| |
C © updated 08082007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/bangfauzibowo |
|
| |
Nama:
Dr. Ing H Fauzi Bowo
Lahir:
Jakarta, 10 April 1948
Agama:
Islam
Isteri:
Hj. Sri Hartati
Jabatan:
Wakil Gubernur DKI Jakarta
Pendidikan:
- Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia,
1996/1997
- Sarjana Teknik Arsitektur Perencanaan Kota dan Wilayah dari Technische
Universitat Braunschweig Republik Federasi Jerman1968/1976
- Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raum Und
Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik
Federasi Jerman, 2000
- Sepadya 1987
- Sespanas 1989
- Lemhannas KSA VIII/2000
Karir:
- Asisten Ahli Tech. Univ. Braunschweig sampai 1976
- Dosen UI, 1977 -1984
- Pelaksana tugas Kepala Biro Kepala Daerah DKI (1979-1982)
- Pejabat sementara (Pjs) Kabiro Kepala Daerah DKI (1982-1986)
- Pejabat Kabiro Kepala Daerah DKI (1986-1988)
- Kepala Dinas Pariwisata DKI (1993-1998)
- Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) DKI Jakarta (1998-2002)
- Wakil Gubernur DKI Jakarta (2002-2007)
Kegiatan Lain:
- Aktivis KAMI Fakultas Teknik Universitas Indonesia 1996/1997
- Aktivis Persatuan Pelajar Indonesia di Jerman Barat 1966/1967
- Anggota Dewan Pertimbangan Pemuda KNPI Pusat 1982-1984
Alamat Kantor:
Jl. Merdeka Selatan (Balai Agung)
Alamat Rumah:
Jl. Teuku Umar 24 Menteng
Jakarta- Pusat
E-mail:
- wagub@dki.go.id
bangfauzibowo@yahoo.co.id
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Fauzi Bowo
Gubernur DKI Pertama Pilihan Rakyat
Jakarta, 8/8/2007: Pasangan Fauzi Bowo-Prijanto hampir dipastikan
memenangi Pilkada DKI 8 Agustus 2007. Berdasarkan penghitungan cepat
(quick count) yang dilakukan sejumlah lembaga independen, pasangan Fauzi
Bowo-Prijanto meraih suara sekitar 57-59 persen mengungguli pasangan
Adang Daradjatun-Dani Anwar yang meraih 41-43 persen. Hasil perhitungan
cepat ini mempunyai margin error hanya sekitar 1 persen. Hasil resmi
Pilkada DKI ini akan diumumkan KPU DKI pada 16 Agustus 2007.
Pasangan Fauzi Bowo-Prijanto dalam pencalonannya didukung 20 Parpol, di
antaranya PDIP, Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, PAN, PDS, PBB, PBR.
Sementara pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar hanya didukung satu
partai (PKS). Para tim sukses Fauzi-Prijanto menyambut sukacita
kemenangan ini. Mereka menyebutnya sebagai kemenangan seluruh warga
Jakarta. Fauzi sendiri menilai hasil penghitungan cepat itu dapat
dipertanggungjawabkan karena dilakukan oleh ahlinya. "Walau ada margin
error, tapi ada taruhan profesionalisme mereka yang membuat quick
count," katanya.
Fauzi Bowo-Prijanto memperoleh legitimasi kuat dari pilihan rakyat
langsung dan dukungan 20 Parpol. Kemampuan Fauzi mempersamakan persepsi,
visi dan misi dengan 20 Parpol suatu modal kuat untuk menyukseskan
program-programnya sebagai Gubernur DKI pertama pilihan rakyat.
Bagi Adang Daradjatun mengukuti Pilkada Gubernur DKI merupakan
pengalaman pertama dalam dunia politik praktis. Ketulusan dan
keluguannya dalam politik membuatnya yakin akan bisa memenangkan Pilkada
Gubernur DKI walau hanya didukung satu partai (Partai Keadilan Sejahtera),
harus dibayar mahal sebagai pelajaran pertama. Ketidakmampuan Adang
mempersamakan persepsi dengan partai lainnya menjadi akar kekalahannya.
Publik kuatir, Adang akan menemukan kesulitan karena akan sulit mendapat
dukungan di legislatif.
Sementara PKS yang sangat percaya diri mendukung Adang sendirian,
berhasil ‘memenangkan’ Pilkada DKI dengan memperoleh keuntungan politis
yang luar biasa besar. Menurut Sekretaris Jenderal PKS Anis Pilkada DKI
ini menjadi bukti kemenangan mesin politik PKS. Itu artinya, kata Anis
Matta, ada perluasan basis massa PKS yang tidak semata massa Islam,
tetapi meluas ke kalangan non-Islam, bahkan kalangan etnis China.
Rektor Universitas Paramadina Anis Rasyid Baswedan menilai PKS
mendapatkan keuntungan politis yang sangat besar. "Ibarat mesin yang
dipakai pada 2004 dan akan dipakai lagi 2009, mesin partai lain tidak
dipanasi, sedangkan PKS sudah diminyaki di tahun 2007 dan dengan dana
orang lain," papar Anis Rasyid.
Para petinggi PKS sejak awal memang terlihat sangat solid mengutamakan
kemenangan partainya. Penetapan kadernya sendiri, Dani Anwar sebagai
pendamping Adang memperlihatkan kesan tersebut sekaligus memperlihatkan
kurangnya kesungguhan menggalang dukungan dari partai lain untuk
memenangkan Cagubnya.
Berbeda dengan partai-partai pendukung Fauzi yang mempersamakan persepsi
dengan kerelaan melepaskan ego dan kepentingan partainya masing-masing
demi kemenangan Cagubnya. Sehingga kemenangan Fauzi adalah berpusat pada
ketokohannya sendiri dibanding kemanangan (kepentingan) partai-partai
pendukungnya.
Pilkada DKI bisa menjadi kenangan manis bagi Fauzi dan menjadi pelajaran
berharga bagi Adang, juga bagi siapa pun yang ingin mengikuti Pilkada di
seluruh Indonesia. ►e-ti/crs
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|