| |
C © updated 20092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/im |
|
| |
Nama:
Felix Tan (Tan Fay Tjhion)
Lahir:
Bangka 1920
Isteri:
Ami Tan
Anak:
8 orang
Pendidikan:
= Pendidikan Sekolah Belanda HCS Holand Chinese School (sekolah
dasar)
= Mulo (SMP)
= AMS Algemene Middelbare School (SMA) sekarang (Kanisius)
= University of Leiden Belanda, Anthropologi,1946-52
= Master in Library science dari Library science di New York University,
1962
Pekerjaan:
= Dosen IKIP Bandung, Universitas Pajajaran Bandung, Universitas
Parahyangan, Akademi Pendidikan Jasmani IKIP
= Penulis di Intisari dan Kompas
= Dosen Maunaolu College sampai 1968-1975
Dosen University of Hawaii sampai tahun 1999
Organisasi:
Pendiri Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia
Sumber:
Indonesia media (www.indonesiamedia.com/
rubrik/tokoh/tokoh00july.htm)
|
|
| |
|
|
|
|
Felix Tan (Tan Fay Tjhion)
Kolumnis Intisari & Kompas
Kolumnis kelahiran di Belinyu,Bangka 1920 dan mantan dosen IKIP Bandung
ini selama tiga dekade aktif menulis di Intisari dan Kompas . Pada
zamannya (1950-1980-an) nama Felix Tan tak asing bagi masyarakat.
Anthropolog University of Leiden Belanda ini menikmati hari tuanya di
Hawaii, penuh dengan vitalitas dan tetap nyentrik membuatnya tampak lebih
muda dari usianya.
Lahir di Belinyu,Bangka 1920 ,Pendidikan Sekolah Belanda HCS Holand
Chinese School (sekolah dasar), Mulo (SMP), AMS Algemene Middelbare School
(SMA) sekarang (Kanisius), Setelah itu berangkat ke negeri Belanda dan
meneruskan di University of Leiden Belanda, mengambil fak Anthropologi,
selama 6 tahun 1946-52 beliau menuntut ilmu dirantau. Kabarnya sebelum
berangkat kenegeri Belanda dia sudah dipesan oleh orang tua "awas jangan
sampai nanti pulang menggondol cewek bule". Rupanya petuah itu dipatuhinya,
akhirnya dia memperisteri orang sebangsanya, Ami Tan yang memberikannya 8
anak.
Setelah lulus sebagai doktorandus Anthropologi beliau kembali ke
tanah air dan bekerja sebagai tenaga pengajar di IKIP Bandung. Tahun 1954
Felix mengikuti kursus B1 dan B2 untuk qualifikasi pengajar yang mana
berakhir dengan diangkatnya beliau menjadi direktur penyelenggara kursus
B1 dan B2 itu. Felix Tan diangkat menjadi dosen part time di berbagai
sekolah termasuk; Universitas Pajajaran Bandung, Universitas Parahyangan,
Akademi Pendidikan Jasmani, dan IKIP. Pada tahun 1960 dikirim pemerintah
Indonesia ke Amerika Serikat untuk menekuni Library science di New York
University. 1962 dapat gelar Master in Library science, dipekerjakan di
MPRS sebagai part time translator, pekerjaannya terlalu politis dan dia
tidak suka.
Bertemu dengan PK Ojong
Tahun 1953 pada waktu itu Auwyong Peng Koen (PK Ojong) menangani Star
weekly, sebuah majalah berbahasa Melayu, dan Keng Po sebagai koran harian.
Kebetulan suatu hari PK Ojong datang ke Museum Gajah, jalan Merdeka Barat,
Jakarta. Saat itu Felix Tan sedang bekerja di museum Gedung Gajah sebagai
anthropolog, begitu ketemu dan ngobrol, langsung cocok bagaikan bertemu
kawan lama. Kemudian dia ditawarkan menjadi penulis di majalah dan
korannya yang kemudian kita kenal dengan “Intisari” sebagai majalah
bulanan yang formatnya mirip Readers digest, dan “Kompas” sebagai harian
yang sampai hari ini tergolong sebagai surat kabar Indonesia yang terbesar.
Mulanya Felix tak sanggup karena bahasa Indonesianya kurang baik
disebabkan dalam pendidikannya dia selalu menggunakan bahasa Belanda. Peng
Koen tak keberatan dan bersedia menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Maka mulailah Felix Tan menulis sebagai salah satu kolumnis di Star
Weekly. Setelah 3 bulan PK ojong minta beliau tulis dalam bahasa
Indonesia, “ Jij musti bisa tulis dalem bahasa Indonesia, andaikata ada
kata-kata kurang pasti boleh ditulis dalem bahasa Belanda”, demikian ujar
Peng Koen setengah memaksa.
Setelah 6 bulan beliau menjadi fasih dalam tulisan bahasa Indonesia. Pada
saat meletusnya G-30-S Felix Tan pernah menulis report yang lengkap
beserta foto-foto tentang aktivitas disekitar G-30-S di Bandung, laporan
ini dimuat satu halaman penuh didepan harian Kompas secara exclusive, dan
prestasinya sempat menarik pengamat jurnalistik Internasional. Menyusul
dia mendapatkan penghargaan Jurnalist Prize dari US.
Artikel artikel yang ditulis Felix antara lain ; “Siapa yang
asli?”(membahas asal usul suku suku yang berdiam di kepulauan Indonesia),
“Surat dari Bandung” (semacam editorial mingguan yang dicetak pada harian
Kompas, isinya politik dan masalah sosial), dan rubrik “Pengalaman hidup
di Amerika” (semacam pengalaman Jusni Hilwan (Toronto) yang selama ini di
publisir di Indonesia Media).
1968 , mengapa hijrah ke AS ?.
Karena pada kerusuhan (riot) di Bandung May 63' anak perempuan yang tertua
yang saat itu berusia 8 tahun mendapatkan tekanan psikologis yang tak
terduga. Saat itu Felix menjemput puterinya dari sekolah dan menemukan
anaknya menangis, ketika itu sang anak bertanya; “ Pah, kita orang C…?.
Kenapa mereka bilang saya C…? Bukankah kita orang Indonesia??” Felix Tan
tiba tiba tersentak bak terbangun dari tidur. Karena selamanya dia selalu
mengajarkan kepada keluarganya bahwa “kita adalah orang Indonesia” .
Bahkan sewaktu dia sekolah di negeri Belanda dia selalu mengatakan bahwa
dia orang Indonesia dan sewaktu dia membentuk liga sepak bola dia selalu
bermain di kubu orang orang Indonesia (pribumi). Pada saat itu Felix
bersahabat dengan mahasiswa yang bernama Munadja yang kelak menjadi
sekretaris di Majelis Permusyawaratan Rakyat, karena itulah kemudian Felix
dipercaya untuk bekerja sebagai penterjemah di MPR(S). Bahasa bahasa yang
dipahami, Indonesia, Mandarin, Khe (Hakka), Belanda, Inggeris, German ,
Spanyol, Perancis.
Beliau juga adalah pendiri dari KASI, Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia.
Felix adalah salah satu dari sembilan orang yang mendirikan KASI. Mulai
saat itu dia merasa sangat kecewa dengan Shindunata seorang pelopor
asimilsasi. Felix menyatakan bahwa asimilasi pemaksaan seperti ; ganti
nama, kawin campur (kecuali secara alamiah suka sama suka) itu adalah cara
yang salah besar. Dia selalu mengkritik Sindhunata dalam setiap kesempatan
untuk masalah ini. Selama 8 tahun anaknya tidak tahu dia adalah Tionghoa
dan huruhara membuat anaknya bertanya kita orang C... ,papa?, sebab dia
selalu ajarkan kepada ke 8 anaknya (4 putera dan 4 puteri) “kita orang
Indonesia”,demikian beliau menunjukan semangat nasionalisnya.
Pengalaman lain yang menyedihkan anaknya sewaktu disekolah yaitu ; kalau
tidak kasih contek kepada kawan kelasnya, maka timbullah segala hujatan
yang sudah tak asing lagi akhirnya, “Dasar C…”. Anaknya di stop dijalan
dan dirampas sepedanya dengan alasan rasis, “Kamu C… yah , serahkan
sepedamu”, demikian ucapan yang menyedihkan dia terima.
Lalu dia katakan kepada Sindhunata, “Kalau kamu sebagai orang keturunan
Tionghoa tidak mau bahasa , budaya dan tradisi Tionghoa, yah silahkan saja.
Tapi jangan halangi kami yang mau memilikinya. Kami semua adalah pendatang,
manusia asli di Indonesia adalah manusia purba (Phitecanthropus Erectus
yang sub speciesnya antara lain Solonensis, Wajanensis, atau yang dikenal
dengan manusia Trinil).
Jika kamu ingin saya hidup di vacum seperti lupakan Sin Cia, Cap Goh Meh,
Pek Cun atau lupakan sembahyang Tuhan Allah, dan budaya tradisi Tionghoa
dia tidak bisa menerima itu. Dia bilang kalau secara proses natural (alamiah),
itu OK , kalau anaknya kawin dengan pribumi, yah OK tapi tidak secara
dipaksakan. Menurut Felix dalam suatu nasion yang terdiri dari banyak
ragam suku dan budaya, hendaknya kemajemukan itu dipertahankan dan bahkan
harus dikembangkan karena itu merupakan aset bangsa yang tak ternilai.
“Saya datang ke Amerika lebih banyak mempelajari macam macam kebudayaan
dan baru saya rasakan bahwa Amerika Serikat begitu sangat menghargai aneka
ragam kebudayaan" tukasnya. Terbukti dengan begitu antusiasnya University
of Hawaii merekrut Felix sebagai dosen dalam bidang kebudayaan Asia.
Walaupun beliau sebagai sarjana anthropologi namun dedikasi dari Pak Felix
menuntutnya untuk lebih banyak lagi belajar. Semakin dia belajar semakin
dirasakan betapa pentingnya kebudayaan itu.
Felix yang sering juara Pingpong ini sangat mengagumi pribadi Yakob Utomo
(pemred Kompas). "Dia adalah salah seorang pribumi yang hebat dan terpuji"
cetusnya.
Dia datang ke Hawaii tahun 1968 , kerja di Library dan mengajar di
Maunaolu College sampai 1975, lalu diminta oleh Maui community college,
sebagai pengajar part time , ekonomi. Dia di call oleh komuniti college,
dia diinterview , dia ditanya pengetahuan ekonomi, lalu dia bilang dia
bukan ekonomis, pada saat setelah interview dia langsung diterima setelah
satu semester dia dikirim juga ke sekolah lainnya Molokai , semua ini
dalam naungan University of Hawaii sebagai Antropolog. juga mengajar
Taoisme, kemudian Felix harus mengajar Asian civilization selama 2 tahun,
maka dia dituntut belajar sambil mengajar. Bahkan pernah Pak Felix
mengajar 12 mata kuliah yang berbeda pada saat yang sama. Bagaimana
mungkin? Kuncinya yaitu philosofi mengajar, Tuhan menunjuk saya sebagai
manusia yang harus mengabdikan sebagai tenaga pengajar yang baik, untuk
itu saya juga harus belajar keras buat mempersiapkan bahan yang harus
diajarkan, demikain ujar Felix yang baru berhenti mengajar di University
of Hawaii pada tahun 1999, di usia 79 tahun. ►tsl-Indonesia
Media July 2000
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|