| |
C © updated 27012004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/rpr eksekutif |
|
| |
Nama:
Franciscus “Frangky” Welirang
Lahir:
Padang, Sumatera Barat 9 November 1951
Istri:
Myra Salim
Mertua:
Soedono Salim alias Liem Sioe Liong alias Om Liem
Pendidikan:
Insinyur kimia bidang plastik, di Institute South Bank Polytechnic,
London, Inggris tahun 1974.
Karir:
1. Salim Economic Development, pada tahun 1974 hingga 1975.
2. Wakil General Manager, Bogasari Flour Mills tahun 1977 hingga 1991
3. General Manager, Bogasari Flour Mills, tahun 1991-1992.
4. Chief Executive Officer, Presiden Direktur, Bogasari Flour Mills tahun
1992 hingga sekarang
5. Direktur, PT Indofood Sukses Makmur, tahun 1992 hingga sekarang
6. Direktur, PT Indocement Tunggal Prakarsa, tahun 1991 hingga sekarang
Pabrik Bogasari I:
Berdiri: 29 November 1971
Lokasi: Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta
Pabrik Bogasari II:
Berdiri: 10 Juli 1972
Lokasi: Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya
Pangsa Pasar Bogasari:
70 persen
Omset Bogasari:
Rp 4,5 trilyun pertahun
Aset Bogasari:
Rp 3,2 trilyun
Penulis:
Haposan Tampubolon, dari berbagai sumber
|
|
| |
|
|
|
|
Franciscus Welirang
Pewaris Lain Taipan Liem
Dia menikah dengan Myra Salim, putri taipan terbesar era Soeharto yaitu
Soedono Salim atau Liem Sioe Liong atau Om Liem. Dikaruniai dua putri,
pria paruh baya kelahiran Padang, Sumatera Barat 9 November 1951 ini
menjadi pewaris lain imperium bisnis Salim Grup. Selain direktur pada PT
Indofood Sukses Makmur (ISM) produsen makanan kesohor, dia dipercaya
sebagai pemimpin tertinggi Chief Executive Officer (CEO) dan Presiden
Direktur pada PT Bogasari Flour Mills, industri tepung terigu terbesar di
dunia. Walau sebagai pewaris lain, Franciscus “Frangky” Welirang tidaklah
dengan mudah menerima warisan.
Sosok Frangky mulai muncul di atmosfir Salim Grup setelah menamatkan
pendidikan insinyur kimia bidang plastik, di Institute South Bank
Polytechnic, London, Inggris tahun 1974. Pria muda yang selalu merendah
alias low profile itu, mengawali sepakterjangnya dengan bergabung pada
Salim Economic Development pada tahun 1974 hingga 1975. Pada tahun 1977
hingga 1991 dia mulai diorbitkan ke salah satu anak perusahaan Salim Grup
di Bogasari Flour Mills sebagai Wakil General Manager, dan makin
dipopulerkan di lingkungan Salim sebagai General Manager pada tahun
1991-1992.
Selepas itu, pada tahun 1992 Frangky mulai dirotasi tour of duty sebagai
direktur pada PT Indocement Tunggal Prakarsa, juga milik Salim Grup.
Ketika Bogasari diakuisisi oleh PT Indofood Sukses Makmur (ISM) demi
kepentingan strategi perusahaan, Frangky Welirang ikut terbawa promosi
menjadi direktur pada PT ISM, hingga sekarang. Ketika Eva Riyanti Hutapea
menyatakan mundur sebagai CEO dan presiden direktur pada PT ISM, nama yang
dominan muncul pengganti Eva pada RUPS bulan Mei nanti adalah Frangky.
Pada Bogasari sendiri, terakhir dia ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi
sebagai CEO dan presiden direktur.
Selain “putra mahkota” Anthony Salim adalah Franciscus Welirang yang akan
merajai bisnis Salim di kemudian hari. Namun yang menarik dari diri
Frangky adalah kesederhanaan dan keinginannya yang besar membina pengusaha
kecil. Pembinaan ini akan menentukan cetak biru kemajuan usahanya sebab
bisnis tepung terigu yang ditangani Bogasari –demikian pula Indofood
dengan mie instannya—sampai ke tangan konsumen adalah melalui jasa para
pengusaha kecil termasuk pedagang kue dan mie instan di kaki lima. Jumlah
mereka yang menjadi ujung tombak pemasar pun tidak sedikit bisa puluhan
ribu tersebar di seluruh Indonesia. Bagi masyarakat awam maupun elit kelas
menengah atas makanan roti, kue-kue, mie instan dan makanan ringan lain
berbahan baku terigu telah menjadi makanan pokok kedua setelah nasi.
Frangky sendiri mengakui, bahkan berprinsip bahwa pengusaha kecil adalah
jaringan bisnis yang membuat besar Bogasari. Mitra bisnis Bogasari itu,
disebutkan Frangky misalnya pedagang roti, pedagang bakso, maupun pedagang
kue basah di emperan toko Pasar Senen dan Blok M. Kalau mereka bertumbuh
dan berkembang, demikian Frangky, tentunya Bogasari juga berkembang. Kalau
mereka bangkrut, Bogasari juga tutup.
Frangky menyebutkan terdapat puluhan ribu orang pengusaha kecil dalam
naungannya. Mereka semua memperoleh bantuan dan binaan. Bantuan itu,
misalnya berupa dana, penyuluhan, latihan, dan konsultasi untuk memperkuat
para pengusaha kecil. Mereka itulah yang secara alamiah menjadi jaringan
usaha terpenting serta berperan membesarkan Bogasari, dan sebagai
timbal-balik mereka dibina oleh Bogasari. Menurut Frangky, pembinaan ini
sudah dilakukan sejak awal Bogasari berdiri.
Bogasari mendirikan Kelompok Wacana Mitra lembaga khusus membina pengusaha
kecil. Kelompok ini terjun langsung memberikan latihan dan penyuluhan
bagaimana mengelola usaha kecil, etika bisnis, administrasi keuangan,
kualitas produk, dan pengetahuan lainnya. Diterbitkan pula buletin Wacana
Mitra untuk memberikan edukasi, dorongan dan semangat kepada pengusaha
kecil melalui artikel-artikel yang dimuat. Misalnya tulisan tentang
keberhasilan pengusaha Mie Kocok Bandung, atau pengusaha roti bantal dan
sebagainya.
Bogasari adalah satu dari empat produsen terigu dengan omset pertahun
mencapai Rp lima trilyun. Tiga lainnya PT Sriboga, PT Panganmas, dan PT
Berikari. Sebagai produsen terbesar, pangsa pasar terigu yang tiap tahun
bertambah lima hingga sepuluh persen itu sekitar 70 persen dikuasai oleh
Bogasari. Pertambahan pangsa pasar terigu nasional antara lain dipicu oleh
semakin besarnya masyarakat untuk mengkonsumsi makanan bukan nasi seperti
roti, mie, kue, biskuit, demikian pula maraknya kemunculan restoran cepat
saji (fastfood) yang menawarkan aneka jenis makanan seperti burger, hot
dog, pizza, kebab, donat yang sebagian besarnya berbahan baku terigu.
Bogasari yang pendiriannya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 19 Mei
1971, itu dimaksudkan untuk mengolah biji gandum menjadi tepung terigu.
Pabrik pertama dibangun di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta di
atas tanah 10 hektar dengan kapasitas olah 9.500 ton gandung perhari,
pabrik kedua didirikan di lokasi pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya
diresmikan pada 1972 dengan kapasitas olah 5.000 ton gandum perhari. Total
mempekerjakan 4.000 orang karyawan, jadilah Bogasari industi terigu
terbesar di Indonesia.
Menarik mencermati kuatnya penguasaan pasar oleh Bogasari. Ada yang
menuding, sejak awal perusahaan ini telah memperoleh “lisensi” monopoli.
Apalagi, mengingat kedekatan Pak Harto dengan Om Liem sejak sama-sama di
Semarang. Namun Frangky Welirang menyatakan berbeda. Menurut Frangky,
industri ini memang harus memiliki kekuatan. Toh, kata Frangky, Bogasari
bukanlah satu-satunya industri terigu dan ketiga industri lain itu diberi
kesempatan sama untuk berkembang.
“Namun, soal strategi penjualan dan kualitas produksi belum tentu sama.
Kita memiliki cara sendiri-sendiri. Pasar juga menentukan siapa yang
terbaik,” jelas Franciscus Welirang. Dia mencatat ada beberapa hal yang
membuat Bogasari unggul. Misalnya, strategi pembentukan jaringan pemasaran
dan penjualan yang jauh lebih baik dibanding tiga pesaing, kekuatan modal
yang memberi pengaruh signifikan terhadap keberhasilan pemasaran, serta
kualitas produksi dan strategi promosi yang membuat produk Bogasari laku
terjual di pasar.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|