawah Pak Harto. Jadi yang pertama, dia harus
demokratis.
Yang kedua, dia harus inklusif. Jadi, seluruh bangsa diterima. Dia
harus yakin betul bahwa Indonesia hanya bisa bersatu, dan hanya bisa
berdamai, kalau semua bisa kerasan di rumah Indonesia. Itu, secara
konstitusi dan undang-undang, negara tidak boleh ditata secara eksklusif
menurut cita-cita salah satu kelompok, lalu akan mengasingkan yang tidak
termasuk dalam kelompok itu, dan menimbulkan kekerasan, mengancam
kesatuan Indonesia, dan Indonesia tidak akan utuh selamanya sebab hanya
atas dasar paksaan. Jadi, perlu keyakinan akan nilai pluralisme dan
Indonesia kenapa inklusif, itu yang kedua.
Yang ketiga, yang mungkin paling penting dan sangat rawan, adalah
komitmen pada solidaritas bangsa khususnya solidaritas dengan masyarakat
sederhana dan masyarakat miskin. Yang saya anggap paling berbahaya,
kalau orang kecil masyarakat mendapat kesan bahwa negara ini surga bagi
orang-orang kaya. Jadi, rakyat harus merasa bahwa itu negara kita, bahwa
kami orang sederhana betul-betul menjadi perhatian pemerintah.
Kan, rakyat Indonesia itu sebetulnya sehat cemerlang. Dalam arti,
bahwa dia tidak pernah menuntut kerugian, dia tidak menuntut cara hidup
seperti orang yang di atas, dia tidak menuntut suatu kesamaan total.
Tetapi yang tentu dia harapkan, bahwa mereka yang hidup kaya raya tidak
menghancurkan jasa-jasa jerih orang kecil.
Jadi, misalnya masalah tanah negara, tidak boleh dipecahkan dengan
membuldozer rumah-rumah orang kecil yang membangun di situ. Karena
negara tidak menyediakan kesempatan bagi mereka membangun rumah
sederhana di tempat yang legal. Kalau malah mereka dibuldozer, itu keji,
dalam pandangan saya dan dalam pandangan mereka. Kan, tidak sedemikian
mahalnya untuk mengganti rugi, misalnya kalau tanah itu betul-betul mau
dipakai. Nah, bagi saya ini sebetulnya kunci.
Lalu, saya melihat tiga hal tersebut, dan masalah yang lain, tidak
akan ditangani kalau korupsi jalan terus. Karena, korupsi itu berarti,
bahwa semua melihatnya dari sudut money politics, keuntungan.
Lalu sudah tidak ada keikhlasan, kejujuran, kebebasan dari pamrih yang
kita tuntut. Jadi, pemberantasan korupsi adalah syarat supaya tiga hal
terpenting itu bisa terlaksana.
Tentang korupsi, dari mana memulai pemberantasannya dan bagaimana
caranya, menurut Romo?
Saya kira itu hanya bisa berhasil kalau itu betul-betul datang dari
atas. Dan, dari atas bagi saya berarti dua. Pemerintah, tentu dengan
pimpinan Presiden secara pribadi yang harus betul-betul committed,
dan DPR.
Jadi, mestinya, Presiden baru dengan DPR baru, menyadari bahwa
korupsi perlu ditindak. Dan mereka, bersama-sama membuat semacam kontrak,
yang tidak perlu tertulis, bahwa akan diberantas.
Misalnya pemerintah menyediakan, bukan hanya tidak dia sendiri tidak
korup, dan menghilangkan semua kesan korup. Semua hubungan keluarga
berbau kesan korup harus diakhiri. Tetapi, dia juga memberdayakan semua
unsur institusional mulai dari Kejaksaan, Kejaksaan Agung, Komisi
Pemberantasan Korupsi, dan sebagainya supaya mereka itu sepenuhnya
menjalankan.
Dan DPR, bersedia memotong keterikatannya dengan yang lain. Mereka
semua masih terikat, karena menjadi legislator itu mahal. Belum tentu
korupsi, tapi mahal, tentu ratusan juta rupiah setiap orang. Tapi kalau
mereka mau bersatu, mereka bisa mengakhiri itu. Sehingga, tidak setiap
legislator sebetulnya hanya memikirkan bagaimana duitku kembali, dan
bagaimana aku mendapat untung, karena itu terjadi sudah terlambat.
Nah, di situ harus ada semacam semangat bersama. Tetapi, supaya itu
terjadi semestinya ada tekanan dari civil society. Dan itu tidak
cukup hanya LSM. LSM itu lemah, tidak semua menerima. Tetapi organisasi
besar, terutama organisasi agama, misalnya Muhammadiyah dan
Gereja-Gereja, syukur kalau juga NU.
Kalau civil society betul-betul menuntut, momentum DPR baru
dengan Presiden baru, sebetulnya bisa menciptakan sinergi mulai dari
atas. Saya tidak melihat jalan lain. Kalau itu sudah satu tahun belum
terjadi, ya, saya akan pesimistis. Kita tantang selama satu tahun itu
mulai. Tapi, masih akan lama. Pemerintah juga harus menyadari bahwa
tindakan itu akan sepenuhnya didukung oleh rakyat.
Ada masalah dengan civil society tadi. Semua masyarakat
Indonesia beragama rajin ke mesjid rajin ke Gereja tapi korupsi terus
berlangsung, dan mendapat tempat terhormat di Gereja maupun di mesjid?
Nah, ini, kalau agama-agama tidak menyadari bahwa berkorupsi
merupakan suatu dosa yang mungkin lebih besar daripada tidak ke Gereja
dan tidak ke mesjid. Jadi, memang, di agama-agama perlu ada juga semacam
perdebatan. Jangan hanya melihat ritualisme dan formalisme.
Sebagai orang Kristen, ya saya selalu akan mengacu kepada yang
dikatakan Yesus tentang pengadilan terakhir di Injil Matius bab 25,
dimana kriteria orang masuk surga adalah apakah dia menunjukkan hati dan
tangan terbuka bagi saudara yang menderita dan ditinggalkan. Itu
kriterianya. Dia tidak bertanya, apa kamu seorang kristen yang baik, apa
kamu dibaptis, dan sebagainya, apa kamu berdoa.
“Tetapi ketika Aku lapar, haus, dipenjara, sakit, kamu tidak bantu
Aku.” Lalu, mereka akan bertanya, kapan kita bertemu. Lalu, yang paling
menentukan adalah, “Apa yang kau lakukan pada saudara-Ku yang paling
kecil ini, adalah kau lakukan pada-Ku, dan apa yang kau tidak lakukan
pada saudara-Ku yang paling kecil ini, tidak kau lakukan pada-Ku.”
Itu, kan berarti bahwa Yesus mengatakan, setia pada Aku, Yesus, itu
tidak mesti terhadap, mesti mengetahui nama Yesus. Mereka kan tidak tahu
ketemu Yesus. “Kalau kamu bantu orang miskin, kamu adalah orang-Ku”.
Dan, belum tentu kamu tahu nama Yesus, dan sebagainya, tetapi tahu
berbuat sesuatu bagi orang itu. Nah, ini, kalau orang Kristen melihat
itu ya sudahlah….
Dapatkah Romo menceritakan, bagaimana kisah hidup Romo semenjak masa
kanak-kanak, dan tentang pengasuhan orang tua?
Saya lahir sebagai anak sulung keluarga bangsawan pada tanggal 26 Mei
1936 di Silesia, Ekcsdorft, kabupaten Glatz, yang untuk orang di
Indonesia sulit untuk dimengerti. Saya lahir di daerah pertengahan
Jerman bagian timur, daerah yang paling timurnya adalah Jerman Timur.
Karena orang Indonesia pada umumnya tidak tahu, bahwa Jerman itu dahulu
pernah menjorok hingga ke daerah yang sekarang namanya Polandia.
Nah, sesudah Perang Dunia II tahun 1945, seperlima bagian timur itu
diambil dikasih Polandia, sebagian lagi masuk Uni Soviet, dan
penduduknya semua 9 juta orang Jerman diusir ke Jerman Barat.
Nah, saya
termasuk pengungsi, keluarga saya bilangan semuanya dibawa ke Jerman
Barat. Sebagai akibat perang dunia II keluarga saya lari dari tentara
Uni Soviet menuju ke Cekoslovakia Barat, dan dari situ diusir lagi ke
Jerman Barat. Kami kehilangan semua milik kepunyaan kami.
Akhirnya keluarga saya menetap sekitar 80 km di sebelah selatan kota
Frankfurt. Tapi kalau dibilang saya orang Jerman timur, dikira di bawah
Jerman Timur yang komunis, padahal nggak, daerah saya itu dulu Jerman
Tengah.
Romo lahir di Jerman, memilih menjadi rohaniwan sebagai pastor,
mendalami ilmu filsafat, lalu datang melayani ke Indonesia?
Saya sudah berada di Indonesia sejak 29 Januari tahun 1961. Saya
datang ke Indonesia sesudah lima tahun menjadi rohaniwan muda, anggota
salah satu tarekat (“Ordo”) Gereja Katolik yaitu “Sarikat Yesus”, atau
“Ordo Jesuit” sejak tahun 1955. Serikat Yesus berkarya demi Gereja di
seluruh dunia, ia bersifat internasional.
Waktu saya studi filsafat di Ordo Jesuit, merasa bahwa saya mungkin
lebih bisa berguna di negara seperti Indonesia. Nah, mengapa Indonesia,
kan di dunia lain juga ada negara, seperti Zimbabwe. Saya melamar
dikirim ke Indonesia karena di Indonesia sudah ada beberapa Yesuit
Jerman bekerja membantu Gereja, dan surat-surat mereka penuh pujian.
Lamaran saya dikabulkan oleh pimpinan Serikat Yesus di Roma, sehingga
saya ke Indonesia. Saya tidak pernah menyesali keputusan itu.
Lalu, apa yang membuat Romo tertarik menjadi warga negara Indonesia?
Sesudah saya kerasan di Indonesia dan merasa diterima, dengan
sendirinya saya mau menjadi warga negara sehingga bisa menyatu
sepenuhnya.
Saya kan sebetulnya datang dengan motivasi membantu Gereja. Dan, itu
selalu sudah menjadi maksud untuk tetap di sini kalau memang kedua belah
pihak cocok. Kalau kita sendiri tidak kerasan lebih baik pulang.
Daripada terus tidak bisa tenang, resah, dan sebagainya. Begitu pula
kalau jemaat, umat, atau masyarakat terasa susah dengan kita, ya, juga
lebih baik pulang.
Tapi, kesan saya bahwa orang di sini tidak terlalu susah dengan saya.
Dan saya sendiri sangat tertarik untuk mendapat kewarganegaraan baru,
sehingga saya meneruskan untuk tetap di Indonesia.
Hampir sudah sejak semula saya incharge menjadi warga negara
Indonesia. Saya mengajukan permohonan dan memenuhi semua syarat sejak
tahun 1970. Tapi, dibutuhkan tujuh tahun sampai itu lewat mesin
birokrasi. Tahun 1977 keluar, tahun 1977 saya disumpah, dan menyerahkan
paspor Jerman saya ke Kedutaan Besar Jerman.
Romo sebagai warga negara Indonesia yang asal Jerman, bagaimana kesan
Romo tentang Indonesia?
Begini. Bagi saya, Indonesia negara yang amat mengasyikkan, dan
menarik. Dan saya belum pernah menyesali keputusan saya untuk ke sini,
maupun untuk menjadi warga negara. Masyarakat di sini majemuk,
budaya-budayanya adalah sangat menyenangkan.
Sebetulnya, budaya-budaya tradisional yang saya paling baik kenal
adalah budaya Jawa. Karena saya masuk lewat Jawa, lewat kultur Jawa, dan
saya merasa kerasan dengan budaya Jawa. Tapi, kemungkinan andaikata saya
ke daerah lain, saya juga tidak akan mengalami kesulitan.
Indonesia juga negara yang, tentu secara politis, sosial, penuh
tantangan. Dan kita, saya kira semua jangan lupa, bahwa itu sebetulnya
normal. Kalau kita melihat di peta, dari Sabang sampai Merauke, sedikit
saja negara di dunia yang lebih besar dan tidak ada yang lebih majemuk
dengan ribuan pulau, ratusan budaya dan bahasa, berbentuk keagamaan yang
cukup banyak variasi.
Bahwa, negara macam itu tidak secara lancar mulus menjadi negara
kebangsaan demokrasi pasca tradisional tentu, masuk akal sekali. Negara
asal saya, Jerman, membutuhkan lama sekali sampai mengembangkan
demokrasi.
Percobaan demokrasi pertama di Jerman gagal. Waktu itu dicoba,
sesudah Perang Dunia (PD)-I Kaisar diusir, dibangun demokrasi yang bagus,
tetapi akhirnya partai-partai yang paling kuat di Jerman adalah Partai
Nazi dan Partai Komunis. Dan, Nazi mencapai kekuasaan lewat pemilihan
umum sehingga demokrasi pertama berakhir di dalam suatu kediktatoran.
Jauh lebih buruk daripada di Indonesia. Membawa malapetaka bagi
Jerman sendiri, termasuk keluarga saya yang kehilangan seluruh kepunyaan
di Jerman timur, juga membunuh puluhan juta orang dan malapetaka lewat
perang.
Itu, bagi saya hanya contoh bahwa kita di Indonesia jangan terlalu
berkecil hati karena memang masih mengalami kesulitan. Tentu, kita harus
menentang semua kesulitan tapi dalam perspektif sedikit lebih jangka
jauh. Jangan kita heran bahwa pembentukan kehidupan demokrasi yang
mantap, damai, dan beradab memerlukan waktu.
Bangsa Jerman yang membanggakan diri sebagai bangsa para filsuf dan
penyair, itu di abad yang lalu melakukan hal yang teramat biadab. Jadi,
bahwa di negara ini pun ada hal lain yang biadab, supaya kita selesaikan,
tapi bukan alasan untuk merasa minder atau putus asa.
Romo dibesarkan di Jerman, lalu datang ke Indonesia, menjadi warga
negara, masihkah ada hubungan emosional dengan keluarga di sana?
Bagaimana reaksi mereka saat Romo memutuskan datang ke Indonesia?
Ya, tentu masih ada. Saya dari keluarga yang sangat Katolik. Jadi,
mereka menerima saya menjadi rohaniwan dan tidak berkeluarga. Mereka mau
terima, katakanlah sebagai semacam pengorbanan. Dan mereka akhirnya juga
terima waktu saya mengatakan, saya memberitahu bahwa akan ke Indonesia.
Saya separuh memberitahu sesudah saya pastikan bahwa saya diizinkan ke
sini.
Jadi, mereka merelakan. Dan orangtua saya pernah ke Indonesia, waktu
saya ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1967 di Yogyakarta. Ayah dan
ibu saya datang, mereka tiga minggu tinggal di Indonesia, kami
putar-putar, dan itu sangat menghibur mereka karena mereka mendapat
kesan baik dari Indonesia waktu itu, dan melihat Indonesia negara yang
bagus, tidak lagi membayangkan macam-macam, tidak takut saya dalam
bahaya.
Dan, saya kan lima atau enam tahun sekali kurang lebih pulang,
beberapa bulan berada di sana. Sekarang orangtua saya sudah tidak ada,
tetapi saya masih punya lima keluarga adik. Dan biasanya, kalau ke
Jerman saya mengunjungi mereka, atau sebagian dari mereka.
Saya akhir-akhir ini cukup sering ke Jerman, rata-rata dua kali
setahun. Tapi pendek, atas undangan orang. Jadi, saya dibayar, dibayar
tiketnya, diminta mengikuti seminar tentang Indonesia, dan saya biasanya
lalu menambah dua minggu di sana. Sekarang, kan, saya sudah tua, jadi
tidak apa-apa lama-lama.
Apa saja pertanyaan pokok warga Jerman tentang Indonesia, kepada Romo?
Susah. Bertanya bagaimana Indonesia itu sangat susah dijawab.Tapi,
yang ingin mereka tanya, apa saya baik-baik, apa saya kerasan, apa ada
ancaman, apa ada bom yang meledak di dekat saya. Saya selalu menjawab
pertanyaan itu. Saya, dengan semua orang Indonesia ini, barangkali tidak
takut bom karena memang bom bisa meledak tidak hanya di Indonesia. Kalau
menjadi kehendak Tuhan, ya, kita yang kena. Tapi dari dua ratus sekian
juta orang, yang kena biasanya hanya sepuluh.
Dan, yang jauh lebih berbahaya, saya katakan selalu, di Indonesia itu
lalu lintas biasa. Itu selalu berbahaya. Saya, kalau terbang ke Eropa
resiko paling besar adalah perjalanan ke Soekarno-Hatta itu. Lalu, yang
kedua di sini kriminal biasa.
Tapi, mereka terutama, juga kadang-kadang tanya, apakah saya sebagai
Romo Katolik terancam atau tidak. Saya katakan, saya tidak terancam,
saya tidak mengkhawatirkan hal itu sama sekali, dan itu tidak akan
terjadi kalau kita tidak kebetulan ada di daerah yang memang perang.
Justru, saya akan sangat aman dengan saudara muslim. Dengan
masyarakat muslim saya selalu diterima dengan amat baik. Sama sekali
saya tidak perlu takut. Tidak ada itu, orang karena dia seorang Pastor
Katolik menusuk.
Apa sumbangan terbesar yang ingin Romo berikan kepada bangsa, yang
mayoritas berpenduduk muslim, negara muslim terbesar di dunia,
berpenduduk terbesar keempat di dunia, negara demokrasi terbesar ketiga
dunia setelah Amerika Serikat dan India?
Saya ingin membantu, baik umat saya sendiri, maupun umat beragama
lain sejauh mereka menginginkannya, untuk berani bersikap terbuka,
berpikir secara rasional dan dialogal, untuk saling bertoleransi, dan
saling menghormati.
Kebetulan saya menekuni filsafat yang membantu orang mengembangkan
sikap-sikap itu. Saya merasa bahwa dengan membantu orang berpikir dengan
jernih, terbuka, berani, dan tenang, saya dgpat menyumbangkan sesuatu
pada perkembangan masyarakat.
Apa yang Romo maksud dengan hipotesa, Indonesia sedang terlibat dalam
perubahan paham tentang manusia, dari "orang kita-orang asing" menuju ke
"martabat manusia universal"?
Manusia pasca-tradisional mampu berkomunikasi dengan orang lain
sebagai manusia, bukan hanya atas dasar hubungan primordial. Ia melihat
orang lain bukan hanya sebagai orang se-keluarga, se-kampung, se-suku,
se-umat beragama, atau pun sebagai orang asing, melainkan sebagai
manusia.
Ia sadar bahwa ada macam-macam manusia, dengan pandangan budaya,
bahkan dengan tampak lahiriah, yang cukup berbeda. Ia menerima kenyataan
itu. Ia tidak lagi resah dengan kenyataan itu. Maka ia juga mampu
memperlakukan mereka semua dengan adil, menghormati hak-hak mereka,
memahami apa yang dimaksud dengan hak-hak asasi manusia. Proses itu
berkaitan erat dengan modernisasi kultural. Proses itu sedang terjadi di
Indonesia sekarang ini.
Cukup dominankah peran agama pada proses perubahan paradigma itu,
mengapa perubahan baru terjadi sekarang?
Agama tidak memainkan peranan signifikan dalam proses ini, meskipun
secara normatif, apabila orang sudah menjadi manusia pasca-tradisional,
ternyata mendukungnya.
Tetapi, keanggotaan dalam agama merupakan realitas primordial. Dan,
tidak mudah mengatasi primoridalisme sedemikian rupa hingga orang dari
agama dan keyakinan religius lain juga sepenuhnya diakui sebagai orang
yang sama hak dan kewajibannya. Akan tetapi, bagi orang yang semakin
menghayati paradigma baru, ajaran agama sendiri merupakan dukungan.
Faham sekularistik membawa zaman maju dan berkembang. Mengapa
kemunculan awalnya bernada anti-agama, adakah paham dalam agama
menghambat kemajuan?
Tidak di mana-mana sekularisasi bersifat anti-agama. Di AS, misalnya,
tidak pernah ada sentimen anti-agama. Masyarakat itu sekuler dan agamis
sekaligus. Tetapi di beberapa daerah di Eropa, khususnya yang Katolik di
Eropa selatan, sekularisasi muncul dalam bentuk sekularisme yang keras
anti-agama, anti agama Katolik.
Latar belakangnya adalah kedudukan kuat Gereja Katolik dalam bidang
politik dan budaya, yang di abad ke-18 dianggap menghambat modernitas.
Baru di abad ke-20 ketegangan itu teratasi. Maka “laikalisme”, sikap
keras anti "klerus" (hirarki dan rohaniwan/rohaniwati Katolik) --yang di
Prancis mendasari sekularisme di sekolah-sekolah-- sekarang tidak lagi
begitu terasa. (Dan, di Prancis, malah Islam yang merasakan akibat sikap
negara yang semula diarahkan ke Gereja Katolik).
Romo mengatakan untuk menegakkan toleransi, mencapai perdamaian
multikultural, alasan klasik benturan perbedaan etnis dan agama sudah
tergantikan oleh antara “pendatang dan penduduk asli”. Dalam konteks
Indonesia yang multikultural, bagaimana melepaskan sekat-sekat golongan
eksklusivisme?
Sekat-sekat eksklusivisme hanya bisa diatasi dengan mengembangkan
kehidupan demokratis, serta memfasilitasi komunikasi antar suku,
golongan, umat beragama, ras. Segala usaha untuk menyekat masyarakat,
misalnya melarang anak bergaul dengan anak beragama lain, itu mengancam
perdamaian dalam masyarakat dan merupakan sikap jalan buntu. Hanya
komunikasi terbuka mengajar anak, jadi orang untuk tahu betul bahwa
saudara-saudari lain suku, lain agama, sama saja manusia dengan baiknya
dan buruknya.
Dikotomi pendatang dan penduduk asli adalah keniscahyaan di
Indonesia. Apakah benturan kultural sesuatu yang tak mungkin berakhir,
apalagi semangat mementingkan golongan alamiah sifatnya?
Khususnya kemungkinan konflik antara penduduk asli dan pendatang
perlu diwaspadai, karena bisa dipicu oleh persaingan ekonomis. Pendatang
sering oleh penduduk asli dianggap “kurang peka”, diberi kesempatan
lebih banyak, “mau merebut”, dan lain sebagainya.
Dan sebaliknya, para pendatang menganggap penduduk asli "malas", “tertutup”,
“berprasangka”, dan lain sebagainya. Di situ, baik pendidikan di sekolah
maupun bimbingan oleh pemerintah penting.
Untuk menjadi makhluk berbudaya, meninggalkan sikap lama “agama saya
yang paling betul dan yang lain patut dicurigai”, peranan pendidikan
strategis. Menurut Romo, substansi pendidikan seperti apa yang
melahirkan makhluk berbudaya seperti itu?
Pendidikan agama yang benar boleh saja tetap menegaskan keyakinan
akan kebenaran agamanya sendiri. Tetapi, sekaligus mengajarkan hormat
terhadap keyakinan-keyakinan lain.
Diajarkan bahwa yang menilai keyakinan orang adalah Tuhan, bukan
manusia. Maka, kalau “saya” meyakini agama saya sebagai “kebenaran”,
saya memang tidak akan mengakui agama lain sebagai kebenaran (dan itu
wajar). Tetapi, saya dapat menghormati keyakinan lain, saya dapat
melihat segi-segi positif dalam keyakinan beragama lain. Dan kita dapat
bekerja sama untuk menciptakan masyarakat lebih baik.
Makhluk yang berbudaya itu sendiri, apa ciri-ciri dan orientasinya?
Makhluk berbudaya, pertama-tama adalah orang yang mampu membawa diri
secara beradab dalam segala situasi dan dengan sendirinya tidak pernah
memakai kekerasan, kecuali untuk membela diri, atau dalam menjalankan
tugasnya sebagai polisi/tentara.
Ia tidak memukul orang dengannya ia bertabrakan. Ia bisa berbeda
pendapat tajam, bahkan bertengkar, tetapi tidak memakai kekerasan. Ia
selalu membawa diri secara beradab.
Agama-agama Abrahami mempunyai kekhasan eksklusif dan menganggap diri
yang paling benar. Mengapa demikian padahal sumbernya sama, sedangkan
dengan agama lain di luar Abrahami justru jarang terjadi benturan?
Keyakinan akan sebuah kebenaran dengan sendirinya eksklusif. Itu,
belum suatu kelemahan.
Apabila saya sebagai orang Kristen meyakini Yesus sebagai “jalan,
kehidupan, dan kebenaran” (Joh. 14:6), dan bahwa “tidak ada nama lain
diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah
4:12), dengan sendirinya yakin bahwa Yesuslah pewahyuan diri Allah yang
total, sehingga ia tidak dapat menemukan dalam tulisan-tulisan lain
wahyu Tuhan.
Begitu orang Islam, dapat saja mengakui bahwa Yesus seorang nabi
besar, tetapi tidak mungkin ia menerima bahwa Yesus adalah “Putera
Allah”. Kalau dua agama berbeda, itu sama dengan mengatakan bahwa mereka
mempunyai pandangan yang tidak, sekurang-kurangnya tidak seluruhnya,
dapat disesuaikan.
Sikap meyakini kebenaran agamanya sendiri adalah wajar, asal tidak
menghina keyakinan agama lain. Serahkan kepada Allah. Jadi, toleransi
tidak menuntut agar orang mengurangi iman dalam rangka agamanya sendiri.
Melainkan, bahwa orang bersedia menerima baik eksistensi orang
berkeyakinan lain dalam keberlainannya.
Justru itulah yang dituntut dalam masyarakat plural modern. Kita tahu
dan menerima bahwa orang dengan segala macam keyakinan religius yang
tidak dapat kita ikuti sendiri, yang juga tidak perlu kita nilai, kita
akui benar, tetapi kita menghormati keberadaan semua umat dan orang itu.
Baru, itulah sikap sesuai modernitas.
Dalam konteks sebagai penganut agama yang baik toleransi masih
sesuatu yang mustahil, walau semua agama mengajarkan sama kebaikan.
Haruskah kadar keagamaan umat direduksi agar terhindar benturan?
Maka toleransi sangat perlu. Masyarakat Indonesia secara tradisional,
barangkali karena pluralitas suku dan kepulauan, sudah tahu ada banyak
perbedaan dan mampu menerimanya dengan baik. Itulah toleransi
tradisional bangsa Indonesia.
Maka, bangsa Indonesia tidak perlu mengalami kesulitan untuk
membangun masyarakat modern yang toleran.
Ancaman terhadap toleransi
tidak terletak dalam budaya masyarakat, melainkan dalam eksklusivisme
ideologis dan agamis. Jadi, orang-orang yang berdasarkan teori dan
keyakinan sempit-fanatik mau memaksakan pandangan mereka kepada yang
lain-lain.
Untuk menjadikan pluralisme berkembang baik, seperti di Amerika, mana
sumbangan terbesar agama atau sekuralistik? Mengapa rakyat Indonesia
tidak bisa inklusif, merasa di rumah sendiri jika merantau ke daerah
lain?
Rakyat Indonesia bisa cukup inklusif asal tidak dihasut oleh
pihak-pihak sempit-fanatik. Ajaran agama-agama benar sebetulnya
mendukung penerimaan pluralitas. Maka yang penting agar di dalam umat
masing-masing inklusivisme dikembangkan.
Tentang masih adanya aliran atau faham-faham sempit-fanatik di
Indonesia, apa pendapat Romo?
Saya sendiri paling banyak tahu dengan orang-orang yang fahamnya
terbuka, atau sekurang-kurangnya yang fahamnya di tengah. Kalau mereka,
yang sungguh-sungguh sangat ekstrim, tidak terima untuk berkomunikasi
dengan orang luar, mereka merasa malah akan memperlemah iman sendiri.
Tetapi, khususnya menyangkut Islam sebagian besar misalnya pemuda
atau remaja Muhammadiyah, Ikatan Remaja Muhammadiyah, NU, HMI, itu
justru ingin mendengar sesuatu dari saya, lihat saya sebagai kesempatan
bertanya tentang segala pertanyaan kekristenan yang menggganggu mereka,
mereka akan tanya.
Jadi, yang sungguh ekstrim ya sudah, saya tidak bisa mengubah. Sikap
saya adalah, bahwa itu urusan masing-masing agama. Jadi saya akan
mengecam orang garis keras di kalangan Kristen, bukan di kalangan Islam.
Di kalangan Islam biar orang Islam yang mengecam.
Saya bukan orang yang bisa mengatakan, Islam harus begini, Islam
harus begitu. Saya bisa mengatakan, bersyukurlah bahwa bagian terbesar
Islam ternyata tidak mengancam eksistensi yang lain-lain. Harus juga
dikatakan, ini suatu fakta, bahwa bahkan kelompok-kelompok yang garis
keras, yang misalnya memperjuangkan syariah, sebetulnya tidak pernah
mengancam eksistensi agama-agama lain.
Mereka mengatakan kami tidak akan merugikan agama lain karena syariah
itu bagi umat Islam. Apakah dalam praktek ada diskriminasi, itu lain
masalah. Tapi, dalam sasaran mereka tidak ada misalnya penghancuran umat
Kristen.
Islam selalu memberi tempat pada agama-agama buku. Dan saya kira,
sekarang agama buku tidak terbatas pada Kristen dan Yahudi, tetapi juga
Budhisme dan Hinduisme termasuk. Tentu, dulu sebagai warga negara kelas
dua. Tapi di situ, di Eropa, malah sama sekali tidak diizinkan. Nah,
sekarang tentu minoritas tidak menerima menjadi warga negara kelas dua.
Tapi, saya tidak melihat suatu tujuan untuk membersihkan negara ini dari
yang non Islam. Saya tidak melihat itu. ►
haposan -marjuka => Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|