| FAUZI BOWO HOME |
|
|
 |
Fauzi Bowo-Prijanto
Jakarta, 26/12/2007: Fauzi Bowo dan Prijanto
yang menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta
periode 2007-2012 diharapkan mampu memberantas pungli yang masih
merajalela di Jakarta. Seperti pungli pengurusan KTP, domisili
perusahaan, pengurusan SIUP dan TDP yang masih merajalela. Fauzi Bowo-Prijanto
Jakarta, 7/10/2007: Fauzi Bowo dan Prijanto dilantik Menteri Dalam
Negeri Mardiyanto menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta
periode 2007-2012 dalam Sidang Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DKI Jakarta, Minggu (7/10/2007). Fauzi Bowo dan Prijanto dilantik berdasarkan Keputusan Presiden No
91/P/2007 tertanggal 22 September 2007 Fauzi Bowo
Jakarta, 8/8/2007: Pasangan
Fauzi Bowo-Prijanto hampir dipastikan memenangi Pilkada DKI 8 Agustus
2007. Berdasarkan penghitungan cepat (quick count) yang dilakukan
sejumlah lembaga independen, pasangan Fauzi Bowo-Prijanto meraih suara
sekitar 57-59 persen mengungguli pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar
yang meraih 41-43 persen. Hasil perhitungan cepat ini mempunyai margin
error hanya sekitar 1 persen. Hasil resmi Pilkada DKI ini akan diumumkan
KPU DKI pada 16 Agustus 2007.
==================================
Fauzi Bowo
Pemimpin Bijak dan Bersahaja
Dia pemimpin yang bijak dan bersahaja. Wakil Gubernur DKI Jakarta ini
didukung Koalisi Rakyat Jakarta yang dimotori Partai Demokrat, PDIP,
PPP, Partai Golkar dan beberapa partai dan Ormas lainnya untuk menjadi
Gubernur DKI Jakarta 2008-2003. Arsitektur putra bangsa asli Betawi ini
diyakini akan memenangkan Pilkada Gubernur DKI Jakarta, Agustus 2007
untuk menjamin kelanjutan pembangunan dan kerukunan warga Jakarta yang
heterogen.
Saat masih menjabat Sekretaris
Wilayah Daerah Propinsi
DKI, putra daerah Betawi ini dijagokan beberapa partai dan Badan Musyawarah (Bamus) Betawi sebagai salah satu
calon gubernur DKI. Namun, dia memilih tetap berpasangan dengan Sutiyoso,
dan terpilih sebagai Wakil Gubernur. Diperkirakan, Fauzi Bowo akan
menggantikan Sutiyoso melalui Pilkada langsung 2007.
Pada awalnya, mantan dosen Universitas Indonesia (1977-1984), ini sempat didaulat pendukungnya menjadi calon gubernur
2002.
Namun, kebersahajaan dan kebijaksanaannya dalam mengikuti proses yang bergulir,
akhirnya dia memilih berpasangan dengan Sutiyoso, dicalonkan Fraksi PDI-P dan Golkar.
Fraksi PAN dan beberapa partai kecil yang ingin
mengajukannya sebagai calon gubernur, tampaknya sempat kecewa.
Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raum Und
Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik
Federasi Jerman, 2000, ini seorang pekerja keras dan berdisiplin. Banyak bekerja sedikit bicara.
Dalam posisi sebagai Sekwilda bahkan sebagai Wakil Gubernur, Fauzi tidak banyak
bicara. Dia sangat bersahaja dalam menempatkan diri sesuai dengan
posisinya. Pria kelahiran
Jakarta, 10 April 1948 ini, lebih memilih berkarya daripada baanyak
bicara.
Lahir dan dibesarkan di ibukota Jakarta dari keluarga Betawi yang
mapan dan berpendidikan. Sempat masuk Fakultas Teknik Universitas
Indonesia 1966/1967, sebelum kemudian melanjutkannya
di Technische Universitat Brunschweig, Jerman. Dari universitas ini dia
meraih gelar
Sarjana Arsitektur, bidang Perencanaan Kota dan Wilayah.
Beberapa tahun kemudian, dia
melanjutkan pendidikan arsitekturnya pada Universitat Kaiserlautern,
Jerman, dan memperoleh gelar Doktor Ingenieur (Ing) dengan predikat Cum
Laude, dengan tesis tentang pola tata ruang kota
Jakarta.
Suami dari Hj.
Sri Hartati dan ayah dari tiga orang anak, kemudian mendalami pendidikan
pemerintahan dan kepemimpinan dengan mengikuti Sespanas (1989) dan Lemhanas (2000).
Putra bangsa asli Betawi ini memiliki hobi membaca dan
fotografi. Sejak mahasiswa dia juga sudah aktif dalam berbagai organisasi.
Ketika di UI dia salah seorang aktivis KAMI Fakultas Teknik UI
(1966/1967). Saat kuliah di Jerman, dia juga aktif dalam organisasi Persatuan
Pelajar Indonesia di Jerman Barat.
Selain organisasi kemahasiswaan, dia juga aktif sebagai anggota
Dewan Pertimbangan Pemuda KNPI Pusat 1982-1984. Juga aktif di Kosgoro
dan Golkar. Bahkan dia sempat menjabat bendahara DPD Golkar DKI selama 10 tahun
(1983-1993).
Karirnya di Pemda DKI cukup panjang. Tahun 1979-1982 sudah menjabat Pelaksana tugas Kepala Biro Kepala Daerah DKI.
Kemudian menjadi Pejabat sementara (Pjs) Kabiro Kepala Daerah DKI (1982-1986), Pejabat Kabiro Kepala Daerah DKI (1986-1988).
Setelah itu dipercaya menjabat Kepala Dinas Pariwisata DKI (1993-98)
sebelum diangkat sebagai Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) DKI Jakarta (1998-2002).
Terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta (2002-2007) berpasangan
dengan Suyiyoso.
Arsitektur
Wagub DKI Fauzi Bowo mengatakan di Balaikota, Jumat (24/12/2004),
kawasan Kota Tua yang meliputi sebagian wilayah Jakarta Barat dan
Jakarta Utara harus ditata menjadi daerah tujuan bukan lagi daerah
perlintasan.
Hal itu dikemukakan sejalan dengan pencanangan revitalisasi Kota Tua
oleh Perkumpulan Jakarta Oldtown Kotaku, pimpinan Miranda S Goeltom pada
12 Desember 2004. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah arsitek, pemilik
bangunan dan pecinta Kota Tua.
“Kita akan review tata ruang pada tahun 2005. Kawasan itu akan
dijadikan destinasi atau daerah tujuan. Angkutan dan truk barang nanti
diatur (tidak masuk ke kawasan itu),” ujar Fauzi.
Dalam rangka penataan itu, Stasiun Kota akan dijadikan stasiun
regional yang hanya melayani daerah Jakarta dan sekitarnya dan tidak
lagi menjadi stasiun antar-kota.
Sementara untuk membuka kawasan tersebut lebih menarik yang
dikembangkan tidak hanya potensi historis, tetapi juga potensi komersial.
Menurutnya, daerah sekitar Kota Tua harus ikut ditata. Kawasan itu punya
potensi untuk dikembangkan hingga menjadi potensi baru yang punya nilai
komersial tinggi. ►e-ti/tsl
===
Kompas, 2 Agustus 2007
IDEALISME FAUZI BOWO
E Caesar alexey
”Untuk membangun Jakarta, serahkanlah kepada ahlinya dan kepada yang
sudah berpengalaman. Jika tidak, kehancuran hanya tinggal menunggu
waktunya.”
Kalimat itu diucapkan berulang-ulang dan seakan menjadi salah satu
slogan utama dalam masa-masa kampanye calon gubernur Fauzi Bowo.
Di antara keempat calon gubernur dan wakil gubernur yang maju dalam
pilkada DKI Jakarta, Fauzi merupakan satu-satunya calon gubernur yang
paling berpengalaman di birokrasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia
sudah masuk dalam jajaran birokrasi sejak 30 tahun lalu dan tahun depan
akan menjadi tahun terakhirnya sebagai pegawai negeri sipil.
Karier Fauzi di birokrasi terhitung cepat. Latar belakang pendidikannya
yang tinggi membuat pria campuran Jawa-Betawi ini hampir tidak pernah
menjadi staf di suatu instansi. Sejak zaman Gubernur Tjokropranolo
sampai Soerjadi Soedirja, Fauzi selalu menjadi kepala biro atau kepala
dinas.
Fauzi mengawali pendidikannya di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas
Indonesia pada 1966-1967. Karena memperoleh beasiswa, Fauzi melanjutkan
studinya di Jurusan Teknik Arsitektur Perencanaan Kota dan Wilayah dari
Technische Universitat Braunschweig Republik Federasi Jerman pada 1968
dan lulus pada 1976.
Selama menjadi mahasiswa, Fauzi aktif di berbagai organisasi
kemahasiswaan, mulai dari KAMI sampai organisasi pelajar Indonesia di
Jerman Barat. Keaktifan itu yang membuat Fauzi matang dalam pengelolaan
organisasi dan membangun jaringan.
Pada 1979 atau dua tahun setelah lulus dari Jerman, Fauzi langsung
dipercaya sebagai pejabat sementara Kepala Biro Kepala Daerah DKI
Jakarta. Kariernya terus meningkat sampai menjadi Sekretaris Daerah pada
1998.
Pada 2002, Fauzi sempat mengajukan diri sebagai gubernur dalam pemilihan
gubernur yang masih dilakukan DPRD. Namun, setelah dibujuk beberapa
tokoh, Fauzi akhirnya memilih mendampingi Sutiyoso sebagai wakil
gubernur dan bukan menjadi pesaingnya.
Oleh rekan dan anak buahnya, Fauzi dikenal sebagai pribadi yang serius.
Semua pekerjaan harus dipastikan beres secara detail. Semua itu buah
pendidikan sejak kecil sampai dewasa.
Latar belakang
Fauzi Bowo merupakan anak Djohari Bowo bin Adipoetro dari Malang, Jawa
Timur, dan Nuraini binti Abdul Manaf yang asli Betawi. Fauzi yang lahir
di kalangan masyarakat Betawi mendapat pendidikan agama Islam yang ketat
di bawah bimbingan kakeknya, Abdul Manaf, dan beberapa ulama besar
Nahdlatul Ulama (NU) saat itu. Ketaatan beribadah dan penguasaan ilmu
agama yang unggul membuatnya mudah bergaul di kalangan NU. Fauzi bahkan
dipercaya menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU Jakarta.
Meskipun berdarah setengah Jawa setengah Betawi, Fauzi lebih banyak
mendapat pembelajaran budaya Betawi. Kecintaan terhadap budaya Betawi
dan kedekatan dengan berbagai kelompok dan tokoh Betawi membuatnya
diangkat menjadi Ketua Badan Musyawarah Betawi.
Untuk pendidikan formal, Fauzi justru mendapat pendidikan formal di
sekolah Katolik, SD St Belarminus, sampai SMP-SMA Kanisius. Prestasi
akademiknya tergolong sangat baik. Fauzi bahkan dapat berbicara bahasa
Belanda dan Inggris dengan fasih.
Keluarga besar Fauzi merupakan keluarga tuan tanah yang kaya. Itulah
yang membuat ia bisa bersekolah di sekolah elite dan kuliah ke luar
negeri. Kekayaan keluarganya juga sangat mendukung hobinya membaca
berbagai buku dan fotografi.
Saat remaja, Fauzi gemar berkeliling sampai ke pelosok Jakarta sehingga
mengerti persis perkembangan kawasan sejak masa lalu sampai saat ini. Di
sisi lain, Fauzi juga mempunyai kegemaran membaca semua jenis surat
kabar dan buku.
Dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, Fauzi menyusun
berbagai program untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Jakarta.
Salah satu programnya yang masih berjalan sampai saat ini adalah program
pemberdayaan masyarakat kelurahan (PPMK) yang memadukan partisipasi
masyarakat untuk memperbaiki perekonomian mikro.
Pada masa pemerintahan Sutiyoso, Fauzi juga merintis proyek transportasi
massal, seperti bus Transjakarta dan mass rapid transit (MRT) atau
angkutan massal cepat. Fauzi memang sering menangani proyek
infrastruktur berskala besar karena dinilai mampu mengatur perencanaan
sampai implementasi proyek raksasa.
Keseriusan Fauzi untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta kali
ini ditunjukkan dengan penggalangan massa sejak 2004. Dengan berbagai
pendekatan, Fauzi merangkul berbagai elemen massa, baik yang berbasis
keagamaan maupun kesukuan.
Berdasarkan data Fauzi Bowo Center, terdapat 20 partai politik yang
berhasil digalang untuk mendukung Fauzi. Dukungan juga datang dari 42
organisasi kemasyarakatan dan 47 kelompok masyarakat lainnya.
Fauzi yang sejak kecil dididik ajaran Islam yang ketat, tetapi juga
disekolahkan di sekolah Katolik dan mengenyam pendidikan tinggi di
Jerman, berhasil menyatukan kelompok yang berbeda aliran politik.
Pluralitas tampaknya sudah menjadi jiwa dalam dirinya. ”Saya sangat
mudah bergaul dan bekerja sama dengan semua kalangan karena sejak dulu
komunitas saya sudah beragam. Keberagaman justru merupakan modal yang
kuat untuk percepatan pembangunan,” kata Fauzi.
Rekan-rekannya semasa sekolah dan kuliah di Jerman ataupun di Jakarta
dia galang untuk mendukungnya. Untuk memperkuat pengaruhnya dan karena
kepercayaan publik, Fauzi juga masuk ke dalam struktur beberapa
organisasi, baik sebagai ketua maupun sebagai pengurus lainnya.
Keseriusan Fauzi mencalonkan diri juga ditunjukkan dengan menjual rumah
pribadinya senilai sekitar Rp 9 miliar sebagai modal awal kampanye dan
penggalangan organisasi pendukung. Paling tidak itulah pengakuannya.
”Saya bukan orang yang terlalu kaya, tetapi juga tidak miskin-miskin
amat. Saya dapat menyediakan modal awal kampanye tanpa minta bantuan
siapa pun meskipun harus menjual rumah. Namun, untuk selanjutnya, jika
ada donasi untuk kampanye, kami akan menerimanya,” kata Fauzi, sebelum
masa pilkada dimulai.
Fauzi mengaku meneladani mantan gubernur Ali Sadikin yang sering turun
ke tengah masyarakat untuk melihat langsung keadaan dan masalah serta
mencari solusi yang paling tepat. Untuk pilkada ini, Ali Sadikin juga
mendukung Fauzi sebagai calon gubernur.
Fauzi mempunyai gambaran ideal mengenai kota Jakarta. Ia mempunyai
obsesi: mewujudkan Jakarta untuk semua! Sebuah Jakarta tanpa
diskriminasi! (neli triana/r adhi kusumaputra)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|